Terbuai si Cantik Sikuai

15.12

Pulau Sikuai yang Cantik

Juru mudi telah menyalakan mesin perahu. Sebuah perahu kayu telah penuh dengan rombongan KKN PPM UGM di Sumatera Barat. Saya bersama kawan-kawan akan berwisata ke Pulau Sikuai, Kota Padang. Greeeeng.. Greeeng...

Perlahan tapi pasti perahu meninggalkan Pelabuhan Muaro, pelabuhan bersejarah yang menjadi urat nadi perdagangan Padang sejak abad 17. Kami menyusuri Sungai Batang Arau. Saya tertancap pada pemandangan bangunan-bangunan tua jejak kolonial di tepi sungai. Asyik melemparkan diri pada suasana kemegahan Padang di masa lalu. Di sungai ini, hasil bumi ranah Minang dikirim ke Eropa. Tak terasa, perahu telah lepas dari muara Sungai Batang Arau. Kini kami berada di lautan Samudera Hindia.

Bukanlah ombak yang bergulung-gulung hebat. Suasana Samudera Hindia begitu tenang. Jauh dari kesan lautan terluas kedua di dunia yang gahar. Ternyata pulau-pulau kecil di sekitar Padang yang melindungi perairan sekitar daratan Sumatera dari ganasnya ombak. Saya pun menjadi syahdu menikmati panorama. Bukit Gunuang Padang tempat makam Siti Nurbaya tampak asri menjulang di daratan. Dari kejauhan, tampak juga Pantai Air Manis yang legendaris karena kisah Malin Kundang.

Sekarang sang perahu kecil berhadap-hadapan dengan kapal-kapal besar. Ada kapal kargo, kapal tongkang, kapal tanker, kapal semen yang melintas di dekat perahu kayu kami. Kapal-kapal besar ini sedang berlabuh di perairan Teluk Bayur. Tapi, mereka hanya bisa menambatkan sauh dari luar pelabuhan. Teluk Bayur telah mendangkal.

Kini kami lepas dari perairan Teluk Bayur. Panorama lepas lautan sepertinya lebih menggoda. Pulau-pulau kecil terhampar dengan tegakan-tegakan nyiur hijau. Pasir putih yang berkilau memantulkan terik surya menjadi pembatas daratan mungil dengan samudera luas. Pulau-pulau itu sepi. Tak berpenghuni. Masih alami. 

 



Tak sampai satu jam perjalanan, sampailah kami di dermaga Pulau Sikuai. Seorang pemuda loncat ke kapal lalu melemparkan sauh ke perairan. Dia lalu melemparkan tali yang lalu ditangkap oleh seorang lain untuk diikatkan di dermaga. Sang juru mudi menjaga keseimbangan kapal agar sempurna merapat ke dermaga. Pendaratan lancar. Saya memilih bersantai menjadi orang terakhir yang keluar dari kapal. Biarlah kawan-kawan terlebih dulu.

Melihat Sikuai pertama kali dari dermaga, langsung disajikan pemandangan yang merangsang untuk lekas mencumbui kecantikannya. Hamparan pasir putih. Benar-benar putih, seputih tepung yang berhiaskan dengan nyiur-nyiur hijau melambai-lambai karena angin samudera. Lautan tenang menghijau toska. Sepertinya jernih kaya dengan kehidupan biota laut. Langit pun begitu mengharu biru yang terang menjadi atap kemolekan Sikuai.

“Ayoo, Bal. Lekas snorkeling. “ ajak beberapa kawan satu tim KKN.

Ah, tapi saya tak terlalu bernafsu buru-buru berbasah-basahan. Saya memilih untuk menemani seorang kawan lama sewaktu SMP yang sepertinya jadi suratan takdir, kami bisa ketemu di Tanah Minang ini. Namanya Putra Aditya. Dia adalah karib sekelas yang kemudian berpisah pindah sekolah lalu sempat SMA di USA. Dia asli Minang. Uniknya, asal nenek dia adalah daerah tempat saya KKN. Di Lubuk Jantan, Lintau Buo Utara, Tanah Datar. Dan, paling unik  adalah dia berkawan satu sekolah dengan dua kawan saya yang satu sub unit KKN. Adagium kuno pun berlaku di sini: Dunia memang sempit ya!

              


Putra lebih memilih berjalan menyusuri setapak yang ada di Sikuai. Jalan setapak ini mengelilingi Pulau Sikuai. Dari setapak inilah, bisa dinikmati sajian alam Sikuai yang beraneka ragam. Sudah pasti dari sini, bisa melihat panorama laut membiru ke berbagai penjuru. Di sisi timur pantai, daratan Sumatera dengan Bukit Barisan nampak gagah menjulang dengan kelebatan hutannya. Sedangkan di sisi lainnya, hamparan laut membiru berbataskan cakrawala di Samudera Hindia. Bebatuan granit hitam juga tampak menyembul di salah satu sisi Sikuai. Menambah eksotisnya.

Tapi menikmati Sikuai tidaklah sekedar lautnya saja. Hutan yang teduh nan alami mewarnai sepanjang perjalanan. Tampak beberapa pohon besar berusia ratusan tahun masih tegak berdiri, menjadi pemimpin untuk tumbuhan paru-paru dunia. Monyet ekor panjang dengan malu-malu mengintip dari balik dahan. Sambil menyiuli kami dengan teriakan-teriakan khasnya.

“Pikir mereka emang kami homo? Dasar monyet, kami disiuli” kata Putra. Putra jelas hanya bercanda melihat kelakuan para monyet ini. Dan, kupu-kupu melintas di hadapan kami. Sepertinya sang kupu tak mau kalah untuk eksis dan narsis. Mereka terbang menghinggapi bunga-bunga liar yang ada di hutan Sikuai.

Sambil jalan menikmati suasana, kami berdua benostalgia ke masa lalu. Bercerita tentang kisah-kisah absurd saat seringnya menjahili si Gendut Rovandi. Ah, sambil terbahak-bahak tapi kini malah merasa bersalah. Tak lupa, dia bertanya tentang kabar kawan-kawan yang dulu sekelas. Bagi kawan yang kemudian berlanjut ke SMA dengan saya, saya bisa menceritakannya. Selain itu lost contact. Untunglah tak sekedar cerita saat dulu bersama, Putra merangkai ceritanya dengan pengalaman SMA di negara Barrack Obama. Saya pun menyulamnya dengan narasi tentang apa yang saya lakukan saat KKN di tanah leluhurnya.

Hingga kami dikejutkan oleh seekor biawak raksasa yang sedang bersantai di tengah jalan setapak. Kami agak takut kalau tiba-tiba dia menyerang. Tapi ternyata sang biawak ini lebih takut. Biawak ini langsung menghilang ke semak-semak hutan. Konon, di pulau seluas 4,4 hektar ini juga hidup macan di hutan. Begitulah seperti yang dituturkan oleh sang juru mudi saat perjalanan berangkat. “Ah, serius ini?” Untung ada dua orang melintas dengan sepedanya. Mereka petugas wisata di Pulau Sikuai yang rutin menjaga kenyamanan wisatawan.

              


Kami baru setengah perjalanan berkeliling pulau. Matahari memancar begitu terik. Tepat di atas ubun-ubun. Inilah setengah perjalanan hari. Kaki sudah terasa capek. Keringat deras mengucur. Terlebih saat itu adalah bulan Puasa. Untung saja, tak henti-hentinya pemandangan Sikuai dan sekitarnya sungguh menyejukkan. Pasir putih ada di setiap sudut pantai-pantai Sikuai. Hutan pun setia menduhkan perjalanan. Kami sempat berhenti lama pada sebuah titik dimana ada bebatuan tempat mengalir air dari atas. Sepertinya kalau debit airnya besar, ini akan jadi semacam air terjun mini.

Setelah mengaso dan cukup kekuatan, kami melanjutkan perjalanan. Kami percepat langkah, tapi tetap saling santai bercerita. Tak terasa kami sudah sampai di dermaga. Artinya sudah mengelilingi Pulai Sikuai satu putaran penuh. Memang tidak terlalu jauh. Karena santai sambil menyesap setiap suasana langkah demi langkah, kami memerlukan dua jam. Cukup lama. Tapi demi berbagi cerita dengan kawan lama, itu sudah sangat berharga.

Saya ceburkan diri ke perairan tenang Sikuai. Tak ada ombak. Hanya alun kecil yang tiada berarti. Hanya setinggi paha. Saya berat hati untuk membasahi seluruh badan. Padahal dari atas, terlihat jelas ikan-ikan menari-nari di antara karang. Cukup cantik terlebih bersnorkeling ria. 

Tapi, di tepian pantai, Putra duduk sendiri. Kawan-kawan KKN saya kini giliran melingkari Pulau Sikuai. Putra lebih memilih menikmati suasana semacam “Surga Tropis”. Ah, saya mesti menemani Putra. Saya pun menepi sembari membasuh muka dengan air asin yang jernih.  

Rasanya tiduran di bawah nyiur beralaskan pasir putih ini adalah semacam cara spesial menikmati seisi dunia. Semilir angin dari Samudera Hindia pun membawa cerita kami menguap. Ya saya terbuai oleh kesejukan angin dan alam Sikuai. Mata saya pun memejam. Tak terdengar lagi suara Putra yang daritadi juga sebenarnya sudah lirih bercerita. Barangkali dia lekas menyusul tidur. Kami begitu lelah hari itu.

Saya baru terbangun tatkala Lana, seorang kawan KKN, selesai memutari Sikuai. “Bangun Bal!” ucapnya dengan aksen khas Minangnya. Tegas. Ternyata 45 menit saya tertidur. Tapi, ah cepat sekali kawan-kawan KKN ini menikmati keliling Sikuai.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Trip kami berakhir. Saatnya meninggalkan Pulau Sikuai menuju ke Padang. Kami hanya mengambil one day trip seharga Rp250 ribu termasuk kapal. Jika mengambil paket menginap di resor Sikuai, bisa menikmati sunrise dan sunset menawan dari puncak bukit yang bernama Sunset Plaza. Tentu saja harganya lebih mahal. 

Namun, sehari di Sikuai sudah cukup membekas di hati. Pulau mungil ini mampu membuai kami dengan kecantikannya yang luar biasa. Terlebih, bagi saya. Sikuai begitu spesial. Sikuai telah merajut kembali narasi persahabatan antara saya dengan Putra, sahabat yang lama tak berjumpa. Sayonara Sikuai!

Perlahan perahu menjauh dari dermaga Sikuai. Kemudian tertelan olah lautan biru yang membentur cakrawala. Namun, percakapan di perahu masih riuh tentang Sikuai. Mengenang manis. Dan juga masih berbagi kisah antara saya dan Putra.







All photos by Putra Aditya

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe