Bersepeda Gembira di Swargaloka Quokka - NG TRAVELMATE #8

13.16

Quokka hewan ikonik Rottness Island.

Tahun 1696, William de Flamingh mendarat di pulau kecil dan berjumpa dengan hewan yang  ia sangka sebagai tikus besar. Pelaut Belanda ini menyebut pulau tersebut sebagai Rottnest (berasal dari ‘Rotte nest’, sarang tikus). April 2016, saya hadir berkeliling Rottnest dan bersua Quokka, si ‘tikus besar itu’ yang menurut saya lebih mirip dengan kangguru dalam versi mini. Quokka menjadi penggugah semangat saya untuk menjelajahi Pulau Rottness.

Kayuhan sepeda saya sejenak berhenti di lereng bukit yang di puncaknya bertengger Mercusur Wadjemup. Saya baru seperempat jalan menempuh rute yang direncanakan di Pulau Rottnest. Mengelilingi Pulau Rottnest memang paling mengasyikkan dengan bersepeda. Pulau kecil ini steril dari kendaraan bermotor pribadi. Tersedia beberapa rute bersepeda yang menyuguhkan variasi jarak dan tingkat kesulitan medan. Sudah beberapa kali saya berjumpa dengan pengunjung yang bersepeda secara berkelompok maupun seorang diri.

Dalam rehat, Firman Firdaus tetiba membunyikan suara asing mencampuri irama angin yang menggesek ranting pepohonan. Daus memang mahir membuat suara mirip kicauan burung dan aneka hewan. Entah karena suara Daus atau bukan, seekor Quokka tampil loncat-loncat dari balik rerimbunan pohon. Sang primadona itu datang! Quokka berdiri riang di seberang jalan, seakan memanggil kami untuk lekas mendatanginya. Bukannya takut, ia malah merekatkan interaksi dengan kami. Tak berapa lama quokka lain ramai berdatangan, menjadi semacam ajang silaturahmi keakraban di antara kami.

Quokka (Setonix brachyurus) merupakan fauna endemik Pulau Rottnest. Di daratan utama Australia, keberadaan hewan marsupial ini sudah terbatas jumlahnya. Quokka bisa tinggal nyaman di Rottnest karena terbebas dari predator seperti kucing, anjing, dan serigala. Rottnest menjadi pulau konservasi bagi Quokka. Menariknya, quokka sungguh antusias ketika saya ajak berswafoto. Quokka seakan tersenyum ketika kamera diarahkan kepadanya. Dari perangai ini, Quokka dianggap sebagai binatang paling bahagia di dunia.

Energi telah pulih lagi berkat dihibur keramahan bercengkerama dengan Quokka. Mari lanjutkan kayuhan sepeda untuk menjelajah lebih jauh. Kini kami menyusuri jalan beraspal yang menggaris daratan bersemak yang menghampari pulau Rottnest. Di samping jalan, pesisir Rottness dengan apik memadukan lautan berombak Samudera Hindia dengan pasir putih yang memanjang. Panorama yang cantik ini membuat setiap kayuhan sepeda harus bersemangat untuk menjemput kejutan berikutnya.

Di kejauhan, Mercusuar Wadjemup menjulang putih di pucuk bukit di pesisir selatan pulau. Wadjemup merupakan nama lokal Aborigin untuk Pulau Rottnest yang artinya “tempat di seberang air di mana roh-roh berada.” Pulau Rottnest pernah dihuni orang Aborigin ribuan tahun lalu sebelum terpisah dari daratan utama Australia akibat naiknya permukaan laut. Nama Wadjemup diabadikan pada mercusuar setinggi 38,7 meter yang didirikan tahun 1649. Mercusuar Wadjemup menjadi pemandu kapal-kapal yang hendak memasuki daerah koloni Sungai Swan. Ada satu lagi mercusuar di Pulau Rottnest, yakni Bathurst di sisi utara pulau yang lebih pendek dan lebih muda usianya.

Sambil terus mencoba mengulik kenikmatan bersepeda yang mulai tersuguhi panorama monoton, tetiba seorang memanggil saya dengan sapaan khas Indonesia, “Apa Kabar?” Saya cukup terkejut. Apa karena wajah saya Indonesia banget, sehingga dia langsung menerka asal negara saya dengan tepat. Saya berhentikan sepeda dan hampiri dia yang disusul kawan saya, Heru.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Steve, warga asal Perth, dalam bahasa Jawa. Sungguh mengejutkan! Ternyata dia pernah bersekolah master Sastra Jawa di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Artinya, kami merupakan satu almamater. Steve asyik berkisah kenangannya di Jogja seperti menikmati gudeg dan menyusuri Malioboro sambil berbagi sekilas tentang kehidupan Perth yang menurutnya termasuk mahal dibandingkan kota lain di Australia. Meski tak lama, obrolan kami pun mengalir hangat, seakan berjumpa kawan lama di suatu tempat yang tak terduga. 

Siang itu, Steve sedang berlibur akhir pekan bersama keluarganya di musim gugur. Pulau Rottnest menjadi favorit bagi warga Perth untuk merilekskan kehidupan. Dengan hanya ditempuh 30 menit dari Pelabuhan Fremantle, pulau seluas 19 km persegi ini riuh dengan aktivitas wisatawan. Rottness komplit menyuguhi wisata pantai berpasir putih, lautan jernih, beberapa danau asin di tengah pulau, jejak Suku Aborigin, dan bangunan bersejarah sisa Perang Dunia II.

Selain bersepeda, Rottness adalah pulau yang menggembirakan untuk berselancar, snorkeling, diving, mendayung, wisata udara, melihat lumba-lumba dan lainnya. Menjelajahi pesona Rottness paling ideal membutuhkan waktu beberapa hari. Sayangnya, saya hanya melancong beberapa jam yang sungguh itu selintas saja mengenal keindahan Rottness. Saya tuntas mengitari setengah area Pulau Rottness  dalam waktu dua jam.

Rottnest tak pernah sepi dari geliat wisata. Setahun bisa dikunjungi paling tidak 500 ribu wisatawan – penduduk Rottnest hanya sekitar 100 jiwa. Namun, nafas konservasi lingkungan tetap jadi yang paling utama di Pulau Rottnest. Pulau swargaloka Quokka ini telah ditetapkan menjadi Cagar Alam kelas A untuk menjaga keanekaragaman hayati dan keindahan alamnya yang luar biasa. Arena bermain Quokka pun tetap lestari bersama kegembiraan wisatawan yang mencintai pesona Rottnest. Saya juga sungguh mencintai suasana lestari Rottnest.


Video perjalanan di Australia Barat dalam NG Travelmate



Perjalanan di Australia Barat ini terlaksana bersama NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA - www.nationalgeographic.co.id dan TOURISM WESTERN AUSTRALIA BOARD - www.westernaustralia.com dalam tajuk acara NG TRAVELMATE. Selama 6 hari (5 - 10 April 2016), saya mengeksplorasi pesona Australia Barat. Ada 11 tulisan dalam rangkaian perjalanan ini dan sebelumnya merupakan 'assignment' dari National Geographic Indonesia. Beberapa tulisan sudah tayang di majalah NG TRAVELER dan laman www.nationalgeographic.co.id.

Berikut ini, sebelas tulisan tentang pengalaman saya merayakan pesona Australia Barat yang mengagumkan. Kamu harus membaca semuanya...


Selamat membaca dan menarik kisah perjalanan yang lebih bermakna...  

You Might Also Like

8 komentar

  1. Sepedaan bareng mas Firdaus dan mbak Aristi, kebayang gimana kamu mengimbangi mas hahahahha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha... mereka tipikal pesepeda sante kok mas Sitam.. Sante menikmati suasana alam sekitar.. hehe.. :D

      seru pokoknya nyepeda di ROttnest..

      Hapus
  2. huaa sadis. saiki updatenya ttg ausi terus. ntapp
    quokka boleh digendong kaga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. artikel lama disemaikan kembali.. wkwkw
      quokka gak boleh disentuh euy. aturan kkonservasi lingkungan n wisatanya jelas.. bagus buat role model wisata alam dan interaksi binatang.. :D

      Hapus
  3. Masak mirip tikus sech ??? kalo menurt gw kok yang ini lucu imut ngegemesin ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaa.. ngegemesin banget kok kak cum.. diajak selfie malah bisa senyum lho. senyumnya juga manja manja gitu.. *sambilbayangin.. hahaha

      Hapus
  4. Ya Tuhan, Quokkanya lucu sekali :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Quokka hewan ikonik yang bisa suka berinteraksi dengan manusia. kira2 di Indonesia ada hewan yg selucu ini gak yah? :D

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe