Petualangan Dasa Boga Bersahaja Kawula Jogja

Desember 25, 2018


Jogja adalah semesta hidup kebersahajaan yang turut terejawantahkan dalam fasad boga keseharian masyarakatnya. Setiap impresi para pengunjung Jogja selalu dinaungi bayangan sederhana dan murah pada beraneka kuliner yang disantapnya. Kebersahajaan makanan kawula Jogja ini banyak disumbangsih oleh paduan sejarah yang melingkupi Yogyakarta sebagai keraton yang punya nilai-nilai kesederhanaan dan seringnya peristiwa penuh kemusykilan melanda Yogyakarta. Masyarakat Jogja menjadi mahir beradaptasi dengan mendayagunakan sumber daya setempat tak sekadar untuk bertahan hidup, tetapi menghasilkan boga-boga bersahaja nan lezat.

***

Sejarah Jogja merentang panjang dalam senarai keprihatinan. Makanya, ia menuntut untuk dirupa dengan kebersahajaan, termasuk dalam wujud boga kawula masyarakatnya. Mari kita lacak dari situasi Jogja yang menjadi episentrum peristiwa-peristiwa akbar seperti invasi Raffles yang memporak porandakan tatanan Keraton Yogyakarta, chaos Perang Jawa dipimpin Pangeran Diponegoro yang menjadi perang terberat kolonial Belanda selama bercokol di Indonesia, tanam paksa untuk memulihkan finansial kolonial dampak Perang Jawa dan masa penjajahan Jepang yang singkat tapi membuat warga Jogja sangat menderita. Ada juga, riwayat Perang Kemerdekaan yang memindahkan pusat pemerintahan Republik Indonesia di Jogja dan menjadikan Jogja sebagai pusat medan perang gerilya.

Kondisi ini lantas berkelindan akrab dengan nilai-nilai adiluhur Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat yang sarat dengan filosofi kesederhanaan dan harmoni dengan semesta. Kawula masyarakat Jogja sejatinya sudah terbiasa dengan keharusan beradaptasi dengan lingkungan dan situasi setempat. Sumber daya lokal yang mudah ditemui dan dibudidayakan di sekitar masyarakat pun dimanfaatkan sebagai sumber pangan lokal yang murah meriah.

Hal ini tampak pada ragam boga Jogja yang lebih menonjolkan pada unsur tumbuhan yang gampang didapatkan dan ditanam pada kondisi minim; ataupun hewan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Jikalau terdapat flora atau fauna yang berharga dipelihara sebagai tabungan hidup, masyarakat lebih memilih untuk mencari sisi murah bagiannya dan mengolahnya menjadi masakan yang sederhana.

Benar kata begawan boga Indonesia, Sri Owen, dalam karyanya: Indonesian Regional Food and Cookery, “Setiap makanan mulanya adalah makanan daerah. Makanan daerah lahir sebagai respons terhadap iklim, sumber daya dan kebiasaan setiap kelompok orang di daerah masing-masing”. Ragam boga Jogja yang bersahaja adalah perwujudan atas kemampuan kawula Jogja dalam menanggapi situasi, sumber daya dan kebiasaan budaya setempat.



Pada awal datang di Jogja untuk studi sarjana pada tahun 2007, saya tahu kalau kuliner lokal Jogja hanya tentang gudeg, bakmi Jawa, soto Jogja dan sate klathak yang dihidangkan oleh beragam penjual dengan resep-resep khusus signaturnya. Selanjutnya, saya gemar mengeksplorasi Jogja dan mendapatkan berbagai jenis kuliner yang tersebar di penjuru Jogja, baik yang otentik, modifikasi sang peracik, maupun fusion dari berbagai bangsa dan etnik. Secara relatif, makanan di Jogja termasuk lebih murah dibandingkan kota-kota besar di Indonesia. Baru sejak merengkuh takdir hidup memperistri seorang gadis Jogja, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru soal aneka boga yang biasa dimasak di dapur-dapur kawula Jogja.

Dari kebahagiaan saya bersama istri sering berkeliling Jogja, saya mendapatkan tujuan-tujuan warung makan yang berani menyuguhkan kuliner bersahaja yang lazim disantap masyarakat Jogja. Di zaman kini, keberadaan masakan seperti ini jadi semacam pemenuh hasrat keingintahuan dan romantisme pada kebersahajaan hidup. Tak mudah meyakinkan warga Jogja untuk mau berjualan kuliner yang biasa dimasak di dapur dan dihidangkan di rumah. Jika dibandingkan dengan saudara kembar Mataramnya di Solo, orang Jogja lebih masyhur merawat adiboganya dari dalam dapur alias dengan memasak.

Saya hendak urun ide tentang 10 boga bersahaja Jogja yang pantas menjadi tujuan petualangan rasa di Jogja bagi pecinta kuliner paripurna. Sepuluh boga yang diampu oleh para ksatria pilihan boga lokalan Jogja ini bisa memberikan perspektif baru soal hidangan yang lazimnya dikonsumsi masyarakat Jogja dalam citra apa adanya.


1. Entok Slenget

Entok Slenget adalah ragam boga yang tersaji di daerah Turi, Sleman, di kaki Gunung Merapi yang permai dan berkelilingkan kebun salak yang lebat. Saya diceritakan istri, jikalau semasa kecilnya dulu, setiap kunjungan Lebaran ke keluarga besar di daerah Karanggeneng, Turi, selalu disajikan makanan olahan dari entok atau itik serati. Paling favoritnya adalah osengan entok. Latar kebun salak yang lembab dengan banyak kolam kecil memungkinkan menjadi lokasi yang cocok untuk memelihara entok. Hewan unggas sebangsa itik dengan leher pendek dan badan gempal ini pun menjadi jaring pengaman pangan protein hewani masyarakat Turi.




Entok slenget menjadi kreasi warga Turi untuk menyuguhkan makanan rumahan ke khalayak luas. Dengan memberikan sensasi rasa pedas yang membakar lidah, osengan entok ini berganti nama sebagai entok slenget demi lebih ‘marketable’. Keberadaan entok slenget diinisiasi oleh Kang Tanir yang membuka warungnya di Donokerto, tepi jalan Pakem-Turi. Selain Kang Tanir, ada beberapa penjual yang dijumpai di daerah Turi dan kota Jogja.

Tak seperti bayangan daging entok yang alot, entok slenget sanggup memanjakan lidah dengan daging entok yang empuk. Bumbu pedasnya berharmoni dengan manis gurih resep sederhana warga: kemiri, bawang putih, bawang merah dan kecap lokal andalan. Keringat mengucur dan lidah kepedasan tetapi tak mampu berhenti menyantap akan menjadi tanda bahwa Anda sangat menikmati entok slenget. Yang tak gemar pedas, pilihan entok slenget tanpa cabai juga tersedia.

Lokasi
Entok Slenget Kang Tanir
Jl. Pakem - Turi, Pules Lor, Donokerto, Turi, Kabupaten Sleman.

-> https://goo.gl/maps/rm5HCAYfBkw
Buka: pukul 16.00 – 21.00, hari Selasa tutup


2. Sego Welut

Belut (atau welut dalam bahasa Jawa) merupakan sebuah identitas bagi daerah Godean di Sleman bagian barat. Di kawasan Pasar Godean, jajanan keripik belut adalah kudapan yang pamornya sudah dikenal oleh masyarakat seantero Jogja bahkan menjadi oleh-oleh khas untuk dibawa ke luar Jogja. Belut hidup melimpah di persawahan Godean dan sekitarnya sehingga masyarakat memanfaatkan sebagai sumber pangan. Jika hendak dinikmati sendiri, belut dimasak menjadi sego welut. Masakan ini biasanya lazim tersaji di meja makan masyarakat Godean. Selazimnya boga bersahaja orang Jawa, sego welut ini dimasak mangut yang berkuahkan berbasis santan kelapa.




Ketika ingin menikmati sego welut, biasanya saya datang ke Bu Surani di seberang Pasar Godean ketika hari mulai beranjak petang. Jangan bayangkan seperti rumah makan karena lokasinya hanyalah berbagi ruang dengan titipan parkir di kala siang hari. Rupa belut yang disajikan Bu Surani biasanya tak begitu besar, tetapi sensasi ‘crispy’ belut yang merasuk bumbu gurihnya adalah daya pikat paling utama. Sego welut ini bisa juga dipadankan dengan manisnya gudeg, krecek dan berbagai lauk lainnya yang dijajakan ramah oleh Bu Sunarti.

Lokasi
Sego Welut Bu Surani
Depan Pasar Godean, Jalan Godean Blok 9, Jetis, Sidoagung, Godean, Kabupaten Sleman

-> https://goo.gl/maps/daxzUQNVMM22
Buka: pukul 18.00 – 22.00



3. Sate Kere Kupat Sayur

Di masa lampau, daging sapi bukanlah barang yang murah bagi warga pedesaan Jogja. Sapi dipelihara sebagai tabungan masyarakat desa yang kelak bisa dijual sebagai sumber pendanaan apablia ada kebutuhan jangka panjang atau mendesak. Jikalau disembelih, biasanya ketika ada hajatan besar dalam keluarga. Namun, dalam keseharian orang pedesaan Jogja bukan berarti tak bisa memakan daging sapi. Terciptalah sate kere alias sate miskin sebagai buah kreasi masyarakat. Dengan berbahankan daging sapi ‘tetelan’ dari tulang-tulang sapi yang dipadankan dengan gajih atau lemak sapi, sate kere biasa disantap masyarakat di desa Sidomoyo, Godean.





Jika sore jelang maghrib, asap wangi bakaran sate dari beberapa warung akan mengundang hasrat mampir setiap orang yang melintas jalan Godean-Moyudan-Nanggulan. Saya punya favorit penjual yakni Mbah Mardi. Sate kere memiliki bumbu manis dengan cita rasa rempah jahe yang dominan. Padanannya adalah kupat sayur gurih berlodeh tempe agak pedas. Di Mbah Mardi, sate kere terasa lebih imbang karena tidak terlalu manis dengan rasa kupat sayur yang lebih ‘spicy’. Namanya boleh kere, tapi pengunjungnya selalu ramai dan banyak pengunjung yang bermobil. Soal harga juga tak bohong bahwa dengan Rp9.000 sudah mendapatkan 6 tusuk sate dan sepiring kupat sayur. Sejak saya makan pertama kali 5 tahun lalu, harga hanya naik Rp2000. Jangan bandingkan dengan sate kere Solo yang berbahan tempe gembus dan konon harganya tidak ‘kere’ lagi.

Lokasi
Sate Kere Mbah Mardi
Jalan Godean KM 7, Sidomoyo, Godean, Kabupaten Sleman
-> https://goo.gl/maps/z5XbxTYKofA2
Buka: pukul 17.00 – 21.00



4. Geblek Sengek

Di lereng perbukitan Menoreh, tepatnya di daerah Nanggulan, Kulonprogo, istri saya memiliki leluhur yang generasi selanjutnya masih turun temurun tinggal di sana. Makam almarhum Bapak mertua dan keluarga besar istri saya juga bersemayam di Nanggulan. Setiap bersilaturahmi ke keluarga besar di Nanggulan, kami selalu dihidangkan sepasang boga setempat: geblek sengek. Geblek dan sengek adalah dua makanan berbeda yang alangkah nikmatnya disantap secara bersama seperti kebiasaan masyarakat di daerah Nanggulan dan perbukitan Menoreh. Untuk membungkus geblek dan sengek, tersedia beberapa penjual di daerah Nanggulan dan perempatan Kenteng.





Geblek berbahankan tepung aci dari singkong yang banyak dijumpai di daerah Nanggulan. Rasa geblek ini seperti cireng tetapi jauh lebih simpel, biasanya hanya gurih saja. Wujudnya putih lazim dibulati dan dilubangi tengahnya seperti donat yang ketika digoreng biasanya lubang tersebut akan menutup. Adapun sengek merupakan tempe yang dibuat dari kacang koro benguk (Mucuna pruriens). Berbeda tempe dari kedelai yang awam dikonsumsi, tempe sengek ini bertekstur lebih besar dan kasar dengan warna yang lebih gelap. Dalam sejarahnya, sengek ini menjadi sumber protein kaya yang menyelamatkan masyarakat Kulonprogo sewaktu keadaan paceklik. Menyantap geblek dan sengek, saya biasanya padankan dengan segelas teh hangat. Kenyal gurihnya geblek berharmoni padu dengan rasa tempe sengek yang bercita rasa cenderung plain tapi penuh rahasia ‘sangit’ khas pedesaan.

Lokasi
Geblek Gurih Nanggulan
Jalan Borobudur-Sentolo, Nanggulan, Jati Sarono, Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo
-> https://goo.gl/maps/Aran3xeWr5s
Buka: pukul 15.00 – 21.00


5. Soto Sampah 

Soto menjadi kuliner nasional Indonesia. Soto punya keberagaman yang luar biasa sehingga timbullah semboyan “Berbeda-beda tapi tetap soto jua”. Jogja punya gagrak soto yang khas, yakni soto bening dengan padanan nasi putih yang bisa dicampur atau dipisah. Saya sebagai orang daerah Panginyongan yang sesak dengan bermacam bahan dalam semangkuk soto, menganggap soto gagrak Jogja seperti sop. Di antara soto gagrak Jogja, yang sampai saat ini begitu berkesan adalah Soto Sampah. Maklum harganya begitu murah Rp 6000 (5 tahunan lalu Rp 4000) yang sangat cocok menemani masa-masa saya jadi menjadi mahasiswa dulu.





Ini bukan tentang sampah yang tak pantas dimakan, tetapi dikarenakan isinya adalah putih lemak atau gajih sapi yang ‘truly lemak’. Saat ini peraciknya adalah Bu Jumi, generasi ketiga yang berjualan di dekat Pasar Kranggan, pusat kota Jogja sejak tahun 70-an. Dari ceritanya, masakan sotonya dinamai soto sampah oleh komunitas anak punk dan anak band yang rutin mampir di warungnya yang hanya bertenda sederhana. Soal rasa tak ada urusan dengan harga miringnya. Rasa gurih penuh rempah dan semerbak wangi bau lemak tetap menarik yang selalu membuat saya rutin mampir di sana. Ini bukan soal harga, tetapi soal kesenangan pada cita rasa lugas kesederhanaan dan romantisme masa awal-awal sebagai warga Jogja. Konon, di masa ekonomi sulit, soto gajih seperti berjenis soto sampah ini adalah pemuas keinginan untuk menikmati daging sapi, kambing dan kerbau.

Lokasi
Soto Sampah Kranggan
Jl. Kranggan No.2, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta
-> https://goo.gl/maps/YXpwUJCgUz62
Buka: pukul 07.30 – 03.30



6. Mangut Kutuk

Masyarakat Jogja sebagaimana masyarakat pedalaman Jawa lebih suka mengonsumsi ikan perairan air tawar. Ingatan masa kecil ibu mertua saya bahwa beliau suka menyantap ikan kutuk atau ikan gabus (Channa striata), baik yang dimasak mangut, oseng maupun goreng biasa. Hal ini serupa dengan masa kecil saya saat yang gemar makan ikan bayong – nama populer lokal kutuk di daerah Kebumen. Pada waktu dulu, ikan kutuk ini begitu mudah dijumpai dan dimasak sehari-hari di dapur rumah. Tak perlu dibudidayakan, ikan ini mudah didapatkan di kali (sungai kecil) dan sawah di sekitar pemukiman. Namun akhir-akhir ini seiring dengan ekspansifnya pembangunan dan penurunan kualitas air sungai dan sawah yang tercemar, ikan kutuk menjadi langka.






Dari sekian sedikit yang menjual masakan kutuk, saya beruntung masih berjumpa dengan Warung Bu Jasman. Terletak satu desa dengan saya di Ngestiharjo, Bantul, membuat saya tak perlu repot untuk mencari masakan ikan kutuk. Bu Jasman mengolah kutuk dengan metode mangut gurih yang bersantan wangi dari kelapa pilihan. Makanya rasa mangutnya begitu harum dengan sensasi sangit ala pawon tradisional. Ketika menyantap mangut kutuk, saya biasa campurkan kemangi dengan sambal terasi seperti saran dari Bu Jasman. Biasanya saya padankan dengan iwak wader goreng dan sayur pepaya pedas yang juga dijual di warung ini. Bagi pecinta ikan kali yang murah meriah, yang membangkitkan kenangan ‘ndeso’ masa kecil, Warung Bu Jasman adalah tujuan tepat untuk merealisasikan romantisme boga ‘ndeso’.

Lokasi
Warung Makan Iwak Kali Bu Jasman
Jalan IKIP PGRI No.403, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Kabupaten Bantul
-> https://goo.gl/maps/rXDuvLGbuwq
Buka: pukul 06.00 – 20.00


7. Mie Lethek

Kebiasaan warga Bantul yang sejak dulu mengonsumsi singkong memberikan warisan adikarya kuliner yang membentuk perjumpaan akrab dengan boga dari etnis lain. Salah satunya, perjumpaan itu mewujud kreatif dalam mie lethek. Di Jogja, eksistensi mie lethek melingkup skala lokal di Bantul, tepatnya daerah Srandakan, Pandak, dan Imogiri. Masyarakat di sana lazim mengonsumsi mie lethek sebagai menu kesehariannya. Terdapat beberapa pabrik mie lethek di Srandakan yang rutin memproduksi mie berbahan tepung tapioka dan gaplek (singkong yang dikeringkan). Uniknya, ada pabrik mie lethek Cap Garuda yang proses produksinya masih sederhana menggunakan tenaga sapi.



Di daerah Srandakan dan Pandak, sudah banyak masyarakat yang menjajakan mie lethek. Menu yang terhidang di antaranya berupa mie goreng, mie rebus maupun yang dicampur dengan nasi. Mie lethek merupa mie dengan warna kusam tidak secerah mie gandum dan malah dikesankan kotor. Karena rupa itulah dinamai mie lethek atau kotor. Padahal mie lethek lebih bernutrisi tinggi, yang bagus bagi kesehatan. Di samping itu, mie lethek adalah sewujud kemandirian pangan berbasis sumber daya lokal yang tidak perlu ribut-ribut terkait impor gandum.  

Saya punya favorit mie lethek, yakni di warungnya mbah Sur. Oleh Mbah Sur, mie lethek dipadankan dengan balungan ayam yang dimasak dalam beberapa tingkatan pedas. Seperti sebuah kenikmatan hakiki ketika menyantap kenyalnya mie lethek dari menggerogoti tulang-tulang ayam kampung yang gurih hingga daging terakhir yang bisa diurai. Jika ingin tantangan lebih menarik, cobalah pilihan pedas yang diatributkan dengan level sekolah dari PAUD (2 cabai) sampai S3+ (50 cabai). Hanya di Mbah Sur ini, saya tak malu hanya dikatai selevel PAUD karena tak ingin pedas mendistorsi kenikmatan dan mengiritasi indera perasa saya.

Lokasi
Mie Lethek Balungan Mbah Sur
Desa Tegallayang RT. 06/RW. 10, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul
-> https://goo.gl/maps/jMvkM6u6eJB2
Buka: pukul 17.00 – 02.00


8. Gudeg Manggar

Jogja sahih menjadi kota gudeg. Siang malam, 24 jam, gudeg senantiasa tersedia di tiap penjuru Yogyakarta. Namun, gudeg tak melulu sebentuk olahan gori atau nangka muda yang manis. Di daerah pedesaan Bantul, gudeg lebih familiar sebagai olahan manggar atau bunga kelapa yang riwayatnya konon jauh lebih tua dibandingkan gudeg bahan nangka. Lima ratus tahun lalu, Puteri Pembayun, putri Panembahan Senapati - pendiri Kesultanan Mataram Islam mulai mengolah manggar yang melimpah di daerah Mangir Bantul untuk dijadikan gudeg. Gudeg manggar lantas menjadi suguhan masyarakat Bantul, terutama pada perayaan hari raya agama, pesta keluarga dan acara khusus lainnya. Saat musim paceklik di zaman penjajahan, gudeg manggar menjadi makanan penyelamat masyarakat Bantul. 





Gudeg manggar saat ini susah dijumpai di rumah makan daerah Bantul. Saya biasanya mampir ke rumah Bu Dulloh di daerah Jebugan yang sekaligus sebagai dapur untuk memasak gudeg manggar. Bu Dulloh lebih banyak menerima pesanan gudeg manggar daripada pelanggan yang makan di tempat. Soal rasa, gudeg manggar jelas berbeda dengan gudeg nangka. Gudeg manggar punya tekstur lebih kasar dan tipis. Ketika menyantap, saya suka dengan sensasi ‘crunchy’ pada manggar yang berpadu seimbang dengan rasa manis cukupan hasil karamelisasi gula jawa. Biasanya saya memadukan ayam suwir dan telur ayam kampung untuk membuat setiap suapan gudeg manggar menjadi lebih estetis di lidah.

Lokasi
Gudeg Manggar Bu Dullah
Jebugan RT. 5, Serayu, Bantul, Serayu, Bantul, Kabupaten Bantul
-> https://goo.gl/maps/yVkuAgvJuqp
Buka: 07.00 – 17.00


9. Nasi Tiwul

Gunungkidul dikenal sebagai tlatah yang keras dan kering. Sumber pangan tak semelimpah seperti di wilayah Jogja lainnya. Adaptasi inilah yang menciptakan tiwul menjadi makanan keseharian warga Gunungkidul. Tanaman ketela pohon atau singkong lebih gampang dijumpai di tanah kering daripada tanaman pangan lain. Masyarakat pun mengolah singkong menjadi gaplek yang lantas diolah menjadi tiwul. Selama penjajahan Jepang, masyarakat Gunungkidul bertahan hidup dengan mengonsumsi nasi tiwul. Sayangnya, saat ini nasi tiwul sudah jarang dikonsumsi masyarakat Gunungkidul seiring dengan kemajuan pertanian padi dan peningkatan ekonomi masyarakat. Jikalau untuk dikonsumsi, tiwul pun lebih dibentuk menjadi tiwul ayu yang bercita rasa manis gula jawa. Warung tiwul ayu lebih mudah dijumpai di daerah Wonosari dan sekitarnya.




Beruntung, saya masih menjumpai nasi tiwul otentik yang bercita rasa gurih di Warung Bu Tum di Desa Wonosari, di pinggir jalan menuju Karangmojo. Saya membungkus dan menyantapnya dengan padanan lauk belalang goreng, tempe goreng dan sayur daun kates. Menyantap belalang goreng sendiri juga merupakan sebentuk ikhtiar hidup warga Gunungkidul. Masa-masa paceklik dan kondisi alam yang keras membuat warga Gunungkidul harus memanfaatkan apa saja untuk bertahan hidup. Saya santap perlahan, gurih dan renyahnya belalang goreng begitu luwes menjadi kawan kearifan dengan nasi tiwul yang lembut dan harum. Sejalan meningkatnya pamor wisata Gunungkidul, nasi tiwul pun berharap bisa naik daun lagi di mata masyarakat Gunungkidul. Keberadaan nasi tiwul semoga bisa membangkitkan lagi kekhasan-kehasan Gunungkidul yang bersahaja.

Lokasi
Gathot Tiwul Yu Tum
Jalan Pramuka No. 36, Wonosari, Pandansari, Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul
-> https://goo.gl/maps/YqKtq6nf4yt
Buka: pukul 06.00 – 20.30



10. Sego Abang

Sama seperti nasi tiwul, sebermulanya sego abang adalah dari makanan-makanan yang menjadi keseharian masyarakat Gunungkidul untuk menyesuaikan kondisi lingkungan yang keras dan kering. Hanya saja pamor sego abang lebih dikenal di masyarakat luas. Hal ini bisa dilihat dengan mudah dijumpainya sego abang di berbagai warung makan di seantero Jogja, tak hanya di Gunungkidul saja. Sajian sego abang pun biasanya lengkap dengan seperti sayur lombok ijo, sayur gudeg pepaya, wader goreng, empal, baceman babat iso, bahkan dengan belalang goreng.




Mula sego abang di Gunungkidul adalah dari tanaman pari gogo alias padi yang tumbuh di sawah yang kering, tidak tergenang air. Hasil tanaman ini adalah nasi merah yang biasanya dikonsumsi lazim masyarakat Gunungkidul sebagai pengganti nasi putih. Di Gunungkidul saya punya jagoan sego abang yang mumpuni, yakni di Sego Abang Jirak atau dikenal dengan Sego Abang Pari Gogo di daerah Semanu. Selain menu-menu biasa pendamping Sego Abang, di sana juga punya menu enthung/kepompong ulat johar. Di samping belalang, menu ekstrim enthung ini adalah sumber pangan hewani bagi masyarakat Gunungkidul di kala masa susah.

Untuk menikmati sego abang yang lebih dekat dijangkau dari Jogja, saya punya alternatif lain yakni di Sego Abang Lombok Ijo Mbah Widji di Pakem Sleman atau Warung Ijo di Lempuyangan Kota Jogja. Secara kesehatan, sego abang ini berserat tinggi yang bagus untuk daya tahan dan pencernaan tubuh.

Lokasi
Warung Sego Abang Pari Gogo
Jl. Semanu RT.06 / RW.32, Wonosari, Munggi Ps., Semanu, Kabupaten Gunung Kidul
-> https://goo.gl/maps/S6xLcH66V2r
Buka: pukul 06.00 – 16.00

Warung Sego Abang Lombok Ijo
Jalan Raya Pakem - Turi Km. 0.5, Harjobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman
-> https://goo.gl/maps/HKarMJZutcF2
Buka: pukul 07.00 – 17.00

Warung Lombok Ijo
Jalan Argolubang, Depan Pom Bensin, Baciro, Kota Yogyakarta
-> https://goo.gl/maps/oyeWLU8JyT22
Buka: pukul 06.00 – 15.00, Sabtu dan Minggu tutup


***

Apa yang tersaji di warung makan barangkali telah mengalami modifikasi demi suguhan yang lebih bermartabat daripada yang terhidang di rumah untuk konsumsi pribadi. Tentunya perihal harga, cita rasa bumbu dan keberagaman lauk pauk telah ditingkatkan untuk mencipta sajian lebih baik. Namun demikian, esensi kebersahajaan dari bahan-bahan yang digunakan tampaknya tidak banyak berubah.

Saya meyakini sepuluh kuliner di atas adalah pilihan yang harus dijajal semuanya. Namun, jika hendak memilih mana yang paling prioritas apabila waktu terbatas, saya menyarankan santaplah Gudeg Manggar racikan Bu Dullah asal Bantul. Dari bermacam kuliner Nusantara, gudeg manggar adalah sebuah mahakarya otentik yang tak akan dijumpai di daerah mana saja. Hanya di Jogja, Anda akan menjumpai makanan lokal sebagai hasil dari proses memasak tumbuhan bersama santan, gula kelapa dan rempah signatur yang direndam dalam jangka waktu lama. Terlebih dengan berbahankan bunga kelapa, olahan gudeg manggar betul-betul tiada duanya di dunia.

Kunjungan ke Jogja barangkali adalah perjalanan biasa, tetapi sebuah petualangan untuk mencicipi sepuluh ragam kuliner bersahaja rekomendasi saya bisa memberikan pengalaman yang berbeda tentang Jogja. Sudut-sudut Jogja memang istimewa, tetapi dengan berjumpa pada dasa boga bersahaja Jogja, makna perjalanan di Jogja akan jauh lebih istimewa. Selamat bertualang rasa di Jogja yang bersahaja!

You Might Also Like

4 komentar

  1. Akhirnya jadi tulisan blog. Mending seperti ini mas, biar sekalian tahu kalau kuliner di Jogja itu tidak sebatas area Malioboro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Kuliner Jogja di Malioboro juga bukan yang terkenal dikembangkan di Jogja, tetapi terkenal di daerah lain terus dijual di Malioboro..

      Hapus
  2. Baru nyoba Entok Slenget, Sego abang, mi lethek dan soto sampah sisanya belum. paling penasaran gudeg manggar

    BalasHapus
  3. On the pictures, it looks like street food. Moreover, I realize, that I have never eaten Asian dishes. I am sure, they have quite an interesting cuisine.

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK