Tatkala Tailing Newmont ‘Dibuang’ di Laut

03.25

Pemantauan lingkungan dilakukan secara totalitas di PT NNT.

Yang biasa bersarang di benak kita, jika terdapat sampah yang tak berguna maka perlakuannya ialah dibuang. Dibuang ini bisa jadi bukan menjadi perilaku tunggal, melainkan bisa berarti sampahnya dipilah dulu, dinetralisasi dulu, dan sebagainya. Aktivitas tambang juga menyisakan suatu sampah  atau lebih dikenal sebagai limbah. Pada perusahaan tambang sebangsa tembaga, emas dan perak, limbah dari proses kegiatan intinya disebut tailing.

Namun, apakah tailing ini dibuang, selayaknya sampah? Dari pengalaman mengikuti Sustainable Mining Bootcamp PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), saya rasa tak sekasar demikian. Saya mendapatkan pencerahan jikalau tailing PT NNT tidaklah dibuang, melainkan ditempatkan. Nice! Pilihan kata ditempatkan menempati khasanah baru pikiran saya alih-alih kata dibuang yang lazim mengendap di pikiran lugu saya.

“Kalau dibuang kan setelah selesai dibiarkan, ditinggalkan begitu saja. Nah, kalau ditempatkan, kami secara rutin memantau tailing.” ungkap Toni Bahtiar dengan tegas, pegawai senior di Departemen Lingkungan PT NNT.

Menariknya, penempatan tailing PT NNT dilakukan di tengah lautan, bukan di darat yang umum dilakukan. Wah ini… Penempatan tailing di laut pun menjadi isu besar yang selalu menarik  sepanjang PT NNT pertama beroperasi sejak tahun 2000 lalu. Saya masih ingat juga, Newmont pernah mengisi ramai ruang media saat dituduh mencemari perairan Teluk Buyat Sulawesi Utara akibat tailingnya. Walau pada akhirnya, proses hukum perkara Buyat dimenangkan PT Newmont Minahasa Raya. Nyatanya tak terbukti mencemari Teluk Buyat. Namun, dari situ persepsi buruk tentang tailing bukan berarti sirna.   

Lanskap PT NNT dan lingkar tambang. Sumber: presentasi PT NNT
Tailing dari pabrik pengolahan dialirkan melalui pipa ke Teluk Senunu. Sumber: PT NNT
Panorama di SWIS yang menjadi titik pergantian pipa darat ke pipa laut di Teluk Senunu. Sumber: www.ptnnt.co.id

Harus diakui, jika kita mencari informasi tentang tailing di dunia maya (bukankah selama ini kita sangat tergantung informasi semuanya dari internet, itupun yang berbahasa Indonesia?), kita lebih banyak disodorkan berita negatif tentang tailing. Biasanya kalau ada pendapat netral atau positif, kita menjumpai beritanya berasal dari perusahaan pertambangan. Makanya, kita pun memerlukan obyektivitas dalam menilai pendapat dan argumen masing-masing pihak. Kalau perlu bisa melihat langsung duduk persoalannya.

Beruntung bagi saya tak terus larut pada gemerlap pro kontra yang terjadi. Saya berkesempatan langsung mengikuti pemantauan lingkungan dimana instalasi tailing PT NNT ditempatkan di Teluk Senunu. Menggunakan kapal survey Tenggara Explorer milik PT NNT, saya turut mengikuti Departemen Enviromental PT NNT memantau kondisi lingkungan di zona terdampak Tailing PT NNT. Perjalanan menyusuri perairan yang melingkari sisi barat dan selatan tambang Batu Hijau pun menjadi salah satu agenda paling mengasyikkan pada SMB PT NNT.

Mari berlayar!


Tentang Tailing Batu Hijau

Sebelum menyimak lingkungan yang terdampak tailing PT NNT, rasanya perlu diutarakan terlebih dulu sekilas tailing dari tambang Batu Hijau PT NNT. Dalam proses pertambangan Batu Hijau, pengolahan batuan tambang (ore) akan menghasilkan konsentrat dan tailing. Konsentrat merupakan mineral berharga dari pengolahan ore, yang merupakan komoditas produksi PT NNT. Adapun tailing adalah sisa hasil pengolahan ore yang tidak lagi mengandung mineral berharga, yang sudah tak ekonomis diolah lagi. Secara sederhana, tailing bisa dikatakan sebagai ampas atau limbah tambang.


Instalasi pemrosesan ore. 
Proses pemisahan ore menjadi konsentrat dan tailing,
Tailing yang dipegang oleh Bli Putu. Foto oleh www.fotosintesa.com

Wujud tailing adalah semacam lumpur dan mengandung 20-45 % partikel air laut dan air tawar yang digunakan dalam pengolahan ore. Tailing PT NNT dipastikan aman dari bahan-bahan kimia berbahaya karena sejak pengolahan di Bagian Processing menggunakan prinsip-prinsip fisika dan mekanik. Bahan kimia digunakan secara terbatas dan telah dikontrol ketat sehingga bisa dipastikan aman. Ada peserta Newmont Bootcamp yang memberanikan diri untuk memegang tailing, tapi nyatanya baik-baik saja.

Tailing dialirkan secara tertutup sejauh 6 km melalui jaringan pipa darat berbahan baja dilapisi karet di bagian dalam yang berdiameter 112 cm. Sesampai di SWIS Tongo, di pesisir Teluk Senunu, tailing berganti pipa laut berbahan HDPE berdiameter 102 cm dan memiliki panjang 3,2 km menembus kedalaman laut Teluk Senunu.

Ujung pipa berada pada kedalaman 125 meter di bawah permukaan air laut. Karena kepadatan dan berat jenisnya dibandingkan air laut, tailing lalu mengalir menuruni ngarai laut hingga mencapai palung laut di Cekungan Lombok, selatan Pulau Sumbawa yang berkedalaman 3000-4000 meter dan mengendap di dasarnya.

Sistem penempatan tailing seperti ini dikenal sebagai Deep Sea Tailing Placement (DSTP) alias Sistem Penempatan Tailing Laut Dalam. Saya menyimak, ada beberapa pertimbangan DSTP dipilih PT NNT daripada dilakukan penempatan tailing di darat. Pertama, lahan yang diperlukan untuk penempatan tailing di darat sekitar 2.316 Ha. Lahan PT NNT ini berada di kawasan kehutanan dan pertanian yang sangat subur sehingga sayang sekali jika dikorbankan untuk penempatan tailing. Selain itu, jika di darat paling tidak berdampak pada lebih dari 2.100 jiwa penduduk dan mata pencahariannya.


Peserta Sustainable Mining Bootcamp PT NNT sedang mendapat penjelasan tentang rupa pipa tailing.
Pipa yang mengalirkan tailing ke laut.
Yang ada putihnya adalah pipa darat. Yang hitam ialah pipa laut. Saya pun terpesona.

Kedua, meskipun Sumbawa terkenal dengan panasnya, curah hujan di kawasan PT NNT termasuk tinggi, mencapai 2.500 mm per tahun. Dengan kondisi demikian, pengelolaan air pada fasilitas penampungan tailing di darat lebih sulit dilaksanakan.  Ketiga, daerah Sumbawa terletak pada daerah rawan gempa besar. Keberadaan tailing di darat berisiko membahayakan masyarakat jika sewaku-waktu terjadi kondisi yang tak diinginkan.

Keempat, DSTP hanya memengaruhi lingkungan bawah laut yang produktivitasnya rendah dan tidak berdampak pada ekosistem pantai dan sumber daya terkait. Dengan kondisi ini, penempatan di dasar palung dianggap meminimalkan dampak ekosistem dan makhluk hidup. Diperkirakan luas palung ini sangat besar, dibandingkan Pulau Sumbawa masih luas palung tersebut. Kelima, diperkirakan pemulihan ekosistem bawah laut setelah penutupan tambang diperkirakan butuh 2 tahun, jika di darat akan memakan waktu 50 tahun.

Melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup: KEP41/MENLH/10/1996 , DSTP PT NNT telah disetujui Pemerintah Indonesia dan ditetapkan dalam AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) sebagai sistem penempatan tailing PT NNT, mulai dari beroperasi hingga akhir masa tambang. DSTP PT NNT beroperasi sejak September 1999 dan terus diperpanjang lagi perizinan operasinya tiap lima tahun. Perpanjangan izin kembali sudah berkali-kali diberikan pemerintah karena hasil penelitian yang dilaporkan pemerintah dan dilakukan sejumlah lembaga independen konsisten dengan data prediksi AMDAL.

Di Indonesia, PT NNT merupakan satu-satunya yang melaksanakan penempatan tailing di laut. Di beberapa negara seperti Inggris, Perancis, Papua New Guinea, Chili, Norwegia, dan Turki, DSTP juga diaplikasikan oleh perusahaan pertambangan. Menariknya, DSTP PT NNT di Teluk Senunu ini disebut sebagai yang terbaik di dunia.

Instalasi di SWIS untuk memompa air laut.
Mas @arief_pokto sedang menerawang Teluk Senunu dari SWISS. Menemukan apa mas? Lautnya ternyata bersih ya.

Pak Arie sangat antusias berbagi informasi tentang pipa pengaliran tailing. 

Saya sungguh menyimak betapa PT NNT sangat tidak meremehkan tailing yang dihasilkan. Meski secara ekonomi tidak berguna lagi, secara ekologi PT NNT memperlakukannya dengan penuh etika dan tanggung jawab. Tailing yang jadi sisa produksi PT NNT benar-benar ditangani agar jangan sampai mengganggu kelestarian ekosistem.  

Saya rasa penanganan tailing ini sepadan dengan slogan andalan PT NTT: Because we Care, Karena Kami Peduli!


Berlayar Memantau Lingkungan Teluk Senunu

Jika bukan karena semangat untuk memantau lingkungan terdampak tailing, jam 5 pagi saya belum siap sedia menuju Teluk Benete pada hari keempat SMB PT NNT. Bersama  6 orang tim Departemen Environmental Bagian Marine and Ecology PT NNT, Enam Bootcampers yang ditugasi di laut berangkat dengan kapal survey Tenggara Explorer pada pagi yang cerah bergembira.

Didahului briefing dan persiapan lainnya, sekitar pukul 07.30 WITA ekspedisi setengah hari ini meninggalkan Teluk Benete. Setiap kru dan awak kapal pun diwajibkan memakai pelampung saat berlayar sesuai standar keselamatan PT NNT.

Mulai berangkat untuk mengamati perairan sekitar PT NNT dan proses pemantauan Departemen Lingkungan PT NNT.
Lanskap Tanjung Tanjung Amat.
Monik, www.monilando.com, tak melewatkan kesempatan untuk menjajal kemudi Tenggara Explorer. Tentunya dengan panduan nakhoda.

Beruntunglah pagi itu, lautan sedang tenang seperti turut mendukung upaya pemantauan kami. Deretan perbukitan bertebing dan deretan pantai menghampar bergantian menyuguhkan pesona ketakjuban kami terhadap alam Sumbawa yang terlihat dari lautan. Tersebutlah nama-nama yang ditunjukkan Sarwono, salah satu kru kapal Tenggara Explorer seperti Tanjung Labulawah, Tanjung Amat, Teluk Rantung, Tanjung Mangkun, Tanjung Madasanger dan Teluk Senunu. Sesekali perahu nelayan melintas begitu anggun, yang sedang bergiat mencari ikan di lautan dekat.

Di bagian buritan kapal, tim Enviro PT NNT secara cermat dan cekatan mempersiapkan alat-alat pemantauan. Ada yang menyiapkan rosette sampler, semacam perangkat standar penelitian oseanografi yang terdiri sejumlah tabung penampung sampel air laut dan perekam data digital. Sebagian lain menyiapkan perlengkapan seperti botol sampel, cairan asam dan aquades, serta pH meter. Rencana pelayaran kali ini, tim Enviro PT NNT hanya akan melakukan pemantauan mutu air dan sedimen laut. Pemantauan lingkungan lain seperti terumbu karang, ikan, ekologi muara, ekosistem intertidal, komunitas bentos dilakukan di kesempatan lain.

Sekitar 1 jam 15 menit berlayar tibalah kapal di kawasan Teluk Senunu. Tenggara Explorer langsung menuju ke S43, sebutan salah satu titik yang jadi patokan pemantauan dari Tim Enviro. Di titik ini, tim Enviro PT NNT melakukan pemantauan mutu air. Dengan seksama, saya mengamati bagaimana rosette sampler perlahan diturunkan, ditenggelamkan lalu diangkat lagi setelah 15 menit. Kemudian air pada tabung di rosette sampler dipindahkan ke  botol-botol kecil. Tak ketinggalan, data digital selama di bawah laut pada rosette sampler diunduh oleh komputer di ruang monitor.

Proses persiapan penerjunan Rosette Sampler. 
Rossette Sampler mulai ditenggelamkan.
Tim Enviro PT NNT mengambil sampel air dalam keperluan sampling mutu air Teluk Senunu.

Setelah selesai, rosette sampler dirangkai dan dipersiapkan lagi untuk ditenggelamkan ke titik selanjutnya. Ada dua titik lain yang dituju untuk pengambilan sampel mutu air, yakni S17 dan S02. Alasan dipilih sampel tiga lokasi ini yakni karena dianggap masing-masing mewakili mutu air di zona terdampak tailing: Zona A,B dan C. Zona A meliputi Daerah Penempatan Tailing (DPT) dengan kedalaman di atas 120 m. Zona B adalah DPT dengan kedalaman di bawah 120 m. Adapun Zona C meliputi di luar DPT. Di zona A nantinya tidak diberlakukan baku mutu air, tetapi di Zona B dan C yang berlaku.

Selesai dengan pengambilan mutu air di tiga titik di Teluk Senunu, kini tim Enviro melakukan pengambilan sampel sedimen di S23. Rosette sampler pun diganti dengan perangkat berbentuk seperti cawan untuk mengambil sedimen. Perangkat ini ditenggelamkan hingga kedalaman 47 meter lalu setelah 15 menit diangkat kembali ke kapal. Hasilnya adalah sedimen pasir kasar dan pecahan karang. Kemudian, sebagian pasir itu diambil dan dipindahkan ke wadah-wadah kecil. Sisa pasir lalu dibuang ke laut. Serangkaian pengambilan sampel ini saya cermati, meski sekilas sederhana ternyata membutuhkan upaya teliti dan profesionalitas tinggi.

“Sampel-sampel ini nanti akan diteliti bukan oleh pihak Newmont saja.  Untuk menjaga independensi dan akurasi hasil, kami kirim ke laboratorium independen di daerah Bogor. Hasil pemantauan lingkungan ini dilaporkan ke Pemerintah tiap tiga bulan.” ungkap Sally, salah satu anggota tim Enviro PT NNT.

Pemantauan Lingkungan atas dampak tailing PT NNT di Teluk Senunu dilakukan rutin setiap hari. Selain itu, dalam upayanya memastikan kualitas pemantauan lingkungan kawasan terdampak tailing, PT NNT juga mengajak institusi-institusi lain untuk terlibat. Selama ini PT NNT telah bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah NTB dan Sumbawa Barat, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), CSIRO (LIPI-nya Australia), ITB, IPB, UGM, Coffey Environment, Dames & Moore, URS, Enesar Consulting, DHI dan CBES.

Proses pengambilan sample sedimen.
Inilah contoh hasil sampel sedimen yang diambil di S23.
Menyimak penjelasan Sally tentang data-data pemantauan lingkungan di ruang monitor.

PT NNT juga terbuka dengan Lembaga Swadaya Masyarakat, Perguruan Tinggi dan lain-lain. Pihak-pihak tersebut diajak langsung untuk turut memantau kondisi lingkungan pada wilayah terdampak tailing. Ajang Sustainable Mining Bootcamp – seperti yang saya ikuti ini – juga merupakan upaya PT NNT untuk terbuka dan mengajak lebih dekat masyarakat umum untuk bisa menyimak proses penempatan tailing di laut. Memang, sejak awal PT NNT ingin transparan dan akuntabel kepada siapapun terkait pengelolaan tailing-nya.


*** 

Tenggara Explorer selesai menunaikan tugasnya siang itu. Sambil berlayar pulang, ada kru kapal yang memasang pancing ikan. Saatnya mereka ‘menghibur diri’ dengan ikan-ikan yang berlimpahan di kedalaman lautan. Perairan Selat Alas memang dikenal sebagai daerah kaya ikan, sehingga sering kami jumpai para nelayan lalu lalang mencari ikan. Jelas ini adalah kabar menggembirakan bahwa lingkungan laut di sekitar tambang PT NNT begitu baik dan bisa menjadi ruang penghidupan masyarakat.

Sembari menuntaskan keterpesonaan pada lanskap Sumbawa dari lautan, saya duduk di depan ruang navigasi kapal. Semilir angin menemani perbincangan saya dengan Sarwono. Saya jadi tahu ternyata salah satu kru kapal Tenggara Explorer ini asli Kebumen, kampung halaman saya. Lima tahun merantau ke Sumbawa bekerja di perusahaan kontraktor PT NNT telah membuatnya memiliki pengalaman yang berkesan tentang perusahaan tambang ini.

“Bekerja dengan Newmont harus dengan standar paling tinggi. Semuanya dilakukan dengan teliti dan cermat. Kadang pun jika ombak sedang kuat, tapi asal masih boleh berlayar, mereka tetap akan ke Senunu.” tutur pria yang bertugas sebagai juru mesin.

Bersama Sarwono, sama-sama orang Kebumen keren. :D
Tak lupa untuk berfoto bersama dengan kru Tenggara Explorer dan tim Pemantauan Laut Enviro.
Sampel perlu disiapkan, sebelum dikirim ke laboratorium independen

Tenggara Explorer tiba lagi di Terminal Khusus PT NNT Benete saat mentari sudah sedikit beranjak dari puncak langit siang. Kami langsung menuju Kantor Bagian Marine and Ecology Departemen Enviromental untuk menyantap presentasi utuh tentang pengelolaan lingkungan laut PT NNT. Saya sungguh terkejut saat dipaparkan video gambaran kehidupan di dalam laut di sekitar tailing. Tampak jelas ada aneka ikan yang lalu lalang seperti si pipa tailing punya daya tarik yang sungguh memikat perhatian mereka. Ada pelajaran penting, bahwa adanya tailing ternyata terbukti tak mengusik kehidupan hayati di Teluk Senunu dan sekitarnya.

Baru kali ini, saya mengerti, bahwa ternyata ada perusahaan tambang di Indonesia yang sangat serius untuk perkara limbah atau tailing-nya, sama seriusnya dengan upaya produksinya yang menghasilkan konsentrat bernilai tinggi. Upaya PT NNT bersungguh-sungguh memastikan dan memantau bahwa tailingnya tidak berdampak buruk bagi lingkungan sungguh sangat pantas diapresiasi.

Kadang saya mengandai-andai jika setiap perusahaan tambang di Indonesia entah multinasional atau nasional peduli dengan standar tertinggi dalam mengelola limbahnya. Maklum pikiran tentang limbah tambang, selama ini terdistorsi oleh panorama buruk yang pernah saya lihat langsung di Bangka-Belitung dan Kalimantan atau saya simak di dunia maya yang berseliweran informasi negatif tentang dampak buruk limbah tambang. Dan, di PT NNT Batu Hijau, ternyata ada tambang yang beda, yang tak seperti awalnya di pikiran saya, yang secara totalitas melakukan upaya peduli pada limbahnya agar tak mencemari lingkungan.

PT NNT menerapkan standar tertinggi untuk memastikan bahwa tambangnya tak mencemari lingkungan. Salut.
Pipanya juga asyik untuk ngadem ya. 



You Might Also Like

20 komentar

  1. Wah seru di atas kapal hahhahahah, :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kapalnya canggih mas Sitam.. Taun depan kudu nyoba mas.. :D

      Hapus
    2. Semoga bisa mas, heheheh. Aku malah biasanya cuma naik kapal kayu :-(

      Hapus
    3. waah harus mas.. Jogja kudu punya wakilnya di Newmont Bootcamp selanjutnya.. :D

      Hapus
  2. Subhanallah . . .
    Bunda share yaa.. . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul-betul pengetahuan yang berharga bisa didapatkan di sini.

      Terima kasih Bunda..

      Hapus
  3. Saya menemukan Pantai bersih disana. Itu kepengen banget nyebur kalo gak inget agenda kunjungan masih ada. Hahah

    Info yg menarik dan komplit ! Saya share di twitter ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas. Kejutan yang sangat menyenangkan. Pantai bersih di dekat kawasan tambang. Keren memang.

      Terima kasih sudah bantu share artikel ini...

      Hapus
  4. Sempat nyoba menyelam melihat penempatan ampasnya ga Mas? Hehe.. Membuka kesempatan bagi mahasiswa pariwisata atau anak2 ludens untuk penelitian di sana ga ya? Menarik kayanya

    BalasHapus
  5. klo menyelam utk penempatan ampas perlu profesional kak.. dalamnya 125 meter.. haha..
    coba saja ajukan proposal ke bagian komunikasi dan tanggung jawab sosial PT NNT, siapa tahu cukup menarik.. :D

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. betuul kak Winny.. aseek kerjaannya kayak gini..

      Hapus
  7. Balasan
    1. ssetiap kali di atas kapal memang mengasyikkan ya kak Budy.. Terima kasih udah berkunjung,.

      Hapus
  8. Wah ini sudah canggih banget ya pak.. Btw proses yang kayak gini butuh waktu berapa lama totalnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuups Willova, mereka menggunakan teknologi tinggi dalam penempatan tailing. Itulah yg bikin salut,, Kalo untuk proses, dari awal hingga akhir bisa memakan waktu bulanan.

      Hapus
  9. Foto2 nya keren apalagi yg pas ada bukit.. Langitnya juara...

    BalasHapus
  10. nice post, sangat menginspirasi

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe