Jelajah Toraja (VII): Pa’piong, Kuliner Teristimewa Toraja

16.10

Pa'piong, masakan paling istimewa khas Toraja

“Namanya Pa’piong” jelas Basho, “Spesial dari Toraja!”

Untungnya Basho sudah berpesan sebelumnya kepada rumah makan di pinggiran kota Rantepao ini. Karena saya muslim, rumah makan pun tidak menyajikan Pa’piong babi. Bukan perkara mudah mencari Pa’piong selain babi di Toraja. Kecuali sudah memesannya lebih dulu. Saya mendapatkan Pa’piong Ayam. Saya pun bisa makan di tengah kelaparan sehabis setengah hari berpetualang.

Daging ayam yang sudah tercerai berai. Bercampur dengan parutan kelapa yang menguning karena bumbu-bumbu spesial. Pa’piong disajikan masih panas. Aromanya begitu tajam menggoda. Mengundang gairah untuk lekas melahapnya. Angin sejuk khas dataran tinggi Toraja menyapu lembut badan saya. Ah, saya pun menikmati sesuwir pertama daging Pa’piong. Rasa pertama di lidah begitu ‘spicy’ nan gurih. Saya lekas melanjutkannya dengan nasi. Saya lapar.

“Pa’piong dimasak menggunakan bambu yang dibakar” terang Basho. 

Di dalam bambu, lauk akan dimasak dengan dicampur sayuran dan bumbu. Cara memasaknya, bambu itu dibakar. Pa’piong menggunakan parutan kelapa, daun bawang, serai, telor, merica, bawang putih, dan bawang merah. Adapun isi lauknya paling khas di Toraja adalah babi. Namun, lauk ayam dan ikan juga sering dihidangkan terutama untuk wisatawan yang muslim.

Sebenarnya, Pa’piong telah banyak dihidangkan di rumah makan-rumah makan Sulawesi. Semacam masakan khas. Bahkan disajikan di hotel-hotel berbintang. Namun, Pa’piong dimasak dengan daun pisang dan alumunium foil yang dipanggang dalam oven. Bambu yang besar tidak mudah didapatkan. Maka, tentu saja Pa’piong paling spesial adalah di Tana Toraja sendiri, di lokasi asalnya. Masih menggunakan bambu. Aroma dan rasa khas Pa’piong lebih terjaga. Selain itu, gizinya tidak banyak terbuang jika dimasak dengan bambu.


Sejenak saya beralih perhatian. Menjeda makan. Menjeda untuk menambah nasi. Semacam etape makan berikutnya. Terlihat deretan perbukitan granit di kejauhan sana menyembul dari dataran persawahan. Berkakikan pohon-pohon hijau. Begitu menawan. Di sini seperti saya menemukan kedamaian. Setidaknya kedamaian untuk makan. Ah, ini makin menambah nafsu melahap Pa’piong. Dan, jeda ini pun menjadi peralihan Basho bercerita Pa’piong dari sisi sejarahnya.

Konon dahulu, ketika leluhur suku Toraja, Pong Gaunti Kembong, sedang terbang, dia melihat seorang wanita yang sangat menawan di daratan. Dia ingin menangkapnya. Sayangnya tatkala akan ditangkap, sang perempuan itu masuk ke dalam batu.
Sang perempuan itu minta syarat Pa’Piong Sanglampa (satu ruas bambu dipiong). Pong Gaunti Kembong memenuhi syarat itu dengan membuat Pa' Piong Sanglampa. 

Akhirnya sang perempuan di batu tadi keluar dan dikawini Pong Gaunti Kembong. Dari perkawinan ini, kemudian lahir Puang Mattua. Puang Mattua ini menjadi leluhur yang disakralkan masyarakat Toraja. Dia bersemayam di sebelah utara Toraja (itulah kenapa Tongkonan selalu menghadap ke Utara).

Pa’piong dulunya disajikan pada acara-acara penting atau upacara- upacara adat. Namun sekarang, pa' piong telah disajikan secara awam oleh masyarakat Toraja. Pa’piong kini telah menjadi masakan kebanggaan orang Toraja yang terkenal hingga ke mancanegara.
Tidak terasa, sambil mendengar cerita Basho, Pa’piong kini sudah habis. Tak bersisa. Bersih. Sungguh nikmat benar masakan Toraja ini. 

Perut kenyang. Santapan siang Pa’piong diakhiri dengan segelas jahe hangat. Cukup mantap untuk menghangatkan badan. Kini penjelajahan Toraja dilanjutkan. Sudah terisi penuh energi lagi untuk menyibak pesona-pesona alam dan budaya Toraja.

Batuan granit yang elok dipandang dari rumah makan di pinggiran Rantepao. @iqbal_kautsar
Tongkonan di kaki perbukitan menghijau. Sedap dipandang. @iqbal_kautsar
Pa'piong Ayam. Lezat, spicy, khas dan halal. @iqbal_kautsar

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe