Terios 7 Wonders #3: Kopi John dan Avontur Kelimutu

11.55

Pesona Kelimutu yang jaminan mutu.

Orang Lio menyakralkan Kelimutu sebagai kampung arwah para leluhur. Para pelancong seluruh negeri ambisius mendaftarkan Kelimutu sebagai destinasi Flores yang fardhu. Terios 7 Wonders menunjuk Kelimutu sebagai “wonders’ ketiga dari 7 keajaiban ekspedisi Tour de Flores. Saya sederhana saja, punya hasrat untuk berjumpa dengan John Bulu, sahabat saya di Kelimutu beserta kopinya yang penuh cinta.


***

Demi merayakan sunrise Kelimutu, tim Terios 7 Wonders rela hanya tidur kurang dari 4 jam dan berangkat pukul 02.30 dini hari. Padahal, posisi kami masih di Maumere. Jarak Maumere dengan Kelimutu adalah 110 km. Medan yang ditempuh bukanlah jalan datar yang gampang dilibas. Melainkan, sebagian besar jalur adalah serba tikungan tajam serta tanjakan-turunan curam. Jadi, bayangkan pada malam hari yang gelap, yang masih dilanda sepi, kami mesti hadir sebelum mentari bangun di langit pagi Kelimutu.

Namun, serahkan saja pada kinerja Daihatsu Terios. Supir saya, bang Feri tahu betul mengoptimalkan kehandalan Daihatsu Terios R Adventure Manual. Kami yang masih terkantuk dengan mata sungguh berat, serasa tetap dibuai manja dengan laju Terios walau melibas ribuan tikungan.

Tak percaya? Apakah saya berlebihan? Tanyakan saja pada Ashari Yudha @catatanbackpacker, travel instagramer hits Indonesia. Dia selalu tertidur pulas sepanjang perjalanan. Dia sama sekali tak takluk pada medan gila Maumere - Kelimutu. Meski tak sampai tertidur, saya pun merasakan duduk nyaman di SUV yang bisa ditumpangi oleh 7 orang. Semua itu berkat suspensi Daihatsu Terios yang halus dan tarikan handal mobil bertenaga 1500 cc.

Yang tak boleh dilupakan dari kelancaran perjalanan ini adalah lampu Projector Headlamp yang tertanam pada Daihatsu Terios keluaran paling anyar. Medan gelap nan berbahaya jalur Maumere – Kelimutu bisa diterangi secara optimal tanpa menyilaukan mata bagi kendaraan yang berpapasan.

Terios 7 Wonders memulai petualangan di malam hari. Sebentar menginap di resor mewah Capa Maumere.
Perjalanan pagi yang sejuk di Taman Nasional Kelimutu.
Jelang sunrise.
Tangga untuk mencapai gardu pandang.

Setelah menempuh perjalanan 2,5 jam, akhirnya Terios 7 Wonders tiba di gerbang Taman Nasional Kelimutu. Daihatsu Terios mengantarkan saya lebih cepat dari yang biasa direncanakan. Namun, tetap saja kami telat dari yang semestinya agar bisa menikmati langit memerah pra sunrise di gardu pandang Kelimutu. Sedihkah? Ah, untuk apa terlalu berambisi. Mari nikmati saja perjalanan, selangkah demi selangkah.


***

Sudah dua kali menapak Kelimutu, saya tak perlu terburu berburu sunrise. Bagi saya, kali ini lebih penting berjalan kaki rasakan sejuknya pagi yang dibersamai udara bersih pegunungan. Nikmatilah senafas demi senafas. Maklum, pada 2016 baru kali ini saya berada di pegunungan pada pagi hari. Jadinya, saya lebih memilih untuk memesrai suasana alih-alih terpasung target perjalanan. Saya nikmati saja sebagai avontur yang santai di Kelimutu.

Sang surya sudah muncul dari lelap tidurnya tatkala saya sebentar lagi menapaki tangga. Saya pun sejenak berhenti. Saya pasrah biarkan sinarnya yang jingga menerpa tubuh saya. Walau tak mengalami sunrise di tempat terbaik, saya harus tetap bersyukur. Tiga kali ke Kelimutu, saya selalu mendapat sunrise yang membulat. Bandingkan, sebulan lalu kawan saya hadir di Kelimutu dan dihajar kabut sejak pagi hari. Ah, kasihan…


Panorama sunrise Kelimutu.
Wisatawan merayakan pagi.
Lapis-lapis keindahan pegunungan di kaki Kelimutu
Menikmati hangatnya surya yang nnasih mengemas.

Tiga kawah Kelimutu lalu berangsur-angsur terlihat semarak berwarna. Di depan saya, terpampang kawah berwarna hijau toska cerah yang disebut Tiwu Nua Muri Koo Fai. Di sampingnya, dengan berbataskan tebing sempit, terdapat Tiwu Ata Polo yang berwarna coklat kehitaman. Satu lagi, di belakang saya, kawah Tiwu Ata Mbupu sedang diselimuti kabut. Saat mulai beranjak siang, warna hijau lumut kehitaman tampak menjadi tengara kawah ketiga ini.

Orang Lio yang tinggal di sekitar Kelimutu meyakini Kawah Kelimutu sebagai kampung arwah leluhur mereka. Dalam bahasa setempat, nama Kelimutu  berasal dari Keli yang berarti “gunung” dan mutu yang berarti “berkumpul”. Bisa dimaknai, Kelimutu merupakan gunung tempat para leluhur berkumpul.

Kawah Tiwu Nua Muri Koo Fai diyakini sebagai markas arwah kawula muda. Kawah Tiwu Ata Polo dianggap sebagai semayam arwah orang yang suka melakukan kejahatan. Kawah Tiwu Ata Mbupu merupakan singgasana arwah kaum sepuh yang bijaksana. Makanya, setiap orang yang hadir ke Kelimutu harus menjaga kesopanan dan tidak boleh takabur. Tidak boleh untuk berkata kasar dan sembarangan. Dan, tentunya harus menjaga kebersihan tempat keramat nan indah ini.

Seperti biasa, asupan kopi tak boleh lalai saat memesrai pagi Kelimutu. Artinya, saya harus mencari John Bulu. Dialah yang perlu membuatkan kopi saya di Kelimutu. Pada perjumpaan dengannya dua tahun lalu, kopi nikmat khas Kelimutu sukses disuguh dengan kesan rasa yang tertancap dalam di lidah saya. Saya pun suka kopi racikannya. Tak cuma itu, kami berbincang banyak dan dialah yang mengantarkan pengetahuan padat tentang Kelimutu. Ah, tapi setelah berkeliling di gardu pandang, saya tak menemukan John pagi itu. Dimanakah ia gerangan?

Kawah Tiwa Ata Mbupu masih diselimuti kabut.
Para pedagang asli warga lokal memeriahkan Kelimutu.
Perbincangan penuh cinta.
Desa di kaki Kelimutu yang permai.

Padahal, demi pagi yang ceria sepanjang hari, saya butuh kopi pagi….


***

Saya pun terpaksa ‘membelot’ ke segelas kopi bikinan Mama Martina. Ia adalah salah satu dari sekian pedagang yang sudah menggelar lapak di Gardu Pandang sejak fajar menyingsing. Biji kopinya  berasal dari kebun kopi sendiri di Desa Pomo, desa terdekat dari Kelimutu. Ternyata Mama Martina ini masih kerabat dengan John Bulu. Dia mengaku racikan kopinya diajari oleh iparnya itu. Pantas, saya tak merasakan kopi yang berbeda jauh dengan racikan John Bulu. Segelas kopi hitam yang dicampuri dengan jahe bikinan Mama Martina menjadi penyumringah pagi di Kelimutu.

Mentari mulai bersinar putih tanda pagi mulai lepas landas. Arena kawah Kelimutu mulai berganti penonton. Saya mencermati di Kelimutu, saat momen sunrise, wisatawan mancanegara lebih dominan untuk merayakan. Jika pagi telah siang, giliran pelancong domestik mulai berdatangan. Menikmati Kelimutu di pagi hari memang jadi favorit para pelancong dari manapun berada. Malahan, sunrise Kelimutu sering disanjung sebagai salah satu yang tercantik di Nusantara.

Waktu menunjukkan pukul 08.15, saya lantas turun dari Gardu Pandang. Voila! Tak disangka, saya berjumpa John Bulu sesaat akan meninggalkan panggung pagi Kelimutu. Satya www.satyawinnie.com ternyata kenal pula dengan John. Rupanya John datang untuk mengantarkan sediaan dagangan kepada istrinya yang berjaga di lapak gardu pandang. Saya sangka dia tak bertugas ‘menjaga’ Kelimutu. Ternyata diwakili oleh istrinya. Kini John juga sudah punya kawan menjaga Kelimutu. Rimba namanya. Anjing hitam ini begitu lincah sekaligus penurut pada tuannya.

“Dengan adanya Rimba, monyet-monyet liar di Kelimutu tak berani naik dan usil di Gardu Pandang. Rimba membuat mereka takut.” ungkap John.

Mama Martina, penjual kopi dari kebunnya sendiri. 
Perkenalkan Rimba, anjing penjaga Kelimutu. Monyet jadi takut ke gardu pandang.
Kawah Ata Polo yang paling sering berganti warna.
Priska, cucu dari Mama Martina. Cantik ya... 

John datang ke gardu pandang hanya untuk urusan dagangan. Dia langsung kembali turun. Kami pun berjalan turun bersama dan sempatkan singgah di bibir kawah Tiwu Ata Polo. John Bulu pun berkisah kalau kawah di hadapannya ini baru saja berganti warna. Beberapa bulan sebelumnya Tiwu Ata Polo berwarna merah darah. Daya tarik utama Kelimutu memang terletak pada keajaiban tiga warna kawahnya yang bisa berubah-ubah warnanya secara misterius.

Sejak BCChMM van Suchtelen pertama meneliti warna Kelimutu pada 1915, sudah banyak peneliti dari seluruh dunia yang takjub dengan keajaban Kelimutu. Kalangan peneliti memberikan informasi bahwa perubahan warna air pada danau Kelimutu disebabkan oleh faktor kandungan mineral, lumut, batu-batuan di dalam kawah, tekanan gas aktivitas vulkanik dan juga pengaruh cahaya matahari.  Studi lain menambahkan bahwa aktivitas kegempaan juga dapat mengubah warna kawah danau.

John tahu kalau saya menunggu kopi racikannya. Dia pun mengajak kami untuk ke lapak usahanya di area tempat parkir. Saya dan Satya tak bisa menolak. Dua anak John, Liyan dan Bayos menunggui lapak semasa bapaknya pergi. John pun menawarkan kami masing-masing segelas kopi secara cuma-cuma dan tentu saja penuh cinta. Akhirnya, saya pun menikmati kopi bikinan John Bulu lagi pada haribaan Kelimutu yang sejuk pagi itu. Saya bahagia…


***

Dua tahun tak berjumpa, ada yang berubah dengan John Bulu. Dulu ia bersemangat untuk menghadirkan segelas kopi yang dicampuri jahe dan gula. Katanya, inilah khas Kelimutu. Saya pernah menyarankan, kenapa tak hadirkan kopi murni saja dan tanpa gula? Ternyata John Bulu kini menyuguhkan kopi sesuai dengan yang saya pinta dulu. Namun, saya tak berani mengklaim kalau kopi ini berubah berkat arahan saya. Mungkin toh John sudah lupa.

John Bulu. Inilah yang membuat kunjungan saya ke Kelimutu selalu nikmat dengan kopinya.  
Kopi John Bulu yang asli dari kebunnya. Dijamin 100 persen organik.
Saya dan @SatyaWinnie berfoto bersama John Bulu dan keluarganya. 
John punya lapak di parkir Kelimutu. Menurut saya, suguhan kopinya ternikmat se-Kelimutu. 

“Lebih nikmat, kopi ditumbuk daripada digiling, lalu saya minum kopi tanpa gula, tanpa campuran jahe lagi. Lebih terasa asli kopi kelimutu yang sedap.” ungkapnya bangga mengumbar rahasia kenikmatan kopinya.

Yang pasti, kebiasaan John saat ini tak bisa dimungkiri karena kebiasaan wisatawan asing yang memesan kopi tanpa gula di gardu pandang Kelimutu. Dari sekian warga lokal yang berjualan, saya ingat John yang paling antusias berinteraksi dengan wisatawan. Kesungguhan untuk memperkenalkan kopi kelimutu yang nikmat mengalahkan keterbatasannya dalam kemampuan bahasa Inggris.

Cukup sedih ialah saya harus berpisah tak berapa lama. Terios 7 Wonders harus melaju lagi, melanjutkan perjalanan Kelimutu – Ende. Kami masih memiliki misi untuk ‘menghadang’  para pembalap sepeda Tour de Flores yang hari ini menempuh rute ganas Maumere – Ende.

Di penghujung jumpa, saya berjanji kepada John. Di kesempatan berikutnya, saya harus mampir di rumahnya, di Pomo. John memang mengajak dan ingin memperlihatkan kebun kopi miliknya yang telah ada puluhan tahun, dari generasi ke generasi. Kopi Kelimutu belumlah semasyhur kopi Bajawa ataupun Manggarai. Inilah yang mengundang penasaran saya atas tawaran John tentang kopi Kelimutu. Sampai jumpa John, sampai jumpa Kelimutu!


Video perjalanan FLORES bersama Daihatsu Indonesia


Liyan, putri John. Manisnya khas, generasi suku Lio Kelimutu.
Iksan, porter lokal. Dia bekerja untuk bisa terus bersekolah. Salut untuk dia yang masih muda sekali.
Turis asing selalu menjadikan Kelimutu sebagai destinasi utama di Flores.
Saya bersama Dana, sesama orang Ngapak yang sekarang menjadi pegawai di TN. Kelimutu. 
Serunya pagi bareng mas Andi, Satya dan mas Haga.
Mas @efenerr www.efenerr.com yang sedang menghitung tangga Kelimutu. :D Ternyata bisa dilaluinya dengan enerjik.
Satya Winnie, selalu enerjik dimana saja, kapan saja. 
Wajah sumringah penjual di Kelimutu.
Kopi Mama Martina. Pembuka pagi yang meriah di Kelimutu.
Rimba begitu lincah dan gagah.
Etape Maumere - Ende Tour de Flores yang penuh tantangan.

Perjalanan "Overland Flores" ini disponsori Daihatsu Indonesia www.daihatsu.co.id dalam ekspedisi TERIOS 7 WONDERS - TOUR DE FLORES. Cerita perjalanannya disajikan dalam 8 seri tulisan, yakni:

1.   Kendara Tangguh Tour de Flores bersama Terios 7 Wonders
2.   Ziarah Kota Maria Larantuka
3.   Menyapa Desa Sikka yang Bersejarah
4.   Kopi John dan Avontur Kelimutu
5.   Mahakarya Tenun Ikat Lio Desa Manulondo
6.   Kampung Bena dan Bocah Penggemar Bola
7.   Bertandang ke Sarang Hobbit Liang Bua
8.   Pulang Kampung Wae Rebo

Selamat membaca semuanya!

You Might Also Like

15 komentar

  1. Fotonya cakep :-D
    Oya, kalau jalan kayak gitu mau nyaman atau tidak aku pasti kudu tidur hahahahhah.
    Kopinya menggoda mas :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas Sitam..
      Betul harus tidur biar seharian tetap ceria. :D
      nah pas nih setelah semalaman gak tidur lalu dihajar kopi, lalu bisa tidur.. #lhokok.. :D

      Hapus
  2. Jadi yudha kerjaan nya tidur mulu hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. Yha begitulah kak Cumi.. Saking gemesnya, aku sama bang Farchan sempat selfie dengan Yudha yang pas lagi tidur..

      Hapus
    2. Kayak nya waktu lahiran, airketuban nya ketelen terlalu banyak hahaha

      Hapus
    3. owhhhh.. ternyata Yudha udah bawaan dari orok ya suka tidur.. :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. yha begitulah mbak,, Semua dunia sudah mengakui.. Kelimutu ikon keindahan Flores.. :D

      Hapus
  4. John Bulu itu Mas Pepengnya kelimutu ya?
    Wah mas. Aku pengen banget deh ke sini ketemu Bang John sama racikan kopinya.
    Kayaknya aku perlu beli terios juga nih buat mampir ke kebumen

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya semacam gitu, versi lokalnya kak.. :D
      Lho sebagai traveller kekinian, kak harus ketemu John di Kelimutu. Tentu saja pake Terios. Sayang kalo Terios cuma sampai Kebumen doang, sampai kelimutu gih..

      :D

      Hapus
  5. Waaahhh... Terios nya menggodaaa...
    *eehhhh..
    Suatu hari kalau sampai waktuku menjejakkan kaki di kelimutu... Akan ku cari kopi John Bulu.. I promise

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Niken ayoo bungkus Terios. Buat jalan2 sampai Kelimutu dijamin tangguh.. :D haha
      Siiip,, niatkan tahun depan ke Kelimutu terus berjumpa John, insya Allah terealisasi..

      Hapus
  6. Aihhh danau kelimutunya cantik sekali ya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak Andy.. Kelimutu tak kehilangan pesonanya walaupun saya sudah mendatangi beberapa kali.. semoga mbak Andi bisa menikmati kecantikan Kelimutu.. :D

      Hapus
  7. banyak juga ya pedagang-pedagang di kelimutu, pemandangannya yang indah pun menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dicari para wisatawan lokal maupun asing..

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe