The Morning Kelimutu Coffee

15.57

Pak John Bulu yang meminum kopi asli Kelimutu. Dia penjual juga.

Bagi saya, sebuah tempat terasa paling mengagumkan adalah apabila saya bisa menyeruput kopi sambil menikmati panorama indah. Di situlah sebuah paduan cantik alam berkelindan manis dengan minuman hitam pekat yang sebegitu nikmat. Bagi saya, momen itu semacam berada di surga dunia.

John Bulu (36) tahu betul bahwa saya adalah pecinta kopi. Dengan wajah sumringahnya dia menawari saya untuk membeli secangkir kopi jualannya.

“Ini Kopi asli Kelimutu.” promosi Bang John, begitu sapaan akrabnya.

Mendengar kata “khas”, “asli” atau sebangsanya, jelas saya seketika bergairah untuk menjajal rasa kopi itu di tempat asalnya. Untuk rasa kopi: enak itu urusan di belakang. Yang terpenting  adalah mencobanya terlebih dulu. Terlebih, hawa sejuk pagi paling cocok ditemani oleh secangkir kopi. Sekalian mengusir kantuk sisa tidur tadi malam yang kurang karena saya hanya tidur tiga jam. Saya pun memesan kepada Bang  John secangkir kopi tanpa gula. Partner saya, A. Mei juga memesan kopi hitam tapi dia dengan gula.

John menuangkan air panas dari termosnya  ke sebuah gelas yang telah berisi sesendok kopi.  Begitu  air panas bertemu  dengan bubuk kopi, emmmm.. semerbak  bau kopi langsung harum menguar. Saya yang duduk di dekatnya langsung dimanjakan oleh wangi kopi. Sekeliling lapak jualan John yang berada di bawah tangga tugu pandang Kelimutu juga terharumi oleh kopi. John pun menyuguhkan kopi kepada saya dengan ramahnya. Saya menyambutnya langsung dengan menyeruput kopi  Kelimutu.

“Pahit sedang, tapi nikmat ‘dimainkan’ dengan lidah.” Itulah cita rasa kopi buatan John. Saya tahu, kopi ini tidak disajikan sempurna karena panas air yang dituangkan masih kurang. Terlalu sederhana. Tapi, minuman kopi ini adalah penghangat tepat untuk menghalau dingin di Tugu Pandang Kelimutu. Saya pun tak berlama-lama membiarkan kopi ini mengharumkan suasana. Saya lekas menghabiskan kopi itu dalam satu teguk. Seperti minum espresso. Tandas.

“Kopi ini saya tumbuk langsung kemarin sore. Ditumbuk rasanya lebih nikmat daripada digiling” ungkap John Bulu yang sehari-hari juga menjadi semacam penjaga tidak resmi di Kawah Kelimutu.


Melihat pemandangan sunrise sambil minum kopi. Juara lah.... !!
Ibu Salehah, salah satu penjual kopi yang biasa 'menunggui' tugu pandang Kelimutu.

Kopi-kopi ini masih segar. Langsung diambil dari kebun John yang terletak di desa Pomo, Wolowaru, Ende, di dekat rumahnya. Meski tidak luas kebunnya, dia bisa mengambil kopinya hampir setiap hari untuk dikonsumsi atau dijual di tugu pandang Kelimutu. Baru setelah musim panen tiba, hasil kopi nya dijual kepada pedagang-pedagang di Ende. Dia akan mendapatkan hasil besar saat panen kopi. Syukurlah, kopi bisa menjadi sarana kesejahteraan bagi warga sekitar Kelimutu.

Segelas kopi di Kelimutu juga menjadi incaran para turis-turis asing. Catherina memesan kopi kepada John. Turis asal Belanda ini begitu antusias menikmati kopi. “So tasteful” begitulah kesan dia ketika menyeruput pertama  minuman hitam pekat ini. Margareth, kawannya, tertarik pula untuk minum kopi racikannya John Bulu. Mereka sepakat bahwa segelas kopi membuat sunrise Kelimutu makin dinikmati syahdu.

“Turis asing lebih suka minum kopi tanpa gula.” jelas John tentang perilaku  kopi dari para pengunjung yang jauh-jauh dari negaranya datang ke Kelimutu untuk melihat keajaiban kawah tiga warna ini.

Mentari sudah makin naik, makin menghangatkan pagi Kelimutu, makin mencahayai warna-warna kawah Kelimutu. Saya jelas tak cukup hanya satu kopi untuk memanaskan pagi. Saya pesan lagi kopi kepada Pak John. Kali ini kopi manis yang dicampur jahe. Fuuiiih.. Nikmat kopi tetap saja mantap.  Aroma jahe berpadu pas dengan rasa kopi. Rasa manis kopi cukup untuk memberi energi saya, paling tidak menggantikan pendakian saya tadi pagi-pagi buta.

Beruntunglah hadir di Kawah Kelimutu pagi hari. Keindahannya makin meriah karena ada secangkir kopi yang turut menemani saya dan Mei tatkala memuji keajaiban alam di Flores ini. Tak cuma tersaji oleh gemulai sunrise ataupun tiga warna kawah yang menakjubkan, tetapi ada kopi yang girang menghibur indera rasa. Bagi saya, momen seperti ini adalah sebuah pengalaman yang sempurna di Kawah Kelimutu.



Catatan:
- tulisan ini merupakan rangkaian kisah perjalanan saya mengikuti Adira Faces Of Indonesia #UbekNegeri Copa de Flores yang diselenggarakan Adira Finance dan Bank Danamon pada tanggal 14-19 Maret 2014


Pak John Bulu sedang membuat kopi untuk turis asing yang tertarik minum kopi khas Kelimutu.
Pak John Bulu yang ramah dan suka bercerita. Bersama dagangannya yang laris pagi itu.
Minum kopi lagi Pak, sampai tandas. Saya coba dua kali perut tak masalah. Alami, organik.
Ibu Salehah yang juga berjualan kopi. Dipetik langsung dari kebunnya.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Sayangnya satu gan, kalau main ke gunung gitu nggak bisa bawa mesin kopi :'(

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe