Terios 7 Wonders #2: Menyapa Desa Sikka yang Bersejarah

08.00

Gereja Tua Sikka

Lihatlah di peta, Sikka mengisi sepetak Nusa Nipa yang paling ramping dan berdataran rendah paling lapang. Khalayak lebih mengenalnya sebagai kabupaten yang didiami suku yang punya nama yang sama. Umumnya, Maumere – ibukota Sikka –menjadi representasi yang lebih familiar.

Padahal, Sikka mulanya melekat pada satu desa yang kecil nan sunyi, di pesisir selatan yang tersembunyi di balik perbukitan Flores yang sesak. Desa Sikka adalah awal mula sejarah tlatah Sikka penuh berkah. Di desa inilah, “Wonders” kedua bersemayam. Terios 7 Wonders membungkus kisah Istana Sikka – Lepo Gete, Gereja Tua, dan tenun ikatnya.



***

Pagi 19 Mei 2016, di Larantuka, pembukaan Tour de Flores sungguh meriah. Ekspedisi Terios 7 Wonders mendahului dan menyisir jalur balap sepeda kebanggaan Flores yang lengkap dengan antusiasme warga Larantuka sepanjang jalan. Mereka tak sungkan melambaikan tangan, tanda penghormatan. Hingga, kami berhenti dulu di sebuah tikungan di pinggang bukit berbatas panorama lautan yang cantik. Kami biarkan pembalap mendahului sembari kami mengabadikan ketatnya kompetisi pada lanskap yang bersanding tengara mobil Daihatsu Terios.

Terios 7 Wonders hari ini melaju melintas overland Flores dengan rute Larantuka -  Maumere sejauh 138,8 km. Saya mengingatnya sebagai rute yang paling tak berkelok-kelok di antara 661,5 km jalanan trans Flores yang sangat berkelok-kelok. Ya, trans Flores yang sangat berkelok-kelok.

Namun, rute ini tetap tak bisa diremehkan. Mobil Daihatsu Terios menunjukkan performa ciamik, melahap trek dengan elegan. Tetap nyaman mesti diombang-ambingkan tikungan. Walaupun demikian, uji ketangguhan Terios tak optimal. Mau tak mau ekspedisi harus melaju di belakang, mengiring Tour de Flores.

Sambutan sangat meriah dari remaja Larantuka yang manis-manis.
Ketatnya persaingan Tour de Flores dengan lanskap medan yang menawan.
Mama-mama di Desa Cecer, menyambut Tour de Flores dengan tarian khas.
Berhenti sejenak. Melihat pohon madu yang sungguh besar.

Sebuah pohon besar di pinggir jalan membuat kami merehat perjalanan. Ini bukan sembarang pohon. Di pohon inilah, ratusan sarang madu lengkap dengan ratusan ribu (mungkin jutaan) lebah tinggal. Ada juga sarang madu yang tak lagi berisi, dibiarkan begitu saja menempel pada ranting pohon  ini. Sayangnya, kami tak berjumpa dengan pemanen madu. Lalu, perjalanan dilanjutkan, berganti naungan pada sepasang gunung suami istri: dari Gunung Ebulobu laki-laki ke Gunung Ebulobu perempuan. Maumere pun masih setengah perjalanan…


*** 

Cuaca tak menentu mengiringi kunjungan ke Desa Sikka. Tiba di Maumere masih panas menyengat, melaju di tengah jalan hujan mengguyur deras, lalu sesampai di Sikka panas kembali walau mendung gelap tetap awas menggelayut. Dari Maumere ke Sikka sejauh 28 km, perjalanan berpindah pesisir, dari pesisir utara ke selatan Flores. Terios 7 Wonders tiba di Sikka saat mentari sudah mulai turun tahta seharian. Sore pun menyambut.

Terios 7 Wonders melintas pelan di depan Istana Raja Sikka. Namanya Lepo Gete. Sama seturut kedatangan sebelumnya tempo kala, saya prihatin dengan istana ini (atau sebenarnya tak bisa disebut sebagai istana). Bangunan yang semestinya jadi jejak megah Kerajaan Sikka tampak terbengkalai. Rupa hari ini Lepo Gete hanyalah serupa gubuk besar berpanggung kayu yang berada 5 meter dari pinggir pantai. Di sampingnya, makam beberapa Raja Sikka bersemayam tenang.

Saya yakin orang se-Sikka akan trenyuh melihat kondisi Lepo Gete. Saya dengar, kalau keluarga kerajaan sedang punya konflik internal. Keagungan istana Raja Sikka di tanah Flores yang melintas berabad-abad pun sementara kalah dengan urusan keluarga kerajaan yang tak mau saling mengalah. Pernah direhab tahun 2002, tapi desain bangunan asal-asalan, tak sesuai aslinya. Proyek dihentikan. Lepo Gete harus mau dikorbankan dulu. Terbengkalai.

Padahal, Sikka yang beribukota Maumere dan menjadi suku besar di tlatah Nusa Bunga tak bisa dipisahkan dengan roda hidup Kerajaan Sikka. Tahun 1607, Kerajaan Sikka berdiri sebagai buah karya belajar Katolik Moang Lesu – tokoh asli Sikka – dari Malaka. Moang Lesu merantau, berangkat dari niatnya untuk mencari tanah kehidupan yang kekal. Sesampai di kota pusat Portugis di Asia Tenggara masa itu, bukannya berjumpa dengan negeri yang diidamkan, Moang Lesu malah menemukan hidayah Katolik sekalian belajar tentang pemerintahan dan kebudayaan ala Portugis.

Panorama cantik yang bisa dilihat di jalan Larantuka - Maumere 
Terios 7 Wonders tiba di desa Sikka.
Lepo Gete yang tampak terbengkalai. Sungguh disayangkan.
Makam Raja Sikka. 

Raja yang lalu bergelar Don Alexius Alesu Ximenes da Silva pulang dengan dikawani seorang Portugis, Agustino Rosario da Gama. Mereka gencar menyebarkan agama Katolik di Sikka melalui titah raja. Gereja juga didirikan. Sejak itulah, Sikka menjadi kerajaan besar di Flores yang disegani dan menjadi cikal bakal wilayah kabupaten Sikka saat ini. Pada tahun 1954, Raja Sikka Don Thomas Ximenes da Silva meleburkan Kerajaan Sikka menjadi bagian dari Republik Indonesia. Meski sudah tak lagi berkuasa, jejak Kerajaan Sikka tetap dihormati oleh masyarakat Sikka.

Seratus meter dari Lepo Gete, berdirilah sebuah gereja yang jadi target kelanjutan kunjungan saya di SIkka. Gereja ini bernama Santo Ignatius, tapi lebih masyhur dikenal sebagai Gereja Tua Sikka. Dibangun selesai tahun 1899 dari rancangan Pastor Antonius Dijkmans SJ, arsitek perancang Katedral Jakarta. Namun, tenaga yang mengerjakan semuanya asal desa Sikka. Gereja tua ini sesungguhnya menjadi kelanjutan dari gereja yang dulu didirikan oleh Don Alesu.

Pintu kayu tua nan tebal berusia 117 tahun dibuka Gregorius Tamela, penjaga Gereja Sikka. Saya masuki ruang gereja sambil berjalan pelan dengan mengagumi suasana interior bangunan yang syahdu. Deretan kursi berbaris puluhan menuju pada satu pusat salib Yesus dan altarnya. Kubah gereja menggantung setinggi 10 meter, kokoh disangga oleh jalinan kuda-kuda atap. Tiang kayu secara mantap menopang konstruksi atap yang tak lapuk oleh zaman. Lukisan kaca di penjuru ruang hadir menyemarakkan pesona. Di sekeliling temboknya, motif tenun khas Sikka menghiasi gereja ini untuk menuansakan identitas lokal.

“Kayu belum pernah diganti dari pertama dibangun. Semuanya jati, didatangkan dari Jawa.  Aneh saking awetnya, baut besi malah sampai termakan kayu“ ungkap Gregorius.

Innterior serba kayu jati Gereja Tua Sikka.
Motif tenun Sikka ada dalam gereja.
Sore menjelang di Desa Sikka.
Gregorius Tamela, penjaga Gereja Sikka. 

Di samping Gereja Sikka, terdapat kapel kecil yang jadi kawan sejatinya. Di sinilah, Senhor dan Meninu, buah tangan Don Alesu dari Malaka tersimpan rapat untuk menjaga narasi dakwah Katolik dari abad 16. Dua perangkat bersejarah Katolik Sikka ini hanya keluar pada tradisi Perarakan Suci Logu Senhor pada saat Jumat Agung Hari Paskah.

Sore itu Gereja Tua Sikka sudah terbalut sepi. Tak ada jadwal ibadah. Hanyalah para pengunjung dari Terios 7 Wonders dan media undangan Daihatsu Indonesia yang menyapa gereja. Tapi, di antara Gereja Tua dan Lepo Gete, puluhan mama-mama Desa Sikka bersemarak dengan pameran tenun ikat khas Sikka beserta proses pembuatannya. Saya melangkahkan kaki untuk menyapa kekayaan tradisi orang Sikka di desa Sikka.


*** 

Baju hitam berpadu dengan kain tenun sedang dipakai sebagian perempuan Sikka. Ini tanda mereka sedang berduka. Ada keluarga yang sehabis ditinggalkan anggotanya. Namun, wajah yang ramah senantiasa bersemi memancarkan keakraban pada pengunjung. Saya sapa mereka. Saya sapa juga kepada mama-mama lainnya yang berpakaian cerah, yang sedang tak berduka. Semua perempuan di tempat itu seragam membalut dirinya dengan kain tenun yang beraneka ragam rupa motif khas Sikka.

Ada ungkapan Sikka yang khas, “Ami nulung lobe. Naha utang wawa buku ubeng. Naha utang merah blanu, blekot”. Ungkapan ini memberi pengertian, sarung yang dikenakan perempuan, menunjukkan kepribadian pemakai. Sarung yang dipakai juga bukanlah sarung harian, tapi yang disimpan jarang digunakan. Si pemakai bukan sembarangan, tapi orang bermutu dan berkepribadian bijak. Para perempuan Sikka ingin menunjukkan bahwa kecantikan tenun ini menjadi perwakilan dari kebaikan mereka.

Pameran kain tenun warga Sikka
Menjajakan jualan.
Terios 7 Wonders akrab dengan masyarakat Sikka.
Mama Maria da Gomez yang sangat ramah.

Mereka tak buru-buru menawarkan harga, lebih suka mengajak saya untuk menyimak prosesi. Namun, saya yang buru-buru bertanya harga.  Ternyata kisaran harga sarung tenun adalah di atas 500 ribu rupiah. Ada juga yang seharga 2 juta rupiah. Saya bisa maklum sekalian mundur teratur. Proses pembuatan tenun ikat Sikka memang bukan perkara bentar dan gampang. Tenun ikat Sikka yang beperwarna alami bisa butuh waktu yang sangat lama.

“Kalau kapasnya dipanen dari pohon, diolah dan dipintal sendiri, lalu menggunakan pewarna alami, prosesnya bisa sampai dua tahun.” ungkap Maria da Gomez, mama pengrajin tenun yang senior. Waah, saya setengah terperanjat tahu waktu yang dibutuhkan.

Di bawah naungan pohon-pohon kelapa, deretan kain tenun ikat Sikka yang didominasi warna gelap seperti coklat dan merah marun, satu per satu saya lewati. Motifnya sebagian besar berkisah tentang flora, fauna, serta aneka hal yang ada di lingkungan sekitar. Secara umum, tenun ini dibagi jadi dua hal besar, bermotif tradisional maupun modern. Yang tradisional berwarna gelap dan tak mencolok. Yang modern lebih suka dihiasi warna terang memikat mata.

Ada satu arena khusus untuk ‘memanggungkan’ proses pembuatan tenun ikat. Saya melangkahkan kaki penuh antusias. Saya tahu, di situ, saya tak perlu menunggu waktu berbulan-bulan, sudah bisa mengetahui rangkaian proses membuat tenun ikat dari awal hingga jadi.

Proses menghaluskan kapas
Memintal benang.
Pewarna alami
Siap dijajakan dengan aneka jenis dan harga.

Mulanya, seorang mama memisahkan biji kapas pada alat yang disebut “Ngeung”. Di sampingnya dua perempuan menghaluskan kapas yang terpisah dari bijinya dengan memukulkan ke tikar. Kapas lalu berpindah ke mama lain untuk dibentuk bulatan panjang agar bisa dipintal. Bulatan kapas lalu dibuat menjadi benang memakai alat pintal yang disebut “jata kapa”. Tahap selanjutnya ialah membuat pola dengan mengikat tali pada daun gebang yang disusun. Inilah yang jadi ciri khas dari tenun ikat.

Benang lalu akan diberi warna dengan pewarna alami yang berbahankan asli dari tanaman. Ada bahan dari akar mengkudu, kayu asam, kayu kesambi, kunyit, daun lobak, dan daun nila. Proses pemberian warna pun sesungguhnya dilakukan bertahap, yang bisa membutuhkan sangat lama. Misal saja, butuh waktu sampai tiga tahun hingga dasar warna merah sampai berubah jadi coklat. Sesudahnya, benang diikat satu persatu untuk mempersiapkan penenunan motif. Baru kemudian, pamungkas dari pertunjukan ini adalah seorang mama yang menenun dengan cermat dan teliti.

Saya menyimak rangkaian proses tenun ikat ini dengan tak semuanya paham. Kerumitan sungguh mengiringi pembuatan tenun ikat tahap demi tahap beserta kisah di baliknya. Namun, saya mesti paham bahwa tenun ikat adalah tradisi masyarakat Sikka yang sudah meresap berabad-abad. Bahkan, sebelum raja Don Alesu mendeklarasikan Kerajaan Sikka yang digdaya di tanah Flores.  Tenun ikat khas Sikka pantas disanjung sebagai mahakarya Indonesia.


***

Terios 7 Wonders meninggalkan kesunyian Desa Sikka saat mentari mulai mengemas dan pendar sinarnya mulai terbatas. Kami pun kembali lagi ke Maumere sekalian menutup episode kedua menemukan wonders di tanah Flores. Perjalanan esok hari melangkah ke wonders di antara Maumere – Ende. Sialnya, kami harus bangun pada dini hari untuk menjemputnya.

Video perjalanan FLORES bersama Daihatsu Indonesia



Puncak menara Gereja Sikka yang indah.
Kuda-kuda penjaga atap. Kayu Jati dari Jawa.
Altar Gereja Sikka

Memintal benang.
Ibu Amel dari Daihatsu Indonesia berpose cantik di antara kain tenun ikat yang eksotik.
Saya menyapa mama-mama Sikka yang ramah. 
Beginilah rupa sarang madu di pohon besar Larantuka - Maumere.
Sore di Sikka. 
Kaca yang masih asli sejak dibangun. Didatangkan langsung dari Belanda. 

Perjalanan "Overland Flores" ini disponsori Daihatsu Indonesia www.daihatsu.co.id dalam ekspedisi TERIOS 7 WONDERS - TOUR DE FLORES. Cerita perjalanannya disajikan dalam 8 seri tulisan, yakni:

1.   Kendara Tangguh Tour de Flores bersama Terios 7 Wonders
2.   Ziarah Kota Maria Larantuka
3.   Menyapa Desa Sikka yang Bersejarah
4.   Kopi John dan Avontur Kelimutu
5.   Mahakarya Tenun Ikat Lio Desa Manulondo
6.   Kampung Bena dan Bocah Penggemar Bola
7.   Bertandang ke Sarang Hobbit Liang Bua
8.   Pulang Kampung Wae Rebo

Selamat membaca semuanya!


You Might Also Like

10 komentar

  1. Sarapan pagi ini... Sambil membayangkan prosesi tenun di SIKKA..dan berharap bisa membawa pulang saat sampai kesana. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sahurnya gimana mbak kenyang ta? haha

      Wah mbak Niken perlu konkrit tahun ini ke FLores. Flores memanggilmu..
      Tenun ikatnya jangan lupa dibungkus. Siapkan kantong tebal ya.. :D

      Hapus
  2. Banguan dari kayu jati.. Woooww keren, kayu jati adalah kayu pilihan setelah Kayu Besi (Ulin). Ups itu tenunnya pengen disamber :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mas Sitam. Jati bikin awet gereja meski udah 100 tahun. Disamber boleh banget asal jgn lupa dibayar.. :D

      Hapus
  3. Langit2 gereja sikka nya unik yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. unik nan cantik. Menunggu kamu kunjungi kak.. :D

      Hapus
  4. Wah mas. kain tenun ikatnya itu lhoo. asik banget ih. pengen punya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pingin punya? Siapin kocek tebal ya kak.. Atau beli syal aja, ya tapi tetep ja mahal.. Hahaha..

      Kapan Insan Wisata ke Flores?

      Hapus
  5. perjalanannya seru ya.
    kain tenunnya bagus2...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betull seru banget kak. Seru karena bisa melihat tenun terbaik.. :D

      Terima kasih kunjungannya

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe