Warna-Warni Wajah Wamena

09.37

Meriah Wamena di Pasar Jibama.

Seorang kawan pernah bilang, kalau belum ke Wamena, berarti belum ke Papua. Saya tahu waktu itu dia sedang ingin memanasi saya yang hanya bepergian ke Jayapura dan sekitarnya saja. Jayapura katanya sudah kehilangan aura “Papua” nya. Kotanya besar tak tampak lagi pelosok, banyak terdapat masyarakat pendatang yang notabene dari ras Mongoloid. Malah kalau malam hari cobalah liat dari ketinggian: Jayapura tampak seperti Hongkong-nya Indonesia. Penuh cahaya.

Setahun berlalu, saya akhirnya mendapatkan kesempatan ke Wamena. Saya datang ke Wamena pun semacam ingin membuktikan, betulkah Wamena sedemikian “Papua” nya, sehingga kalau datang ke Wamena baru bisa dianggap datang ke Papua. Stigma Papua yang biasa melekat adalah orangnya hitam pekat, keras, terbelakang, dan masih primitif. Wamena yang merupakan jantung tanah Papua tentu paling pas unntuk penggambaran tersebut. Saya sih tidak suka stigma tak adil seperti itu terus dirawat, diperlakukan abadi sebagai mitos. 

Harus diakui, stigma ini lebih ‘maju’ dibandingkan dulu dimana Ketut Tantri dalam bukunya “Revolt in Paradise” (1970)  menyatakan Papua sebagai sebuah tempat yang dikenal sebagai daerah yang letaknya bahkan lebih jauh dari bulan. Ketut berkisah Papua adalah tanah dimana ayahnya dibuang Belanda dan akhirnya meninggal di pengasingan.

Kesan pertama menjenguk betapa ‘sakralnya’ Wamena adalah saat pesawat kecil saya begitu dekat dengan jajaran pegunungan raksasa nan tinggi yang berlapis-lapis. Meski tak melihat salju abadi, saya kira pegunungan ini berketinggian di atas 4000 meter. Lerengnya pun curam dengan jurang-jurang yang begitu dalam. Hampir tak ditemukan adanya pemukiman. Pantaslah Wamena begitu ‘terisolasi’ sehingga satu-satunya akses ke jantung Papua ini adalah melalui pesawat udara.

Namun apa gerangan ketika saya mau mendarat di Wamena? Wamena itu adalah kota, bung! Memang jangan dibayangkan kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Jalan beraspal, gedung, rumah dan segala tengara khas kota lainnya sudah terbangun begitu meriah di ibukota Kabupaten Jayawijaya ini. Wamena menempati sebuah lembah dikerumuni pegunungan tinggi yang disebut sebagai Lembah Baliem. Wamena bisa ramai seperti ini karena menjadi pusat ekonomi dan sosial di kawasan Papua bagian tengah.

Saat itu bandara Wamena terlihat apa adanya. Maklum rusak setelah dibakar massa. Para warga di bandara yang menyambut pun beraneka rupa. Kebanyakan sudah berpakaian 'sopan' layaknya kita. Hanya sedikit yang masih terlihat bercita rasa etnik dengan berpakaian asli suku-suku pedalaman Papua: berkoteka, berbaju etnis, dll. Namun, seorang tua berkoteka datang menghampiri saya. Saya paham gelagatnya bahwa ‘eksotisme’ dirinya bisa menjadi atraksi untuk berfoto bersamanya. Setelah itu, dia akan paksa minta uang sebagai kompensasi menikmati “eksotisme” dia.

Rekan saya tertarik berfoto dengan si tua ini. Yang tadinya si beliau ramah, tetiba wajahnya berubah ‘keras’ ketika minta uang kompensasi. Dia minta 20 ribu untuk sekali jepret. Kawan saya coba tawar minta 10 ribu. Tetap saja si tua ini minta 20 ribu. Akhirnya, kawan saya memberi sejumlah uang yang si tua minta. Saya hanya tertawa dalam hati dan berujar, “Kena kau. Selamat datang di Wamena, Bung”

Pegunungan-pegunungan yang mengisolasi Wamena. Terlihat dari perjalanan Jayapura-Wamena.
Kota Wamena dari udara sesaat mendarat di Bandara Wamena.
Wajah cerah bocah-bocah pedalaman Papua.
Seorang Mama yang sedang memanen sayuran di kebunnya. Sangat ramah saat saya mampir di Honai nya.

Namun, rasanya hanya kejadian itu yang tak mengenakkan saat di Wamena. Selanjutnya Wamena tampaknya tak sengeri, tak semenakutkan yang dibayangkan. Biasa saja seperti di tempat-tempat lain di pelosok Indonesia yang pernah saya kunjungi. Saya juga banyak berjumpa dengan para pendatang. Malah, masyarakat Kebumen cukup banyak menghiasi kota Wamena. Supir saya, Pak Tumijan adalah asli Kebumen.  

Tiga hari di Wamena, saya berjumpa dengan wajah-wajah ramah orang Papua Pedalaman, alih-alih dengan stigma yang selama ini melekat. Dibandingkan orang Papua di pesisir, tingkat kehitaman kulit lebih gelap di pedalaman namun tatkala senyum, binar matanya sangat cerah. Banyak anak-anak Papua dengan ingusnya yang masih menempel di hidung – selalu keluar, tantangan di bidang kesehatan – juga turut mewarnai perjumpaan saya dengan senyumnya yang merekah.

Kalau ke Wamena, wajiblah ke Pasar Jibama. Saya menikmati kemeriahan Pasar Jibama di sore hari. Kawan saya pernah menakuti, “Jangan motret orang Wamena saat di Pasar. Bisa ditodong pisau kamu. Kamu harus didampingi tentara biar aman” Saya pikir itu adalah anggapan yang salah jika kita tidak izin dulu untuk memotret yang bersangkutan.

Saat saya ingin mengabadikan aktivitas ibu-ibu penjual yang menggelar lapak di seantero pasar, mereka sangat terbuka. Bahkan, tak masalah ketika saya tidak membeli barang jualannya. Saya malah diceritakan dan diajak untuk mencicipi buah merah yang sangat khas pedalaman Papua.  Melihat aktivitas warga membuat dan menjual noken juga sangat menyenangkan karena dengan cerianya, para ibu-ibu ini membuat noken sambil berkisah banyak tentang kehidupannya di Wamena. Cara mudah bergaul ini didapat karena saya dikawani bocah setempat yang saya traktir terlebih dulu cilok khas Bandung – ada lhoo penjual cilok di Wamena. :D


***

Jujur, Wamena membuat saya betah, kecuali untuk urusan harga-harga makanannya yang mahal selangit. Maklum, banyak kebutuhan semisal beras, ayam, tempe, dll harus didatangkan lewat langit. Maksudnya, barang-barang ini ‘diimpor’ dari luar Wamena yang hanya bisa dikirim lewat pesawat udara. Tak ada jalan darat  yang menghubungkan Wamena dari dunia ‘luar’. Udara sejuk, sepi jauh dari hingar berita ibukota yang memuakkan, pemandangan alamnya yang luar biasa membuat saya betah tinggal lebih lama di Wamena.

Namun, ya itu. Saya datang mendekati Hari Lahir OPM alias Organisasi Papua Merdeka: 1 Desember. Sesuatu yang dikhawatirkan banyak orang. Terlebih Wamena dan sekitarnya dikenal sebagai sarangnya OPM. Beberapa kawan saya pun sangat khawatir sehingga memutuskan untuk keluar dari Wamena. Padahal, masih ada waktu dua hari yang bisa dinikmati untuk menyusuri pesona Wamena. Tampaknya, Wamena pun sampai saat ini masih terlampau “gelap” bagi kebanyakan orang Indonesia sehingga sering dicurigai sebagai tempat yang “asing”, “berbahaya”

Di situ kadang saya merasa sedih...


Pak Maximus, petani kopi yang darinya kopi-kopi Wamena masyhur di seantero dunia. 
Buah Holim, sejenis labu untuk bahan pembuatan koteka. Yuk cocokkan ukuranmu.. :D
Di pinggiran kota Wamena. Jarang ada angkutan umum. Masih banyak dijumpai warga berjalan kaki.
Semacam tren kekinian di Wamena. Meteran listrik dipasang di pohon. Ada stop kontak juga. :D
Suasana sore di kandang Persiwa Wamena. Stadion Pendidikan. Bisa dibayangkan dinginnya malam hari bermain di sini.
1800 m di atas permukaan laut.
Baliem Pilamo Hotel. Hotel terbaik di Wamena. Tapi tak perlu AC karena sudah sejuk.
Kondisi Bandara Wamena yang sementara. Proses pembangunan kembali.
Inilah bakat-bakat luar biasa dari Wamena. Amunisi Persiwa Wamena. Bermain tengah siangpun tak masalah. :D
Panorama Lembah Baliem di pinggiran kota Wamena. Terlihat dari udara.
Lanskap di pinggiran kota Wamena. Memesona.
Pasir putih di Wamena. Ajaib karena jauh dari pantai.
Beginilah ekspresi yang lazim saat berkunjung ke Kampung Kurulu. Berfoto dengan mumi Wim Motok Mabel dan masyarakat setempat adalah sebuah keharusan untuk yang wisata ke Wamena. Tidak gratis lho...
Bocah-bocah di Distrik Asologaima, pinggiran kota Wamena. Begitu ramah.
Bang Janolani sedang menjemur kopi. Kenal sebentar langsung akrab. Sampai kini masih jaga komunikasi. 
Abang di belakang saya pasti berpikir. "Ini kok bocah kayak gak pernah naik pesawat ke Wamena. Di dalam pesawat gini selfie gak jelas. Coba saya diajak."


You Might Also Like

10 komentar

  1. Cerita yang menarik dan membuka imajinasi saya akan Wamena. Semoga suatu saat bisa membaur dengan kearifan lokal warga di sana. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya kak Abang Nhee.. Semoga suatu saat bisa ke Wamena yah,..,

      Hapus
  2. Cerita yang menarik dan membuka imajinasi saya akan Wamena. Semoga suatu saat bisa membaur dengan kearifan lokal warga di sana. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya kak Abang Nhee.. Semoga suatu saat bisa ke Wamena yah,..,

      Hapus
  3. Fotomu kereennnn kerennnn. Wamena ini wish list banget. Sudah pernah ke Jayapura berbulan-bulan tapi belum sempat ke Wamena itu rasanya kok gimana hahaha.
    Ternyata orang Jawa banyak yang merantau di Wamena ya, sampai-sampai ketemu dengan driver asal kotamu sendiri :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Jejak Bocah Ilang.. yeaaay terima kasih sudah mampir ke Blog saya.. Wamena memang Menawan.. Yaah, sayang sekali ke Jayapura lama g masuk ke Wamena.. :D
      Saya pas kesempatan pertama juga pingin banget ke Wamena. Eh, pas kedua akhirnya ke Wamena juga mas.. :D
      Memang orang Kebumen dulu salah satu org Jawa yg dikirim ke Wamena..

      Hapus
  4. Balasan
    1. Nayak bang.. :D
      wah wah wah...


      terima kasih ya atas kunjungannya..

      Hapus
  5. Ahahaha.....nice story. Lain kali klo ke Papua bawa Kaos yang banyak siapa tahu bisa barter dgn barang bagus disana dengan Kaos (di Jakarta Kaos kan murah) :D

    BalasHapus
  6. keren banget pasir putih di wamena padahal jauh dari pantai tapi ada pasir putihnya, keren..

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe