Jogja adalah semesta hidup kebersahajaan yang turut terejawantahkan dalam fasad boga keseharian masyarakatnya. Setiap impresi para pengunjung Jogja selalu dinaungi bayangan sederhana dan murah pada beraneka kuliner yang disantapnya. Kebersahajaan makanan kawula Jogja ini banyak disumbangsih oleh paduan sejarah yang melingkupi Yogyakarta sebagai keraton yang punya nilai-nilai kesederhanaan dan seringnya peristiwa penuh kemusykilan melanda Yogyakarta. Masyarakat Jogja menjadi mahir beradaptasi dengan mendayagunakan sumber daya setempat tak sekadar untuk bertahan hidup, tetapi menghasilkan boga-boga bersahaja nan lezat.
Alkisah, di tlatah Bantul, tanah Mataram yang menempati pesisir selatan dalam garis makrokosmos Jawa: Merapi – Laut Selatan, tersebarlah para ksatria hidup penuh kemuliaan dari kebaikan-kebaikannya untuk peradaban panganan. Mereka hidup dalam alam kedamaian dan kemerdekaan desa, tetapi tak lalai memberi warna merona bagi kejayaan kuliner Nusantara. Para ksatria ini tak akan tampil jumawa dengan signaturnya, tapi para penggandrung kesejatian rasalah yang bersaksi pada kemahirannya. Saya adalah salah satunya kawula yang senantiasa hormat setinggi-tingginya pada dedikasi paripurna para ksatria ini yang luar biasa.
![]() |
| Kuliner artisan dari Riversmith Margaret River. |
Ihwal pantai tercantik dan panganan terbaik yang bermanunggal loka, saya elegan
mengindranya di Margaret River. Dipadankan arena berselancar dan kebun anggur yang
sumurung, bagian barat daya kontinen Australia ini mengukuhkan sebagai primadona
tujuan melancong yang genap.
Siang di Pantai Surfer’s Point sungguh cerah bermurah sinar surya. Semilir
angin Samudera Hindia menerpa lembut pantai bertebing dengan bertepian pasir
putih yang menghampar. Ribuan pasang mata asyik menatap ke kejauhan ombak yang
bergulung-gulung riang. Peselancar coba menunggangi, melorong, meluncur lalu
menghempaskan ombak untuk menciptakan akselerasi yang menantang.
Meskipun akhirnya jatuh, ketangguhan mereka beberapa saat berharmoni bersama
ombak ini sanggup membuncahkan tepuk tangan semarak. Saking terkesimanya dengan
perangai peselancar kelas dunia di kejuaraan Drug Aware Margeret River Pro,
saya pun larut pada kemeriahan acara yang berpadu dengan keindahan saujana
Pantai Surfer’s Point.
Pantai Surfer’s Point berkesempatan menghelat ajang prestisius selancar
dunia World Surf League 2016 edisi ketiga, 9-19 April 2016. Dikenal sebagai
surga selancar di Australia Barat, pantai ini sanggup memikat para atlet terbaik
untuk berkompetisi pada level tertinggi. Ajang ini menarik pemirsa, baik
penikmat selancar ataupun pengunjung biasa, untuk datang dari seantero
Australia ke daerah yang berjarak sekitar 270 km dari Perth. Bagi Margaret
River, kejuaraan selancar ini adalah sebuah kebanggaan yang premium. Saya
beruntung bisa hadir bertepatan dengan acara internasional ini.
Saya menepi dari kegemerlapan pusat arena selancar. Saya mencari sisi
pantai yang sunyi di sejengkal lokasi sebelah kiri. Setapak mengantar saya pada
hamparan pantai yang lebih luas. Batuan karang sejenak menjeda pasir putih, yang
di atasnya sedang bertengger dua wanita muda mengadu rasa. Ombak menerpa
karang, dan cipratannya lantas memberi semarak pada lanskap. Ini adalah area Pantai
Southside yang berada di samping Pantai Surfer’s Point. Setidaknya di sini,
saya bisa menyesapi keindahan yang tak banyak dicampuri oleh kehadiran
pengunjung.
Margaret River memiliki sekitar 50-an pantai dan arena selancar yang bisa
dinikmati sepanjang tahun. Deretan pantai ini berada asri dilingkupi Taman
Nasional Leeuwin-Naturaliste seluas 190 km persegi. Bagi pengagum pesona biru
dan putih kanvas alami, pantai di Margaret River adalah pemenuh hasrat untuk
sejenak kabur dari realitas hidup yang sesak pekerjaan.
***
Di jantung Margaret River, restoran Riversmith menjadi tempat saya
menikmati nuansa kota. Margaret River ialah kota di region Barat Daya Australia
yang dialiri sungai permai Margaret. Suasana kota berpenduduk sekitar 5000 jiwa
ini mengalun anggun. Riversmith bisa jadi perwakilan kotanya. Pertama kali
masuk saya jatuh hati dengan tata letak vintage dan aneka kerajinan dan barang
rumahan yang disuguhkan. Riversmith mengusung konsep restoran artisan yang
dirajut bersama arena pamer, ruang workshop dan wahana komunitas.
“Menu makanan di sini bahannya dari wilayah Margaret River dan sekitarnya.”
ungkap Karen Macdonald, sang pemilik yang mengusung idealisme pertanian lokal
yang berkelanjutan di Riversmith.
Menjajal suguhan menu makanannya, seperti Tasmanian smoked salmon, local
heidi chevre with seasonal Salad, saya bisa merasakan aura begitu istimewa
lokalnya yang dimasak dengan penuh renjana. Tak lupa, saya menjajal secangkir
kopi hasil roastery mandirinya yang seimbang dan elegan dalam soal rasa.
Margaret River memang masyhur dari susunan kedai-kedai panganan artisan
yang dijalankan dari tradisi keluarga. Bertandang di Bettenay’s Margaret River,
saya menyaksikan langsung proses pembuatan nougat bergaya Prancis secara
tradisional. Dengan dipandu pemiliknya, Greg Bettenay, pencampuran bahan nougat
yakni susu, madu, gula, kacang-kacangan (almond dan maccademia), serta bahan
lainnya, dipaparkan penuh enerjik. Sekali lagi, bahan-bahan ini diperoleh
diprioritaskan dari daerah Margaret River dan sekitarnya.
Ada lagi Olio Bello, produsen minyak zaitun premium di Margaret River. Tempat
ini membawa konsep perkebunan organik zaitun yang dilengkapi dengan pabrik
pengolahan minyak zaitun. Selanjutnya, minyak zaitun ini dijual atau bisa
dinikmati pada olahan makanan di kafe yang terintegrasi. Selain minyak zaitun, Olio
Bello juga memroduksi body lotion, minyak wangi dan sabun dari zaitun. Saya
sempat menjajal aneka rasa yang unik minyak zaitun seperti basil, rempah asia,
mandarin, cabai dan bawang, buah, dan lain-lain. Di masakan Barat, minyak
zaitun menjadi bumbu penyedap yang membuat semarak cita rasa khas.
Tak ada yang boleh mengesampingkan khasanah wine dan kebun anggur di
Margaret River. Karena wine inilah Margaret River kondang di dunia. Meski hanya
tiga persen produksi anggur Australia di region ini, 20 persen pasar wine
premium Australia berasal dari produksi Margaret River. Terdapat sekitar 215
kilang anggur yang sebagian besar memiliki perkebunan anggur sendiri yang digerakkan
secara keluarga dari generasi ke generasi.
Saya mampir di Cape Mentelle, salah satu pionir kilang anggur di Margaret
River yang berdiri sejak tahun 1970. Meski tak mencoba wine suguhannya, saya
tetap asyik menelusur Cape Mentelle yang dipandu oleh Julie Stade, pendidik
wine. Dengan pabrik yang dikelola modern, wine yang dihasilkan merupakan
kualitas premium. Cape Mentelle terletak anggun dinaungi pohon-pohon eukaliptus
yang rimbun. Di sekelilingnya, kebun anggur yang luas terhampar menjadi
penyuplai bahan wine terbaik sekaligus menyejukkan panorama. Pantas, saya lihat
pula ada pengunjung datang ke Cape Mentelle khusus bertamasya anggur bersama
anak-anaknya.
***
Margaret River memang romantis
untuk pejalan cerdik. Memadukan keindahan alam pesisir dengan cita rasa terbaik
makanan dari tangan penuh cinta adalah
daya pikat. Dari sehari kunjungan, saya tertarik dengan semangat penggunaan
bahan lokal untuk menyusun aneka kuliner di Margaret River. Kedai dan pabrik
pangan artisan sungguh menghargai kreasi pertanian, perkebunan, dan peternakan
yang berkembang melimpah di Margaret River. Karunia kesuburan salah satu
wilayah paling hijau di Australia ini pun tak sia-sia. Warganya sungguh mumpuni
mendayagunakannya sebagai sajian istimewa untuk memantrai para pengunjung agar kembali
lagi, termasuk saya.
Video perjalanan di Australia Barat dalam NG Travelmate
Perjalanan di Australia Barat ini terlaksana bersama NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA - www.nationalgeographic.co.id dan TOURISM WESTERN AUSTRALIA BOARD - www.westernaustralia.com dalam tajuk acara NG TRAVELMATE. Selama 6 hari (5 - 10 April 2016), saya mengeksplorasi pesona Australia Barat. Ada 11 tulisan dalam rangkaian perjalanan ini dan sebelumnya merupakan 'assignment' dari National Geographic Indonesia. Beberapa tulisan sudah tayang di majalah NG TRAVELER dan laman www.nationalgeographic.co.id.
Berikut ini, sebelas tulisan tentang pengalaman saya merayakan pesona Australia Barat yang mengagumkan. Kamu harus membaca semuanya...
Selamat membaca dan menarik kisah perjalanan yang lebih bermakna...
Nikmatnya Gudeg Yu Sum.
|
Yang menyusun Jogja itu tetap manis, percayalah apalagi kalau bukan gudeg.
Panganan yang berbahan utama nangka muda ini mengisi setiap denyut Jogja dengan
cita rasa manis dan dibuat dengan kesungguhan hati dari pembuatnya. Bagi saya,
pun gudeg adalah bagian dari manisnya kehidupan saya di Jogja. Salah satu
warung gudeg yang berkesan bagi lidah saya adalah Gudeg Yu Sum.
***
Sembilan tahun tinggal di Jogja, saya sudah sangat akrab dengan gudeg.
Saya masih ingat saat pertama makan gudeg, saya bisa menikmati suguhan gudeg
secara tuntas. Biasanya momok manisnya gudeg akan membuat warga pendatang
langsung bilang “Ini gudeg apa permen!”. Saya tak demikian. Manisnya gudeg langsung
tertancap di lidah dan diterima di perut dengan sungguh akrab.
Sejak itulah, gudeg mengisi hidup saya dari momen mahasiswa hingga
berkeluarga saat ini. Saya pun sambangi berbagai warung gudeg di seantero kota
hingga pelosok desa. Ada cita rasa khas yang didapat dari tiap warung. Ada yang
dominan gudeg manis sekali, lebih terasa pedas krecek, ternikmati gurih
arehnya, hingga bahan gudegnya bukan lagi nangka muda. Sebagian besar saya suka
dari segala gudeg yang pernah saya cicip. Hidup saya di Jogja manis bahagia
dengan gudeg.
***
Kali ini, saya hanya akan berkisah salah satu gudeg yang berkesan bagi
saya, yang baru-baru ini saya santap. Perkenalkanlah: Gudeg Yu Sum.
Kategorisasi yang dianut oleh gudeg Yu Sum lebih masuk kepada gudeg kering. Namun
jangan sangka gudeg kering hanya tentang rasa manis yang menggigit. Saya datang
ke Gudeg Yu Sum bareng beberapa travel blogger hits Jogja, yakni Aqied Shohiha (www.aqiedshohiha.wordpress.com),
Gallant (www.galautraveler.wordpress.com)
serta pasangan Hannif – Reza (www.insanwisata.com).
| Warung Gudeg Yu Sum yang gampang dijangkau, |
| Sejak 1974 mewarnai gudeg jogja yang bercita rasa tak terlalu manis. |
| Mari makan... |
Gudeg Yu Sum sudah ada sejak 1974 yang membuatnya sebagai salah satu gudeg
yang telah lama mewarnai lidah penghuni Jogja. Jujur, saya baru awal Juni lalu
mencoba gudeg ini berkat ajakan Insan Wisata. Sekilas tentang Insan Wisata,
yakni duo romantic blogger yang bergiat pada ecotourism dan pariwisata budaya. Sesekali
dari kebaikan hatinya, saya mendapatkan traktiran persahabatan. Gudeg Yu Sum
adalah salah satu mitra Insan Wisata dalam keragaman pusaka kuliner.
Saya pesan gudeg dengan lauk telor dan paha bawah. Saya juga padankan dengan wedang
uwuh. Dari tampak sekilas, penyuguhan gudeg termasuk berporsi besar. Nasi
banyak, ayam besar, telur gedhe, gudeg sesak dan krecek melimpah. Khusus krecek, saya
perhatikan besarnya proporsi krecek tempe dengan gudeg malah membuat Gudeg Yu Sum ini
ingin mengenalkan andalan menu gudegnya adalah pada kreceknya. Beberapa cabai pun makin menyemarakkan gairah rasa.
Mencoba seporsi gudeg, saya paling lazim adalah mencoba gudeg dulu, sang 'artis' utama. Lidah saya mengecap rasa manis tapi tak terlalu menggigit. Saya
suka sekali ada gudeg kering yang tak terlalu manis. Bagi saya, Gudeg Yu Sum
adalah salah satu warung yang pas menyuguhi gudeg yang manisnya tak kebangetan
serasa permen. Saya lalu padukan dengan krecek tempe dan rasanya sungguh cocok.
Rasa pedasnya memenuhi takaran pas, yang tak sampai merusak rasa gudeg dan
membuat perut bermasalah.
Saya lanjutkan dengan menggigit ayam. Saya langsung tahu ini adalah ayam
kampung yang dimasak lama dengan bumbu yang kaya. Rasa manis gurihnya meresap hingga
ke dalam. Saya juga coba telur bebeknya. Penampang masir pada telor berpadu tepat dengan manis gurihnya rasa. Sebuah kolaborasi rasa yang nikmat dengan gudeg, ayam, telor dan krecek tempe.
Saya lalu tandaskan sajian gudeg saya dengan lekas. Secara lugas, saya katakan
gudeg Yu Sum ini sumurung rasanya dari awal hingga akhir.
Di punghujung rasa, saya siram santapan gudeg dengan wedhang uwuh –
minuman tradisional Jawa. Wedhang uwuh Yu Sum pun memuaskan dengan perpaduan
kesegaran dan kesegaran jahe, cengkih dan rempah lainnya. Wedhang Uwuh ini
asalnya dari Imogiri dan dulunya merupakan minuman kesenangan para raja
Mataram.Hari ini, wedhang uwuh telah jadi minuman kesukaan para jelata seperti saya.
Makin sukanya, wedhang uwuh di sini disajikan denga gelas blirik. Nuansa masa silam
ala pedesaan Jawa makin terasa pada suguhan wedhang uwuh,
| Tungku tradisional. |
| Gudeg siap saji sehabis dimasak, |
| Suasana dapur. Tampak bumbu krecek. |
| Telur bebek yang manis gurih. |
Saya diajak untuk menilik dapur, yang berlokasi di belakang warung. Tampak
rumah bandungan yang dimodifikasi sebagai tempak memasak gudeg. Saya masuk ke
dalamnya dan berjumpa dengan tungku-tungku yang ditingkahi oleh wajan-wajan
berisikan bahan-bahan gudeg, Ada gori mentah, gudeg setengah matang dan matang,
areh, telor, krecek, ayam dan khusus bumbu. Semuanya serba tradisional dan dimasak dengan kayu bakar.
Dalam sehari, gudeg Yu Sum bisa memotong ayam kampung sebanyak 40 ekor.
Pasokan telur bebek dibutuhkan paling tidak 250-500 butir. Selain itu, beras
yang diperlukan mencapai 250 kg – 1 kuintal per harinya. Belum lagi puluhan
kilogram krecek dan tempe. Saat itu, Gudeg Yu Sum sedang melayani pesanan 200
kotak dari pelanggan setianya. Dalam sehari, pesanan Yu Sum bisa melambung
hingga 500 kotak. Yang makan di tempat juga bisa seratusan orang per hari. Saya
bayangkan, ternyata pelanggan Yu Sum begitu banyak dan sebagian di antaranya
adalah fans berat.
Senja rasanya mengalun pelan setelah dipasok kenyang dengan hidangan Yu
Sum. Temaram cahaya pada bangunan joglo Yu Sum yang artistik membuka
perbincangan kami tentang dunia travellling dan aneka apparatusnya. Selain lezat
gudegnya, warung Gudeg Yu Sum juga nyaman sebagai lokasi obrolan ringan. Tipikal
pendopo Joglo, udara segar bisa mengalir bebas yang ditangkap kubahnya
sekaligus disejukkan. Orang pun akan betah dilingkupi atapnya. Kami pun asyik
mengobrol hingga petang beranjak menuju malam.
***
Gudeg Yu Sum terletak tak jauh dari Terminal Giwangan, terminal terbesar
di Yogyakarta. Tepatnya, berada Jalan Imogiri Timur No. 165 Giwangan atau depan
Brimob Gondowulung. Cukup 5 menit berjalan kaki dari keluar terminal Giwangan. Biasanya
warung-warung Gudeg terkenal dan ternikmat berada di Jogja bagian utara dan
tengah, Gudeg Yu Sum yang berada di kawasan Jogja selatan bisa sebagai tempat
pas menyantap gudeg di saat kita melintas perjalanan via ring road Selatan. Atau, juga saat kita sehabis travelling ke
Gunungkidul atau pantai Parangtritis Bantul.
Menikmati suguhan Gudeg Yu Sum pun bisa leluasa. Buka sejak pukul 05.00
hingga 21.00 cukup memberikan waktu yang lapang bagi penggandrung gudeg atau
yang ingin mencicipi gudeg. Gudeg Yu Sum juga buka cabang di Jalan Magelang, utara
Bank BPR Danagung. Oleh karena itu, bagi penghuni Jogja yang tinggal di utara
tak perlu susah membelah macetnya Jogja. Wisatawan dari Semarang dan Magelang
pun bisa mampir menyantap rasa sumurung Gudeg Yu Sum.
![]() |
| "Keluarga Blogger Cemara" Travel blogger Jogja. |
| Rebusan tempe dan tahu untuk bahan lauk. |
| Nangka muda alias gori yang baru direbus. |
| Maknyus... |
![]() |
| Nasi Penggel, kuliner khas Kebumen. |
Jika Pekalongan memiliki Sego Megono, Surakarta mempunyai Nasi Liwet,
Cirebon memiliki Nasi Lengko, maka Kebumen mempunyai Nasi
Penggel. Sebutlah penggel seperti kita
menyebut ‘e’ pada pensil. Jika berada di Kebumen
pagi
hari, adalah sebuah keniscayaan untuk mengecap rasa khas
dari kuliner Kebumen yang memang hanya tersedia di kala pagi ini.
Masih pagi sekali, mentari
masih redup menampakkan jati diri sehabis lelap dipeluk malam hari. Namun, Dukuh Gunungsari, Desa Pejagoan, Kec. Pejagoan telah riuh dengan
kerumunan orang mengantri. Di pinggir
jalan raya, di dua sisinya, puluhan orang rela bangun pagi untuk mendapatkan sesuap Nasi Penggel yang dijual di beberapa
lapak. Saya pun turut mengantri sembari segar menghirup
udara pagi di daerah yang terletak 2 km sebelah barat alun-alun kota Kebumen.
Sudah jadi sahih bagi saya
untuk menyantap kuliner setempat setiap berkunjung ke suatu kota. Tanpa harus
terpaku semua harus dicoba dan terkenal, yang penting saya bisa mengecap beberapa
rasa khas makanan dari kota tersebut. Minggu lalu, saat berkunjung ke Semarang,
saya tak alpa untuk menikmati kuliner setempat. Pasti kira saya coba Lunpia?
Ah, kuliner satu ini yang telah menjadi ikon Kota Semarang tak perlu saya coba
lagi. Sudah terlalu sering saya coba Lunpia bepergian di Semarang.
Secara umum Semarang memiliki
banyak dan beragam kuliner khas sama seperti penduduknya yang juga beragam. Ada
kolaborasi menarik dari berbagai etnis yang mendiami Semarang selama berabad-abad.
Kondisi lokasi yang dekat dengan pantai juga tak bisa melepaskan makanannya
dari sentuhan petis. Tampaknya, Semarang menyediakan banyak kejutan kuliner-kuliner
yang bikin lidah dimanjakan. Sebut saja, Mie Kopyok, Bebek Gongso, Tahu Pong,
Tahu Petis, Tahu Gimbal, Wedang Tahu, Wingko Babat, Soto Semarang dan masih
banyak lagi
![]() |
| Gudeg Manggar. Istimewa nan langka. |
Yogyakarta identik dengan
gudeg. Yogyakarta adalah kota gudeg. Kecuali yang tidak suka, setiap orang yang
datang
ke Yogya akan dengan senang hati
merelakan lidahnya untuk mengecap gurih
manisnya olahan gori atau nangka muda yang berpadu dengan pedasnya sayur krecek dan nikmatnya lauk telor bebek, ayam suwir atau
tahu tempe bacem. Siang malam, 24 jam, gudeg senantiasa tersedia di tiap
penjuru Yogyakarta. Gudeg telah menjadi bagian denyut nadi kehidupan
Yogyakarta.
Tapi, belum banyak yang tahu
bahwa gudeg tidak melulu tentang olahan nangka muda. Pernah tahu ada gudeg dari
bunga kelapa? Gudeg ini lazim disebut
sebagai gudeg manggar. Begitu langka yang menjual sehingga gudeg manggar
tidaklah sepopuler gudeg nangka muda. Namun, bukankah yang langka itu selalu menggelitik rasa?
![]() |
| Darto Sijam sedang memetik buah kopi di pekarangannya |
“Enak banget ini kopinya” Berulang kali Pak Darto Sijam (45) menyingkap kesan nikmat setelah menyeruput secangkir kopi yang tersaji tubruk. Warga Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Selo,
Boyolali ini baru tahu rasa asli kopi yang ditanamnya. Pengalaman pertama ini pun
menjadi pemantik kebanggaan atas kopi daerahnya. Sekaligus menjadi sepotret ironi
dari petani kopi yang belum pernah merasakan rasa kopi terbaik.
Pak Darto Sijam dan banyak warga Lencoh menanam beberapa tanaman kopi di pekarangan
rumahnya. Tanaman kopi ini tumbuh dibiarkan saja. Sejak ditanam sebagai bibit bantuan
pemerintah tahun 2003, tanaman kopi tidak dipupuk, tidak disiram. Seperti
tumbuh liar. Saya pun menyaksikan banyak pohon kopi tumbuh sekedarnya menempati
lahan tepian di batas pekarangan.
![]() |
| Pak John Bulu yang meminum kopi asli Kelimutu. Dia penjual juga. |
Bagi saya, sebuah tempat
terasa paling mengagumkan adalah apabila
saya bisa menyeruput kopi sambil menikmati panorama indah. Di situlah sebuah
paduan cantik alam berkelindan manis dengan minuman hitam pekat yang sebegitu
nikmat. Bagi saya, momen itu semacam berada di surga dunia.
John Bulu (36) tahu betul bahwa saya adalah pecinta kopi. Dengan wajah
sumringahnya dia menawari saya untuk membeli secangkir kopi jualannya.
“Ini Kopi asli Kelimutu.” promosi Bang John, begitu sapaan akrabnya.
![]() |
| Rumpu Rampe yang sedap. Khas Maumere |
“Apa kuliner khas Maumere?”
Begitu pertanyaan yang terlintas di pikiran saya ketika mendarat di Bandara
Frans Seda, 14/03/2014. Perjalanan berjam-jam dari Jakarta membuat perut saya
dan tim Adira Faces of Indonesia merasa kelaparan.
Betapa tidak? Selain waktu perjalanan ke Maumere yang begitu lama, juga
karena cuaca panas Flores yang membuat perut kami keroncongan sebegitu
hebatnya. Kami lekas meminta tim driver dan guide mengantarkan kami ke salah
satu warung yang menawarkan kuliner khas di Maumere. Kami pun langsung menuju ke
warung Ikan Bakar Jakarta, tak jauh dari gerbang Bandara Frans Seda.
![]() |
| Tinutuan, bubur khas Manado. |
Kuning cemerlang mencolok mata. Langsung menyulut hasrat menggoda lidah.
Begitulah kesan pertama saya berjumpa
dengan Tinutuan ketika dihidangkan oleh pelayan Kios Pelangi, Manado ibukota
Sulawesi Utara. Tak diragukan lagi, sejak
pandangan pertama Tinutuan memiliki aura pesona yang sangat khas. Kuliner yang menjadi kebanggaan orang Manado ini sukses
memikat atensi saya bahkan sebelum saya mencoba mencicipinya.
Malam itu kota Manado masih
riuh dan gemerlap dengan aktivitas penduduknya. Kota di ujung utara pulau
Sulawesi ini memang tumbuh pesat menjadi kota yang sibuk, dari pagi hingga
malam. Saya baru kali ini hadir di Manado, baru tiba saat sore jelang maghrib.
Sesuai minat kuat terhadap kuliner setempat, saya pun lekas mencari Tinutuan.
![]() |
| Nasi Penggel, ekslusif khas Kebumen |
Merugilah orang jika datang ke Kebumen tanpa mencicip makanan khasnya. Menikmati
Kebumen pasti terasa hambar jika tiada memuaskan hasrat lidah. Sebagai daerah
yang dihidupi oleh masyarakat yang cerdik berbudaya dan berkreasi, makanan-makanan
khas hadir sebagai sajian spesial yang makin cantik mewarnai pesona Kebumen.
Sekali orang mencoba kuliner Kebumen, pasti ia akan tertambat cinta pada
Kebumen sepanjang masa.
Orang biasanya mengakrabi kuliner khas Kebumen yang paling terkenal, yakni: Sate Ambal. Sate yang berasal dari
daerah Ambal di pesisir Kebumen menawarkan kekhasan yang tiada bandingannya di
dunia. Sate ayam manis beraroma jahe dan rempah lain dengan bumbu sambalnya
yang juara: olahan tempe yang legit nan pedas.
![]() |
| Dawet Ayu Khas Banjarnegara |
Khas. Kekhasan selalu meminta pengalaman. Kekhasan senantiasa
merangsang percobaan. Apa yang khas dari Banjarnegara? Se-Nusantara akan
sepakat menjawab, apa lagi kalau bukan Dawet Ayu? Ibarat dua sisi mata uang,
dawet ayu dan Banjarnegara adalah dua
hal tak terpisahkan. Senantiasa melekat. Erat. Sebuah identitas khas. Tak
sempurna saat menjejak kaki di kota yang terletak di jalur tengah Jawa Tengah
ini, jikalau saya tak mengalami kenikmatan dawet ayu.
“Kakang kakang pada plesir, maring ngendi ya yi
Tuku dawet dawete Banjarnegara
Seger, anyes, legi.. apa iya?
Daweet ayu… Dawete Banjarnegara.”
Tuku dawet dawete Banjarnegara
Seger, anyes, legi.. apa iya?
Daweet ayu… Dawete Banjarnegara.”
Sebait lagu di atas adalah bagian dari judul lagu Dawet
Ayu. Setiap orang yang berada dalam budaya Banyumasan sudah tak asing lagi
dengan lagu ini. Lagu yang dipopulerkan grup lawak Banyumasan yang legendaris, Peang
Penjol, menyuguhkan sekilas kisah betapa dawet Ayu begitu segar, nikmat dan
manis. Betapa Dawet ayu telah menjadi bagian penting dari kehidupan orang Banyumasan.
Bahkan, katanya seseorang tak bisa dianggap orang Banyumasan kalau tidak tahu
lagu Dawet Ayu.
Khas. Paling khas menjajal Dawet Ayu di kota Dawet adalah di
warung dawet Pak Munardjo. Saya selalu menganggap, tempat terbaik mencoba yang
khas adalah di tempat yang orisinil. Tempat yang asli. Rahim dari sebuah penciptaan.
Dawet Ayu Munardjo di Jalan Dipayuda, Banjarnegara menyajikan orisinalitas rasa
dawet ayu Banjarnegara yang telah melintas kukuh selama tiga generasi. Jauh
sebelum dawet ayu diaku oleh tiap masyarakat Banjarnegara sebagai simbol
kebanggaannya kini.
![]() |
| Ikan Lempah Kuning Nanas. Kuliner khas Bangka. |
Panas kota Pangkalpinang yang menyengat tak sekedar membakar
kulit. Namun, juga lekas membuat perut lapar. Lantas, kuliner khas apa yang
bisa disuguhkan ibukota provinsi Kep. Bangka Belitung? Orang Bangka jelas serempak
menjawab: Lempah Kuning!
Semua orang Bangka pasti kenal apa itu lempah kuning. Tentu
pernah merasakannya juga. Lempah kuning adalah masakan paling khas dan populer
dari Pulau Bangka. Masyarakat di pulau yang terkenal dengan hasil timahnya ini
menempatkan lempah kuning sebagai sajian makan sehari-harinya. Lempah kuning
menjadi sebuah identitas yang melekat pada masyarakat Bangka. Sama halnya
dengan timah yang melekat pada pulau Bangka.
Siang itu, saya diajak Hakim, kawan sekampung di Kebumen
yang bertugas di Pangkalpinang, menyantap lempah kuning di Kantin NAD. Letaknya
di Jl. Raden Abdullah 184, Pangkal Pinang dekat Pasar Lama. Kantin NAD menjual
masakan-masakan khas Bangka dengan tagline “fresh from kitchen”. Artinya,
makanan yang dihidangkan adalah yang baru dimasak. Ini jelas lebih sehat, segar
dan lezat. Menu andalannya adalah ikan lempah kuning nanas.
Sekilas, lempah kuning mirip dengan pindang di Sumatra
Selatan. Wajar karena Pulau Bangka bertetangga dengan Sumatera Selatan –
dulunya dalam satu provinsi. Bangka juga sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu.
Sebagian besar orang Bangka asli adalah Melayu. Ada hubungan kultural termasuk
dalam makanannya. Meski demikian, lempah kuning memiliki ciri khas, beraroma
belacan yang menyedapkan. Belacan adalah semacam terasi khas berasal dari Toboali,
Bangka Selatan.
Pada dasarnya, lempah adalah istilah asli Bangka untuk
sebuah masakan. Lantas, istilah lempah kuning muncul untuk menyebut lempah
karena masakan itu berwarna kuning. Warna kuning ini timbul dari racikan kunyit
dalam lempah.
![]() |
| Sinonggi, kuliner khas Kendari. Terbuat dari sari pati sagu. |
Jangan salah sangka dulu! Ini sewujud makanan. Bukan lem, bung!
Sekilas tampak, semangkok besar putih kenyal-kenyal nan lembek ini sama dengan semangkok lem kanji. Tapi, mata fungsinya untuk melihat. Yang tahu rasa adalah lidah. Tatkala lidah menyantap, ‘lem’ ini adalah sinonggi. Sebuah makanan khas Kendari yang terbuat dari sari pati sagu.
Pada sebuah petang menuju malam, saya bersama beberapa kawan menjajal Sinonggi di Rumah Makan Aroma. Kami selepas mengadakan pelatihan keuangan daerah di Kota Kendari. RM Aroma menempati ruko di Jalan La Ode Hadi, Kelurahan Korumba, Mandonga, Kendari. Kawasan ini merupakan kawasan yang ramai di Kendari. Berdiri banyak ruko dan ada Swalayan Metro Kendari yang dekat dengan jalan utama.
![]() |
Sate Ikan Tanjung, kuliner khas Lombok Utara.
|
Siapa tak kenal kecantikan Tiga Gili (pulau): Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air? Seluruh penjuru dunia tahu kemolekannya. Tiga pulau mungil di Lombok Utara yang menawarkan suguhan terbaik ‘tropical paradise’: sun, sand, sea. Tapi... Sekedar mengunjungi destinasi wisata rasanya tidaklah lengkap. Kita mesti mencicipi kuliner khas setempat. Agar kisah perjalanan kita ke suatu tempat kian sempurna. Di Lombok Utara, ada kuliner legendaris tiada duanya di dunia yang harus dijajal, yakni Sate Ikan Tanjung.
Lapar mendera perut saya. Seharian bercengkerama dengan alam Gili Trawangan membuat perut kehabisan isinya. Berenang, berjalan di atas pasir dan berkeliling pulau memakan banyak tenaga.
![]() |
| Lontong berkuah lodeh tempe. Pedas dan Spicy. Keunikan Sate Sapi Kotagede. @iqbal_kautsar |
Selalu saja melintas Kotagede selepas maghrib, membangkitkan romantika manis sebuah kota lama yang dulu menjadi ibu kota pertama kerajaan Mataram Islam. Ada segenggam rindu pada keagungan peninggalan bersejarah. Ada sedekap hangat pada manusia-manusianya.
Petang itu, suasana Pasar Kotagede begitu riuh. Penuh hingar bingar penjual pembeli yang memadat. Seakan merayap-rayap dalam lorong pasar untuk bertransaksi. Tapi, Pasar Kotagede juga menawarkan hiburan rakyat. Beberapa anak tampak larut pada keceriaan naik mobil-mobilan berlampu. Pasar Kotagede adalah pusat keramaian yang tak lekang zaman.
Di sekeliling pasar, tengara lain Kotagede, toko-toko perak sudah mulai lesu. Tersisa sekedar beberapa toko yang masih mengharap pembeli di awal malam. Ikon ekonomi kota ini pun terganti dengan geliat-geliat kuliner spesial Kotagede. Ya, malam adalah gilirannya kuliner-kuliner lezat Kotagede beraksi. Kuliner yang sangat legendaris salah satunya adalah sate sapi. Saya bersama seorang kawan tertambat di Warung Sate Sapi Pak Cipto, Jalan Kemasan Kotagede, jalan utama menuju Pasar Kotagede dari Gedongkuning.
“Sate Sapi dua gih, pak” pesan saya.
Saya memilih sate sapi biasa. Tapi, jangan pikir kalau sate sapi di sini adalah kuliner biasa. Sate Sapi Kotagede begitu khas dan istimewa.
Tepat pada meja di bawah lampu bohlam saya mengambil tempat makan. Tampilan mejanya sederhana. Meja kayu memanjang yang sepertinya telah berusia tua. Kursinya pun juga memanjang. Ini begitu khas sebuah warung makan Jawa yang tradisional dan original. Di atasnya, sepasang tempe dan tahu bacem terhidang. Waktu itu saya begitu lapar sehingga baceman itu menjadi pengganjal perut sembari menunggu sate spesial datang. Terhidang juga minuman teh panas yang menggunakan gula batu. Seseruput pertama terasa nikmat. Teh rasa klasik. Wangi, manis, dan agak sepet.
Tak sampai seperempat jam, Sate Sapi pun terhidang oleh seorang pelayan yang ramah. Dia lekas mempersilakan kami. “Monggo, didahar.” Berjawa kromo halus.
![]() |
| Pecel Ngawi |
Tiga hari tertambat di Ngawi. Tiga hari itu juga tidak merasakan sesuatu yang spesial di kabupaten yang menjadi gerbang memasuki Jawa Timur dari jalur tengah Jawa Tengah. Pada beberapa hari itu, hidup serasa datar. Sekedar menjalani rutinitas survey kesehatan ke pelosok Ngawi. Apa yang bisa disajikan oleh Ngawi? Katakanlah kuliner khasnya. Begitulah pikir saya berulang-ulang. Hingga saya bisa mencicipi Pecel Ngawi di sebuah warung yang dinamai Tenda Biru.
Sebenarnya
tak ada yang spesial di warung ini. Sekedar warung makan yang kebetulan ramai
didatangi pembeli. Jualannya soto, pecel, lauk, gorengan, dan sareh. Standar. Lantas
apa yang spesial? Ya, karena saya sedang sangat mendamba kuliner khas Ngawi. Saya
anggap ini begitu spesial kalau di tempat inilah saya bisa merasakan sesuatu
yang khas Ngawi. Bukankah kalau berkunjung ke sebuah daerah, alangkah baiknya
mencoba sesuatu yang khas? Ya, begitulah pakem yang biasa dianut orang yang
suka melanglangdaerah seperti saya ini.
Saya pun meminta simbok penjual untuk
menyajikan pecel. Ya, karena ini di Ngawi berarti saya anggap ini adalah Pecel
Ngawi.
“Lauknya
apa?” tanya simbok penjual.
“Rempelo
ati” jawab saya setelah memutuskan antara dada atau rempelo ati.
Dengan
sigap, simbok penjual ini meramu pecel dengan tangannya. Tanggap. Tak sampai
semenit, Pecel Ngawi dambaan saya pun sudah jadi.
![]() |
| Durian Menoreh Kuning, Banjaroya. Benar-benar menggairahkan. |
Aroma durian begitu menyengat tatkala memasuki Desa Banjaroya. Semilir angin dari pegunungan Menoreh rasanya tepat menyapu wajah. Bau durian merasuk ke hidung kuat-kuat. Menghebatkan gairah menyantap sang raja buah. Perburuan saya pada sentra durian Menoreh terbaik pun menemukan targetnya. Desa Banjaroya, Kec. Kalibawang, Kab. Kulonprogo terkenal sebagai surga bagi pengikram durian.
Sepanjang kanan kiri jalan berderet lapak-lapak penjual. Kebanyakan para ibu yang menjajakan durian. Musim durian adalah berkah besar bagi warga desa yang terletak di pojok utara D.I Yogyakarta, berbatasan langsung Kab. Magelang Jawa Tengah. Banyak kendaraan berplat luar daerah berjejeran di depan lapak-lapak. Pengunjung tampak masyhuk mengulum tiap daging durian. Kurang puas ‘mendem duren’? Beberapa pengunjung memborong pulang durian Menoreh untuk oleh-oleh.
Namun, saya tidak tertarik mencicipi durian di pinggir jalan Kalibawang – Borobudur ini. Saya sedang melaksanakan misi khusus: memburu Durian Menoreh Jambon! Kata teman saya, untuk memperoleh Durian Menoreh Jambon harus ‘blushukan’ ke kampung-kampung. Langsung membeli ke pemilik pohonnya. Saya penasaran dengan keunikan warna jambon dan kelezatan rasa durian yang menjadi salah satu jagoan durian dari Jogja.
“Untuk bisa mendapatkan Durian Menoreh Jambon, di mana ya, Pak?” tanya saya kepada lelaki separuh baya di pertigaan Balai Desa Banjaroya.
“Kalau di pinggir jalan susah mas. Sekarang, juga tidak banyak pohonnya“, jawabnya. “Coba mas ke Pohon Induk Durian Jambon punya Bu Kasiyatun. Setelah Balai Desa, belok kanan mas. Terus ada setapak di kiri belok. Lurus hingga jalan naik. Nanti pohonnya ada di kanan setapak, di depan rumah dan ada plang tulisan Pohon Induk Durian Jambon”
Okeeey. Saya langsung tancap gas ke rumah Bu Kasiyatun di Dusun Slanden, Banjaroya. Jalanan kampung begitu sepi. Pepohonan merimbunkan saya dari terik siang. Beberapa pohon durian menyembul tinggi dengan buah-buahnya yang menggoda tapi telah ditali rafia. Begitulah cara pemiliknya untuk memudahkan dipanen. Motor saya pun pas berhenti di depan rumah Bu Kasiyatun. Sebuah pohon besar durian yang berplang tegak menjulang di pojok kiri depan rumahnya.
![]() |
| Pa'piong, masakan paling istimewa khas Toraja |
“Namanya Pa’piong” jelas Basho, “Spesial dari Toraja!”
Untungnya Basho sudah berpesan sebelumnya kepada rumah makan di pinggiran kota Rantepao ini. Karena saya muslim, rumah makan pun tidak menyajikan Pa’piong babi. Bukan perkara mudah mencari Pa’piong selain babi di Toraja. Kecuali sudah memesannya lebih dulu. Saya mendapatkan Pa’piong Ayam. Saya pun bisa makan di tengah kelaparan sehabis setengah hari berpetualang.
Daging ayam yang sudah tercerai berai. Bercampur dengan parutan kelapa yang menguning karena bumbu-bumbu spesial. Pa’piong disajikan masih panas. Aromanya begitu tajam menggoda. Mengundang gairah untuk lekas melahapnya. Angin sejuk khas dataran tinggi Toraja menyapu lembut badan saya. Ah, saya pun menikmati sesuwir pertama daging Pa’piong. Rasa pertama di lidah begitu ‘spicy’ nan gurih. Saya lekas melanjutkannya dengan nasi. Saya lapar.
“Pa’piong dimasak menggunakan bambu yang dibakar” terang Basho.
Di dalam bambu, lauk akan dimasak dengan dicampur sayuran dan bumbu. Cara memasaknya, bambu itu dibakar. Pa’piong menggunakan parutan kelapa, daun bawang, serai, telor, merica, bawang putih, dan bawang merah. Adapun isi lauknya paling khas di Toraja adalah babi. Namun, lauk ayam dan ikan juga sering dihidangkan terutama untuk wisatawan yang muslim.
Sebenarnya, Pa’piong telah banyak dihidangkan di rumah makan-rumah makan Sulawesi. Semacam masakan khas. Bahkan disajikan di hotel-hotel berbintang. Namun, Pa’piong dimasak dengan daun pisang dan alumunium foil yang dipanggang dalam oven. Bambu yang besar tidak mudah didapatkan. Maka, tentu saja Pa’piong paling spesial adalah di Tana Toraja sendiri, di lokasi asalnya. Masih menggunakan bambu. Aroma dan rasa khas Pa’piong lebih terjaga. Selain itu, gizinya tidak banyak terbuang jika dimasak dengan bambu.




















