![]() |
| Laguna Pantai Lembu Purwo, Mirit, Kebumen |
Libur lebaran adalah waktunya Sutikno
bertamasya. Bersama istri dan dua anaknya, Sutikno setiap tahun meluangkan kala
untuk bertakzim ke Pantai Lembupurwo, Mirit, Kebumen. Padahal, rumahnya hanya
berjarak tak sampai tiga kilometer dari bibir pantai. Namun, hanya setahun
sekali saat lebaran inilah dia datang untuk mencumbu air laut selatan.
Di Pantai Lembupurwo, keluarga kecil nan
sederhana ini membiarkan kaki dibelai oleh ombak Laut Selatan. Mereka tak lupa basuhkan
air laut ke muka. Kadang, sepasang anaknya yang masih SD bermandi buih ombak.
Tak ayal, Sutikno jua harus waspada menjaga buah hatinya agar tak direnggut
ombak. Hingga akhirnya, sepuas bermesraan dengan banyu laut, mereka terduduk di
atas pasir hitam. Menikmati kemeriahan lalu lalang ribuan manusia sambil
menyantap bekal makanan yang dibawa dari rumah.
Cerita Sutikno adalah sepenggal dari ribuan
romantika manusia yang berserakan di pantai-pantai pesisir Kebumen. Masyarakat
Kebumen dan sebagian masyarakat Jawa pada umumnya memiliki tradisi mendatangi
laut selepas Lebaran. Ada kepercayaan bahwa tatkala hadir di laut Selatan dan
membasuh muka atau mandi air laut maka akan jadi awet muda dan meruwat sial.
Van Peursen mengatakan kepercayaan seperti ini
mengisyaratkan masyarakat masih berada dalam tahapan mistis. Manusia dan alam
bersatu dan tak bisa terpisahkan. Mereka menciptakan ritus-ritus untuk bisa
menjalin erat hubungan antara alam dan manusia. Tradisi ke laut saat riyaya seperti
ini masih lestari di kalangan orang desa di Kebumen.











