Terios 7 Wonders #5: Kampung Bena dan Bocah Penggemar Bola

16.37

Kampung Bena yang tua.

Sekilas, waktu serasa berhenti berputar di Kampung Bena. Peninggalan berabad-abad lampau dari zaman batu tetap abadi bersama dekapan puluhan rumah tradisional Sao di sekelilingnya. Namun, perhatikanlah bocah-bocah bermain, bergerak saling kejar bola. Bena dinamis dengan aksi anak-anak yang riang gembira. Kampung adat di kaki Gunung Inerie ini sanggup melintas zaman tanpa keluar dari jalan takdirnya sebagai pewaris tradisi Ngada.


***

“Pemain bola jagoanmu siapa?”

“Saya pilih Ronaldo”
“Aku suka Messi. Lihat ini kaosku”
“Buffon jagoanku”
“Ozil idolaku”

Anak-anak bercakap tak sekedar menyebut nama-nama pemain bola terkenal dunia. Mereka juga sambil memperlihatkan kaos yang dikenakannya. Bocah-bocah Bena suka sekali memakai kaos bola dalam kesehariannya. Meski sedang tak memakai kaos idolanya, yang penting mereka pakai kaos bola dan menyebutkan siapa idolanya. 

Beginilah, saking melekatnya sepakbola sebagai bagian keseharian bocah Bena. Saya melihat hal ini sebagai keunikan Bena. Betapa kampung yang usianya dua belas abad ini bisa menjadi dinamis tatkala para bocahnya adalah pecinta permainan kejar-kejaran dan sepak-sepakan bola.

Senyum bocah-bocah penggemar bola.
Dinamis dalam sejarah.
Di antara tanduk jejak upacara adat.
Dari kiri ke kanan: Ngadhu, Batu Nabe dan Bhaga. Di belakang adalah Sao, rumah khas Bena.

Di antara Ngadhu dan Bhaga, mereka menendang bola, saling mengoper. Kadang tak perlu ada gawang sebagai tujuan permainan. Yang penting bermain bola. Yang penting tujuannya bergembira. Ketika bola mengarah ke saya, saya juga tak ragu untuk menendang. Saya sengaja asal tendang, arahkan saja ke ruang yang kosong. Saya sengaja biar mereka berkejaran, berebutan. Seru…

Sebenarnya, halaman Kampung Bena tak begitu luas, apalagi disangka sampai seluas ukuran lapangan bola. Halaman kampung yang terletak di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Jerebu, Ngada ini juga bukanlah areal yang kosong. Lihatlah, area ini ‘ditumbuhi’ Ngadhu - Bhaga dan Batu Nabe. Bangunan-bangunan yang menyiratkan eksotika ini merupakan sesuatu yang sakral bagi masyarakat Bena dan suku Ngada pada umumnya.

Ngadhu ialah sebentuk payung dengan tiang kayu berukir dan beratap jerami. Pondasi kayu dibuat bercabang dua dan ditanam dengan darah babi atau ayam. Tiang kayu digunakan sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika upacara adat. Ngadhu menjadi simbol dari moyang laki-laki. Ngadhu harus sepasang dengan Bhaga. Bangunan berwujud miniatur rumah adat ini merupakan simbol dari moyang perempuan. Bhaga punya ukiran ‘weti’ dan di atapnya terdapat simbol senjata untuk melindungi penghuninya dari roh jahat.

Di Bena, ada 9 pasang Ngadhu dan Bhaga. Sembilan pasang ini melambangkan ada 9 suku yang mendiami Kampung Bena. Dulunya suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Bena, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago bersepakat untuk membentuk kampung Bena dan menjaga hingga sekarang, selama lebih dari 30 generasi. Saat ini mereka tinggal di 45 rumah yang mengelilingi halaman Ngadhu dan Bhaga.

Kebudayaan zaman batu tetap tumbuh.
Ramah kepada tamu.
Nenek di usianya yang senja.
Yanto, bocah Bena.
Jika diperhatikan, kampung Bena mewujud lanskap bertingkat-tingkat. Jumlah tingkatan ada 9 yang mewakili setiap suku di Bena. Pada satu tingkatan ini terdapat sepasang Ngadhu dan Bhaga. Selain itu pada tiap tingkatan terdapat Batu Nabe. Batuan pipih disusun secara tegak berdiri melingkar. Di sekitarnya terdapat batuan-batuan yang disusun terlentang seperti altar. Di bawah Batu Nabe bersemayam jasad leluhur. Batu Nabe biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Bena.

Ups… si ‘Ozil’ menendang bola terlalu bersemangat ke arah Batu Nabe. Apakah leluhur akan marah? Saya lihat bocah itu tenang saja dan orang tua di sekelilingnya tak bereaksi marah. Saya kira, rupanya leluhur pun sudah terbiasa dengan bocah-bocah bermain bola.


***

Siang itu, Bena digelayut manja oleh mendung. Tadinya saya berharap bisa menyaksikan Gunung Inerie yang mengayomi Kampung Bena. Mendung dan kabut membuat sebagian besar badan gunung yang sakral bagi orang Bena ini tak terlihat. Kampung Bena berada damai di kaki Inerie yang berketinggian 2.245 meter dpal. Masyarakat Bena percaya bahwa di puncak gunung Inerie bersemayam dewa Zeta yang melindungi kampung mereka.

Saya menyapa mama-mama yang memerhatikan para bocahnya. Mereka sambil menenun di beranda rumah. Keseharian perempuan Bena diisi dengan menenun yang menjadi warisan turun temurun. Setiap perempuan Bena memang wajib bisa menenun. Bahkan, jika ingin menikah, perempuan Bena harus sudah ahli menenun bermotifkan kuda dan gajah. Tenun Bena termasuk dalam jenis songket sulam.

Menenun menjadi keseharian bagi perempuan Bena.
Hasilnya untuk jualan menambah penghasilan.
Minum kopi suguhan Paulus.
Paulus yang baik hati. Potret orang Bena.

Semerbak kopi menyambut saya di kediaman Paulus. Hawa dingin yang menaungi Bena, pas sekali dihalau dengan segelas kopi yang diolah dari kebun sendiri. Rumah atau Sao milik Paulus terletak paling ujung dan menghadap sisi berbeda dari Sao-sao lainnya. Saya diantarkan oleh Pauli, putranya yang dari tadi berbincang dengan saya, membahas kehidupan harmoni di Bena.

Ternyata Satya (www.satyawinnie.com) juga sudah pernah mampir di Sao punya Paulus. Jadilah, perbincangan pun lebih akrab karena kami sudah saling mengenal. Saya coba ingat. Ternyata tiga tahun lalu saya juga berjumpa dengan Paulus, tapi di Sao yang lain. Katanya rumah itu kediaman orang tuanya.

Tak ada yang lebih memeriahkan perbincangan kami selain kehadiran Gerald. Bocah yang belum sekolah ini sangat aktif untuk bergerak kesana kemari. Saya pun jadi aktif untuk menggodanya. Cucu  Paulus ini begitu senang untuk memamerkan baju barunya. Berkali-kali dia masuk ke dalam Sao untuk berganti baju. Gerald pun tak ketinggalan untuk memamerkan kaos bolanya. Inilah yang paling ia banggakan. Selain itu, Ia paling suka difoto, lantas minta ditunjukan hasil foto bareng dia. Ah kecerian Gerald pun memaksa obrolan dua jam di Bena terasa bentar.  

Saya bilang ke Pauli. Saya sedang  mencari kopi di Bena. Namun, rupanya saat itu sedang tak panen.  Stok terbatas membuat Paulus tak mau melepas biji kopinya. Sebagai daerah yang berada di kawasan Bajawa, kopi adalah khasanah lokal yang sangat ingin saya telusuri di Bena. Sudah termasyhurlah single origin kopi Bajawa ke seantero dunia. Coba carilah tahu di Amerika, kopi Bajawa sedang naik pamor. Makanya, langsung memeroleh kopi di Bena adalah sebuah kepuasan besar bagi saya. Kata Pauli, musim hujan yang telat membuat panen kopi pun tertunda.

Yudha @catatanbackpacker sedang mengajak selfie Gerald.
Gerald mengganti pakaian untuk dipamerkan.
Yeaaay Gerald...
Kain tenun buatan istri Paulus. Cantik ya.. 

Saya berjalan menuju Taman Doa Kampung Bena. Di sini terdapat Patung Bunda Maria yang menjadi tempat doa para warga. Pelajaran luhur pun bisa saya dapat dari kampung Bena. Agama Katolik bisa bersanding manis dengan tradisi leluhur Bena yang lestari berabad-abad. Warga Bena sungguh religius sekaligus taat pada adat yang secara harmoni menjadi nafas kehidupan yang membahagiakan.

Di gardu pandang di taman doa, saya bisa menikmati lanskap Bena yang paling indah. Seluruh kampung terpandang jelas, jejeran rumahnya, ngadhu – bhaga-nya serta aktivitas warganya. Memandang ke belakang, jurang panorama tampak berharmoni dengan perbukitan yang berujung pada Laut Sawu yang membiru. Saya nikmati keheningan sembari dalam hati berbisik, “Andai bisa lebih lama tinggal di sini pasti sungguh menyenangkan. Sambil baca buku dengan tenang”  

Saya kembali turun ke kampung. Saya sapa Mama Emiliana. Dengan cermat, ia sedang memilah kemiri yang kering untuk dimasukkan ke dalam karung. Setengah hari dia menjemur tapi tampaknya kini mentari sudah pelit pancarkan sinarnya terhalang mendung. Saatnya mengemasi jemuran. Selain kopi, geliat ekonomi Bena juga bertumbuh dari komoditas alam seperti kemiri. Ditambah, kini ekowisata juga berkembang menjadi solusi kemakmuran.  

Tempat doa  bagi warga Bena yang semuanya beragama Katolik.
Pemandangan dari spot Taman Doa.
Mama Emiliana menjemur kemiri. Sumber penghasilan. 
Kopi juga menjadi sumber penghasilan warga Bena.

Sukanya di Bena, siapapun warga akan sangat ramah. Meski sebagai destinasi wisata, bukan berarti interaksi selalu berujung dengan materi. Lebih penting adalah kemanusian yang sejati. Antara pengunjung dan warga lebur pada nilai-nilai persaudaraan yang saling sapa, senyum dan tertawa.

Inilah yang membuat saya selalu rindu untuk datang lagi ke Bena. Terlebih, saya ingin melunasi janji untuk mendaki Inerie bareng Pauli. Katanya, hanya 3 jam sampai puncak tempat Dewa Zeta bersemayam. Kami akan menyanjung sunrise di tanah Ngada sambil menyeruput kopi terbaik Bajawa.


***

Kunjungan Terios 7 Wonders ke Bena bisa dikatakan hanyalah sekedar singgah. Kami tak bermalam di Bajawa, setelah memutuskan untuk mengejar pesona “wonders” di Manggarai. Ekspedisi pun langsung tancap gas menuju Ruteng. Tim Terios 7 Wonders mendahului etape Tour de Flores demi bisa optimal mengeksplorasi dua “wonders” Flores tersisa yang menakjubkan. Artinya, satu hari ini Terios 7 Wonders pun harus melahap rute terpanjang pada ekspedisi “Tour de Flores”

Rasanya tak perlu khawatir dengan performa Daihatsu Terios yang kami gunakan. Jalur 270 km yang dilahap sehari rasanya semacam tantangan pada level lebih tinggi dari biasanya. Performa mesin 1500 cc ternyata cukup handal untuk melahap setiap tanjakan – turunan juga tikungan. Yang juga menjadi andalan adalah iritnya bahan bakar. Dari Ende hingga Ruteng, meski harus menempuh jalan bergunung-gunung, Terios sanggup bertahan hanya sekali isi bahan bakar di Ende, tempat memulai perjalanan.

Tari Gawi Sadha melepas keberangkatan kami di rute terpanjang Ende - Ruteng
Stabil melintas pesisir Ende.
Mendapat sambutan dari penonton Tour de Flores.
Di antara kebun kopi di daerah Bajawa.

Di jalur Ende – Bajawa, saya sangat menikmati pemandangan jalan persis bersanding Laut Sawu begitu keluar dari kota Ende. Saat mulai memasuki Nagekeo, medan berganti dengan kelokan tajam. Namun, rasanya tetap gampang karena belum menghadapi tanjakan-turunan yang curam. Terios pun selalu melaju penuh gairah dengan sambutan para penonton Tour de Flores yang menanti para pembalap sepeda melintas.

Ketika mulai memasuki Mataloko, Ngada, perjalanan penuh tanjakan mulai terasa. Asyiknya, Terios berhasil melibas bermacam tanjakan yang mengantarkan tim sampai di Bajawa pada ketinggian 1.200 meter. Meski sudah cukup menantang, Rute Ende – Bajawa bisa dibilang adalah pemanasan sebelum menghadapi rute yang lebih liar, yakni rute Bajawa - Ruteng. Namun, kami harus mampir dulu di Bena.

Selepas memesrai pesona Bena, perjalanan Bajawa – Ruteng berlanjut dengan tantangan yang lebih variatif. Mula-mula rasakan medan gila turunan pendek tapi sangat banyak dari Bajawa menuju Aimere. Supir Terios saya, bang Feri, sampai menyebutkan, “Di jalan segila ini kalau mobil tidak diimbangi suspensi yang mantap, akan sangat kerepotan.” Untungnya, Terios cukup tangguh untuk melayani suguhan turunan sambil penuh tikungan dalam kendara dari ketinggian 1200 m hingga 1 m di atas permukaan laut.


Terios 7 Wonders di Kampung Bena.
Kota Bajawa yang harmoni antar agama. Masjid dan gereja bersandingan manis.
Lihatlah betapa gilanya medan setelah Bajawa menuju Aimere. Tikungan edan. 
Tangguh di segala medan. Terios sahabat petualang. 

Perjalanan hanya sebentar menyisir pesisir Aimere yang datar. Bergantilah lagi, jalan tanjakan lalu turunan melintasi pegunungan untuk sampai di Borong, ibukota Manggarai Timur. Tak perlu berselang lama, jalanan datar Borong dihajar lagi tanjakan terus menerus menuju ketinggian 1400 meter melalui pinggang Gunung Ranaka. Selanjutnya, Terios mulai menuruni medan hingga tiba di Ruteng yang berketinggian 1200 meter dpal. Malam pun sudah menyambut meriah dengan purnama sempurna yang mencahayai Ruteng.

Jujur, perjalanan seharian ini sungguh melelahkan bagi saya. Untungnya, rasa terima kasih perlu diucapkan sebesar-besarnya kepada Terios yang tetap memberikan kenyamanan dengan tempat duduknya yang cukup lapang. Di rute terpanjang dan paling menantang dalam kendara “overland” Flores, Terios pun terbukti tangguh menjadi sahabat petualan.


Saya akhiri malam yang dingin di Ruteng dengan ucapan manis, “selamat malam Ruteng!!”

Video perjalanan FLORES bersama Daihatsu Indonesia



Senjata di atas Ngadhu. 

Puncak dari Bhaga. 
Taring babi jejak persembahan adat Bena.

Kemiri yang sudah dikupas. 
Kopi yang siap digoreng. Sayang saya tak bisa membawanya.
Bocah Bena selalu bergembira bermain sepuasnya.
Zaman megalitikum yang masih bertahan.
Makam Katolik di halaman rumah di Bena
Aku "Ozil" 
Lanskap Bena dipandang dari tempat favorit Taman Doa.

Perjalanan "Overland Flores" ini disponsori Daihatsu Indonesia www.daihatsu.co.id dalam ekspedisi TERIOS 7 WONDERS - TOUR DE FLORES. Cerita perjalanannya disajikan dalam 8 seri tulisan, yakni:

1.   Kendara Tangguh Tour de Flores bersama Terios 7 Wonders
2.   Ziarah Kota Maria Larantuka
3.   Menyapa Desa Sikka yang Bersejarah
4.   Kopi John dan Avontur Kelimutu
5.   Mahakarya Tenun Ikat Lio Desa Manulondo
6.   Kampung Bena dan Bocah Penggemar Bola
7.   Bertandang ke Sarang Hobbit Liang Bua
8.   Pulang Kampung Wae Rebo


Selamat membaca semuanya!

You Might Also Like

9 komentar

  1. Kayaknya daerah Timur nggak ada anak kecil yang tak suka bola hehhehehe. Pasti mereka menyukai bola :-D
    Itu taring babinya banyak banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakbola memang disukai dimana saja. Untuk Bena cukup unik. Bedanya, mereka di tengah kampung paling tidak selalu mambawa bola yang sewaktu2 dimainkan.. Bahkan tengah siang pun. Ah, mereka bahagia sekali :D

      Hapus
  2. Sayang sekali ya gak bisa bungkus kopi. Tapi lumayan ud cicip live di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoi mbak Aqied.. Tapi penasaran bisa bawa beans trus roasting sendiri biar tahu profil rasa yg bisa dinikmati pake v60.. :D

      Hapus
  3. Ahhh cakep semua fotonya, jadi nyesel dulu belum kesampaian mlipir ke Bena. Trip Flores-ku beberapa tahun lalu hanya sampai di Ruteng trus balik ke barat lagi hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuhuuy mas Halim, Bena memang cantik. Harus nih ke Bena lalu overland sampai ujung timur di Larantuka. Semoga kesampaian..

      Jangan lupa nyobain kopinya ya.. :D

      Hapus
  4. Babinya, babi hutan? apa babi peliharaan..banyak yak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. babi nya mereka peliharaan mas Alan.. tapi sebagian besar mereka beli kayaknya.. Lha aku ga liat kandang babi di kampung. Atau mungkin ditaruh di pinggir kampung..

      matur nuwun udah berkunjung.. :D

      Hapus
  5. Jadi ingin segera kesana...

    and.. your photos are gorgeous!

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe