Selancar Panganan Artisan Lokal Margaret River - NG TRAVELMATE #9

06.50

Kuliner artisan dari Riversmith Margaret River.

Ihwal pantai tercantik dan panganan terbaik yang bermanunggal loka, saya elegan mengindranya di Margaret River. Dipadankan arena berselancar dan kebun anggur yang sumurung, bagian barat daya kontinen Australia ini mengukuhkan sebagai primadona tujuan melancong yang genap.

Siang di Pantai Surfer’s Point sungguh cerah bermurah sinar surya. Semilir angin Samudera Hindia menerpa lembut pantai bertebing dengan bertepian pasir putih yang menghampar. Ribuan pasang mata asyik menatap ke kejauhan ombak yang bergulung-gulung riang. Peselancar coba menunggangi, melorong, meluncur lalu menghempaskan ombak untuk menciptakan akselerasi yang menantang.

Meskipun akhirnya jatuh, ketangguhan mereka beberapa saat berharmoni bersama ombak ini sanggup membuncahkan tepuk tangan semarak. Saking terkesimanya dengan perangai peselancar kelas dunia di kejuaraan Drug Aware Margeret River Pro, saya pun larut pada kemeriahan acara yang berpadu dengan keindahan saujana Pantai Surfer’s Point.

Pantai Surfer’s Point berkesempatan menghelat ajang prestisius selancar dunia World Surf League 2016 edisi ketiga, 9-19 April 2016. Dikenal sebagai surga selancar di Australia Barat, pantai ini sanggup memikat para atlet terbaik untuk berkompetisi pada level tertinggi. Ajang ini menarik pemirsa, baik penikmat selancar ataupun pengunjung biasa, untuk datang dari seantero Australia ke daerah yang berjarak sekitar 270 km dari Perth. Bagi Margaret River, kejuaraan selancar ini adalah sebuah kebanggaan yang premium. Saya beruntung bisa hadir bertepatan dengan acara internasional ini.

Saya menepi dari kegemerlapan pusat arena selancar. Saya mencari sisi pantai yang sunyi di sejengkal lokasi sebelah kiri. Setapak mengantar saya pada hamparan pantai yang lebih luas. Batuan karang sejenak menjeda pasir putih, yang di atasnya sedang bertengger dua wanita muda mengadu rasa. Ombak menerpa karang, dan cipratannya lantas memberi semarak pada lanskap. Ini adalah area Pantai Southside yang berada di samping Pantai Surfer’s Point. Setidaknya di sini, saya bisa menyesapi keindahan yang tak banyak dicampuri oleh kehadiran pengunjung.    

Margaret River memiliki sekitar 50-an pantai dan arena selancar yang bisa dinikmati sepanjang tahun. Deretan pantai ini berada asri dilingkupi Taman Nasional Leeuwin-Naturaliste seluas 190 km persegi. Bagi pengagum pesona biru dan putih kanvas alami, pantai di Margaret River adalah pemenuh hasrat untuk sejenak kabur dari realitas hidup yang sesak pekerjaan.  


***

Di jantung Margaret River, restoran Riversmith menjadi tempat saya menikmati nuansa kota. Margaret River ialah kota di region Barat Daya Australia yang dialiri sungai permai Margaret. Suasana kota berpenduduk sekitar 5000 jiwa ini mengalun anggun. Riversmith bisa jadi perwakilan kotanya. Pertama kali masuk saya jatuh hati dengan tata letak vintage dan aneka kerajinan dan barang rumahan yang disuguhkan. Riversmith mengusung konsep restoran artisan yang dirajut bersama arena pamer, ruang workshop dan wahana komunitas.

“Menu makanan di sini bahannya dari wilayah Margaret River dan sekitarnya.” ungkap Karen Macdonald, sang pemilik yang mengusung idealisme pertanian lokal yang berkelanjutan di Riversmith.

Menjajal suguhan menu makanannya, seperti Tasmanian smoked salmon, local heidi chevre with seasonal Salad, saya bisa merasakan aura begitu istimewa lokalnya yang dimasak dengan penuh renjana. Tak lupa, saya menjajal secangkir kopi hasil roastery mandirinya yang seimbang dan elegan dalam soal rasa.    

Margaret River memang masyhur dari susunan kedai-kedai panganan artisan yang dijalankan dari tradisi keluarga. Bertandang di Bettenay’s Margaret River, saya menyaksikan langsung proses pembuatan nougat bergaya Prancis secara tradisional. Dengan dipandu pemiliknya, Greg Bettenay, pencampuran bahan nougat yakni susu, madu, gula, kacang-kacangan (almond dan maccademia), serta bahan lainnya, dipaparkan penuh enerjik. Sekali lagi, bahan-bahan ini diperoleh diprioritaskan dari daerah Margaret River dan sekitarnya.

Ada lagi Olio Bello, produsen minyak zaitun premium di Margaret River. Tempat ini membawa konsep perkebunan organik zaitun yang dilengkapi dengan pabrik pengolahan minyak zaitun. Selanjutnya, minyak zaitun ini dijual atau bisa dinikmati pada olahan makanan di kafe yang terintegrasi. Selain minyak zaitun, Olio Bello juga memroduksi body lotion, minyak wangi dan sabun dari zaitun. Saya sempat menjajal aneka rasa yang unik minyak zaitun seperti basil, rempah asia, mandarin, cabai dan bawang, buah, dan lain-lain. Di masakan Barat, minyak zaitun menjadi bumbu penyedap yang membuat semarak cita rasa khas.

Tak ada yang boleh mengesampingkan khasanah wine dan kebun anggur di Margaret River. Karena wine inilah Margaret River kondang di dunia. Meski hanya tiga persen produksi anggur Australia di region ini, 20 persen pasar wine premium Australia berasal dari produksi Margaret River. Terdapat sekitar 215 kilang anggur yang sebagian besar memiliki perkebunan anggur sendiri yang digerakkan secara keluarga dari generasi ke generasi. 

Saya mampir di Cape Mentelle, salah satu pionir kilang anggur di Margaret River yang berdiri sejak tahun 1970. Meski tak mencoba wine suguhannya, saya tetap asyik menelusur Cape Mentelle yang dipandu oleh Julie Stade, pendidik wine. Dengan pabrik yang dikelola modern, wine yang dihasilkan merupakan kualitas premium. Cape Mentelle terletak anggun dinaungi pohon-pohon eukaliptus yang rimbun. Di sekelilingnya, kebun anggur yang luas terhampar menjadi penyuplai bahan wine terbaik sekaligus menyejukkan panorama. Pantas, saya lihat pula ada pengunjung datang ke Cape Mentelle khusus bertamasya anggur bersama anak-anaknya.  


***

Margaret River  memang romantis untuk pejalan cerdik. Memadukan keindahan alam pesisir dengan cita rasa terbaik  makanan dari tangan penuh cinta adalah daya pikat. Dari sehari kunjungan, saya tertarik dengan semangat penggunaan bahan lokal untuk menyusun aneka kuliner di Margaret River. Kedai dan pabrik pangan artisan sungguh menghargai kreasi pertanian, perkebunan, dan peternakan yang berkembang melimpah di Margaret River. Karunia kesuburan salah satu wilayah paling hijau di Australia ini pun tak sia-sia. Warganya sungguh mumpuni mendayagunakannya sebagai sajian istimewa untuk memantrai para pengunjung agar kembali lagi, termasuk saya. 



Video perjalanan di Australia Barat dalam NG Travelmate



Perjalanan di Australia Barat ini terlaksana bersama NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA - www.nationalgeographic.co.id dan TOURISM WESTERN AUSTRALIA BOARD - www.westernaustralia.com dalam tajuk acara NG TRAVELMATE. Selama 6 hari (5 - 10 April 2016), saya mengeksplorasi pesona Australia Barat. Ada 11 tulisan dalam rangkaian perjalanan ini dan sebelumnya merupakan 'assignment' dari National Geographic Indonesia. Beberapa tulisan sudah tayang di majalah NG TRAVELER dan laman www.nationalgeographic.co.id.

Berikut ini, sebelas tulisan tentang pengalaman saya merayakan pesona Australia Barat yang mengagumkan. Kamu harus membaca semuanya...


Selamat membaca dan menarik kisah perjalanan yang lebih bermakna...  

You Might Also Like

4 komentar

  1. liat makanannya jadi ngiler ni mas

    BalasHapus
  2. mas ada tips gak buat blogger pemula tentang tata cara nulis yang asyik, tulisan mas iqbal kecee abiez.... hehehe

    BalasHapus
  3. Margaret river ... namanya unik kedengarannya

    BalasHapus
  4. Terima kasih untuk infonya, rasanya ingin pergi kesana bersama keluarga dan bercerita masa lalu bersama-sama,
    Perjalanan kesana di temani kopi di pagi hari gimana yah rasanya hahahaha, yang pastinya hidup terasa belum terasa lengkap kalau tidak di nikmati dengan baik hahahaha. semoga semua makhluk berbahagia

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe