Gembira di Kosakora, atau Waya(gk)

12.03

Puncak Kosakora yang manis di kala sore hari.

Andai empat bulan lalu datang ke Pantai Drini dan tanya warga setempat tentang Puncak Kosakora, saya pasti akan menemui kebingungan. Begitu juga dengan warga setempat. Puncak Kosakora tidaklah dikenal warga Desa Banjarejo, Kec. Tanjungsari, Gunungkidul. Syukurlah saya datang saat Kosakora sedang naik daun di kalangan pemburu keindahan. Ya itulah, populer akibat gemerlap dunia media sosial terutama foto-foto kekinian di instagram.

“Dulu, kami ditanyai Kosakora ya tidak tahu, mas. Kosakora itu ternyata adalah Bukit Ngrumput. Bule dari Australia katanya yang beri nama Kosakora. Sejak dua bulan ini, Kosakora ramai didatangi wisatawan“ ungkap Masidi, warga setempat yang menjaga parkir.

Saya datang ke Kosakora adalah akibat menyimak keseruan di dunia instagram. Kosakora ibaratnya adalah bahan bincang populer dalam tataran tempat wisata alternatif di Yogyakarta. Sebelumnya Curug Kedung Kandang di Nglanggeran, Pathuk, Gunungkidul juga mengalami nasib serupa. Kali ini saya dikawani oleh Blushuker Nuswantara yang terkemuka yakni mas @arifwidodo89. Aneka inspirasi petualangannya berkeliling Indonesia bisa disimak di http://blusukanuswantara.blogspot.com

Jika tiada media sosial, Kosakora tetap menjadi  Bukit Ngrumput bagi Masidi. Ia dan warga Banjarejo biasanya mencari rumput di Bukit Ngrumput dan sekitarnya. Seiring dengan popularitas Kosakora, warga setempat telah sedikit mengemas kawasan yang masuk di sekitar Pantai Drini ini dalam bingkai wisata. Sudah dibuat papan jalan, tempat parkir, akses jalan lebih lebar dan aneka rintisan lain khas sebuah tempat wisata alternatif.

Dari tempat parkir, saya berjalan melewati jalan yang biasanya warga gunakan untuk berladang atau mencari rumput. Hanya saja, karena sekarang telah banyak dikunjungi wisatawan, jalanan ini lebih ditata. Di perjalanan saya berjumpa dengan beberapa warga yang beraktivitas di ladang atau sedang pulang sambil membawa rumput. Janganlah sungkan untuk menyapa mereka karena mereka akan sangat senang untuk membalasnya.

Saya tak langsung ke Kosakora. Tepat sebelum mendaki ke Bukit Ngrumput atau Kosakora ini, terdapat Pantai Ngrumput. Pantainya berpasir putih dan bersih. Waktu itu sungguh sepi. Hanya saya dan Dodo  yang sedang berkunjung. Pantai Ngrumput tidaklah lebar hamparan pasirnya. Menariknya terdapat sebuah goa kecil yang langsung tembus ke sisi lain Pantai Ngrumput. Saya coba masuk dan saat keluar ke lorong, saya menjumpai lanskap batuan karang yang berserakan dengan sedikit pasir putih. Nuansa matahari sore yang terik membuat lanskap di sini begitu ‘epic’.

Waktu itu, laut sedang surut. Kami pun berjalan menyusuri karang yang dilapisi rumput laut yang telah dipanen warga. Di kejauhan, dua orang warga asyik mengambil rumput laut. Warga pesisir Gunungkidul memang memanfaatkan kekayaan pantainya sebagai penambah ekonomi dan asupan gizi. Rumput laut adalah salah satu hasil pantai yang banyak dimanfaatkan warga. Di sela-sela karang, lanskap yang tersaji Pantai Ngrumput pun cukup manis. Ada sekawanan ikan yang bermain dalam kubangan-kubangan karang.  


Perjalanan mengikuti jalan ladang di bukit-bukit karst.
Pantai Ngrumput di saat laut surut. Cukup menyenangkan berada di sini. Sepi.
Goa kecil di Pantai Ngrumput. Cara untuk melihat ke sisi lain Pantai Ngrumput.
Kubangan di saat surut. Banyak dijumpai aneka ikan hias lho.

Pantai Ngrumput hanyalah jadi persinggahan saya sebentar. Kami mulai menaiki Bukit Kosakora. Sebelum naik, kami berjumpa dengan seorang Bapak tua. Terdapat petunjuk untuk masuk bayar Rp 2000 per orang. Saya pikir Pak Tua ini bisa jadi adalah penjaga bukit Kosakora atau malah yang memiliki tanah kawasan Bukit Kosakora.  Perjalanan mendaki tidaklah terjal. Jalanan relatif gampang. Tak sampai lima menit, saya dan Dodo sudah tiba di Puncak Bukit Kosakora.

Voila! Ah, tidak perlu berlebihan bahwa pendakian di Puncak Kosakora adalah suatu yang hebat. Cukuplah tempat ini dinikmati sebagai suatu kegembiraan yang melegakan jiwa. Saya pikir Puncak Kosakora hanyalah tempat yang lebih tinggi dibanding bukit-bukit karst di sekitarnya, terutama yang mengarah ke panorama sebelah barat. Ditambah dengan hamparan rerumputannya yang cukup luas, menjadikan Puncak Kosakora sangat menarik atensi untuk dikunjungi. Makanya, Puncak Kosakora cepat memikat warga media sosial.

Kosakora sudah cukup ditata untuk melayani para pengunjung. Terdapat beberapa tempat duduk kayu untuk menikmati panorama. Ada juga tempat sampah, meski beberapa sampah tampak berserakan di lokasi (ini yang saya benci sekali). Disediakan pula camping ground bagi yang ingin menginap di Kosakora.

Memang belum ada fasilitas seperti toilet, tapi saya rasa tidaklah perlu. Bagi yang ingin pamer ‘nasionalisme’ di ketinggian, sudah tersedia Bendera Merah Putih beserta tulisan Puncak Kosakora. Bukankah berfoto dengan bendera Merah Putih itu adalah sebuah kekerenan dalam merepresentasikan nasionalisme kekinian?

Duduk di rerumputan dengan belaian hangat sinar mentari yang terik sore itu sudah cukup syahdu bagi saya di Kosakora. Sambil menikmati momen senja, sejenak saya hirup dalam udara segar Samudera Hindia dan Kawasan Karst Gunung Sewu. Hanya saja, saya kok merasa terlempar pada satu imajinasi yang terasa aneh. Aha, saya teringat dengan gambaran Wayag di Raja Ampat yang pesonanya luar biasa indah dan mahal. Maklum satu kawan tajir saya ini baru pulang dari Wayag untuk yang kedua kalinya dalam jangka waktu tidak ada satu tahun.

Di Kosakora, saya seperti menemui Wayag.  Tapi tentu jelas dalam porsi yang sangat berbeda. Paling tidak kesamaannya ada bukit karst yang bergunduk-gunduk, ada lautan, ada ketinggian. Jika Bule Aussie menamai tempat ini Kosakora, saya jadi ingin menamainya sebagai Puncak Waya(GK). Saya coba konsultasikan kepada Dodo dan ternyata dia tak menolaknya. Patut dicermati, saya memberi (GK) ini karena Kosakora terletak di Gunungkidul, yang lazim dicekakkan menjadi “GK”. Anggap saja ini Wayag di Gunungkidul.

Awalnya, saya pikir senja kala itu akan biasa saja. Tak ada awan, berarti tak ada mega yang gegap gempita penuh warna-warni. Ya, seperti senja yang biasa saja. Namun, semesta tampaknya sedang bermurah hati untuk menyuguhkan garis senja yang menembus cakrawala. Saya minta Dodo untuk berpose ala yoga seperti menjadi sang ‘pengendali senja’. Maksudnya bukan pamer ekspresi kekinian,  tapi agar melengkapkan suasana ala Waya(gk). Maklum kawan saya yang ke Wayag Raja Ampat juga berpose ala Yoga. Anggap saja, biar Kosakora mendekati kemiripan dengan Wayag.


Catatan

-  Lokasi Puncak Kosakora sebetulnya terdapat di Desa Ngestirejo, Tanjungsari. Hanya saja akses yang paling mudah adalah via titik di sebelah timur Pantai Drini yang terletak di Desa Banjarejo. Pantai Drini adalah salah satu pantai populer di Kawasan Pantai Baron-Sundak di pesisir Gunungkidul.

-  Puncak Kosakora bisa dilihat pada titik koordinat  -8.141133, 110.584049


Sunset sempurna bisa dinikmati dengan begitu manis di Kosakora. 
Jika menuju ke sisi timur Kosakora, maka akan melihat lanskap seperti ini. 
Aktivitas yang digemari di Kosakora. Berfoto dengan papan dan bendera. 
Gundukan-gundukan karst yang menciptakan lapis-lapis keindahan.
Jika bertemu dengan warga setempat, menyapalah ya. 
Dodo berpose yoga di Waya(gk), eh Kosakora.


You Might Also Like

21 komentar

  1. wha mantap ams iqbal besok kamis nyuslu dah ke sini josh dah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga menyenangkan perjalanannya mas Angki.. Ditunggu juga ceritanya.. :D

      Hapus
  2. Barusan mampir dari mas Angki trus lgs ke sini... Kosakora memang indah bgt ya mas hehee. salam kenal, sm2 org Kebumen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiip mas Kafaqi.. Salam kenal juga wong Kebumen.. :D

      Hapus
  3. bookmark dulu..blom pernah kesini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaaah, pasti mas Anno langsung menuju Tekape.. hahaa.. Matur nuwun sudah berkunjung.. :D

      Hapus
  4. Cakep memang ya Kosakora ini walau kaget juga kalau ternyata ini bukit Ngrumput, hahaha. Dulu trekking dari Drini ke Ngrumput nggak nemu spot foto yang menarik. Dulu memang bener ini bukit belom populer. Padahal kalau dilihat-lihat di sekitar pantai Gunung Kidul kan ya banyak bukit. Tinggal nunggu bukit mana lagi yang selanjutnya jadi populer, hehehe.

    BalasHapus
  5. Ijin share om, biar bsk bisa ngajak temen2 kesini XD

    BalasHapus
  6. Alami bangt .jadi kepengen menuju ke tekape

    BalasHapus
  7. Alami bangt .jadi kepengen menuju ke tekape

    BalasHapus
  8. baguuuus banget bisa banget nih dicatet pas jalan - jalan ke jogja nanti :D

    BalasHapus
  9. wah kece amat mas bakal ke Kebumen lagi dah

    BalasHapus
  10. bagus ya!kalo kesana pake kendaraan parkirnya di pantai drini ya?trus jauh gak sih kalo jalan dari pantai drini?

    BalasHapus
  11. belum sempat ke tempat hits ini :D. ada kabar bahwa lahan tersebut milik pribadi ya.

    BalasHapus
  12. Mas Iqbal, saya minta kontaknya bisa?? Saya mau minta tolong tanya mengenai akses transportasi Kosakora.. ini kontak saya 081282664621.. trims

    BalasHapus
  13. Kalo bawa mobil terus nge camp disana bisa gak mas?

    BalasHapus
  14. nice post bro :D really helpful

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kunjuungannya.. syukurlah sangat bermanfaat kak Glen..

      Hapus
  15. indah sekali ya berfoto disana, kita pun bisa melihat sunset yang indah dari kosakora..

    BalasHapus
  16. panorama yg begitu indah .... jadi kepingin kesana ni

    BalasHapus
  17. memang syahdu mas puncak kosakora. apalagi ditambah trekking di bagian barat yang kalo nggak salah namanya lemahsangar dimana tak boleh didirikan bangunan apapun disana. meskipun saat itu rada salah waktu karena tengah hari pas panas-panasnya. :D

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe