Nasi Penggel, Sarapan Sederhana Khas Kebumen

10.17

Nasi Penggel, kuliner khas Kebumen.

Jika Pekalongan memiliki Sego Megono, Surakarta mempunyai Nasi Liwet, Cirebon memiliki Nasi Lengko, maka Kebumen mempunyai Nasi Penggel.  Sebutlah penggel seperti kita menyebut ‘e’ pada pensil. Jika berada di Kebumen pagi hari, adalah sebuah keniscayaan untuk mengecap rasa khas dari kuliner Kebumen yang memang hanya tersedia di kala pagi ini. 

Masih pagi sekali, mentari masih redup menampakkan jati diri sehabis lelap dipeluk malam hari. Namun, Dukuh Gunungsari, Desa Pejagoan, Kec. Pejagoan telah riuh dengan kerumunan orang mengantri. Di pinggir jalan raya, di dua sisinya, puluhan orang rela bangun pagi untuk mendapatkan sesuap Nasi Penggel yang dijual di beberapa lapak. Saya pun turut mengantri sembari segar menghirup udara pagi di daerah yang terletak 2 km sebelah barat alun-alun kota Kebumen.

Dari beberapa penjual, lapak milik Melan (41) lah yang paling ramai. Nasi Penggel Pak Melan ini dikenal sebagai Nasi Penggel paling legendaris di Kebumen. Melan tampak begitu cekatan melayani permintaan para pengunjung yang seolah tidak ada habisnya. Buka dari pukul 05.30, paling lama pukul 08.00 lapaknya sudah habis. Lapak lain juga tidak jauh berbeda.  Melan harus marathon mengambilkan sayur dan lauk untuk pasangan Nasi Penggel yang disodorkan oleh para pelanggan.

“Kalau nasinya ambil sendiri yah mas. Monggo, terserah ambil berapa saja.” ungkap Melan berkali-kali seperti dia ingin membuang rasa canggung dari setiap pembeli kepadanya. Istilahnya seperti, “Anggap saja saudara sendiri. Silakan makan sepuasnya dan senikmatnya”

Mengambil Nasi Penggel berarti mengambil nasi yang dibentuk bulat-bulat seukuran bola pingpong. Nasi Penggel itu bermakna nasi yang dibulati. Saya mengambil 10 bulatan nasi yang diwadahi dengan daun pisang yang dibentuk ‘pincuk’. Biasanya pembeli akan mengambil 8-15 bulatan nasi dan menurut  saya sejumlah itu sudah sangat mengenyangkan. Bulatan Nasi Penggel ini diletakkan dalam bakul yang ditata berlapis-lapis. Setiap lapisan Nasi Penggel akan dipisahkan dengan lembaran daun pisang.

Nasi yang diambil pembeli lalu disodorkan kepada Melan untuk dituangkan sayur dan lauk. Sayur ini merupakan lodeh santan berbumbu gurih sederhana yang dicampur ‘gori’ atan nangka muda, daun singkong, tempe, tahu dan melinjo.

Adapun lauk Nasi Penggel adalah kulit dan jeroan sapi seperti babat, iso, kikil, ‘tetelan’, jantung, ginjal, paru, dan semacamnya.  Saya melengkapi kenikmatan Nasi Penggel ini dengan memadankan dengan tempe mendoan dan teh hangat. Dari sayur dan lauk Nasi Penggel ini, saya merasakan kentalnya kesederhanan khas ‘wong cilik’ yang notabene menjadi mayoritas penduduk Kebumen.

“Kalau daging sapi nanti jadinya harga mahal. Nanti sedikit yang beli. Ya, gini mas sederhana saja. Yang penting bisa dinikmati semua.” ungkap Melan yang dari penampilannya juga menyiratkan orang yang sungguh sederhana.

Menyantap Nasi Penggel paling khas adalah dengan sendok daun pisang. Namun begitu, kebanyakan pembeli menggunakan sendok biasa yang dinilai lebih praktis tanpa mengurangi kenikmatannya.

Tadinya Nasi penggel ini masih berbentuk berbulat-bulat, tetapi jika sudah tercampur kuah sayuran dan lauk maka akan perlahan hancur menjadi seperti nasi biasa. Kata Melan, meski akan hancur juga saat dimakan, tapi dengan nasi dibulat-bulat, rasa nasi akan terasa lebih gurih. Ketika membulati nasi, dia biasanya mengolesi tangannya dengan ‘lengo gurih’ alias minyak kelapa.

Melan mewarisi resep asli dari simbahnya. Sudah tiga generasi berjualan Nasi Penggel.
Nasi yang di-penggel, yang dibulati ini ditaruh dalam bakul.

Melan hanya buka lima hari dalam seminggu. Setiap Jumat dan Senin dia akan libur. Namun, tetap saja ada tetangga dan kerabat yang menggantikan lapaknya sehingga Nasi Penggel akan tersedia setiap hari. Daerah asalnya, yakni Dukuh Gunungsari, Desa Karangpoh, Kec. Pejagoan, dikenal sebagai asal muasal penjual Nasi Penggel. Selain di Tembana, masyarakat Gunungsari juga menjual Nasi Penggel di beberapa lokasi di seantero Kebumen, seperti di Pasar Mertokondo dan Alun-alun Kebumen.

Melan adalah generasi ketiga penjual Nasi Penggel. Dia mewarisi langsung resep asli Nasi Penggel dari kakeknya, Mbah Darnuji, yang lalu diturunkan kepada ibunya, Biyung Marwiyah. Uniknya, dalam keluarga Mbah Darnuji, dari putra-putrinya hanya Marwiyah yang bisa memasak enak Nasi Penggel. Dari keturunan Maryati, juga hanya Melan lah yang cakap membuat Nasi Penggel. Meski begitu, resep memasak ini terbuka untuk diajarkan kepada siapapun yang ingin berjualan Nasi Penggel.

“Dulu, simbah jualan Nasi Penggel dengan pikulan keliling Pasar Tumenggungan, Kebumen. Karena sepuh lalu jualan di Tembana saja yang dekat.” ungkap Melan mengingat kisah simbahnya berjualan Nasi Penggel mulai tahun 1940-an.

Setiap hari, Melan paling tidak menghabiskan 15 kg atau jika ramai hingga 20 kg beras. Dia pun bisa menjual seratusan pincuk Nasi Penggel. Per pincuk Nasi Penggel lengkap sayur dan lauk dengan tempe mendoan dan teh hangat dijual seharga Rp 13 ribu rupiah. Dari jualan yang sederhana ini, dia bisa mengantongi pendapatan yang lumayan. Katanya, cukup untuk mengepulkan dapur dan menyekolahkan tiga anaknya. Saya lantas tertarik menanyakan sebab musabab dia hanya buka lima hari saja dan saat pagi saja.

“Rejeki itu yang cukup saja, mas. Aja terlalu ngoyo. Yang berlebihan itu tidak baik. Saya bisa punya waktu cukup untuk istirahat, cukup dengan keluarga. “ ungkapnya lembut dalam logat ngapak sambil tak berhenti tersenyum.

Entah kenapa selain Nasi Penggel yang dijualnya, saya tertarik dengan kepribadian Melan. Pria yang selalu mengenakan kopyah ini terasa meneduhkan pagi itu. Dia begitu sederhana nan bersahaja. Tampaknya kesederhanaan dirinya ini selaras dengan kesederhanaan Nasi Penggel.

Itulah kenapa, jika pulang ke Kebumen, saya akan teringat kesederhanan Melan dan teringat kesederhanaan kuliner Nasi Penggel. Saya pun akan rela bangun pagi untuk sekedar sarapan Nasi Penggel Pak Melan meski dari rumah saya jaraknya 13 km.  


Lokasi

- Nasi Penggel dijumpai paling nikmat pada sentranya di Dukuh Gunungsari, Desa Pejagoan, Kec. Pejagoan, Kebumen.  Dari Alun-alun Kebumen, tujulah menuju Jembatan Luk ulo Tembana (ke utara lalu belok kiri dan tetap lurus dari perempatan Pasar Mertokondo). Tak jauh dari jembatan, terdapat pertigaan dan beloklah ke kiri. Di situ merupakan kawasan Nasi Penggel yang terdapat beberapa pedagang yang buka dari jam 05.30 - 08.30 WIB.
- Sentra Nasi Penggel bisa dijumpai dengan titik koordinat lokasi pada -7.667833, 109.641112


Catatan

- Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog Visit Jawa Tengah 2015 Periode 3 yang bertema "Wisata Kuliner Jawa Tengah". Yuuk ikutan lombanya pada periode 18 Mei - 15 Juni 2015. Lihat informasi selengkapnya di bit.ly/1bYVbRg. Hadiahnya ada modem/powerbank, Voucher Hotel Horison Ultima - Purwokerto, merchandise Visit Jawa Tengah dan berkesempatan mengikuti trip ke destinasi wisata Jawa Tengah yang seru lhoo..


Tua muda bahkan balita pun menjadi konsumen yang rela bangun pagi untuk menikmati Nasi Penggel.
Nasi dibulati sebesar bola pingpong. Ciri khas Nasi Penggel.
Sayur santan gori dengan lauk babat dan tempe mendoan yang diwadahi dengan pincuk daun pisang. Nyam.. Nyam..
Melan harus cekatan dan sabar untuk melayani pelanggan yang rela mengantri.



You Might Also Like

27 komentar

  1. ngesuk tak tumbase lah haa, menggiurkan ue kang ketone,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas Galih.. Yuhuuy.. kudu lah nek balik Kebumen kudu sarapan Nasi Penggel.. :D

      Hapus
  2. Aku seumur umur urung tau mangan nasi penggel, padahal ya nyong wong kebumen, kuwe ancer-ancere ngendi ya mas, pengin rasan luh kaya ngapa,

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas Cah Pegeesde... Ancer-ancernya di Desa gunungsari. Dari jembatan Lukulo Mertokondo ke barat dikit belok kiri.. Nah disitu pusatnya..

      Hapus
  3. Kelingan jaman cilik biyunge pasar oleh"e nasi penggel...
    siki ws ra tw wrasan maning ra tw menangi sing dodol...
    Goleti ngesuk nk bali kebumen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggoo kang Agung nostalgia lagi dengan nasi penggel. Sekarang bisa dijumpai di barat Jembatan tembana lukulo.. :D

      Hapus
    2. Enyong dewek be asli kebumen enggane...ning durung tau mangan...jajal kepriwe kie kang.....

      Hapus
  4. Kelingan jaman cilik biyunge pasar oleh"e nasi penggel...
    siki ws ra tw wrasan maning ra tw menangi sing dodol...
    Goleti ngesuk nk bali kebumen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggoo kang Agung nostalgia lagi dengan nasi penggel. Sekarang bisa dijumpai di barat Jembatan tembana lukulo.. :D

      Hapus
  5. nasi penggel is literally heaven on earth. kenikmatan duniawi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah terima kasih sekali atas apresiasinya.. terima kasih juga udah berkunjung ke blog saya kak Loyla

      Hapus
  6. wah mantap bener, itu bentuknya mirip tengkleng ya mas (http://dsukmana.wordpress.com

    BalasHapus
  7. nitip lapak juragan
    maaf sebelumnya..
    http://www.detexsi.com/2015/05/nasi-punel-khas-bangil-kuliner-mantap.html

    BalasHapus
  8. wah, salah banget deh ini, saatnya makan siang malah nyangkut ke tulisan tentang makanan. ngeces deh jadinya. hahaha ..

    baru tau ada menu nasi penggel di kebumen, padahal sesama anggota karesidenan kedu. kapan-kapan main ke kebumen ah, sekalian nyoba nasi penggel ini. thanks for sharing, mas, nice post. salam kenal yaaa .. :)

    BalasHapus
  9. Wah kayaknya enak ini. Kapan-kapan harus nyoba cicip kalau ke sana :D

    BalasHapus
  10. Wah, tampaknya enak ya, saya belum pernah ke Kebumen nich,,

    BalasHapus
  11. Wah enak banget kayaknya kalau makan nasi ini, jadi pengen ke kebumen :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayoook kak ke Kebumen dan jelajahi wisatanya..

      Hapus
  12. Jegagik.. Sesok mruput menyang Kebumen ah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat menikmati nasi penggel kak.. :D

      Hapus
  13. artikelnya bagus, ijin share di http://ksmtour.com ya. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh silakan..
      Ajakin saya jalan dong KSM Tour.. :D

      Hapus
  14. unik sekali, saya baru tahu kalau ada makanan yang namanya nasi penggel, terlihat sangat enak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini khasnya Kebumen. kuliner yang memang langka kak.. silakan berkunjung ke Kebumen untuk dicoba..

      Hapus
  15. Kelihatannya nikmat...
    Semoga dalam waktu dekat saya bisa berkunjung ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah harus disantap nasi penggelnya. Dan lanjut keliling Kebumen yang punya banyak pesona wisatanya..

      Hapus
  16. unik juga ya nasi penggel ... patut dicoba ni :)

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe