Merayakan #WonderfulEclipse Jogja (Sebagai Suami Siaga)

18.22

Tetap bersyukur sekali bisa menikmati Gerhana Matahari Sebagian yang sangat cantik.

Kabar Gerhana Matahari Total (GMT) yang melintas di Indonesia tanggal 9 Maret 2016, sejatinya sudah saya dengar sejak setahun lalu. Tergambarlah rencana untuk menyambangi salah satu daerah yang akan dilintasi perjumpaan sejenak sang mentari dengan si rembulan pada satu titik yang berdampak gelap pada sebagian area Bumi. Pada momen langka yang akan terjadi 33 tahun kemudian itu pun kami - saya dan istri - dambakan bisa berada di Ternate atau Palu.

Itu kan gagasan. Bulan Maret 2016 ternyata ada kehendak lain yang jauh lebih dinanti sejak satu tahun lebih pernikahan kami. Bulan Maret ini adalah bulan istimewa karena pada bulan inilah putra kami yang pertama akan lahir. Artinya, bagi saya pribadi, Maret adalah bulan menjadi suami siaga. Jadilah keistimewaan Gerhana Matahari Total yang langka pun harus mengalah dibandingkan keistimewaan anugerah terindah teruntuk keluarga kami. Meski demikian, kami tetap merayakan pesona gerhana dengan menikmatinya dari depan rumah saja, di sekotak ruang asri di lingkar Jogja.   

***

Pagi 9 Maret 2016 dibuka dengan cerah bergembira menghiasi langit Jogja. Udara segar pasca hujan tadi malam masih bersisa. Tampaknya keceriaan menikmati Gerhana Matahari Sebagian (GMS) akan benar-benar terjadi secara utuh. Sesuai prediksi, Jogja akan mengalami GMS dengan persentase 81,7%. Dengan kondisi demikian, tampaknya keindahan gerhana matahari 9 Maret 2016 akan ditampilkan tak kalah memesonanya dibandingkan yang mengalami 100 persen total.

Sayup-sayup di berbagai penjuru kampung, suara pengumuman Sholat Gerhana berkumandang bersahut-sahutan. Antusiasme masyarakat Jogja untuk merayakan Gerhana Matahari dengan beribadah sungguh menggembirakan. Rasanya tak kalah dengan yang merayakannya di ruang publik atau dengan yang cuek tak merayakan karena memilih tidur di hari libur ini. Bagaimana dengan saya? Saya tak ingin melewatkan momen GMS dan juga tak ingin melalaikan Sholat Gerhana. Saya pun memilih menikmati momen Gerhana lalu dilanjutkan Sholat Gerhana di rumah saja.

Gerhana Matahari pukul 06.51 WIB
Gerhana Matahari pukul 07.11 WIB
Gerhana Matahari pukul 07.20 WIB
Inilah puncak Gerhana Matahari di Jogja. Pukul 07.23 WIB
Gerhana Matahari pukul 07.38 WIB
Gerhana Matahari pukul 08.00 WIB
Gerhana Matahari pukul 08.15 WIB
Tuntas pukul 08.35 WIB

Dimulai pukul 06.20, hitam rembulan mulai mendekat dan menutupi tepian surya. GMS Jogja pun mulai bersemarak. Sayangnya, saya telat bersiap. Baru 15 menit kemudian, saya menyusul untuk menyantap sang lanskap. Lantas, dengan seksama saya abadikan pergerakan GMS pada tempat yang tinggi, dari beranda lantai dua rumah. Beruntunglah saya, mentari sudah agak meninggi sehingga tak terhalangi oleh pepohonan yang mewarnai beranda rumah.

Mentari perlahan tapi pasti, mewujud “kroak” dilahap bulan. Bagian surya yang terang pun makin menggelap sampai pada momen puncak yang mencipta penampang Mentari Sabit pada pukul 07.23 WIB. Selanjutnya, secara tahu diri, rembulan membuka selubungnya. Mentari lalu berangsur-angsur berwujud bulat kembali hingga tuntas pada pukul 08.35 WIB. Sang hari yang telah ditemarami sejenak oleh gerhana, pun melanjutkan putaran seperti biasanya, seakan gerhana sudah tinggal lalu saja.

Dalam perhelatan gerhana matahari, ada mitos-mitos yang melingkupinya. Kebetulan gerhana matahari kali ini tepat bersamaan dengan momen istri saya hamil tua. Sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa perempuan hamil tidak boleh menyaksikan gerhana matahari dan harus masuk ke dalam rumah. Malah ada saran kuat kalau perempuan hamil harus bersembunyi di kolong tempat tidur. Konon, hal ini dilakukan untuk menghindari murka Batara Kala. Momen gerhana bagi orang dulu pokoknya dipandang sebagai peristiwa yang mencekam.

Bukannya takut pada gerhana matahari, istri saya tetap saja keluar menemani 'perburuan' saya pada GMS Jogja. Beberapa kali, dia malah memberanikan diri untuk mengintip sang gerhana dengan filter ND saya. Selain karena penasaran, momen gerhana ini dimaknainya semacam momen piknik di kala tanda-tanda kelahiran yang makin kentara. Tentunya sayang, jikalau momen langka semacam ini harus diabaikan karena terhalangi oleh kepercayaan pada mitos yang tak jelas kebenarannya. Maka, pilih yang rasional yang sudah barang tentu jelas, yakni pesonanya. Momen gerhana yang memesona juga harus disambut dan dinikmati keindahannya, kan?

Jujur, saya sangat bersyukur masih bisa menikmati momen istimewa Gerhana Matahari di kala hari-hari terpenting dalam hidup saya. Dengan hanya berdiri di depan beranda lantai 2, saya tetap bisa mengabadikan Gerhana Matahari Sebagian di Jogja meski harus sambil menjadi suami siaga. Kebahagiaan menikmati GMS secara bersama istri tercinta bisa saya rengkuh tanpa perlu mengorbankan momen istimewa ini. 

Langit fajar Jogja di hari istimewa Gerhana Matahari Sebagian.
Pesawat yang melintas di saat mulai mendekati akhir GMS Jogja.
Di puncak imaji.

Post Scriptum

Sehari setelah momen Gerhana Matahari 9 Maret 2016, lahirlah putra pertama saya. Ketakjuban pada gerhana matahari berlanjut pada kebahagiaan kelahiran buah hati. Kami beri nama Daffa Abhimata Khatulistiwa. Kami sengaja menambahkan kata "Khatulistiwa" sekalian sebagai pengingat bahwa putra kami lahir berdekatan dengan momen Gerhana Matahari yang melintasi garis Khatulistiwa. Kelahiran berlangsung alamiah, normal, dan tak ada kaitannya dengan mitos lain tentang gerhana, yakni menghindari kelahiran pada saat gerhana.

Alhamdulillah, hingga kini Daffa sehat dan menjadi bayi yang aktif ceria.


Daffa, sang buah hati tercinta. Lahir 10 Maret 2016



Catatan

Tulisan ini diikutsertakan pada Wonderful Eclipse 2016 Blog Competition. Informasi selengkapnya di www.wonderfuleclipse.com



You Might Also Like

22 komentar

  1. Cakeeeeppp Mas Iqbal. Aku selalu suka foto-fotomu :) Bulan Maret tahun ini pasti berkesan banget buat keluarga kecilmu ya Mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbk Satya, semoga foto2ku bisa selalu menghiburmu, ehehe

      Yuups betul sekali ni Maret sangat spesial.. Mohon doannya ya semoga semuanya lancar..

      Sukses terus kelananya.. :D

      Hapus
  2. Heeee yang penting udah mengabadikahn, mas. Siapa tahu gerhana 33 tahun ke depan bisa menyaksikan lagi :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ALhamdulillah banget mas, tetap berkesempatan mengabadikan proses gerhana.. Amiiiin semoga berkesempatan di GMT selanjutnya.

      :D

      Hapus
  3. Aku dan anak2 menikmatinya sambil staycation di Tangerang. Sempat terucap, "harusnya bunda menikmati di Palembang atau Babel kalik ya?", dan you know my gurls jawab apa? Tapi bunda nggak menikmatinya bersama kami lho! #MakJleb hahaha.
    Ya ya ya... family is numero uno. Dan alhamdulillah kami menikmati temaram gerhana di rooftop hotel dengan syahdu. Alhamdulillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita Bunda Donna ini makin memperkaya saya soal betapa pentingnya keluarga ya.. Wah perlu banyak berguru juga sama bunda..
      ALhamdulillah menikimati gerhana yg istimewa bareng keluarga itu sangat spesial..

      Terima kasih Bunda kunjungannya...

      Hapus
  4. Cakep banget Bal foto2nya *_*

    Semoga lancar kelahiran jagoan, sehat2 semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Budhe Monik.. Yups ikhtiar mengabadikan gerhana yg spesial banget,,

      Terima kasih doa untuk kelahiran Daffa,,,

      Hapus
  5. Bulan Maret yang begitu istimewa ya Mas Iqbal. Selamat untuk kelahiran anaknya...Foto2nya indah sekali :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyhaa mas Inggit.. Maret ini sangat istimewa sepanjang hidup ini..

      terima kasih ya mas atas kunjungannya.. :D

      Hapus
  6. subhanallah.... itu gelap gk waktu pas gerhana matahari sempurna mas.....?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ALhamdulillah mas Miqdad.. di jogja saya g mengalamai sampai gerhana matahari sempurna, tapi gerhana sebagian.. Ya g sampai gelap total mas

      Terima kasih udah berkunjung ya..

      Hapus
  7. Wahh emang pasti oke lah kalo Mz Iqbal yg foto2 ... ini pake sony mu Mz?

    Mesti cari rejeki utk beli lensa sama filter nih haha!

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. masih banyak belajaran juga mas Timo.. yuups pake sony n lensa tele.. :D

      pulang2 dari Riau ni langsung dapet lensa nni..hahaha

      Hapus
  8. Pasti lagi repotnya urus si baby :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya memang repot kak, maklum anak pertama. Tapi setelah beberapa hari udah terbiasa.. Apalagi senangnya bisa mengalahkan perasaaan rempong..

      Terima kasih kunjungannya..

      Hapus
  9. Balasan
    1. terima kasih mas Ariev, blogger idola atas ucapannya.. Semoga bisa keren kayak mas Ariev..

      terima kasih kunjungannya.. :D

      Hapus
  10. Selamat atas kelahiran Daffa, si 'putra khatulistiwa'. Spesial sekali moment jelang kelahirannya. Semoga kelak si Daffa punya prestasi yang sefenomenal gerhana matahari 2016.
    Salam kenal.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin amiiin terima kasih kak Vifick.. Salam kenal.. Terima kasih kunjungannya ya,,

      Hapus
  11. Ternyata ada kisah di balik kisah ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah iya ni mas Efenerr.. :D
      Terima kasih

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe