Freo dan Bon Scott - NG TRAVELMATE #7

04.45

Bon Scott jadi ikon Fremantle.

Melancong ke Fremantle, penggandrung musik rock akan bertakzim kepada Bon Scott. Mendiang mantan vokalis AC/DC ini terjejak abadi di belantara kota bersejarah Australia Barat. Kisahnya berkelindan manis bersama romansa kota yang diwarnai bangunan-bangunan tua abad 19.

Saya gemar musik rock, suka AC/DC meski bukan fans garis keras.  AC/DC merupakan band rock asal Australia yang masyhur di belantika musik dunia sepanjang masa. Lengkingan suara Bon Scott mewarnai lagu-lagu cadas AC/DC yang menggelinding di era 1974-1980 sebelum kematiannya. Bon Scott meninggal muda di London pada 19 Februari 1980 akibat keracunan konsumsi berlebih alkohol dan dimakamkan di Fremantle. Saya familiar dengan lagu-lagu era Bon Scott semisal “Highway to Hell”, “High Voltage”, “Let There Be Rock”, “Big Balls”, dan “Long Way to The Top” yang menapakkan Acca Dacca – sebutan familiar AC/DC di Australia – ke panggung musik internasional.  

Patung perunggu Bon Scott berdiri di hadapan saya dalam temaram malam yang hening di Fremantle Fishing Boat Harbour. Namun, Bon Scott tampak penuh enerjik bernyanyi, tangan kiri memegang mic, tangan kanan menarik kabel mic. Tampilan bertelanjang dada yang dibalut jaket denim dan celana jins lebar seakan menahbiskan sosok Bon sebagai superstar rock dunia.

Pematung Australia Barat, Greg James mengalasi atraksi Bon Scott dengan amplifier Marshall yang berprasastikan nama dan kisahnya di Fremantle. Saya pun sapa Scott sebagai pujaan dari jutaan fans AC/DC yang tak lekang oleh zaman melintas beberapa generasi. Saya bahkan belum lahir ketika Bon tutup usia di usianya ke-33. Malam itu, selain saya rasanya hanya burung-burung camar laut di pelabuhan yang menjadi penonton konser sunyi Bon Scott.

Fremantle alias Freo menjadi kota Scott ditempa sebagai seorang musisi. Lahir di kota kecil Forfar Skotlandia, pindah bersama orang tua ke Melbourne lalu Scott menetap di Fremantle sejak usia 10 tahun. Scott remaja mulanya belajar sebagai drummer dan membentuk band The Spektors. Scott baru menjadi vokalis utama setelah mendirikan band Valentine. Di band inilah, Scott berkiprah  yang mulai menaikkan namanya di jagat musik nasional. Tahun 1970, Scott pindah ke Adelaide dan bergabung dengan band progressive rock The Fraternity. Namanya kian melambung dan beberapa kali melakukan tur di Inggris.

Kisahnya di AC/DC baru bermula pada 1974 ketika dua bersaudara Malcolm dan Angus Young mengajaknya bergabung untuk menjadi vokalis band asal Sydney. Sejak itulah, AC/DC dan Ben Scott adalah satu kesatuan yang ikonik. Dimulai album “High Voltage”, berlanjut “T.N.T”, “High Voltage (International Version)”, “Dirty Deeds Done Dirt Cheap”, “Let There Be Rock”, “Powerage” sampai terakhir “Highway to Hell”, Scott memberi nyawa pada AC/DC hingga sanggup dipuja sebagai salah satu band rock terbesar sepanjang masa.

Saya coba putar lagu Highway to Hell – lagu AC/DC era Scott paling terkenang. Nuansa Fremantle hadir di lagu ini sebagai inspirasi karyanya. Scott menyebut Canning Highway yang menghubungkan Fremantle dengan Perth sebagai Highway to Hell. Kebiasaan minum Scott sering mengantarkan dia ke bar yang disebutnya Raffles di Perth. Dari rumahnya, ia akan mengendarai mobil seperti “No stop signs... speed limits... nobody gonna slow me down."

Namun saya tak bisa membayangkan hari ini ada yang berani menapak tilas aura nerakanya Canning Highway, sekalipun fans paling militan dari Bon Scott dan AC/DC. Peraturan lalu lintas di Australia sangatlah ketat. Dendanya pun sungguh bikin kecut. Siap-siap saja Anda kalau tertangkap berujung di penjara dan menanggung denda ribuan dollar. Ada yang berani?


***

Tatkala berjalan kaki menelusuri Fremantle, sungguh jauh dari kesan glamor, rancak dan jingkrak-jingkrak ala Bon Scott. Saya menjumpai ketenangan pada relung-relung kota. Lanskap arsitektur bangunan yang lestari dari abad ke-19 ditemui di setiap sudut kota. Kendaraan mengalun pelan di kanal-kanal aspal. Para pejalan tampak menikmati setiap derap langkahnya. Kota yang didirikan pada tahun 1829 sebagai bagian dari koloni Sungai Swan ini lebih menunjukkan sebagai kota yang anggun, ibarat sang gadis cantik di pesisir Perth.

Melintas sore hari di Cappucino Strip, saya menemui kegembiraan yang hidup dari warga yang menyeruput kopi atau wine sambil berbincang dengan koleganya. Ikon keramaian kota di sepenggal South Terrace juga menyuguhi kedai-kedai lokal dan toko bermerek yang artistik. Saya kini masuk ke Pasar Fremantle yang sejak 1897 menjadi arena interaksi ekonomi sosial antara penjual-pembeli, warga lokal-wisatawan dalam produk dagangan yang khas. Tentu panorama ini, sesuatu yang jarang dijumpai di pasar Australia yang modern.  

Sore segera pudar, tapi saya masih ingin ke Penjara Fremantle. Bangunan ikon Fremantle yang satu-satunya terdaftar sebagai UNESCO World Heritage di Australia Barat menyambut saya di penghujung jam bukanya. Saya tak bisa masuk untuk melihat seluk beluk bangunan yang tak digunakan sejak 1991 ini. Terpapar saja bangunan dingin yang jadi sisa era kolonial Australia. Dulu penjara Fremantle dibuka pertama kali tahun 1855 dan dibangun para narapidana yang didatangkan dari Inggris.  

Namun, ihwal kedatangan saya menjenguk Penjara Fremantle ialah menengok Scott yang pernah ditahan sebentar di sini. Karena mencuri bensin, memberi informasi nama dan alamat palsu ke polisi, kabur dari penangkapan polisi, serta membawa lari gadis di bawah umur, Scott berurusan dengan hukum. Perangai badung Scott juga banyak terbawa pada lagu-lagunya. Tahukah lagu “She’s Got Ball”? Istrinya mengeluh Scott tak pernah membuat lagu istimewa untuknya. Scott pun membuat lagu “She’s Got Ball tapi lalu istrinya meninggalkan Scott. Liriknya malah kontradiksi dengan permintaan sang istri.

Jalanan Fremantle makin lengang di malam hari. Saya menyusur Fremantle Town Hall pun tinggal berjumpa dengan sisa manusia-manusia Freo yang rela ditelan sepi. Namun, di beranda Hotel National keramaian khas Freo bergemuruh. Sejalur itu tegukan wine, kopi, bir bersama lantunan musik memenuhi seantero. Mungkin inilah “Pathway to Heaven” ala Fremantle yang menyenangkan warganya hingga ujung malam. 

Tapi, saya merasa ada yang kurang di kelana Freo saya. Saya belum menjenguk Scott di tempat peristirahatan abadinya, di pinggiran kota Fremantle.  

Catatan:
Tulisan "Freo dan Ben Scott" telah tayang di Majalah National Geographic Indonesia Traveler edisi Bulan Juni 2016. Tulisan di blog saya ini sedikit berbeda dengan versi yang ditayangkan di majalah NG Traveler. 


Video perjalanan di Australia Barat dalam NG Travelmate



Perjalanan di Australia Barat ini terlaksana bersama NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA - www.nationalgeographic.co.id dan TOURISM WESTERN AUSTRALIA BOARD - www.westernaustralia.com dalam tajuk acara NG TRAVELMATE. Selama 6 hari (5 - 10 April 2016), saya mengeksplorasi pesona Australia Barat. Ada 11 tulisan dalam rangkaian perjalanan ini dan sebelumnya merupakan 'assignment' dari National Geographic Indonesia. Beberapa tulisan sudah tayang di majalah NG TRAVELER dan laman www.nationalgeographic.co.id.

Berikut ini, sebelas tulisan tentang pengalaman saya merayakan pesona Australia Barat yang mengagumkan. Kamu harus membaca semuanya...


Selamat membaca dan menarik kisah perjalanan yang lebih bermakna... 

You Might Also Like

5 komentar

  1. Kalau baca tulisanmu jadi ingat waktu kami ngobrol malam minggu kemarin abreng teman-tema di Jogja, mas. Semua sepakat kalau tulisanmu itu harusnya nampang di majalah semua hehehehhe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. terima kasih mas Sitam. Ikhtiar nulis yang baik.. :D Tapi aku sering banget lho dulu ngirim2 ke majalah terus ditolak. Haha.. Dari situ belajar nulis untuk lebih baik.. Mungkin karena itu style tulisanku kayak di majalah.. haha

      Hapus
  2. Malcolm kayak nya jadi merk kaos yang lumayan terkenal di kalangan anak sketboard ... eh itu valcolm yaaa eh apalah itu #KaesangLupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. skate board tuh oncom kak.. hahaha.. enak klo oncom ya kak Cum.. :D

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe