Sangihe, Zamrud Beranda Utara Negeri

03.39

Kepulauan Sangihe yang menyimpan pesona luar biasa.

Terletak di teras negeri  yang langsung menjadi tetangga Filipina, membuat Kepulauan Sangihe jarang dikunjungi. Saat berkesempatan melaksanakan perjalanan kerja ke Sangihe, saya pun meluangkan waktu untuk menjelajahi tempat-tempat terindahnya.  Sangihe menyuguhkan banyak kejutan.

Kepulauan Sangihe beribukota di Tahuna dan menjadi bagian dari provinsi Sulawesi Utara. Untuk menuju ke Sangihe, tersedia moda transportasi pesawat (satu jam perjalanan) atau kapal feri (delapan jam perjalanan) dari Manado. Kepulauan Sangihe terdiri dari Pulau Sangihe Besar dan puluhan pulau kecil di sekitarnya. Pulau-pulau di Sangihe didominasi perbukitan dengan dihampari nyiur kelapa. Beruntung, saya hadir pada bulan November ketika cuaca sedang cerah bersinar.

Saya sangat terkesan dengan kecantikan alam Sangihe. Pantai Embuhanga salah satunya. Pantai yang terletak di daerah Petta, di Pulau Sangihe Besar ini menawarkan pasir putih nan halus dengan ombak tenang yang berharmoni dengan tarian nyiur kelapa yang semampai. Pantai ini masih sangat sepi sebagaimana karakter pantai-pantai di Sangihe yang belum bergaung menjadi destinasi wisata nasional. Tampak di kejauhan, dua orang warga Desa Embuhanga sedang mencari kerang di tengah perairan yang landai.

Gerbang udara Sangihe. Bandara Naha yang mungil. 
Garuda Pancasila menjaga Sangihe.
Pantai Embuhanga yang manis bergurat-gurat.

Nyiur kelapa yang semampai menghampari Sangihe.
Bercengkerama bersama kehangatan anak-anak Embuhanga.

Jika ingin melihat pantai sebening kaca, menyeberanglah dari Petta selama 1 jam ke Pulau Nipa dimana terhampar cantik Pantai Tinakareng. Di pantai yang menjadi pos jaga perbatasan TNI AL, saya menikmati jernihnya biru toska air laut sambil syahdu memandang gagahnya Gunung Awu, gunung api aktif dan tertinggi di Kepulauan Sangihe. Selama dua malam di Pulau Nipa, saya menginap di rumah Sekretaris Camat Nusa Tabukan, Tan Malik Karim dan menyelami langsung kehidupan masyarakat di pulau-pulau kecil. Tak ada penginapan selain di rumah warga dan listrik hanya menyala dari jam 18.00 s.d. 24.00.

Beruntung, saya hadir saat ada perayaan tahlilan 40 hari kematian salah satu anggota keluarga Pak Karim. Kedekatan dengan Pulau Mindanao Filipina yang dihuni  mayoritas muslim, membuat masyarakat di Pulau Nipa dan sekitarnya beragama Islam. Umat Muslim ini hidup harmonis dengan mayoritas masyarakat Kep. Sangihe yang beragama Protestan. Di acara ini, saya pun bisa mencicipi aneka olahan makanan laut yang segar dengan nasi sagu yang gurih. Sagu dan ikan menjadi makanan pokok masyarakat pulau-pulau kecil di Sangihe.  

Di samping Pulau Nipa, terdapat Pulau Bukide yang bisa ditempuh dengan pamboat (perahu khas orang Tabukan, Sangihe) selama 30 menit. Pulau Bukide memiliki garis pantai yang memutih dengan nyiur kelapa yang teduh. Saya dijamu oleh Kholidah, kenalan saya di Kota Tahuna yang sedang pulang di kampung Bukide Timur. Saat itu, sedang mulai musim pala sehingga banyak ditemui warga yang sedang menjemur buah pala. Daerah Kep. Sangihe sejak dulu dikenal sebagai penghasil pala terbaik di dunia.

Pantai sebening kaca Tinakareng.
Pala, komoditas kesejahteraan warga Sangihe.
Tahlilan di Pantai Nipa Sangihe.
Pantai selalu menjadi tempat menyenangkan bermain bagi anak-anak Pulau Bukide.


Kholidah menunjukkan lanskap indah dari atas Pulau Bukide Batu.

Saya diajak Kholidah ke Pulau Bukide Batu di samping kampung. Sesuai sarannya, saya rela bersusah payah mencapai puncaknya yang curam dan menjumpai lanskap cantik gradasi perairan luas yang berbatas cakrawala Samudera Pasifik. Saya sempatkan snorkeling di perairan sekitar Pulau Bukide dan Pulau Bukide Batu. Terumbu karang yang kaya dan terjaga menjadi rumah ‘mewah’ ikan dan biota laut yang beraneka rupa. Uniknya, jika perairan surut, sebagian terumbu karang akan muncul dan tak mati karena sudah mengalami adaptasi.



Jelajah Sejarah Sangihe

Perjalanan di Sangihe tak hanya tentang menyigi keindahan pantai dan pulau-pulau kecilnya. Di Manganitu, Pulau Sangihe Besar, saya bertakzim ke Istana Raja Manganitu yang kental dengan nuansa arsitektur kolonial. Saya berjumpa Adelle Paulina Macahecum (92 tahun) yang dikenal sebagai nenek putih. Darinya, saya mendapati sejarah perjuangan ayahnya Raja Manganitu terakhir: W.M.P. Mocodompis yang gigih melawan Jepang hingga akhirnya dihukum mati.

Istana Raja Manganitu. Jejak perlawanan terhadap Jepang.
Bentor menjadi andalan transportasi di Sangihe. Suasana kota Petta, kota terbesar kedua di Sangihe.
Makam  Pahlawan Nasional Bataha Santiago yang legendaris. 
Penganan orang Sangihe, terbuat dari tepung sagu.  Lupa namanya. :D
Berasal dari Filipina. Sebagai daerah perbatasan membuat di Sangihe banyak dijumpai produk Filipina. 
Saya juga berziarah ke makam Bataha Santiago, raja legendaris Sangihe pada abad 17 yang gigih melawan Belanda hingga tertangkap dan dihukum mati. Bataha Santiago dikukuhkan Pahlawan Nasional dan diabadikan namanya sebagai Korem 131 Santiago Sulawesi Utara. Kisah kegigihan orang Sangir, begitulah sebutan lain Sangihe, dalam melawan penjajah membuat saya sangat terkesan. Meski di beranda negeri, kisah heroik perjuangannya tidak kalah dengan di Pulau Jawa, pusat Indonesia.

Rasanya untuk melengkapi keindahan Sangihe, saya perlu menjelajahi hutan Sangihe. Salah satu tempat terbaik menikmati rimbunan hutan tropis yang asri adalah di kawasan Air Terjun Kadadima. Letaknya di Desa Laine, Kec. Manganitu Selatan, sekitar 2 jam perjalanan dari Tahuna. Air terjun ini merupakan rangkaian dari tiga air terjun yang masing-masing memiliki ciri khas. Kicauan burung menemani sepanjang perjalanan menembus hutan untuk menuju air terjun.

Air terjun Kadadima yang tersimpan nyaman di belantara hutan Sangihe. 
Kakak beradik loncat bergembira di Mercusuar Lama, tengara khas Sangihe. 
Di kejauhan tampak Pulau Siau dengan Gunung Karangetang yang aktif dan menjulang
Inilah transportasi rakyat untuk menyeberang ke Pulau Nipa dan Bukide. 
Transportasi antar kampung di Pulau-pulau sekitar Sangihe.

Jangan lupa jika di Sangihe untuk singgah di tengara kota Tahuna, yakni Mercusuar Pelabuhan Lama. Jujur, di Sangihe sedikit ada bangunan yang bisa menjadi ikon kota. Bangunan yang sudah tak difungsikan lagi ini menjadi jendela pengetahuan bahwa Sangihe ini terkenal sebagai penghasil kopra. Mercusuar warna merah putih ini dibangun dari partisipasi para pedagang kopra dari Sangihe-Talaud. Dulunya Kabupaten Sangihe memang masih tergabung dalam Kabupaten Sangihe dan Talaud.


Perjalanan sekilas di Sangihe sukses menjejakkan kesan mendalam bagi saya. Sangihe menjadi ruang sunyi yang sedikit terpublikasi tetapi sarat dengan imaji keindahan. Sangihe adalah mutiara alam di garis terdepan Indonesia. 

Menuju senja. 
Gembira di pulau damai sebening kaca.
Pamboat, perahu lincah untuk penyeberangan ekspress warga antar pulau. 
Gunung Awu, gunung penjaga Sangihe. Sering meletus tapi memberikan kesuburan luar biasa.
Lemang Sagu, inilah 'nasinya' orang Sangihe. Dipadukan dengan lauk ikan. Mantap. 
Bermain voli di Pulau Bukide. 
Terima kasih kepada Pak Tan Malik Karim, Sekcam Nusa Tabukan yang menjadi keluarga saya di Sangihe.
Pantai Bukide Utara. 
Adelle Paulina Machahecum, si nenek putih pewaris Kerajaan Manganitu.
Karang yang menawan. 


You Might Also Like

28 komentar

  1. Malah banyak muslim karna pengaruh mindanaow filipina yaa, gw pikir banyak nasrani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pinter banget ni kak Cum ini. Pengaruh mindanau kental di sini. orang sini juga bisa bahasa Tagalog lho. sebulan sekali mereka soalnya pergi ke Davao Filipin.

      Hapus
  2. Salah satu pulau terluar yang belum diangkat potensi wisata alamnya. Dari sini jadi tahu pemandangan keren di Sangihe. Ada peninggalan kolonial pula. Jadi ngiler, maz >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kepulauan Sangihe lengkap mas untuk alam, budaya juga sejarahnya. CUma memang belum cemerlang wisatanya. Namun, itulah menariknya ke pulau2 yg jarang dikenal wisatanya..

      Hapus
  3. Laut, rempah, makanan, sejarah, dan budaya di Sangihe ini bener-bener bikin ngiler untuk didatangi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunda Evi. Betul sekali.. Benar2 mantaap bagi yg suka sejarah,, :D Semoga suatu saat nanti kesampaian ke Sangihe.. :D

      Hapus
  4. Pertama tahu Sangihe dulu dari teman yang cerita kalau berasal dari sana. Bahkan dia cerita ada pulau terluar yang jaraknya sangat dekat dengan Filipina. Pulau-pulau terluar Indonesia harusnya diperhatikan lebih oleh pemerintah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangihe walaupun beranda tapi masih butuh perjalanan semalam ke pulau FIlipina. Tapi klo untuk pulau terluar seperti Marore bisa tinggal 3 jam laut.. Sayangnya dulu gak sampe sana.. Betul sekali. Harus diperhatikan sama pemerintah..

      Hapus
  5. Di Flores kue yg mas lupa namanya disebut kue rambut

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaah terima kasih informasinya mas Franz Abe. Ilmu yang sangat menarik..

      Hapus
  6. Duh Sangihe. Rindu betul aku Mas. Sayang dulu ke sana sempat tiga hari tapi dapatnya hujan terus. Senang kamu buat review ini. Semoga aku bisa kembali lagi segera...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak Satya.. Waaah sayang banget hujan terus, tapi memang cuaca di sana susah diprediksi.. Agendakan paragliding di Lenganeng kak.. :D Semoga suatu saat nanti kesampaian.. Sangihe menunggu lebih banyak yang mnuliskan ya..

      Hapus
  7. Keren sekali bisa dapat kesempatan ke Sangihe ya, Mas. Alamnya cantik banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah suatu saat nanti mas Timo pasti bisa ke Sangihe.. Kan mas Timo kenalannya banyak,. hahaha,, ajakin aku yaa nanti.. :D

      Hapus
  8. airnya sangat jernih, pantainya pun indah sekali, recomend banget buat liburan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantaaaaap.. Sangihe adalah permata yang perlu kamu kunjungi.. :D

      Hapus
  9. tempat yang sangat indah mas iqbal..
    semoga ada kesempatan bisa berpetualang di sangihe mas :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Sangihe adalah zamrud di beranda utara Indonesia. Amiiin. Turut mendoakan semoga kangmas Anno bisa berkunjung ke Sangihe..

      Hapus
  10. Keren banget! Spot liburan anti mainstream!

    Adis takdos
    travel comedy blogger
    www.whateverbackpacker.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kudu dikunjungi kang Takdos. Antimainstream lhoo.. Orang sana juga selera humornya tinggi lho.. Cocok untuk bersenang2 bahagia..

      Hapus
  11. Aku mau diajak ke sangihe asal jangan sampai sange aja yaaa kak hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakaka.. Sange kalo kurang piknik kak cum.. :D Kak cum mah dijamin ga sange karena piknik manja melulu..

      Hapus
  12. Foto - foto mu itu lho mas iqbal, bikiiin mupeng!!
    ajak raisa kesana maaas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. berhasil ni postinganku tentang Sangihe, bisa bikin Raisa pingin ke sana. Sangihe menunggu kedatangan Raisa ni.. hahaaa

      Hapus
  13. warna pasirnya itu bersih airnya juga bening ya

    BalasHapus
  14. hmmm ... Warna airnya saat terkena sinar matahari menjadikan kilauan air yang terlihat syahdu .
    asik kayaknya kalau berapung di perahu dengan tiduran

    BalasHapus
  15. memang kepulauan sangihe menyimpan pesona yg luar biasa

    BalasHapus
  16. sungguh luar biasa indahnya daerah Indonesia yang satu iniwalaupun tempatnya terpenceil namun menyimpan pesona alam yang indah terbaik deh

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe