Keindahan Kedung Kandang

11.30

Air terjun Kedung Kandang di dekat Geowisata Gunung Api Purba Nglanggeran.

Tahun lalu saya datang dan mengubek-ubek Desa Putat, Kec. Pathuk, Gunungkidul untuk mencari durian khas dari Gunungkidul, yakni durian Kencono Rukmi. Desa Putat dikenal sebagai sentra durian di Gunungkidul. Tidak beruntung saya karena musim durian sudah selesai. Namun, tak disangka di Dusun Sendangsari Putat, saya berjumpa dengan sebuah air terjun yang bertingkat-tingkat merayapi batuan hitam di antara kawasan sawah-sawah bertingkat.

Saya hanya memandangnya saja dari kejauhan. Terpikir untuk mendatangi air terjun cantik itu tetapi suasana sangat sepi. Tidak ada orang sekalipun. Terlebih daerah tersebut dekat dengan pemakaman menambah enggan. Hari sudah menuju senja membuat saya pun urungkan untuk menuju air terjun yang kiranya butuh jalan kaki setengah jam. Waktu itu saya akhirnya berpindah ke Embung Nglanggeran yang lokasinya tak jauh dari curug ‘misterius’ tersebut.


Di awal tahun 2015, saya melihat ada unggahan air terjun cantik itu di sebuah akun instagram. Langsung saya terlempar pada air terjun yang setahun ini penasaran ingin saya kunjungi. Oh, ternyata namanya Kedung Kandang. Baru di akhir Januari ini saya tergerak untuk mendatangi Kedung Kandang sekalian ‘berburu’ lagi durian Kencono Rukmi di Desa Putat. Saya pun ajak Dodo, lelaki pengelana Nusantara yang sedang mencari jodoh (kalau ada yang tertarik hubungi saya, diutamakan cewek :P).

Sama dengan tahun lalu, saya tak berhasil mendapat durian Kencono Rukmi. Ternyata saat ini memang baru awal musim durian. Tujuan ke Air Terjun Kedung Kandang pun harus dilaksanakan  agar  tak kecewa dua kali lipat. Saya datangi lokasi yang sama dengan lokasi setahun lalu. Kini tak lagi sepi. Ada geliat pemuda desa yang menjadi ‘pengelola’ wisata setidaknya sebagai penjaga motor dan pemandu ke lokasi. Ada juga beberapa pengunjung yang mendatangi curug yang ‘tersembunyi’ ini.

“Sekitar mulai seminggu ini, lumayan pengunjungnya. Sejak ada pemuda Nglanggeran yang ‘masang’ foto Kedung Kandang di internet.” ungkap Giyanto, warga yang rumahnya paling dekat dengan Kedung Kandang.

Bersiap menuju Kedung Kandang.
Perjalanan melewati persawahan yang saat itu sedang menghijau.
Dilanjutkan dengan menelusuri sungai.

Perjalanan mendekat ke Kedung Kandang melewati sawah bertingkat-tingkat yang melekuk manis badan perbukitan. Jalanan hanya berupa tanah dan pada beberapa tempat terdapat kubangan lumpur. Lanskap indah ini pasti sangat memuaskan bagi orang yang biasa terobsesi dengan lanskap subak di Ubud, Bali. Bagi penikmat keindahan, perjalanan menyusuri pematang sawah adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Di kejauhan, Kedung Kandang tampak manja untuk mengundang saya untuk lekas bertkazim kepadanya.

Perjalanan sekarang berubah menyusuri sungai yang beralaskan batuan hitam vulkanik. Kawasan Kedung Kandang memiliki karakter yang sama dengan Gunung Api Purba Nglanggeran, yakni didominasi batuan vulkanik. Aliran sungai tidaklah deras tapi hanya saja perlu waspada untuk menghindari kubangan di tengah sungai. Delapan puluh meter menantang aliran sungai, akhirnya saya tiba di kaki Air Terjun Kedung Kandang.

Daya tarik yang khas dari Kedung Kandang adalah tingkatan-tingkatan batuan yang mengondisikan air bercucuran manis merayapi tubuh kekarnya. Saya tak menghitungnya secara cermat, tapi kira-kira ada lebih sepuluh tingkat. Di sekeliling air terjun, lanskap yang asri berupa sawah-sawah bertingkat kian mengindahkan Kedung Kandang. Saya coba naik ke beberapa tingkat batuan, saya terkesima mendapati kubangan-kubangan air yang unik.

Menurut Giyanto, sesungguhnya Kedung Kandang adalah kubangan yang menjadi dasar dari air terjun yang ketinggiannya paling tinggi, sekitar 5 meter. Di Kedung Kandang ini ditumbuhi rerumputan di sekeliling kolamnya. Lantas di bawahnya terdapat tiga kubangan yang sejajar bersandingan, yakni Kedung Kanthil, Kedung Manten dan Kedung Keris. Ada peringatan bagi pengunjung, meskipun tidak dalam tetapi diharapkan untuk tidak masuk ke salah satu kubangan kedung itu. 

Melihat persawahan dari tepian Kedung Kandang bagi saya adalah pengalaman yang mengundang imajinasi. Terhampar persawahan bertingkat yang merajut bersama pohon kelapa lalu terdapat sungai yang mengalir melekuk-lekuk. Melemparkan suasana selayak di Ubud namun dengan lebih magis karena di bawah saya ada tiga kedung yang manis bersandingan. Saya duduk santai sembari melihat burung sriti melintas. Namun begitu, lanskap masih ada yang hambar, ada satu yang kurang: cuaca cerah. Sore itu mendung begitu menggelap dan akhirnya hujan gerimis membuyarkan saya menikmati lanskap cantik ini.

Kubangan yang dikelilingi rerumputan yang disebut Kedung Kandang.
Kubangan lain yang disebut Kedung Keris, Manten dan Kanthil. Seperti di Ubud. Cantik. 
Kedung Kandang bertingkat-tingkat. Cantik di dekat Geowisata Nglanggeran

Saya dan Dodo lantas bergegas pulang dan sempat tersiram hujan yang cukup deras. Untung, sambutan ramah Pak Giyanto di  rumah cukup menghangatkan saya. Saya pun akhirnya mengobrol banyak dengan lelaki yang berprofesi sebagai tenaga pemasang dak keraton di Yogya sembari menunggu hujan mereda. Dengan dikawani teh hangat dan kacang rebus, saya mendapatkan banyak informasi tentang durian di desa Putat.

“Ada durian asal Putat yang banyak dicari juga mas selain Kencono Rukmi, durian emas. Sayangnya, sekarang belum ada yang matang.  Kalau ada yang matang nanti saya kabari ke mas.” kata Pak Giyanto yang sangat ramah dan baik.

Siyaap Pak Giyanto dengan senang hati saya laksanakan! Memang ini tepat dengan rencana saya untuk kembali lagi ke Kedung Kandang saat cuaca cerah. Saya akan datang lagi ke Kedung Kandang bersamaan dengan menyantap durian mantap dari Desa Putat. Hari telah benar-benar menggelap saat saya berpamitan pulang dengan Pak Giyanto. Desa Putat pun benar-benar telah tertelan sepi malam hari. 


Catatan:

- Kedung Kandang merupakan air terjun musiman. Oleh karena itu sebaiknya datang saat musim penghujan atau peralihan musim penghujan ke musim kemarau. Saat musim kemarau, Kedung Kandang bisa benar-benar mengering,

- Belum ada tiket masuk. 'Wisata' Kedung Kandang dikelola oleh pemuda setempat. Ada kotak sukarela untuk membayar ongkos parkir. Biasanya di hari Sabtu, Minggu dan hari libur ada pemuda yang menjaga parkir. Jika tidak ada, motor bisa dititipkan di rumah Pak Giyanto yang berada tepat sebelum jalan masuk ke Kedung Kandang,

- Kedung Kandang dijangkau dari pertigaan Desa Nglanggeran lurus ke arah Desa Putat. Sesampai di Desa Putat ada pertigaan yang menikung, belok kanan ambil jalan makadam. Tak jauh dari situ, Kedung Kandang sudah bisa dilihat dari kejauhan.

- Jaga kebersihan di lokasi dan sepanjang jalan.

- Saya sudah mengunjungi lagi ke Putat dan menjajal nikmatnya Durian Kencono Rukmi. Durian ini non alkohol dan non kolesterol. Rasanya manis agak legit lho.. Mantaaap.. Silaakan baca ceritanya di http://diasporaiqbal.blogspot.com/2015/03/durian-kencono-rukmi-sang-emas-dari.html

Manis di antara persawahan.
Pak Giyanto, warga sekitar Kedung Kandang yang sangat ramah. Motor bisa dititipkan di sini.
Sawah, air terjun dan batuian vulkanik. Keindahan di Kedung Kandang

You Might Also Like

12 komentar

  1. wah serasa di malela mas haseehh itu kalo deress...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Angki, kayak di malela... ini tingkat2annya banyak dan banyak kedungnya.. mantaap mas.. :D

      Hapus

    2. SAYA SANGAT BERSYUKUR ATAS REJEKI YANG DIBERIKAN KEPADA SAYA DAN INI TIDAK PERNAH TERBAYANKAN OLEH SAYA KALAU SAYA BISA SEPERTI INI,INI SEMUA BERKAT BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA YANG TELAH MEMBANTU SAYA MELALUI NOMOR TOGEL DAN DANA GHAIB,KINI SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTANG-HUTANG SAYA BAHKAN SAYA JUGA SUDAH BISA MEMBANGUN HOTEL BERBINTANG DI DAERAH SOLO DAN INI SEMUA ATAS BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA,SAYA TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKA JASA BELIAU DAN BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU OLEH RAWA GUMPALA MASALAH NOMOR ATAU DANA GHAIB SILAHKAN HUBUNGI SAJA BELIAU DI 085 316 106 111 SEKALI LAGI TERIMAKASIH YAA MBAH DAN PERLU ANDA KETAHUI KALAU MBAH RAWA GUMPALA HANYA MEMBANTU ORANG YANG BENAR-BANAR SERIUS,SAYA ATAS NAMA PAK JUNAIDI DARI SOLO DAN INI BENAR-BENAR KISAH NYATA DARI SAYA.BAGI YANG PUNYA RUM TERIMAKASIH ATAS TUMPANGANNYA.. BUKA DANA GHAIB MBAH RAWA GUNPALA

      Hapus
  2. Bagus banget ya mas iqbal. Deket lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiip mbak Rasa Wulan.. Ayooook dikunjungi.. Pumpung musim hujan lhoo..

      Hapus
  3. Disarankan untuk naik motor atau mobil bisa menjangkau kesitu Mas? Nuwun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kak Owob.. bisa dua-duanya kok.. nanti parkir terus jalan kaki 20 menit... :D

      Hapus
  4. Ada chalet disana? Dimana tmpt menginapnya.. Bandar terdekat??

    BalasHapus
  5. Ada chalet disana? Dimana tmpt menginapnya.. Bandar terdekat??

    BalasHapus
  6. dari dulu liat fotonya udah tertarik kesana langsung, sayangnya sampe sekarang belum kesampaian. entah setiap pulang ke jogja ada aja agenda bejibun.

    BalasHapus
  7. Terima kasih atas info tempat KEINDAHAN KEDUNG KANDANG, jujur itu fotonya bikin suasana hati sama pikiran tenang banget hahaha, kalau dapet cuti panjang ingin kesana bersama teman, dan menikmati pemandangan pagi hari bersama kopi hijau yang sesuai dengan tempatnya yang sangat hijau dengan kehidupan yang lengkap akan warna hijau yang melambangkan kesejukan.

    Saya ucapkan terima kasih lagi kepada ICBAL KAUTSAR telah memberikan informasi yang sangat penting buat saya dan orang yang melihatnya, semoga semua makhluk berbahagia

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe