![]() |
| Pulau Sikuai yang Cantik |
Juru mudi telah menyalakan mesin perahu. Sebuah perahu kayu telah penuh dengan rombongan KKN PPM UGM di Sumatera Barat. Saya bersama kawan-kawan akan berwisata ke Pulau Sikuai, Kota Padang. Greeeeng.. Greeeng...
Perlahan tapi pasti perahu meninggalkan Pelabuhan Muaro, pelabuhan bersejarah yang menjadi urat nadi perdagangan Padang sejak abad 17. Kami menyusuri Sungai Batang Arau. Saya tertancap pada pemandangan bangunan-bangunan tua jejak kolonial di tepi sungai. Asyik melemparkan diri pada suasana kemegahan Padang di masa lalu. Di sungai ini, hasil bumi ranah Minang dikirim ke Eropa. Tak terasa, perahu telah lepas dari muara Sungai Batang Arau. Kini kami berada di lautan Samudera Hindia.
Bukanlah ombak yang bergulung-gulung hebat. Suasana Samudera Hindia begitu tenang. Jauh dari kesan lautan terluas kedua di dunia yang gahar. Ternyata pulau-pulau kecil di sekitar Padang yang melindungi perairan sekitar daratan Sumatera dari ganasnya ombak. Saya pun menjadi syahdu menikmati panorama. Bukit Gunuang Padang tempat makam Siti Nurbaya tampak asri menjulang di daratan. Dari kejauhan, tampak juga Pantai Air Manis yang legendaris karena kisah Malin Kundang.
Sekarang sang perahu kecil berhadap-hadapan dengan kapal-kapal besar. Ada kapal kargo, kapal tongkang, kapal tanker, kapal semen yang melintas di dekat perahu kayu kami. Kapal-kapal besar ini sedang berlabuh di perairan Teluk Bayur. Tapi, mereka hanya bisa menambatkan sauh dari luar pelabuhan. Teluk Bayur telah mendangkal.
Kini kami lepas dari perairan Teluk Bayur. Panorama lepas lautan sepertinya lebih menggoda. Pulau-pulau kecil terhampar dengan tegakan-tegakan nyiur hijau. Pasir putih yang berkilau memantulkan terik surya menjadi pembatas daratan mungil dengan samudera luas. Pulau-pulau itu sepi. Tak berpenghuni. Masih alami.






