Maumere, Gerbang Timur Wisata Flores

14.30

Bandara Frans Seda. Bandara Maumere.

Nyiur berderet ramai di tepian pantai. Ia menghias cantik batas daratan Flores dengan laut Flores di sepanjang garis pantai kota Maumere. Nyiur-nyiur semampai ini tahu bagaimana cara terbaiknya menyambut kedatangan saya bersama tim Adira Faces of Indonesia sesaat sebelum mendarat di Bandara Frans Seda, Maumere. Pantaslah panorama demikian menjadi sebuah penegasan tentang  identitas Kabupaten Sikka sebagai “Kabupaten Nyiur Melambai.”

14/03/2013, sekitar pukul 16.20, pesawat kami mendarat dengan selamat di Bandara yang namanya berasal dari sosok asli NTT yang banyak menduduki pos menteri zaman Orde Baru: Frans Seda. Perjalanan setengah harian dengan transit di Denpasar begitu melelahkan.  Cuaca panas khas Flores langsung menerpa tubuh. Gerah.

Namun, bukankah ini adalah pengulangan dari kehadiran saya  setahun lalu? Flores memang terkenal panas. Bandara Frans Seda tampak mengalami perubahan yang signifikan. Bangunan bandara yang terletak di tepi kota ke arah Larantuka ini makin terlihat modern dan bersih.

Seiring makin populernya Flores  sebagai destinasi wisata internasional, Maumere menjadi kota pintu gerbang Flores di arah timur. Adapun Labuan Bajo menjadi pintu gerbang di arah barat. Bandara Frans Seda harus memberi penyambutan dan perpisahan terbaik bagi para wisatawan yang berasal dari berbagai penjuru dunia ketika hadir di Flores. Saya amati seorang petugas kebersihan bandara begitu totalitas membersihkan lantai,  sampai menegur saya untuk berpindah tempat saat lantai dibersihkan. Saya anggap hal itu adalah sebuah kepedulian yang baik, meski caranya cukup keras.

Sesungguhnya, Maumere sebelum mendunianya wisata Flores juga telah dikenal oleh masyarakat internasional berkat kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.Saat itu, Paus yang dikenal flamboyan ini sedang dalam rangka kunjungan ke lima kota di Indonesia. Uniknya, di antara kota yang dikunjunginya: Jakarta, Yogyakarta, Medan, Maumere, dan Dili,  Maumere merupakan kota yang terkecil tapi Paus tetap  memilih menginap di Maumere meski tak ada hotel yang berstandar internasional.

“Saat Paus datang, kota Maumere dipenuhi oleh umat Katolik dari seluruh Flores. Tentara sudah berjaga-jaga bahkan sebulan sebelum Paus datang.” ungkap  Bang Bosco, guide kami  yang waktu itu masih belia tapi sudah tahu aura ramai kedatangan tokoh penting dunia ini.

Setelah hujan mereda di malam pertama di Flores (14/03/2014), kami sempatkan datang ke Gereja Katedral St. Yoseph di kota Maumere. Jelas suasana sangat sepi.  Kami hanya pandangi dari luar pagar dengan menatap setengah nanar.

Tapi, saya bisa bayangkan semarak suasana saat Sri Paus memimpin misa akbar yang dihadiri oleh lebih dari 300 ribu orang. Kota kecil Maumere yang berpenduduk sekitar 51 ribu dipenuhi lautan manusia yang ingin berdoa bersama pemimpin umat Katolik dunia ini. Mayoritas penduduk Maumere dan Kab. Sikka merupakan penganut agama Katolik.

Sesaat akan mendarat di Maumere. Betapa semarak nyiur di tepi pantai.
Katedral St. Yoseph. Katedral bersejarah di Maumere. Pernah dikunjungi Paus.
Persahabatan lintas suku dan agama. Martin (asli Maumere) dan Fauzan (pendatang dari Lamongan)

Meski Maumere dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya kuat menganut Katolik, tapi harmoni hidup dengan masyarakat  beragama lain, seperti Islam, terjadi sangat baik. Itulah indahnya toleransi di Maumere. Saya teringat saat kunjungan ke Maumere pertama, saya dibolehkan tinggal di rumah Bang Felix. DIa Katolik, saya muslim. Dengan penuh penghargaan, dia selalu menyediakan ruangnya untuk saya beribadah. Tak sekedar disiapkan, tetapi dibersihkan spesial untuk saya. 

Jujur, sekarang, saat kehadiran kedua di Maumere ini saya tidak sempat menjelajahi banyak pesonanya. Alasannya jelas: waktu terbatas. Kami memang memutuskan setelah istirahat menikmati ikan bakar khas Maumere sembari menikmati sore di tepian Pantai Maumere, kami langsung menuju Moni. Bermalam di sana. Perjalanan yang panjang membuat kami menyimpan rindu untuk menikmati Kampung Watublapi, Pantai Waiara Patung Bunda Maria Nilo, Kampung Wuring dan obyek-obyek menarik lain di Maumere.

Kini, Maumere terus tumbuh menjadi kota yang ramai dengan aktivitas ekonomi dan budaya. Kota yang terletak di pesisir utara Nusa Bunga ini menjadi kota terbesar di Flores. Kota ini juga menjadi jantung masyarakat etnis Sikka,  salah satu suku utama yang mendiami Pulau Flores. DI sekitar Maumere,  terdapat sentra-sentra kain tenun ikat yang telah tersohor di dunia. Maumere adalah sepenggal ‘cahaya’  di Indonesia timur.

Tapi, malam yang menjemput Maumere membuat kota ini membuktikan dirinya seperti seseorang yang hidup bergairah hanya setengah hari saja, sepanjang sepenggal siang. Maumere begitu sunyi tatkala saya malam itu berkeliling sebentar merasai realitas Maumere sebelum menuju Moni. Sama sekali sedikit aktivitas malam hari. Kebanyakan masyarakat memilih berdiam diri di rumah. Pun, kota terbesar Flores ini masih perlu pengembangan untuk mewujudkan Maumere yang lebih ‘hidup’.

Jangan sampai Maumere yang menjadi gerbang Flores hanya sekedar menjadi kota keberangkatan atau kedatangan di Flores. Sekedar transit pula untuk ke Kelimutu, Bajawa, Labuan Bajo di sebelah barat atau Larantuka di sebelah timur. Di sisi lain, potensi hebat wisata Maumere yang unik dilupakan oleh wisatawan. 

Bukankah yang demikian, Maumere akan mampu meramaikan dirinya agar orang betah berlama-lama di Maumere menikmati keindahan alam budaya FLores? Dengan begitu, Maumere pun tidak sekedar jadi pintu gerbang di Flores, seperti yang saya rencanakan dan laksanakan dalam perjalanan Ubek Negeri Copa de Flores kali ini.



Catatan:
- tulisan ini merupakan rangkaian kisah perjalanan saya mengikuti Adira Faces Of Indonesia #UbekNegeri Copa de Flores yang diselenggarakan Adira Finance dan Bank Danamon pada tanggal 14-19 Maret 2014
- tulisan ini juga bisa ditemui di https://www.adirafacesofindonesia.com/article.htm/2892/Maumere--Gerbang-Timur-Wisata-Flores


Gunung Egon tampak gagah. Menjadi gunung 'pelindung' Maumere.
Tampak depan Bandara Frans Seda. Bandara ini sudah sepi setelah penerbangan terakhir.
Pesisir Maumere. Pesisir ini pernah dihantam tsunami pada 1992. Kini sudah pulih kembali..
Menyesap sore pertama di pantai Maumere itu begitu syahdu. Meski mendung tapi tetap nikmat dirasakan.

You Might Also Like

3 komentar

  1. Menarik bang... terima kasih infonya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama smoga bermanfaat... Salam kenal mas Ikhwan Hafis..

      Hapus
  2. Bagus-bagus foto nya :)
    Kapan ya saya jadi traveller? :/

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe