![]() |
| Segelas kopi Aceh Gayo sajian tubruk. @iqbal_kautsar |
Pekat. Hitam. Tapi, kopi ini juga terang, gamblang. Terus terang mengantar imajinasi saya mengembara ke Tanah Gayo. Daerah asal kopi ini ditanam. Sebuah dataran tinggi di jantung bumi Aceh yang subur luar biasa.
Entah zat apa di kopi itu yang memelet saya. Seketika saya jatuh cinta pada kopi dari bagian ujung barat Bukit Barisan. Saat itu juga, saya mendamba bisa berkelana mengungkap misteri yang membuat saya terjaring cinta pada Gayo. Saya mendamba cinta sepenggal pesona dari Aceh, yakni kopinya.
Saya mencintai setiap kopi. Dan, Kopi Aceh Gayo punya taste tersendiri. Saya sepakat dengan Christopher Davidson, salah seorang master cupperinternasional. Uji citarasa yang dilakukannya menyatakan kopi Gayo memiliki keunikan "heavy body and light acidity". Kopi Aceh Gayo begitu ‘nendang’, bersensasi keras saat diteguk. Namun, keasamannya ringan. Tidak terasa pahit tetapi gurih renyah dengan aroma harum yang halus khas arabica. Sedap menyeruak, menggugah semangat.
Saya terbayang-bayang. Betapa nikmatnya andai menyeduh kopi Gayo di tepian Danau Laut Tawar pada satu sudut di Takengon. Di dataran asalnya pada sebuah pagi jelang siang. Melihat hamparan luas danau terbesar di Aceh sambil dibalut mesra kesejukan pegunungan bersuhu sekitar 20 derajat Celcius. Brrrr, tambah sejuk tatkala angin menyapu badan dari buritan atas perbukitan. Tapi, tenang. Secangkir kopi ini setia menghangatkan. Terlebih makin nikmat tatkala dipasangkan masakan ikan Deupik, ikan khas yang hanya ada di Danau Laut Tawar.
Lantas, kemudian saya beranjak pergi menuju lekukan-lekukan pegunungan. Bersiap berkunjung ke jengkal-jengkal perkebunan kopi para petani. Menyapa mereka. Menelisik tanaman dan buah kopi. Mengetahui proses perawatan. Kalau beruntung, menyaksikan proses panen, pengolahan bijih hingga menjadi bubuk kopi. Bukankah jauh lebih bermakna tatkala bisa mengetahui kopi dari proses asalnya? Tak sekedar menyeduh kopi, begitulah impian untuk cinta saya pada kopi.

