Semerbak harum meruap
kuat sesaat kopi diseduh Firmansyah “Pepeng”, yang lantas disesap dengan hirupan
nafas kenikmatan oleh para pengunjung stan Klinik Kopi. Wiwid tampak paling
mengkhidmati cara Pepeng menyeduh ‘pour over’ dengan Koka, piranti seduh
signatur Klinik Kopi. Begitu ia menerima segelas kopi, disruputnya seksama dengan
mata memejam seakan ingin meluruhkan seluruh jiwa kepada kopi dambaannya.
![]() |
| Fiori Coffee, roastery terkemuka di Australia Barat |
Setengah jam ke utara berkendara dari jantung kota Perth, sudah disambut
permadani luas kebun anggur yang bersejarah. Perth memang tahu caranya memanjakan
warga dan wisatawan secara paripurna. Tersebutlah Swan Valley yang masyhur
menjadi sentra penghasil wine tertua di Australia Barat. Berkunjung ke sana,
saya memungut kejutan. Namun, ini bukan tentang kenikmatan wine, tapi segelas kopi
penuh cerita di tengah kebun anggur.
Kota tua Guildford menjadi gerbang memasuki kawasan Swan Valley. Kota yang
dirangkai James Stirling dalam pengembangan koloni Sungai Swan tahun 1829
bersama Perth dan Fremantle ini tampak tenang dengan aneka bangunan bersejarah
yang terjaga. Dari dalam mobil, saya melintas saja dan menyaksikan ragam
bangunan kolonial, toko antik, gereja tua, dan suasana desa yang berderetan ramah.
Guildford diklasifikasikan sebagai “Kota Bersejarah” oleh Badan Pelestarian
Australia. Kebun anggur dan wine turut menyusun sejarah perkembangan Gulidford.
| John Bulu menikmati kopi racikannya sendiri di Kawah Kelimutu. Dia ingin menunjukkan bahwa alam Kelimutu yang memesona makin indah ketika dipadukan dengan kopi asli Kelimutu yang wangi. |
Matahari begitu anggun beranjak
dari ranjang cakrawala timur. Sempurna bulat wujudnya menyihir puluhan pasang mata yang antusias merayakan sunrise di Kawah
Kelimutu. Kemolekan momen sunrise Kelimutu
telah menjadi alasan populer para pelancong dari seluruh dunia untuk rela
jauh-jauh menyambangi pesona alam yang terletak di Ende, Flores, Nusa Tenggara
Timur. Seiring cahaya emas surya menggerayangi sekujur tubuh Kelimutu, rupa
tiga warna kawahnya yang ajaib pun mulai terlihat menjelita.
Sementara itu, John Bulu (36) tampak cekatan menyiapkan
beberapa
gelas kopi pesanan para wisatawan. Salah satunya ialah
segelas kopi pesanan saya. Saya pesan kopi tanpa gula seperti kebiasaan saya
setiap pertama kali menikmati kopi-kopi lokal. John – sapaannya – adalah salah
satu dari warga lereng Kelimutu yang berjualan kopi dan aneka cinderamata khas
di Gardu Pandang Tugu Kelimutu.
| Buah kopi Arabica Pesisir Kebumen. |
Pakem yang beredar, kopi
arabica tumbuh pada ketinggian di atas 700 m, yakni di daerah pegunungan
tinggi. Kopi yang memiliki cita rasa khas terpengaruh kondisi lingkungan
sekitar ini akan susah untuk hidup di dataran rendah, terlebih di sekitar
pesisir pantai. Namun, di pesisir selatan Kebumen, kopi jenis arabica ini
tumbuh dengan baik di antara rerimbunan pekarangan. Benar-benar sebuah kejutan,
kalau tidak bisa dikatakan sebagai kenekatan.
“Lha ini nyatanya tumbuh dan berbuah besar dan
lebat.” Ungkap Yuri Dulloh (36) dengan bersemangat membuktikan.
![]() |
| Darto Sijam sedang memetik buah kopi di pekarangannya |
“Enak banget ini kopinya” Berulang kali Pak Darto Sijam (45) menyingkap kesan nikmat setelah menyeruput secangkir kopi yang tersaji tubruk. Warga Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Selo,
Boyolali ini baru tahu rasa asli kopi yang ditanamnya. Pengalaman pertama ini pun
menjadi pemantik kebanggaan atas kopi daerahnya. Sekaligus menjadi sepotret ironi
dari petani kopi yang belum pernah merasakan rasa kopi terbaik.
Pak Darto Sijam dan banyak warga Lencoh menanam beberapa tanaman kopi di pekarangan
rumahnya. Tanaman kopi ini tumbuh dibiarkan saja. Sejak ditanam sebagai bibit bantuan
pemerintah tahun 2003, tanaman kopi tidak dipupuk, tidak disiram. Seperti
tumbuh liar. Saya pun menyaksikan banyak pohon kopi tumbuh sekedarnya menempati
lahan tepian di batas pekarangan.
![]() |
| Pak John Bulu yang meminum kopi asli Kelimutu. Dia penjual juga. |
Bagi saya, sebuah tempat
terasa paling mengagumkan adalah apabila
saya bisa menyeruput kopi sambil menikmati panorama indah. Di situlah sebuah
paduan cantik alam berkelindan manis dengan minuman hitam pekat yang sebegitu
nikmat. Bagi saya, momen itu semacam berada di surga dunia.
John Bulu (36) tahu betul bahwa saya adalah pecinta kopi. Dengan wajah
sumringahnya dia menawari saya untuk membeli secangkir kopi jualannya.
“Ini Kopi asli Kelimutu.” promosi Bang John, begitu sapaan akrabnya.
![]() |
| Segelas kopi Aceh Gayo sajian tubruk. @iqbal_kautsar |
Pekat. Hitam. Tapi, kopi ini juga terang, gamblang. Terus terang mengantar imajinasi saya mengembara ke Tanah Gayo. Daerah asal kopi ini ditanam. Sebuah dataran tinggi di jantung bumi Aceh yang subur luar biasa.
Entah zat apa di kopi itu yang memelet saya. Seketika saya jatuh cinta pada kopi dari bagian ujung barat Bukit Barisan. Saat itu juga, saya mendamba bisa berkelana mengungkap misteri yang membuat saya terjaring cinta pada Gayo. Saya mendamba cinta sepenggal pesona dari Aceh, yakni kopinya.
Saya mencintai setiap kopi. Dan, Kopi Aceh Gayo punya taste tersendiri. Saya sepakat dengan Christopher Davidson, salah seorang master cupperinternasional. Uji citarasa yang dilakukannya menyatakan kopi Gayo memiliki keunikan "heavy body and light acidity". Kopi Aceh Gayo begitu ‘nendang’, bersensasi keras saat diteguk. Namun, keasamannya ringan. Tidak terasa pahit tetapi gurih renyah dengan aroma harum yang halus khas arabica. Sedap menyeruak, menggugah semangat.
Saya terbayang-bayang. Betapa nikmatnya andai menyeduh kopi Gayo di tepian Danau Laut Tawar pada satu sudut di Takengon. Di dataran asalnya pada sebuah pagi jelang siang. Melihat hamparan luas danau terbesar di Aceh sambil dibalut mesra kesejukan pegunungan bersuhu sekitar 20 derajat Celcius. Brrrr, tambah sejuk tatkala angin menyapu badan dari buritan atas perbukitan. Tapi, tenang. Secangkir kopi ini setia menghangatkan. Terlebih makin nikmat tatkala dipasangkan masakan ikan Deupik, ikan khas yang hanya ada di Danau Laut Tawar.
Lantas, kemudian saya beranjak pergi menuju lekukan-lekukan pegunungan. Bersiap berkunjung ke jengkal-jengkal perkebunan kopi para petani. Menyapa mereka. Menelisik tanaman dan buah kopi. Mengetahui proses perawatan. Kalau beruntung, menyaksikan proses panen, pengolahan bijih hingga menjadi bubuk kopi. Bukankah jauh lebih bermakna tatkala bisa mengetahui kopi dari proses asalnya? Tak sekedar menyeduh kopi, begitulah impian untuk cinta saya pada kopi.





