Harapan Bersemi Rumput Laut Kertasari

20.21

Agus sehabis memanen rumput laut. Harapan kehidupan Kertasari

Dari perahu mungilnya yang sarat muatan, dengan bersemangat Agus memikul hasil panen rumput laut hari itu. Dia telah memboyong berulang kali si ‘permata’ hijau ini, hendak menepikan ke daratan lebih dalam. Rumput laut ini lantas digeletakkan dulu di atas pasir beralas jaring, yang lalu dipaparkan pada tempat penjemuran. Rupanya ia sedang bergegas, mendung gelap telah merambah Pantai Kertasari. Sebelum hujan turun, ia harus paripurna pekerjaan dan bisa lekas pulang ke rumah demi bercengkerama hangat dengan istri dan dua anaknya.

Di sisi lain Pantai Kertasari, tak jauh dari lokasi Agus, Rusmiyati dengan cekatan memisahkan rumput laut berjenis Eucheuma Cottoni dari ris-ris (tali) yang mengikatnya. Ibu satu putri ini saban hari menjalankan pekerjaan demikian, setelah mendapatkan pasokan panen rumput laut yang lazim dijalankan kaum lelaki. Di bailk tempat Rusmiyati berkerja, berdiri  gubug sederhana tempat penyimpanan rumput laut yang sudah mengering. Nusi duduk di muka gubug itu sambil memilah santai rumput laut mana yang benar-benar kering dan mana yang masih kurang kering. Tampaknya dia sambil mengaso setelah sesiangan memanen rumput laut di perairan Kertasari.

Sepenggal narasi hidup ini saya jumpai begitu seksama di Pantai Kertasari. Dalam rangkaian Sustainable Mining Bootcamp (SMB) PT Newmont Nusa Tenggara hari ketujuh, saya berkunjung ke pantai yang terletak di Desa Kertasari, Kec. Taliwang. Secara lokasi, desa ini tidak berada di lingkar tambang PT NNT, melainkan di daerah penyangga tambang. Bootcampers perlu mengunjungi sentra penghasil rumput laut di Sumbawa Barat ini karena menjadi salah satu wujud program CSR PT NNT.

Patut diapresiasi, PT NNT sudah sejak beberapa tahun silam mengembangkan dan menjalankan pendampingan terhadap masyarakat Kertasari dalam budi daya rumput laut. Tak sekedar sendiri, PT NNT secara apik berkolaborasi dengan Pemkab Sumbawa Barat, swasta, perguruan tinggi dan organisasi swadaya. Pendampingan dilakukan dalam wujud, seperti penyuluhan, penyediaan benih, fasilitasi dalam penyimpanan, pengangkutan hingga penjualan hasil panen. Hasilnya, ribuan masyarakat di Kertasari sanggup berdaya menjadi petani rumput laut yang mandiri.

Di tahun 2015 lalu, rumput laut Kertasari makin cerah setelah dibangun pabrik pengolahan carrageenan. Hasil produk carrageenan ini diserap oleh PT Ocean Fresh untuk diolah menjadi produk kosmetik dan kesehatan.  Produk yang akan dihasilkan antara lain sabun, body lotion, shampoo, pasta gigi, sun block, scrub, dan facial wash. Sementara ini, produksi sudah diekspor ke berbagai negara. Ke depan hasil olahan dari Kertasari ini juga akan menghiasi hotel, spa, salon kecantikan di Nusa Tenggara Barat yang kini terus naik daun berkembang  sektor pariwisata.

Rusmiyati tekun melepas rumput laut dari ris yang mengikatnya.
Perahu sarat muatan rumput laut tertambat di Kertasari.
Koperasi Depo Rumput Laut di Kertasari 

Menariknya, warga Kertasari juga sudah mafhum tentang pentingnya kelembagaan ekonomi untuk pengelolaan rumput laut. Maklum, bisnis manis rumput laut pasti dilirik licik para tengkulak yang ingin masuk memainkan harga. Berdirilah koperasi Depo Rumput Laut “Pasir Putih” yang menjadi pengayom rumput laut Desa Kertasari. Memiliki gedung yang komplit dikelilingi papan penjemuran dan gudang berhadapan langsung dengan perairan Kertasari, Koperasi ini seakan jadi mercusuar penerang masyarakat.

“Setiap kali panen, kami bisa menyerap 90 ton rumput laut kering dari masyarakat. Lalu, kami pasok ke Ocean Fresh” ungkap Leo, Ketua Koperasi yang mengajak saya untuk melihat lebih dekat gedungnya.

Sore itu, Desa Kertasari tidak sedang merayakan musim panen besar. Namun, tiap harinya pasti ada sebagian petani yang menjalankan laku panen. Hal ini memang dikondisikan agar tetap ada warga yang mendapatkan rejeki dan mengamankan pasokan agar selalu tersedia. Rata-rata rumput laut memerlukan masa produksi dari penanaman hingga panen selama 45 hari. Dalam setahun, para petani Kertasari bisa melakukan panen hingga 5 kali.

Namun, ada masa dimana petani istirahat tak bertanam  rumput laut, yakni saat pancaroba yang biasanya jatuh pada bulan April saat peralihan menuju angin timur atau bulan Oktober saat peralihan menuju angin barat. Musim Pancaroba menjadikan arus laut terlalu lemah yang membuat batang rumput laut tak bergerak lalu tertutup pasir sehingga rumput laut gampang mati. Secara lokasi, kawasan Pantai Kertasari memang sangat cocok menjadi tempat budi daya rumput laut. Lanskap pantai yang landai dengan kondisi arus laut yang tetap terjaga membuat rumput laut bisa semarak dalam sistem patok yang digaungkan di Kertasari.

Sudah sekitar tiga puluh tahun, begitu Leo mengingat, budi daya rumput laut bercokol mesra di Kertasari. Awalnya memang masih sedikit – termasuk orang tuanya yang pertama menjadi petani rumput laut, karena warga seperti biasa, menanti bukti nyata. Perlahan tapi pasti masyarakat yang aslinya menjadi nelayan pencari ikan pengarung lautan luas, beralih profesi sebagai petani rumput laut. Ternyata bertani di lautan muka kampungnya sungguh menggiurkan. Berkah rumput laut pun bisa dinikmati dalam skala lebih luas. Ibu-ibu dan anak-anak bisa turut terlibat dalam siklus pertanian rumput laut.

Canda awan cendawan Pantai Kertasari yang memesona.
Rumput laut yang sedang dijemur di papan penjemuran.
Gubug penyimpanan rumput laut warga 

Setiap keluarga di Kertasari rata-rata punya 200-300 ris tali rumput laut. Setiap ris memiliki panjang antara 10-12 meter. Ris-ris ini akan ditanam di ladang milik keluarga yang perolehannya berdasarkan inisiatif tanam dan kesepakatan. Rusmiyati punya 500 ris yang memroduksi setiap panen sebanyak 100 kuintal rumput laut kering. Nusi memiliki 100 ris yang menghasilkan 20 kuintal setiap panen. Agus punya 350 ris yang mencipta 90 kuintal.

Dari rumput laut, putri semata wayang Rusmiyati sanggup disekolahkan hingga perguruan tinggi di Mataram. Dua putra Agus kini sedang mengenyam pendidikan kelas 2 SMK dan 3 SMP. Sebagian lainnya, berkat rumput laut warga Kertasari bisa memoles rumah beserta seisinya. Ada pula yang sanggup pergi haji dari hasil budidaya rumput laut. Rumput laut terbukti memeriahkan kesejahteraan ekonomi kampung yang menyepi di pesisir Taliwang ini.

Sayangnya, Agus, Rusmiyati, Nusi, juga Leo sedang tak cukup bahagia beberapa pekan ini.  Biasanya satu kilogram dihargai Rp 10.000, kini harga sedang jatuh mencapai Rp 7.000. Dengan harga sejumlah itu, mereka harap-harap cemas dengan keuntungan yang akan diperoleh. Sanggupkah harga jual itu melampaui biaya produksi seperti pemanenan, penjemuran, pemasangan bibit, pencucian tali (ris) hingga pengangkutan? Nah ada tanya yang tak terjawab, kenapa bisa harga turun segitu? Agus, Rusmiyati dan Nusi pun tak tahu apa sebabnya. Pastinya, orang Ekonomi akan seperti biasa menjawab, bahwa ini terkait hukum permintaan dan penawaran. 
 

Sedapnya Kuliner Rumput Laut dari Ibu-ibu Kertasari

Sebelum melihat geliat budidaya rumput laut rakyat di sepanjang pantai, Bootcampers bersilaturahmi dulu lebih akrab ke segenap masyarakat Desa Kertasari. Sambutan Desa Kertasari pertama kali adalah tentang ciri khas pemukiman berupa rumah-rumah panggung bertiang tinggi yang berjajar manis seakan  jalan kampung. Selintas, saya ingat suasana kampung ini dengan yang ada di tlatah Bugis dan Makassar. Memang, sebagian besar penduduk Kertasari berasal dari Bugis dan Selayar.

Panggung perhatian kini tertuju pada kolong salah satu rumah panggung yang tampak ada aktivitas yang beda dari kebanyakan. Saya menjumpai beberapa warga yang sedang melakukan aktivitas menenun. Ibu Tek Neh cermat memintal benang yang disebut Roeng. Ibu Lamkeh sedang melakukan Nganeh, yakni menyusun pintalan benang untuk menjadi pola. Satunya, Ibu Nawaliah asyik menenun benang warna-warni untuk disusun menjadi kain.

Ibu Nawaliah tekun menenun. Mewarisi tradisi tanah leluhur asal Selayar
Dengan cermat Ibu Lamkeh menyusun benang untuk membuat pola.
Bocah Kertasari biasanya bermain di kolong rumah panggung.

Kain tenun yang sedang diselesaikan ini berpola khas Selayar, tanah leluhur mereka. Biasanya, perlu 3 hari untuk menyelesaikan kain sejenis ini dengan kerja intensif sepanjang hari. Jika pola lebih rumit, paling tidak perlu waktu satu minggu. Sayangnya, aktivitas menenun di Kertasari sudah tak sesemarak dulu ketika kisah manis rumput laut belum hadir. Dulunya, menenun adalah kegiatan lazim para perempuan Kertasari di saat menunggui rumah dan suami yang mencari ikan di lautan lepas.

Padahal, membayangkan penghasilan dari menenun juga lumayan. Satu kain yang berpola biasa dihargai Rp 400 ribu. Jika rumit bisa berharga Rp 750 ribu per kain. Biasanya ada pengumpul yang datang untuk menjualkan, tapi mekanismenya uang baru dibayarkan setelah laku terjual. Beruntung, kini PT NNT juga turut bantu menjualkan di koperasi PT NNT yang bisa menjadi cinderamata karyawan.

Tetiba, saya diajak Bunda Intan Rosmadewi (www.intanrosmadewi.blogspot.com) untuk menerobos ke dapur rumah warga yang sibuk menyiapkan suguhan santap siang untuk para Bootcampers. Olala… Ternyata sajian desa rumput laut juga tak jauh-jauh dari olahan rumput laut. Para ibu Kertasari sedang sibuk meracik es rumput laut dan urapan rumput laut. Selain itu, ibu-ibu ini juga menyiapkan kuliner asal Kertasari dan Sumbawa seperti Sate Abalon (Mata Tujuh), Sayur Sepat, dan Sambal Cabe. Tak cuma bahagia karena ada menu makanan baru yang bisa dipelajari, Bunda Intan tampak sumringah setelah tahu bahwa mereka berasal dari Selayar, kampung asal orang tua Bunda.

Ibu Dalifah dan Andi Hani tampak cekatan membuat Urap Rumput Laut. Mereka sedang mencampurkan rumput laut yang sudah bersih dan tidak amis dengan bumbu urap yang berbahan kelapa parut, garam, cabe merah, lombok rawit, tomat, bawang putih, bawang merah dan jeruk nipis. Tak lupa, ditambahkan pula campuran toge untuk membuat Urap Rumput Laut makin menggugah selera. Uniknya, ibu-ibu ini cukup higienis, sudah paham dengan menggunakan sarung plastik tangan saat mencampurkan rumput laut.

Menengok pembuatan Es Rumput Laut bersama Bunda Intan.
Ibu-ibu sedang membuat urap rumput laut khas Kertasari juga.
Sedari kecil, kebanggaan terhadap rumput laut sudah ditanamkan pada bocah-bocah Kertasari.

Di ruang lebih belakang, kesibukan meracik es campur laut juga tak kalah seru. Rumput laut yang sudah tak amis ini terlebih dulu dibuat semacam lapis yang berwujud seperti agar-agar kenyal. Kemudian, dipotong-potong seperti dadu dan dicampurkan bersama campuran nanas, kelapa muda dan es batu. Tinggalah disiram dengan kesegaran air santan kelapa dan manisnya gula merah yang kental. Jadilah Es Rumput Laut yang menggiurkan khas Kertasari.  

Sajian sate abalon juga menarik untuk dikulik. Masyarakat Kertasari gampang menjumpai abalon di perairan sekitarnya sehingga kuliner ini sangat umum bagi warga sini. Abalon direbus hingga empuk lalu dipotong, ditusuk dan dibakar. Lumurilah dengan bumbunya yang menggoda dengan berbahankan garam, kacang tanah, merica, cabe, bawang putih, bawang merah, kecap dan jeruk.

Patutnya, sate abalon enak disandingkan dengan sambal cabe hitam ala Kertasari yang sangat unik. Sambal Cabe Hitam dibuat dengan terasi, bawang merah, bawang putih yang dibakar dalam bara api.  Sedangkan cabe merah digoreng sekejap untuk menghilangkan aroma cabe yang pahang dan keras. Selanjutnya, semua bahan diulek halus lalu ditambah sedikit gula dan daun jeruk. Terakhir, keseluruhan racikan ini digoreng dengan api kecil hingga menghitam. Nah, mau tahu lebih lengkap resep-resep spesial kuliner Kertasari silakan berkunjung ke tulisan lengkap Bunda Intan di -> Menikmati HidanganSea Food dari Penduduk Asli Selayar di Kecamatan Taliwang

Momen paling membahagiakan akhirnya tiba! Saatnya menyantap kuliner sedap ciptaan ibu-ibu Kertasari. Saya paling favorit dengan es campur laut. Maklum, panasnya tlatah Sumbawa ditambah dengan letak langsung di pinggir laut menjadikan es campur laut jadi semacam oase surgawi. Manis alami gula merah yang berpadu dengan segarnya rumput laut yang harum bersama campuran lainnya adalah juara

Mau? Urap rumput laut, Sate Abalon, Sayur sepat, dll. Buatan penuh cinta dari Ibu-ibu Kertasari.
Urap rumput laut, salah satu kuliner olahan rumput laut yang masih sederhana.
Bootcampers tak sabar menyantap kuliner Kertasari. Mesti pada lapar banget kan?

Es Rumput Laut sanggup memberantas pedas yang semulanya saya makan Urap Rumput Laut begitu antusias. Es Rumput Laut juga bisa menetralisasi pedas dan kolesterol Sate Abalon  yang tak bisa saya berhenti makan meski sudah 14 tusuk. Sayur Sepat yang ‘berhiaskan’ ikan segar juga jadi pas gurihnya tatkala bisa merasakan manisnya es rumput laut. Siang itu, kawan-kawan Bootcampers sungguh berpesta menyantap aneka kuliner yang rasanya dibuat penuh cinta oleh ibu-ibu Kertasari. Spesial untuk Es Rumput Laut lah yang pertama berhasil tandas.  


***

Perlu diakui, berlimpahnya rumput laut di Kertasari bukan berarti bisa mudah dibawa pergi ke luar daerah. Biasanya hasil rumput laut yang mentah, lebih baik warga menunggu untuk diserap oleh industri atau dibeli pengepul. Bagaimana dengan olahan rumput laut yang bisa langsung dikonsumsi secara nikmat? Perkara itulah yang kini telah diatasi oleh Adi Putra Maulana. Beruntung Kertasari punya pemuda visioner nan progresif ini yang berani mendobrak kebiasaan lama nan lembam yang biasa menyergap suatu sentra produksi bahan mentah.

Selepas kuliah, lulusan Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Mataram ini lebih memilih pulang  kampung dan merintis usaha dodol rumput laut. Dengan mengusung merk Maulana, baru tiga bulan usahanya telah sanggup mendiversifikasi produk olahan rumput laut seperti cheese steak rumput laut. Sehari usaha Maulana bisa memproduksi 60 kotak kecil dodol rumput laut dengan dua tenaga kerja. Satu kotak dodol rumput dihargai Rp 5000. Pemasaran masih terbatas di daerah-daerah sekitar Taliwang.

Dodol rumput laut produk pemuda progresif Kertasari, Adi Putra Maulana.
Manisnya Pantai Kertasari bisa menjadi destinasi wisata Sumbawa Barat yang bisa dikolaborasi dengan hasil rumput laut.
Rumput laut di Kertasari perlu didiversifikasi produk dan ditingkatkan nilai tambah.

Memang saat ini usaha Adi masih kecil, tapi ia punya mimpi besar untuk membuat ekonomi Kertasari lebih ramai. Dia yang terlahir dari orang tua petani rumput laut, gelisah kalau selama ini banyak rumput laut dihasilkan di desanya, tapi kurang bisa diolah dan bernilai tambah. Mengolah rumput laut jadi dodol bisa menghasilkan nilai yang tak sekedar Rp7000 per kg, tapi bisa melipatgandakan pendapatan. Tidakkah ini menarik bagi Agus, Rusmiyati dan ribuan lain masyarakat Kertasari yang seharusnya tak perlu terlalu cemas dengan jatuhnya harga rumput laut?

Satu lagi, jika semarak wisata Sumbawa Barat terus tumbuh, pasti akan timbul kebutuhan tentang oleh-oleh khas daerah. Di sinilah visi besar Adi Maulana berjumpa dengan kesempatan besar untuk menggairahkan produksi olahan rumput laut Kertasari. Saat saya diminta istri oleh-oleh khas Sumbawa Barat, jujur saya bingung mau membelikan jajan apa. Ide lantas timbul ketika menyimak suguhan dodol  rumput laut dari Adi Maulana. Saya ingin pesan, ah sayangnya siang itu saya tak beruntung. Dodol rumput Maulana sudah habis dipesan. Laris manis!


Bunda Intan bahagia sekali di Kertasari, bertemu dengan saudara setanah leluhur asal Selayar. Sangat giat berburu menu masakan baru. Saya beruntung selalu dompleng beliau. :D
Leo, ketua koperasi Depo Rumput Laut Kertasari yang gemar bercerita tentang potensi daerahnya.
Nusi memilah rumput laut kering.
Sate Abalon atau Mata Tujuh yang nikmatnya menggelora. Saya habis 14 tusuk euuy.. 
Bocah di Taliwang asyik bermain Pake, permainan gasing ala Sumbawa Barat.
Yeaaay tendangan Kertasari. Pantai yang sangat manis untuk loncat-loncat.

You Might Also Like

24 komentar

  1. Semoga bantuan dari Newmont memandirikan warga setempat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin Kang Didik..

      semoga bisa memandirikan warga semua..

      terima kasih yaa

      Hapus
  2. Balasan
    1. Tas tas tas tuntas ya mas Hendra..

      Kertasari memang memberi kesan mendalam trkait semngat warganya.

      Hapus
  3. Urap lain dari laut itu namanya Lato, etahlah kalau bahasa Indonesianya apa hahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Urap Lato itu bahannya apa mas?
      Waah kyknya aku harus mencoba Lato

      Hapus
  4. Yang paling spesial dari kertasari, ya urap rumput launtq itu. Kriuk-kriuk saat dikunyah. Gak ada bau anyirnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mauuuu lagi rumput lautnya ya Bu Evi. Harus dikirim lagi ni ke Kertasari.. :D

      Hapus
  5. Salah seorang kompasianers Lombok mengatakan urab rumput laut itu namanya "Bebiru"

    Reviewnya Romantis abisan - abisan

    Picturenya keren cekali Mas Iqbal. Salam Rerumputan

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Bunda..

      Oh iya, namanya Bebiru ya, sama-sama nikmat ya Bunda..

      Terima kasih sekali lagi Bunda..

      Hapus
  6. Makan siang di Kertasari itu jadi puncak pengalaman makan selama di Sumbawa Barat. Berbagai menu yg baru pertama kali dicicip menjadi santapan paling lezat siang itu. Urap rumput laut, amboiiii krenyes2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar-benar puas saat makan di Kertasari. Makan yg rasanya benar2 jooss ya Bunda, bikinan penuh cinta ibu-ibu Kertasari..

      :D

      Terima kasih Bunda Dosen..

      Hapus
  7. wah boleh nih mas kesana.... kapan kesana lagi mas....? biar saya sekalian ikut... hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga pingin ke sana lagi.. nunggu sponsor dulu lah.. :D

      Hapus
  8. Keren mas Iqbal tulisannya, dari pertama baca judul aja udah bikin tertarik.
    Kertasari emang selalu punca cerita tersendiri

    Salam hangat Blogger

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih tanggapannya mbak endang.. Salam kenal ya..

      Kertasari memang berkesan ttg alam dan kehidupan masayarakatnya.. :D

      Hapus
  9. saya termasuk penggemar es rumput laut (walau sekarang sudah jarang menemukan yang jual), ternyata dibalik panganan yang lezat tersimpan sebuah pengorbanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah kak, es rumput laut di jogja banyak.. :D

      terima kasih berkunjung

      Hapus
  10. banyak sekali ya macam-macam olahan rumput laut yang bisa kita buat..

    BalasHapus
  11. pantainya sangat indah, dan disana pun menghasil berbagai jenis makanan dari rumput laut, bahkan dibuat dodol, es sama urab, banyak sekali ya yang bisa kita buat dari bahan dasar rumput laut..

    BalasHapus
  12. wqah luar biasa pemandanganya,,
    indah sekali mas,,

    BalasHapus
  13. Rasa rumput bagus untuk kesahatan mata . biasanya diolah dicampur dengan sirup dan Es segarr .
    Tapi kalau untuk di jadikan Snack juga enak banget rasanya

    BalasHapus
  14. Pantainya seger banget lihat.nya ?

    BalasHapus
  15. How to cope with fever and body ache with herbal medicine QNC gamat jelly can help heal or cope with chills and body aches naturally and quickly.

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe