Riwayat Uzur Rokok Sintren

11.23

Rokok Sintren asli Gombong.

Karena yang bekerja adalah para karyawan usia 60 tahun ke atas, sampai kapan rokok Sintren akan bertahan? Dari ribuan pekerja pada masa jayanya di dekade 70-80 an, kini hanya tinggal 100-an orang. Tak ada regenerasi. Tak ada rekruitmen, tapi juga tak ada pemecatan. Menyusutnya pekerja adalah karena pengunduran diri atau mati.

Karena yang menikmati adalah konsumen umur 60 tahun ke atas, hingga kapan rokok Sintren akan terjaga? Dari yang pada 40-50 tahun lalu adalah pemuda bugar hingga kini yang sudah jadi simbah sepuh lah yang setia mengisap Sintren. Jarang ada generasi muda era kini yang mau menikmati rokok legendaris ini. Berkurangnya pelanggan adalah karena tak ada generasi pengganti atau yang setia telah mati.

Sintren adalah salah sedikit merk kelembak menyan yang masih bertahan dalam gelindingan zaman. Di beberapa daerah, orang mengenal rokok kelembak menyan sebagai rokok siong. Rokok yang tersusun dari campuran tembakau, akar kelembak dan kemenyan ini ramai bergeliat di daerah Jawa Tengah bagian selatan. Rokok kelembak menyan menjadi kekayaan rokok Indonesia di samping kretek. Sintren adalah rokok kelembak menyan legendaris yang berasal dari Gombong, Kebumen.

Simbah Sanem paham diri bahwa hidup harus terus bergerak.  Iya, tangannya harus aktif bergerak membungkus 200-an batang per hari demi hidupnya agar tak lapuk dimakan usia. Empat puluh  tahun menjadi karyawan rokok Sintren tak membuatnya ingin pensiun. Ia tetap ingin berkarya meski upah hanya sekitar belasan ribu rupiah per hari. Pasti segala indranya sudah hafal bagaimana meracik rokok secara mangkus dan sangkil.

Juragan simbah Sanem, Edi Hendrawanto paham usaha rokoknya terus menurun tapi tetap perlu dijaga. Dia masih lebih muda dari mbah Sanem. Dia meneruskan usaha Sintren dari bapaknya, The Gie Tjoan (Agus Subianto) yang merintis usaha di tahun 50-an. Edy optimis rokoknya tetap bisa bertahan. Dengan harga Rp 2000-an per bungkus isi 10 batang, Sintren terjangkau untuk pelanggannya. Hemat di zaman serba harga terus menanjak.

Saya hadir di Pabrik Rokok Sintren dalam rangka “heritage trail” Gombong. Kegiatan wisata berbasis pengalaman ini digalakkan oleh Roemah Martha Tilaar dan KOPONG untuk mengulik khasanah pusaka di kota yang dicintainnya. Gombong sesungguhnya punya narasi sejarah yang kaya, hanya saja tak terungkap secara gamblang. Kota pengembangan kolonial sejak abad 18 ini punya urunan penting dalam rentang histori Indonesia. Ada benteng Van der Wijck, ada cerita Perang Diponegoro, ada jejak Tionghoa, ada Rokok Siong dan sebagainya.

Sekilas awal, di Pabrik Rokok Sintren saya datang seperti berada di Panti Jompo. Panorama Simbah-simbah sepuh berkarya tekun yang berpadu dengan bangunan yang tampak kusam. Serangkaian ruang lalu saya lewati yang mengantar pada pemahaman proses pembuatan rokok Sintren. Semua serba tradisional dan manual.

Dipandu Rasimin, saya melihat gudang penyimpanan tembakau, kemenyan, dan kelembak, serta pemotongan kertas papir – kertas pembungkus rokok. Rasimin bisa jadi adalah jantung kehidupan dari kualitas kenikmatan Sintren. Lelaki kelahiran tahun 1950 ini adalah pengendali kualitas dari bahan tembakau, akar kelembak serta yang akan diracik pada rokok Sintren. Dia pernah beberapa kali mengajukan pengunduran diri, tapi sang bos terlalu menyayanginya. Rasiman tak terganti bagi Sintren.


***

Sejujurnya, Sintren tak sepesimis yang terbayang pada arus zaman. Tahukah bahwa rokok sintren ternyata juga disukai oleh saudara kita yang tak kasat mata? Simaklah di tempat-tempat keramat di Jawa Tengah bagian selatan.  Tahukah bahwa rokok siong itu ‘bermanfaat’ bagi panjang umur? Terlihatlah dengan bertahannya orang sepuh di desa masih bal bul bal bul dengan siong. Tahukah bahwa rokok kelembak menyan itu berguna untuk mencegah kanker? Khasiat pada kemenyan bagus sebagai anti kanker, juga khasiat kelembak menyan sumurung untuk mencegah kanker satunya, yakni kantong kering, kan?

_________________________________________________________________________
Seputar Roemah Martha Tilaar Gombong, ceritanya bisa disimak di catatan perjalanan saya 
-> Asa dan Nostalgia Roemah Martha Tilaar

Rokok sintren lebih besar, awet dan murah.
Dalam diam, mereka bertahan.
Tangan terampil, mulut menghisap. Kuat.
Mungkin ada rasa bosan, tapi terus tangguh.
Tunjuk
Mbah Sanem. 
Bersetia dengan monoton.
Tangkas.
Buku pelinting.
Catatan harian.
Rp 2.150 per bungkus.
Tembakau dari Temanggung dan Magelang
Persediaan.
Kemenyan dari Tapanuli
Bubuk kemenyan.
Kelembak dari Wonosobo.
Menata kertas papir
Sepeda harapan.
Timbangan.
Kusam.
Juragan Rokok Sintren
Simbah yang tabah.
Rasimin, pengendali kualitas
Peserta jelajah pusaka Gombong. di Pabrik Rokok Sintren.
Yang masih bertahan. Uzur.


You Might Also Like

8 komentar

  1. Rokok kretek kalo dipadu dengan kopi emang josss hahahhahhaaa; terlebih di daerah pantai :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah kretek ini mulainya dari pesisir utara jawa..
      klo kelembak menyan di pesisir selatan Jawa yg ramai mas.. :D

      Hapus
  2. Terenyuh kalau lihat empat usaha yang dijalankan turun-temurun dengan pekerja yang loyal tapi terhadang regenerasi. Sama seperti naib kebanyakan rumah batik di peisir utara Seperti Lasem salah satunya, belum ada regenerasi seolah menunggu mereka punah saja.
    Jadi ingin ke RMT lagi dan ikutan heritage trail mereka nih ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga jangan sampai punah ya mas Halim..
      karya-karya rokok sintren, batik lasem padahal memberi warna pada perjalanan kota atau daerah. Kalau sampai punah, sayang banget dinamika ini akan putus..

      Monggo main ke RMT lalu tinggal minta Pak Sigit. Besar kemungkinan dianter mas.. :D

      Hapus
  3. tulisannya menarik dan enak dibaca, bikin saya pengin pulang kampung ke kebumen :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaah sayangnya gak kenalan pake nama kak.. tapi syukurlah Wong Kebumen.. Salam kenal..

      Hapus
  4. Melintingin 200 rokok per hari lumayan juga yak wkwk ... gambar di kertas rokoknya emang vintage banget yak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo yang pertama kali pasti lama banget dan bikin bosan. Lha mereka udah puluhan tahun, kecepatannya udh kayak mesin ja..

      Ayok kak Timo jelajah Kebumen, lalu ambil kertas rokok Sintren.. :D

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe