Rimbun pekarangan
bambu yang biasanya dikungkung sunyi, pagi ini ditingkahi kemeriahan ratusan
warga. Geliat interaksi kegembiraan menyebar rancak di sekujur lahan teduh di tepian
Kali Kemit yang bersejarah. Mereka sedang berpesta rakyat dalam perhelatan
Pasar Pereng Kali Kemit Desa Grenggeng. Dengan guyub rukun, mereka sedang
merajut anasir-anasir sejarah, budaya, sumber daya, ekonomi dan kebahagiaannya
dalam bingkai lokal desanya.
| Dua bocah memeriahkan pesona Pantai Lawar. |
Saya pikir, orang salah besar datang ke Sumbawa Barat kalau hanya untuk
perkara tambang di Newmont Batu Hijau. Kabupaten yang menempati bagian paling barat Pulau Sumbawa, Nusa
Tenggara Barat ternyata menyuguhkan pesona keindahan alam, kekayaan budaya, dan
keramahan masyarakat yang berkesan. Mengalami langsung dalam Sustainable
Newmont Bootcamp 14-22 Februari 2016 lalu,
saya dipaparkan betapa wisata di lingkar tambang Batu Hijau PT Newmont Nusa
Tenggara (NNT) adalah untaian keindahan yang perlu disambangi bagi traveller
yang mendamba sepenggal surga di bumi.
Perlu diingat, wisata ini adalah wisata lingkar tambang, bukan wisata
tambang. Saya tak bisa menyarankan open pit Batu Hijau PT NNT sebagai destinasi
wisata. Akses umum di perusahaan tambang tidaklah gampang, kecuali kita
diundang dan ada sponsor dari pihak PT NNT. Namun, para pejalan tak usahlah
ragu untuk melancong ke destinasi-destinasi yang berada di kawasan lingkar
tambang PT NNT. Kita akan menjumpai pameran keindahan, cantiknya pantai,
menantangnya ombak, anyesnya air terjun, kekaguman alam bawah laut, wisata
outbond, dan aneka kerajinan masyarakat.
![]() |
| Tinutuan, bubur khas Manado. |
Kuning cemerlang mencolok mata. Langsung menyulut hasrat menggoda lidah.
Begitulah kesan pertama saya berjumpa
dengan Tinutuan ketika dihidangkan oleh pelayan Kios Pelangi, Manado ibukota
Sulawesi Utara. Tak diragukan lagi, sejak
pandangan pertama Tinutuan memiliki aura pesona yang sangat khas. Kuliner yang menjadi kebanggaan orang Manado ini sukses
memikat atensi saya bahkan sebelum saya mencoba mencicipinya.
Malam itu kota Manado masih
riuh dan gemerlap dengan aktivitas penduduknya. Kota di ujung utara pulau
Sulawesi ini memang tumbuh pesat menjadi kota yang sibuk, dari pagi hingga
malam. Saya baru kali ini hadir di Manado, baru tiba saat sore jelang maghrib.
Sesuai minat kuat terhadap kuliner setempat, saya pun lekas mencari Tinutuan.
![]() |
| Curug Sidanro, Wadasmalang, Kebumen |
Ini tentang
sebuah kejutan! Belum pernah ada gambaran sebelumnya dalam benak saya. Belum
ada potret tertancap di laman internet yang pernah saya lihat. Belum pernah
saya dengar bisikan kisah tentang air terjun ini. “Curug Sindaro”, kata Pak Warsino, penduduk
Desa Wadasmalang, Karangsambung, Kebumen yang menjadi tempat motor kami
terparkir.
Ah, perjalanan blusukan memang intim dengan kejutan.
“Jalan terus ya mas. Kalau belum ketemu air terjun, jangan balik!” pesan Warsino.
![]() |
| Pantai Pecaron, Kebumen. |
Bergulung-gulung. Menghajar daratan. Menerjang karang. Merayapi pasir pantai hitam. Ombak samudera selatan memecah kesunyian Pantai Pecaron. Sebuah titik sepi yang tersembunyi di pesisir selatan Kebumen. Terselinap di balik lekukan tepian perbukitan karst Gombong selatan. Belum banyak yang tahu tentang kisah pantai ini. Padahal dia memukau dengan kemeriahan pesonanya. Sepi manusia tapi riuh panorama.
“Kamu mesti ke Pecaron. Pantainya bagus tapi tersembunyi.
Hidden Paradise Kebumen” kata Anas
@anasafifi, sobat petualang saat dia ‘memanasi’ saya ke Pecaron.
| Sepenggal savana Sumba beserta kuda-kudanya. travel.kompas.com |
Rinduku pada Sumba
adalah rindu padang-padang terbuka / Di mana matahari bagai bola api, cuaca
kering dan ternak melenguh / Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda /
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
Sepenggal bait akhir puisi “Beri Daku Sumba” sudah lama berputar-putar pada labirin otak saya. Menunggu jalan keluar. Mewujud nyata. Sang penyair, Taufik Ismail, tahu betul bagaimana saya begitu merindu pada tanah Sumba. Rindu sekali bisa hadir menyesap aroma savana-savana luas dengan kuda-kuda yang melenggang bebas. Rindu sekali dapat bercengkerama dengan pria-pria yang duduk gagah di punggung kuda mahir menggiring gembala. Rindu sekali Sumba bisa jadi nyata.
Sebuah senja pada sebuah awal Januari tahun ini, di
Malioboro Jogja. Ribuan kilometer dari Sumba. Saya terduduk di antara lalu
lalang pejalan. Di antara hiruk pikuk kendaraan. Di antara realitas bersenang-senang
wisatawan. Saya sedang menunggu seorang dia. Kami berjanji bertemu untuk menyusun
‘itenary’ perjalanan. Sebuah perjalanan petualangan yang saya beri tajuk
“Kembara Nusa Tenggara”. Sumba menjadi satu wilayah yang akan kami sambangi.
Flobamor – Flores Sumba Timor tapi tanpa Alor – pada penghujung akhir Februari.
Tapi, setengah jam sudah saya menunggu. Tak jua datang seorang
dia. Ah, bukannya cemas, suasana riuh Malioboro membawa imajinasi saya pada
sosok Umbu. Siapakah Umbu? Umbu tidaklah asing dengan Malioboro. Lelaki ini juga
tidaklah asing tentang Sumba. Karena Umbu lah, Malioboro dan Sumba menjadi
wilayah yang sangat dekat dan akrab. Ribuan kilometer tak lagi berjarak. Umbu
adalah “Presiden Malioboro”. Umbu adalah legenda puisi dari Sumba.
Nama lengkapnya Umbu Wulang Landu Paranggi. Padanya mengalir
darah bangsawan, cucu seorang raja Sumba. Dia dilahirkan di Kananggar,
Waingapu, NTT, 10 Agustus 1943. Meski lahir di Sumba, dia selalu menganggap
Yogyakarta adalah tempat kelahiran keduanya. Umbu terlibat membidani dan
mengasuh Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta tahun 1969. Karena kebiasaannya
nongkrong di kawasan Jalan Malioboro, dia dijuluki “Presiden Malioboro”. Hingga
1979, Umbu pindah ke Bali.
Di Uzbekistan, ada
padang terbuka dan berdebu / Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
![]() |
| Gunung Api Purba Nglanggeran yang memesona. |
Bebatuan hitam nan besar tegak lurus menjulang. Seperti
menantang langit yang saat itu perlahan bangkit dari kegelapan. Bebatuan ini
berbaris, berjajar serasa bersikap hormat menyambut kedatangan kami yang pagi
itu berniat mendakinya, menaklukkannya.
Di kaki-kakinya, suasana Desa Nglanggeran, Pathuk,
Gunungkidul masih sunyi. Belum beranjak dari kenyamanan malam yang tenang.
Tapi, saat tiba di parkiran wisata Nglanggeran, kami mesti lekas berjalan
mengejar impian: Mengejar baskara terbit di Puncak Nglanggeran.
![]() |
| Pantai Parai Tenggiri di Bangka. |
Ya, di Bangka inilah pantai paling terkelola dengan baik.
Pantai Parai Tenggiri. Ada resor bintang empat yang memoles Pantai Parai
Tenggiri menjadi kawasan eksklusif. Saya pun harus merogoh kocek Rp 25.000
untuk bisa masuk. Untung, ada bonus soft drink yang cukup mengusir dahaga di
tengah siang Bangka yang terik. Ah tak apalah, sekali ini saya menikmati pantai
komersil yang menjadi tujuan favorit para turis asing dan domestik berwisata di
Pulau Bangka.
Pantai Parai Tenggiri memang pantas menjadi pantai terindah
di Pulau Bangka. Tak sekedar pasir putih yang berkilap bak intan permata, di
pantai ini juga terserak bebatuan granit di antara biru toska lautan dan pasir
putihnya. Sebuah pulau ada di seberang pandang yang dikelilingi bebatuan granit
yang besar beraneka rupa. Namanya Pulau Tenggiri. Panoramanya sungguh eksotik.
Setiap yang melihatnya pasti akan berdecak kagum padanya.
![]() |
| Pulau Sikuai yang Cantik |
Juru mudi telah menyalakan mesin perahu. Sebuah perahu kayu telah penuh dengan rombongan KKN PPM UGM di Sumatera Barat. Saya bersama kawan-kawan akan berwisata ke Pulau Sikuai, Kota Padang. Greeeeng.. Greeeng...
Perlahan tapi pasti perahu meninggalkan Pelabuhan Muaro, pelabuhan bersejarah yang menjadi urat nadi perdagangan Padang sejak abad 17. Kami menyusuri Sungai Batang Arau. Saya tertancap pada pemandangan bangunan-bangunan tua jejak kolonial di tepi sungai. Asyik melemparkan diri pada suasana kemegahan Padang di masa lalu. Di sungai ini, hasil bumi ranah Minang dikirim ke Eropa. Tak terasa, perahu telah lepas dari muara Sungai Batang Arau. Kini kami berada di lautan Samudera Hindia.
Bukanlah ombak yang bergulung-gulung hebat. Suasana Samudera Hindia begitu tenang. Jauh dari kesan lautan terluas kedua di dunia yang gahar. Ternyata pulau-pulau kecil di sekitar Padang yang melindungi perairan sekitar daratan Sumatera dari ganasnya ombak. Saya pun menjadi syahdu menikmati panorama. Bukit Gunuang Padang tempat makam Siti Nurbaya tampak asri menjulang di daratan. Dari kejauhan, tampak juga Pantai Air Manis yang legendaris karena kisah Malin Kundang.
Sekarang sang perahu kecil berhadap-hadapan dengan kapal-kapal besar. Ada kapal kargo, kapal tongkang, kapal tanker, kapal semen yang melintas di dekat perahu kayu kami. Kapal-kapal besar ini sedang berlabuh di perairan Teluk Bayur. Tapi, mereka hanya bisa menambatkan sauh dari luar pelabuhan. Teluk Bayur telah mendangkal.
Kini kami lepas dari perairan Teluk Bayur. Panorama lepas lautan sepertinya lebih menggoda. Pulau-pulau kecil terhampar dengan tegakan-tegakan nyiur hijau. Pasir putih yang berkilau memantulkan terik surya menjadi pembatas daratan mungil dengan samudera luas. Pulau-pulau itu sepi. Tak berpenghuni. Masih alami.
![]() |
| Sunrise of Suroloyo Peak. @iqbal_kautsar |
Setitik terang yang redup telah muncul di ufuk timur. Padahal rembulan masih menampakkan wajahnya yang syahdu. Tapi, sang kabut menelannya buru-buru. Serta, menelan motor yang kami pacu. Kini, jejalanan naik. Menanjak tiada ampun. Kelebatan hutan bergantian dengan noktah-noktah pemukiman. Sunyi dan lengang.
Untung, desir suara serangga dari rimbun pepohonan mengusir kesepian perjalanan kami selepas shubuh. Suhu dingin khas pegunungan tiada hentinya menyapu badan kami yang rapuh. Hingga kami berhenti di tempat parkir Suroloyo, Dusun Keceme, Gerbosari, Kec. Samigaluh, Kulon Progo, DIY.
Petualangan belum berakhir. Masih berlanjut malah makin menantang. 286 anak tangga mesti kami tempuh demi membawa diri ke puncak. Belum sampai 50 anak tangga, kami ngos-ngosan. Kemiringan tangga memang kejam. Hingga 60 derajat. Dan, juga kami tak sempat beradaptasi pada ketinggian. Serba tergesa-gesa untuk menjemput mentari terbit di Puncak Suroloyo. Kami pun mendesah nafas tiada beraturan.
Puncak Suroloyo ternyata sudah ramai dengan kehadiran anak-anak manusia. Kami kalah pagi. Untung saja kabut putih tidak turut meramaikan puncak Suroloyo. Kalau tidak, lekukan lanskap di kaki perbukitan dan empat gunung di seberang pandang hanya sekedar putih nan membosankan.
Ah, betapa indahnya sekarang. Berada di puncak tanpa selimut kabut. Sayangnya, langit tak begitu sempurna pagi itu. Awan menghijab seluruh penjuru. Namun, tetap saja saya bersyukur. Dari ketinggian 1.091 meter, titik tertinggi pegunungan Menoreh, hamparan daratan Borobudur dan Magelang begitu jelas. Dan eksotis. Karena kabut tipis berada rendah di atas daratan itu. Menyelubungi rumah, sawah, bukit rendah, dan Candi Borobudur, mahakarya Mataram Kuno abad 9 yang menjadi keajaiban dunia.
![]() |
| Bori' Kalimbuang, Situs Megalitik Toraja |
Batu-batu tegak berdiri pada hamparan hijau tanah rumput. Berbentuk menhir. Tinggi memanjang menyembul dari daratan. Tapi tak seragam. Ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang pendek ada yang tinggi. Saya tertarik menyelinap masuk di antara bebatuan ini. Berpindah dari satu batu ke batu lain. Kilat tak menjejakkan suara. Ah, saya sedang iseng bermain sembunyi-sembunyian. Dooorrr! Basho terkaget ketika sibuk mencari saya yang seperti hilang tertelan di Rante Kalimbuang.
“Keseluruhan batu menhir di sini konon berjumlah 102 buah. Terdiri dari 54 menhir kecil, 24 sedang dan 24 batu berukuran besar. “jelas Basho seraya ia menguasai diri dari keterkagetannya. Untung saja Basho orangnya ramah. Tak nampak ada marah setelah saya jahili. Dia sangat profesional.
Rante Kalimbuang merupakan kawasan utama di Bori’ Kalimbuang, Sesean, Toraja Utara. Rante menjadi tempat upacara pemakaman adat atau Rambu Solo’ yang dilengkapi dengan menhir-menhir yang dikenal dalam bahasa Toraja sebagai simbuang batu. Di Tana Toraja sebenarnya banyak ditemukan situs megalith seperti ini. Di Bori Kalimbuang, menhir didirikan demi menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Bebatuan menhir ini ada yang berusia hingga ratusan tahun.
Tidak sembarang untuk membangun menhir. Masyarakat harus mengadakan suatu upacara adat yang dinamakan Rapasan Sapurandanan. Dalam upacara ini, kerbau yang dikurbankan minimal sejumlah 24 ekor. Jumlah yang dikorbankan sesungguhnya tidak berdampak pada ukuran tinggi dan besar menhir. Sama saja nilai adatnya. Tetapi sekarang, banyak orang yang menganggap semakin tinggi dan besar menhir yang didirikan, maka semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Barangkali benar juga. Pada menhir-menhir yang tinggi, saya amati batuannya masih tampak baru.
![]() |
| Senja Pantai Nglambor Gunungkidul |
Narasi kehidupan kadang menjemukan. Ia butuh pelampiasan. Butuh pelarian. Senja bisa menjadi semacam ekstasi pembebasan. Penenang sekaligus penghibur sesaat dalam nestapa bayang-bayang. Memerdekakan sejenak dari belenggu absurd dialektika kegamangan. Dan, diri saya tertambat pada kesunyian sebuah sore di Pantai Nglambor. Terpencil. Terpelosok.
Baskara kuning perlahan menuju cakrawala. Elegan. Entah kenapa. Barangkali keberuntungan saya, surya jatuh ke lautan tepat pada sebuah celah. Di antara tebing dan pulau karang. Sepertinya dia butuh sang pengapit untuk menjaganya seimbang. Manja. Tapi itulah estetika dalam senja. Matahari pun lekas menyentuh ufuk barat. Tenggelam. Tertelan oleh lautan Samudera Hindia.
Semburat jingga kini menjadi sisa penampakan sang surya. Langit memerah dengan padanan garis awan diagonal. Memanjang seperti dia lah sang lukisan tunggal semesta. Deburan ombak menyapu kaki saya. Pasir putih di pijakan terasa makin dingin. Angin dari buritan daratan menyapu bagian belakang saya. Jenis angin inilah yang mengantarkan bapak-bapak nelayan mengarungi lautan dalam pekat malam. Mengais nafkah penghidupan di samudera lapang.
Saat inilah, kedamaian timbul dari sanubari sukma. Terbit di antara tenggelamnya senja. Kegalauan saya pun berhasil terhalau dalam sebuah ayat. Saya merapalkannya dalam kesendirian. Sekedar berteman suara ombak perlahan.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran 190)Beberapa menit kemudian, dua pulau karang besar pelindung Pantai Nglambor mulai menghitam. Warna hijau rerumputan pada daratan curam karang itu menjadi samar. Lautan lepas pun tak lagi biru, tapi kelam diselimut kegelapan. Pulang.
![]() |
| Kete' Ketsu, wisata terkenal di Tana Toraja |
Belasan mobil menyesaki tempat parkir. Belasan motor di seberang berjejalan. Berhimpitan dalam minimnya ruang. Begitulah pandangan pertama ketika saya memasuki areal Kete’ Ketsu. Kontras dengan imajinasi yang dari tadi saya nikmati. Ini benar-benar tempat wisata!
Loket tiket menjadi penjaga gerbang jalan setapak menuju Tongkonan Kete’ Ketsu. Deretan toko souvenir memanjang di samping kiri. Seperti sang pengiring saya melangkah. Toko-toko ini menjual beraneka Tau-tau mini, ukiran Toraja, kaos, lukisan, kalung manik-manik, dan lain-lain. Di depan pandangan, Tongkonan Kete’ Ketsu terlihat anggun nan menawan. Sawah menghijau memeluk jazirah Tongkonan yang di tepiannya tumbuh nyiur-nyiur. Dibelai angin semilir, nyiur itu melambai-lambai selaksa mengundang saya untuk lekas menghampirinya.
Ah, tidak perlu cepat-cepat. Tidak perlu buru-buru. Saya masih menikmati suasana. Saya sedang ingin memandang ke seberang sisi kanan sawah. Deretan menhir menyembul dari permukaan miring tanah. Berbagai ukuran bebatuan megalitik menghias dengan dikelilingi hijaunya rerumputan. Mereka telah berdiri melintasi usia ratusan tahun. Menjadi penonton setia lalu lalangnya orang-orang yang berkunjung ke Kete’ Ketsu.
Tibalah saya di lokasi Kete’ Ketsu. Jajajaran tongkonan besar berhadap-hadapan dengan Alang Suro atau lumbung padi. ‘Mereka’ dipisahkan oleh halaman kerikil yang disertai jalan setapak di depan Tongkonan. Di sekitar Tongkonan dan Alang Suro tumbuh taman dan rerumputan yang menghias. Lokasi ini benar-benar rapi dan terawat. Benar-benar standar lokasi wisata.
Tapi tunggu. Sepertinya saya akrab dengan pemandangan ini. Ingatan saya pun meluncur ke masa silam. Meraba-raba di labirin-labirin otak. Oh iya. Waktu SD saya pernah dikirimi paman saya dari Makassar. Sebuah kartu pos bergambar Kete’ Ketsu. Persis tergambar di kartu pos seperti apa yang sekarang saya saksikan. Memori saya seperti sebuah legitimasi. Kawasan Kete’ Ketsu sudah sejak dulu sebagai lokasi paling favorit wisata Toraja.
Gerimis rintik-rintik bertaburan. Sedikit demi sedikit, tapi membawa bumi lereng Menoreh basah kuyup. Kabut rendah menyelimut di atas pepohonan. Hawa dingin setia menyapu badan dari berbagai penjuru. Roda motor terus berputar. Melintasi jejalanan licin beraspal.
Hingga pada sebuah jembatan. Orang setempat menyebutnya Kreteg Gantung Duwet. Tebing sedalam 70 meter tampak ringkih menjadi tapak kedua sisi jembatan. Sungai Progo mengalir di bawahnya deras membawa lumpur-lumpur pegunungan. Cukup menegangkan untuk melihat kerentanan yang sewaktu-waktu bisa timbul pada jembatan gantung tertua peninggalan Belanda. Jembatan ini telah melintas Sungai Progo sejak 1930-an.
Namun, tiga air terjun tebang dekat sisi-sisi jembatan menyamarkan kegelisahan. Satu di sisi utara. Dua di sisi selatan. Betapa menyedapkan arus liar Progo dijatuhi oleh air dari ketinggian. Terlebih, sebuah eksotika. Satu air terjun menaburi sungai dari atas pematang sawah di tepian tebing. Tapi. Saya tak boleh larut pada kamuflase keindahan. Mesti tetap waspada. Fokus menyeberang ke tepian di jembatan yang dianugerahi cagar budaya sejak November 2008 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Saya berhasil melintas kertek gantung Duwet. Dan, saya juga berhasil berpindah provinsi. Dari D.I. Yogyakarta ke Jawa Tengah. Kreteg Gantung Duwet ini menghubungkan Dusun Duwet di Desa Banjarhajo, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, D.I Yogyakarta dengan Dusun Gutekan di Desa Bligo, Kecamatan Ngluwar, Magelang, Jawa Tengah.
Langsung saya disambut bau menyeruak durian. Menggiurkan. Menyulut gairah kehangatan di tengah hawa dingin hujan. Deretan durian di kanan kiri jalan seperti memanggil saya untuk lekas mendekatinya, membukanya dan melahapnya. Baiklaah. Ini memang yang menjadi tujuan saya menembus hujan. Berkelana jauh dari Jogja ke daerah perbatasan.
Pasar durian di Bligo, tepat di sebelah timur Jembatan. Sore itu, ramai dengan para pengunjung. Demi durian Menoreh terbaik tapi murah, banyak orang bersedia ‘blusukan’ hingga ke pelosok ini. Beberapa motor dan mobil seperti ‘sabar ‘berjejer menunggui pemiliknya menikmati durian-durian yang berasal dari perbukitan Menoreh. “Monggo mas, dipilih duriannya.” sambut seorang bapak separuh baya menjajakan duriannya.
![]() |
| Kebun Buah Mangunan di Imogiri dengan panorama Sungai Oyo. |
Seperti seekor ular yang mendesak-desak hamparan hijau
bergelombang. Melekuk membelahnya begitu dalam dan curam. Sungai Oyo dengan
gahar berkelok-kelok membelah perbukitan Gunungkidul. Siang itu, saya terduduk
di salah satu tepian bukit di Kebun Buah Mangunan, Dlingo, Bantul. Di bawah
sebuah pohon kecil tapi meneduhkan dari terik surya, saya memandang bebas.
Menerawang ke segala penjuru arah yang lapang.
Ah, terbersit seperti panorama Grand Canyon Amerika Serikat.
Tapi, ini bukan dataran kerontang. Ini perbukitan hijau yang menyejukkan.
Terlebih, ada sebuah durian lokal yang menemani kami. Mana ada di Grand Canyon,
durian bisa hadir? Ini buah tropis bung!
Nuansa tua di Lasem Rembang.
|
Tembok-tembok tinggi bercat putih. Berhadap-hadapan dan berimpit-impitan. Di dalamnya, tersembunyi rumah berasitektur China. Lorong-lorong jalan yang melintang membentuk semacam kenangan yang hadir dari masa silam. Bahwa inilah Lasem, sebuah bagian penting dari narasi besar jejak Tionghoa di Pulau Jawa. Namun, dari bangunan-bangunannya yang mengelupas dan menghitam, Lasem seperti bagian sejarah yang memudar.
Sebuah pagi. Lasem seperti santai menatap hari. Anak sekolah
tak terlihat bergegas ke sekolah. Menghayati penuh setiap kayuhan sepeda. Buruh
batik juga tenang menuju tempat kerjanya. Pria dan wanita renta Tionghoa
menyesap pagi di pintu depan rumah. Menyambut surya beserta udara bersih
anugerah semesta pagi.
![]() |
| Pantai Teluk Uber, Bangka. Pesona batu granit di Bangka. |
Yeess! Tiket sudah dibayar. Pergi pulang. Saya kini bisa berpetualang di Pulau Bangka!
Matahari begitu terik siang itu. Panasnya membuat kerontang seisi Yogya. Namun, di dalam ruangan ATM Mandiri Jl. Kaliurang, saya menemukan kesejukan. Suhu AC membelai saya nyaman bertransaksi. Tiket berangkat Jakarta – Pangkalpinang sebuah maskapai domestik, saya bayar lewat ATM Bank Mandiri. Transaksi berhasil. Tiga menit kemudian, saya bayar tiket Pangkalpinang – Jakarta untuk pulang. Kini dengan maskapai yang lain. Sama-sama tiket promo.
Begitu cepat. Begitu mudah. Begitu nyaman saya mengurusi transportasi menuju Pulau Bangka, tempat yang sengaja saya pilih sebagai destinasi wisata untuk kado ulang tahun saya sendiri. Sebuah hari pada bulan September 2012. Bank Mandiri seperti menyediakan sebuah karpet merah kepada saya untuk merayakan hari spesial tersebut. Karpet merah yang mengantar langkah saya menuju pesawat yang menerbangkan ke Bangka sebulan kemudian setelah saya memesan tiket.
Perjalanan saya ke Bangka sesungguhnya adalah bagian dari cita-cita besar saya untuk menjelajahi ke seluruh provinsi Indonesia. Dalam bahasa yang populis, saya ingin berwisata ke tempat-tempat menarik di penjuru negeri, di 34 provinsinya. Namun, saya tak sekedar populis. Sesungguhnya saya ingin memetik I, N, D, O, N, E, S, I, A. Seperti juga Jalaludin Rumi pada The Masnavi mempertanyakan dalam syair “Do names not tell of a reality? Can rose grow from R, O, S, and E?” Tidakkah nama semestinya menunjukkan realitasnya? Seperti mawar yang berasal dari M, A, W, A, R?
Saya ingin mengetahui Indonesia tidak dari sekedar namanya: I, N, D, O, N, E, S, I, A. Melainkan langsung berkunjung menjelajahi negeri. Melihat dari dekat realitasnya dan memaknainya. Berwisata pada keindahan alamnya, keagungan budayanya, serta keramahan dan keragaman masyarakatnya. Dari situ saya ingin memburu tentang apa hakikat saya untuk Indonesia, tentang apa yang bisa saya petik dari I, N, D, O, N, E, S, I, A. Bukankah berwisata bisa juga menjadi proses pencarian jati diri?
![]() |
| Alam pedesaan Toraja yang khas, laksana sebuah imajinasi |
Di Toraja, di desa-desanya, imajinasi leluasa keluar dari ruang mimpi. Bebas dan dalam, tanpa mengenal pembatasan. Tidak terkekang oleh kemasan. Layaknya air, ia mengalir karena nurani. Tulus dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Pedesaan Toraja secara lugu hadir tak mengenal keraguan. Tidak ada tuntutan bersolek untuk memikat para wisatawan. Semua masih didasarkan nurani dan jatidirinya. Itulah roda-roda realitas yang berputar alami tiada henti.
Jejalanan tidak lagi beraspal. Aspal sudah cukup menghubungkan destinasi-destinasi terkenal. Bebatuan makadam yang sudah tidak tersusun rapi adalah jalan yang harus kami lewati. Dari Sangalla’ menuju Kete’ Ketsu.
“Ini jalan pintas, tidak semua wisatawan lewat sini. Kita akan benar-benar menikmati pedesaan Toraja yang khas dan alami.” pamer Basho. Hanya sedikit pemandu yang menyarankan jalan ini. Jalannya keras berbatu. Tidak mudah.
Ya benar kata dia. Belum jauh beranjak dari ujung aspal. Jalanan naik dan menemukan kubangan air. Mobil pun berganti gigi. Dengan perlahan dan hati-hati, akhirnya terlewati. Ah, menemukan kubangan lagi. Terlewati lagi. Begitu seterusnya, lagi dan lagi. Hingga jemari saya tak mampu menghitung lagi. Namun, setiap kali bergerak hati-hati, sepertinya hutan bambu di sisi-sisi jalan memberi semangat kami untuk berjuang melampaui kubangan. Begitu lebat. Tak hanya itu, pohon-pohon tinggi menjulang di dalam kerimbunan. Hingga kami turun. Melepas diri dari cengkeraman hutan.
Sebuah perkampungan di tepi hutan menyambut kami. Bukan disambut dengan tarian-tarian penghormatan, melainkan saya diikrami dengan panorama menakjubkan. Sebuah kampung dengan Tongkonan dan Alang Suro dikelilingi persawahan bertingkat-tingkat. Seperti sebuah kampung dalam utopia. Tapi ini adalah realita. Imajinasi keluar dari mimpi yang indah. Jalan masuk melewati kampung. Kami melintas mendekat. Mengenal lebih akrab.
Kepada rombongan anak SD yang lewat, saya melambaikan tangan. Dengan muka-muka polos dan ramahnya, mereka membalas. Namun, sambil heboh teriak-teriak dan sambil tertawa lepas. Sepertinya mereka sedang berlomba menunjukkan siapa yang paling keras. Bagi anak-anak, paling keras berteriak barangkali adalah paling jagoan. Ah, senangnya saya disambut sampai diteriak-teriaki. Hahaha.
Anak-anak SD baru saja pulang dari sekolahnya. Mereka berjalan tanpa alas kaki. Sepatu-sepatunya mereka tenteng. “Kenapa tidak dipakai saja sepatunya?” selintas di hati saya. Tapi, saya seketika sadar. Sekolah di negeri ini adalah institusi yang sangat formal di permukaan. Formal sampai-sampai pada urusan kebersihan di sekolah. Anak seperti mereka harus menyelamatkan perlengkapan sekolahnya agar bisa ‘diterima’ di sekolah. Berada di kelas dan di sekolah harus bersepatu agar rapi dan bersih.
Tapi, perjalanan berangkat dan pulang sekolah sepertinya tidak ada urusan dengan rapi dan bersih. Atau bahkan tidak ada urusannya dengan sekolah. Berada di sekolah adalah dimensi berbeda dengan berangkat dan pulang sekolah. Inilah yang terjadi di negeri ini, sampai memelosok ke Toraja. Ketika sekolah hanya tersembul di permukaan.
Bisa dibayangkan, anak-anak desa Toraja ini harus melangkah di atas tanah basah dan becek. Dalam bayang-bayang bahaya yang mengintai seperti paku, beling, duri bahkan kuman. Namun, melihat wajah semangat mereka bersekolah, kekhawatiran saya agak tertepis. Setidaknya pada saat itu. Perlahan mobil menjauh dari kampung. Perlahan sayup-sayup juga terlihat anak-anak SD itu.
![]() |
| Jalan di pedesaan Toraja. Asri. Belum beraspal. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Persawahan di Tana Toraja. Di pedesaannya adalah sebuah kedamaian. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Sisi lain persawahan Toraja. Meluas berbatas pegunangan. @iqbal_kautsar |
Jalanan kini datar. Tapi tetap berbatuan bergelombang. Lurus membelah persawahan yang sangat lapang. Hamparan padi-padi elok dirajut dengan pematang-pematang. Sebagian sawah sudah dipanen. Tersisa banyak kubangan. Di ujung kejauhan, jajaran pegunungan menjadi pembatas cakrawala. Kokoh melingkari Toraja. Setia menjaga Toraja beserta khasanah pedesaannya. Imajinasi saya mengembara pada sebuah tanah nirwana. Asri, sepi, sunyi. Mobil saya saat itu barangkali adalah satu-satunya polusi. Peradaban modern seringkali beradu peran dengan kemolekan alam dan pedesaan.
Kelezatan menikmati romantika persawahan semakin menjadi-jadi tatkala sosok hitam dan putih bermesraan. Apa itu? Sang hitam besar, tapi sang putih ringkih. Sebuah kerbau sedang malas berkubang di sawah. Di atasnya, seekor bangau putih bertengger di atas pundak sang kerbau. Tidak ada keberatan bagi sang kerbau untuk dihinggapi si makhluk ringkih ini. Sebuah simbiosis yang tak mengenal batas dan balas. Ini sebuah realitas penambah manis nirwana pedesaan Toraja. Kedua makhluk ini melengkapi panorama puluhan warga yang sedang tekun memanen padi. Bertebaran di setiap petak-petak sawah.
![]() |
| Kemesraan kerbau dengan seekor burung. @iqbal_kautsar |
Beberapa orang berada di tengah tumpukan bambu-bambu. Dari kejauhan, begitulah saya melihat mereka. Selepas dari arena persawahan, kembali kami memasuki perkampungan. Dikerumuni oleh pohon-pohon yang asri. Mobil berhenti sejenak. Saya pun mendekat.
Seorang bapak tua sedang memotong bambu dengan bendonya. Memotong menjadi kecil-kecil berdasarkan ukuran ‘template’ yang telah ada. Seorang bapak lain memilah-milah batang bambu. Kemudian dia membaginya menjadi beberapa bagian yang masih besar. Dari yang besar lalu dipotong-potong menjadi lebih kecil. Di sisi lain, ada pria yang lebih muda tampak menyusun bambu-bambu menjadi sebuah konsep kerangka. Saat itu siang makin menerik. Tapi, belum tampak rona lelah bagi para bapak-bapak pekerja itu.
![]() |
| Aktivitas pekerja atap tongkonan |
“Sedang buat apa pak?”
“Atap untuk tongkonan.” Di tengah kesibukannya, salah seorang pekerja menjawab. Sembari dia menghela nafas dan melempar senyum kepada saya. Ramah di antara lelah. Luar biasa.
“Bambu-bambu ini akan kami susun menjadi atap. Dirangkai-rangkai dulu di bawah. Nanti setelah jadi baru dipasangkan di badan bangunan tongkonan. DI sana..” Dia seraya mengacungkan jarinya yang berkeringat ke arah kompleks tongkonan di samping tempat pekerja-pekerja itu membuat atap.
Atap Tongkonan ini terbuat dari bambu-bambu pilihan yang disusun tumpang tindih. Dikait oleh beberapa reng bambu dan diikat oleh tali bambu/rotan. Fungsi dan susunan demikian untuk mencegah masuknya air hujan melalui celah-celah, dan sebagai lubang ventilasi. Susunan bambu ditaruh di atas kaso yang terdapat pada rangka atap. Susunan minimal 3 lapis, maksimal 7 lapis. Setelah itu disusun hingga membentuk seperti perahu.
Dilihat dari kompleks bangunan tongkonan, akan dibuat atap tongkonan yang modern. “Nanti bambu-bambu ini akan ditutup dengan seng”, kata bapak itu lagi. Di Toraja, memang telah terjadi transformasi bangunan tongkonan. Lebih awet, ringkas dan praktis begitulah alasannya. Transformasi paling menonjol adalah dari atapnya.
![]() |
| Memotong bambu untuk membuat atap tongkonan. @iqbal_kautsar |
Pada tongkonan tradisional, atapnya ditutup dengan rumbia-rumbia kering. Di atas rumbia-rumbia itu biasanya hidup tanaman yang menghijau. Tongkonan modern menggunakan seng sebagai atap untuk menutupi susunan-susunan bambu itu. Kemudian seng itu dicat berwarna merah. Meski begitu, ada pula yang membuat atap modern semi tradisonal. Menggunakan penutup seng, tetapi dilapisi dengan rumbia-rumbia yang tipis. Selama menjelajah Toraja, menurut saya yang paling eksotis adalah tongkonan beratap rumbai-rumbai yang ditumbuhi tanaman. Nuansa otentisitas tetap terjaga.
Mooooooooooooooooooo.... Ada seekor kerbau di tengah ladang di tepian Tongkonan. Kali ini dia sendirian. Tertali dalam kesunyian. Tampaknya dia menanti penggembalanya menarik pulang ke kandang. Mengais makan di antara bekas-bekas batang padi sisa panen. Suara kerbau mengiringi kepamitan saya dari para pekerja. Sampai jumpa.
Tidak ada lagi sawah yang meluas. Tapi, sawah tetap ada bertengger di lahan-lahan sempit. Bertingkat-tingkat. Mengisi lahan-lahan di antara tepian sungai dan terjalnya bukit. Jalanan tak berganti. Masih berbatu dan berkubang. Kini naik turun meski tak securam tadi.
Di langit, matahari siang menuju ke atas ubun-ubun. Namun, awan yang berarak mendinginkan suasana. Malah menjelang siang, mendung hitam berusaha mengambilalih keadaan. Tentu, saya berharap semoga hujan tak menangis di kolong langit ini. Jelajah Toraja masih belum sampai setengah hari.
Tibalah saya di Karuaya. Sebuah kampung pemukiman yang terpelosok dari hingar bingar wisata Toraja. Sensasi kesunyian adalah nilai tambah yang mengunggulkan Karuaya dibanding daerah lain. Ada kompleks Tongkonan yang berumur cukup tua di sini. Tepat berada di sisi kanan jalan. Jalan itu juga menjadi pembatas kawasan di sebelah utara Tongkonan. Sedangkan di sebelah selatan, menjulang kekar sebuah tebing yang membatasi sekaligus melindungi Tongkonan Karuaya.
![]() |
| Deretan Tongkonan Karuaya. Terawat dan Asri. Jauh di pelosok Toraja. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Alang Sura. Lumbung yang digunakan menyimpan padi, gabah dan beras. Jaring pengaman ekonomi. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Anak-anak kecil di Karuaya. Malu-malu tapi ramah. @iqbal_kautsar |
Lima buah tongkonan berdiri gagah. Rerumputan hijau menjadi alas yang halus, selaksa karpet menghampar. Tongkonan ini berarsitektur masih tradisional dengan beratapkan rumbai-rumbai. Tetumbuhan hijau menghiasi atapnya yang hitam. Tongkonan ini menghadap ke utara. Ini sesuai aturan adat bahwa setiap tongkonan harus menghadap ke arah utara yang melambangkan awal kehidupan. Sedangkan bagian belakang rumah menghadap arah selatan yang melambangkan akhir kehidupan.
Tongkonan berbentuk perahu layar. Tradisi lisan masyarakat Toraja meyakini bahwa bentuk itu dilatarbelakangi datangnya penguasa pertama di Toraja, dari arah selatan Tana Toraja dengan mempergunakan perahu yang dinamakan Lembang melalui sungai-sungai besar seperti sungai Sa’dang. Bentuk perahu itulah ilham pembuatan rumah tongkonan, sehingga bentuknya menjulang ke depan dan ke belakang.
Di depan Tongkonan, ada Alang Suro yang jumlahnya sebanyak Tongkonan. Alang Suro ini digunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan terutama padi, gabah dan beras. Saya mencermati Alang Suro di sini masih digunakan. Ikat-ikatan padi sehabis dipanen terlihat di dalam Alang Suro. Ada juga beberapa karung beras dan gabah. Pada Alang Suro, tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon palem (bangah) yang licin. Ini dimaksudkan agar tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Tiba-tiba seorang nenek tua datang menghampiri saya. Khas wanita Toraja. Berpakaian Toraja dengan passapuatau penutup kepala. Dia langsung meminta jabat tangan dengan saya. Tak banyak kata. Tapi dia ramah menawarkan sebuah senyum yang merekah. Sebuah senyum yang bisa menyamarkan usianya. Kira-kira dia berusia 80-an tahun. Terlihat dari keriputnya yang menghiasi wajah rentanya. Namun, semangat hidupnya masih tinggi. Enerjik. Tidak ada raut lelah dan lemah yang menyusutkan.
Sembari mengulum kinang daun sirih yang menjinggakan giginya, dia mengucapkan sepenggal kata pada saya. Suaranya lirih. Hingga saya perlu mendekatkan telinga saya ke dekat mulutnya.
“Selamat datang”. Ternyata dia ingin mengatakan kata sambutan kepada saya. “Dari mana ya?”, lanjut dia meneruskan sambutan dengan pertanyaan.
“Dari Jawa, nek” jawab saya.
Tidak terduga nenek itu menepuk-menepuk bahu saya. Tidak berkata. Tidak bersuara. Hanya senyumnya yang bertahan. Senyumnya tidak memudar. Sambil dia mengangkat tangan dan menunjuk ke seluruh ruang kompleks Tongkonan.
“Kamu dipersilakan melihat-lihat kawasan ini.” kata Basho mengartikan gerak tubuh itu. Sang nenek membalikkan badan. Saat itu juga, Basho mengajaknya mengobrol menggunakan bahasa Toraja. Saya rela. Biarlah ini menjadi romantisme Basho dengan nenek itu. Saya pun berkeliling lagi melihat-lihat lekuk kawasan Tongkonan Karuaya.
Bola mata saya tertarik pada setiap sudut di Tongkonan. Ia menyediakan begitu banyak ensiklopedia budaya Toraja yang khas. Akhirnya, pengelanaan mata saya berlabuh pada banyaknya tanduk kerbau dipajang pada tiang utama di depan setiap rumah. Jumlah tanduk kepala kerbau tersebut berbaris dari atas ke bawah. Bagi orang Toraja, tanduk kerbau di depan tongkonan melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya.
Setiap upacara adat di Toraja seperti pemakaman akan mengorbankan kerbau dalam jumlah yang banyak. Tanduk kerbau kemudian dipasang pada tongkonan milik keluarga bersangkutan. Semakin banyak tanduk yang terpasang di depan tongkonan maka semakin tinggi pula status sosial keluarga pemilik rumah tongkonan tersebut. Selain itu, di sisi kiri rumah menghadap ke arah barat dipasang rahang kerbau yang disembelih. Di sisi kanan yang menghadap ke arah timur dipasang rahang babi.
Seorang anak kecil keluar dari salah satu tongkonan. Cepat menuruni tangga. Lihai karena terbiasa. Dia melintas hamparan rumput yang memisahkan Tongkonan dan Alang Suro. Berlari. Beberapa kawannya telah menunggunya di bawah Alang Suro bersama sang nenek tadi. Saat itu, Tongkonan Karuaya cukup ramai dengan warga setempat. Kehadiran saya di sana sepertinya adalah gula. Manis memikat untuk mengumpulkan orang. Basho kemudian mengundang saya mendekat.
“Kamu diajak nenek untuk berfoto bersama. Untuk kenang-kenangan katanya.”
Ciiiis.. Jepreeeet. Senyum mewarnai foto kami. Saya berfoto dengan seorang nenek yang mungkin di masa mudanya adalah kembang desa di kampungnya. Kemolekan mudanya masih terkandung jelas di balik kerutan rentanya. Muda dan tua berjalan selaras di wajah dan badan nenek itu.
“Nenek ini memang ‘artis’ nya Karuaya. Setiap wisatawan yang datang ke sini pasti diajak berfoto bersamanya. “ kata Basho sembari berjalan kembali ke mobil.
Momen foto bersama tadi adalah salam perpisahan saya dengan mereka di Karuaya. Lambaian tangan nenek dan anak-anak di Tongkonan mengantarkan kepergian kami. Senyum sang nenek terus memancar dari wajahnya. Seperti sebuah simpul untuk menambatkan hati saya agar selalu mengingatnya. Saya pun luruh dalam perpisahan yang mengharukan. Di pelosok Toraja, di Karuaya inilah saya seperti menemukan saudara. Melintas suku dan agama. Barangkali dari pengalaman ke Karuaya, setiap pengelana akan menemukan perasaan itu. Hangat, membekas dan tidak terlupa.
Kini, penjelajahan Toraja harus terus berlanjut. Melepas Karuaya menuju tujuan yang berikut. Langit mendung tetap menggelayut. Tapi hujan belum ada tanda untuk datang. Awan masih bimbang. Meski begitu, tetap saja saya harus melalui sebuah siang yang tidak riang.
Perjalanan seakan mengulang-ulang. Masih saja sama. Jalan berbatu dan berkubang. Bergantian sawah dan pematang yang bertingkat-tingkat dengan yang lapang. Masuk kampung keluar kampung. Bergantian tongkonan tradisional dan modern saling menyelinap dari balik rimbun pepohonan. Namun, jalanan kini konsisten datar. Sebegitunya berulang, angan saya masih terjejak di Karuaya. Terjejak pada senyum sang nenek tadi.
![]() |
| Kerbau Belang sedang berkubang di kolam. Hewan sakral Toraja yang berharga ratusan juta. @iqbal_kautsar |
Hingga saya dikejutkan pada seekor kerbau belang yang mandi di sebuah kolam. Seekor binatang yang sakral dikorbankan dalam upacara khas Toraja. Putih memerah muda dan berbelang- hitam. Sang kerbau dibiarkan mandi sepuasnya. Tiada kerbau lain yang bercampur dan mengusik kenikmatan mandi si kerbau raja ini. Pemilik kerbau mengawasi dari tepian kolam. Tentu dia dengan setia menjaganya karena inilah asetnya yang berharga. Betapa tidak, nilai seekor kerbau tedong bonga bisa seharga mobil. Sebuah tabungan kehidupan. Sebuah jalan menuju kemakmuran.
Pedesaan yang penuh imajinasi tampaknya telah berakhir. Ujung jalan beraspal dimulai lagi. Tepat di persimpangan sebuah jalan menuju Kete’ Ketsu. Keasrian pedesaan telah digantikan lalu lalang kendaraan. Digantikan keriuhan wisata. Saya harus bergabung lagi bersama nuansa turisme yang riuh dengan pengomoditasan budaya dan sejenisnya.
Ah, dua jam berada pada alam imajinasi Toraja rasanya sangat cepat. Seperti sekedar kelebat. Rasanya belum rela kaki saya kembali di realitas untuk berpijak.
![]() |
| Berfoto dengan nenek 'artis' Karuaya Toraja. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Nenek dengan cucu-cucunya penunggu Tongkonan Karuaya. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Persawahan Toraja. Tenang dan damai. Hangat untuk kehidupan. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Tongkonan Karuaya penuh tanduk kerbau. Simbol kekayaan keluarga. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Kepala kerbau di Tongkonan. Simbol kemakmuran. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Persawahan Toraja dengan hiasan Tongkonan. Suasana desa. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Pohon Asam Munggur terbesar yang ada di Hutan Adat Wonosadi. |
Gemericik air mengalir riang di sela-sela bebatuan dan akar pepohonan. Sebuah sungai kecil jernih nan tenang muncul dari kerimbunan Hutan Wonosadi. Di sampingnya terpampang sebuah pipa besi. Pipa ini setia menemani sang sungai kecil. Keduanya sama-sama mengantar air dari mata air di dalam hutan. Saya ambil air lalu basuhkan ke muka sambil sesekali meminum. Ceeees... Benar-benar kesegaran sejati yang saya dapatkan. Kesegaran yang menghalau panas akibat terik surya yang menyengat.
Saat itu adalah puncaknya musim kemarau. Bagi kawasan Gunungkidul, Yogyakarta, kemarau identik dengan kekeringan. Sebuah duka kehidupan. Namun, itu tidak berlaku bagi Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul. Ada Hutan Wonosadi yang terhampar hijau sepanjang tahun di Desa Beji. Di dalam Hutan Wonosadi ini, terdapat tiga mata air berdebit 18 liter per detik yang mengalirkan air sepanjang waktu.
Warga Desa Beji pun tak pernah khawatir dengan jaminan ketersedian air. Air dari Hutan Wonosadi senantiasa mengalir untuk keperluan sehari-hari bagi sekitar 200 KK Desa Beji. Untuk minum, memasak, mandi dan mencuci tidak pernah kesulitan air. Ladang yang ditumbuhi aneka tanaman pangan selalu rutin tersiram. Sawah seluas 50 hektar terjamin pasokan airnya sehingga bisa dipanen tiga kali setahun. Kolam-kolam berkembangnya ikan-ikan budidaya juga selalu tergenang air.
Apakah mereka peroleh semua itu dengan mudah? Jelas tidak. Semua kebahagiaan dan ketentraman hidup Desa Beji ini hanya bisa didapatkan karena mereka menyadari pentingnya air bagi kehidupan. Mereka sadar air bisa dengan mudah didapatkan hanya jika sumber air lestari. Sumber air itu akan lestari ketika ada hutan yang lestari. Maka, masyarakat Desa Beji berjuang teguh melestarikan Hutan Wonosadi. Karena Hutan Wonosadi lah, Desa Beji memiliki keberlimpahan air di tengah kerontangnya alam Gunungkidul.
![]() |
| Lanskap Hutan Wonosadi yang lebat. Tempat sumber air yang lestari. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Daun dan dahan kering berguguran. Lebat menutupi tanah. Suksesi ekologi penyubur tanah. @iqbal_kautsar |
Namun, sejenak kita mesti menengok ke belakang. Sebuah luka masa lalu pernah terjadi di Hutan Wonosadi. Ini penting diketahui agar kita tahu bahwa kelestarian Hutan Wonosadi berkaitan dengan sejarah masa lalunya. Ada banyak pelajaran tentang jerih payah usaha masyarakat di masa lalu terkait kelestarian Hutan Wonosadi.
Pada tahun 1964-1965, para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) menebang hutan Wonosadi. 99 persen kawasan hutan rusak parah. Hanya tersisa 5 pohon asam jawa di tengah hutan.`Hutan yang rusak menyebabkan sumber mata air mati. Selain itu, saat musim hujan daerah sekitar Wonosadi terkena banjir kerikil dan erosi. Ketika musim kemarau, masyarakat kekurangan air. Ketika penghujan, masyarakat dilanda kebanjiran.
Kehidupan masyarakat sekitar Hutan Wonosadi sungguh menderita pada masa itu. “Orang PKI merusak hutan Wonosadi agar masyarakat bodoh dan sengsara. Kalau menderita, masyarakat akan lebih mudah dipengaruhi oleh PKI. Kayak gitu strategi PKI untuk meraih pendukung di Desa Beji.” tutur Muhammad Kasno, sesepuh Hutan Adat Wonosadi.
Perubahan besar terjadi di Indonesia. PKI dilarang dan ditumpas. Sejalan itu, timbul kesadaran dan motivasi masyarakat Desa Beji untuk bangkit menyelamatkan hutan kesayangannya. Masyarakat ingin hutan Wonosadi yang sebelumnya menghidupi mereka bisa lestari lagi. Sebelum adanya perusakan hutan, desa Beji dan desa sekitar Wonosadi subur loh jinawi. Para warganya hidup sejahtera.
Terlebih di Desa Beji muncul mitos, orang-orang PKI ditumpas karena melanggar wasiat Ki Onggoloco, nenek moyang Hutan Wonosadi. Hutan Wonosadi dipercaya merupakan peninggalan Ki Onggoloco. Ki Onggoloco nama aslinya adalah Raden Ronggo, seorang senapati Majapahit yang melarikan diri dan bersembunyi bersama rombongannya di hutan Ngawen. Saat itu Kerajaan Majapahit kalah berperang dengan Kerajaan Demak.
![]() |
| Butuh 4 orang untuk melingkari pohon ini dengan tangannya. @iqbal_kautsar |
Ki Onggoloco dan rombongan membuka hutan di daerah Ngawen untuk menetap dan membuka padepokan. Tetapi Ki Onggoloco tidak membuka semua hutan. Ia menyisakan hutan Wonosadi karena ada mata air. “Ki Onggoloco minta hutan ini harus disisakan supaya mata airnya tetap lestari agar bisa menghidupi ” ujar Mbah Kasno, panggilan akrab Muhammad Kasno (72). Berangkat dari kepercayaan ini, masyarakat Wonosadi mengembalikan hutan mereka menjadi Hutan Wonosadi yang lebat dan indah.
Saat ini, Hutan Wonosadi begitu rimbun terhampar seluas 25 Ha dengan dikelilingi oleh hutan penyangga seluas 25 Ha. Ada aturan bahwa Hutan Wonosadi tidak boleh ditebang. Dibiarkan tumbuh alami. Bahkan kalau ada pohon mati di hutan inti, masyarakat tidak dibolehkan mengambilnya. Masyarakat hanya boleh mengambil kayu di hutan penyangga. Akan tetapi, ada konsekuensi untuk menanami kembali tanaman yang sudah ditebang.
Masyarakat Desa Beji begitu peduli dengan eksistensi Hutan Wonosadi. Ibarat sang anak yang tulus merawat ibu pertiwinya. “Pesan Ki Onggoloco benar-benar terpatri pada masyarakat Beji. Bahwa, hutan Wonosadi adalah titipan untuk anak cucu kita.” ungkap Mbah Kasno. “Warga di sini menjaga sepenuh hati kelestarian Hutan Wonosadi”. Kepedulian masyarakat Desa Beji terhadap Hutan Wonosadi pun mendapat prestasi tertinggi lingkungan hidup. Pada tahun 2009 masyarakat Desa Beji mendapat Kehati Award tingkat Nasional. Selain itu, masih banyak penghargaan lainnya untuk warga Desa Beji.
Dalam menjaga hutan Wonosadi, masyarakat Desa Beji juga secara khusus membentuk jagawana Ngudi Lestari. Jaga wana ini bertugas menjaga hutan dari gangguan langsung perusakan hutan. Selain itu, dibentuk pula kelompok tani Sumber Rejeki. Tugas kelompok tani adalah wadah penyaluran aspirasi dan media pembelajaran bersama dalam pengelolaan hutan Wonosadi.
Dalam perjalanannya, Hutan Wonosadi dan Desa Beji bertransformasi menjadi tujuan wisata lingkungan hidup yang dikelola mandiri dan secara adat oleh masyarakat setempat. Masyarakat Desa Beji membentuk Baladewi, Badan Pengelola Desa Wisata. Sebuah lembaga yang berfungsi sebagai sarana komunikasi publik Desa Beji dalam pengembangan wisata dan lingkungan hidup Hutan Wonosadi. Pada bulan Juli, di Hutan Wonosadi rutin dilakukan acara budaya Sadranan memohon kepada Allah SWT agar Hutan Wonosadi tetap lestari dan tetap menghidupi Warga Beji. Sadranan ini menarik ribuan wisatawan dari lokal, nasional bahkan mancanegara.
***
![]() |
| Menembus lebatnya Hutan Wonosadi. @iqbal_kautsar |
Saya menapak masuk, menembus hutan Wonosadi. Pendakian ringan menerobos jalanan hutan. Terik matahari tak berhasil menembus rimbunnya dedaunan di hutan Wonosadi. Hanya teriakan monyet ekor panjang, cicit merdu aneka burung, dan kelepak sayap ayam hutan yang sanggup memecah kesunyian. Di tepian jalanan, saya berjumpa dengan aneka tumbuhan unik dan langka seperti cendana, birit, anggrek hutan dan lain-lain.
Sesekali, saya harus merunduk lantaran jalanan “dijahit” oleh sulur-sulur tumbuhan perdu yang menjalar ke berbagai arah. Tibalah saya di “Jantung” Hutan Wonosadi. Yakni, sebuah dataran seluas 800 meter persegi yang bernama Ngenuman. Ada empat pohon asem jawa raksasa yang lingkar batang pokoknya mencapai 4 hingga 8 meter. Konon pohon ini berumur 500 tahun. Di sinilah, Ki Onggoloco dipercaya pernah membangun padepokannya.
Meski berada pada dataran kering, Hutan Wonosadi sudah layak disejajarkan dengan hutan hujan tropis yang perawan di Pulau Sumatera. Perjalanan menembus belantara Hutan Wonosadi begitu teduh. Mengetahui sampai ke jantung Wonosari, menjadikan saya tahu bahwa karena beginilah, Hutan Wonosadi bisa menghidupi masyarakat Desa Beji. Pantaslah, belantara rimba Wonosadi mampu menghadirkan sumber air bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya.
Hijaunya Hutan Wonosadi di tengah hamparan kering kawasan Gunungkidul menjadikannya laksana zamrud. Ya, zamrud cantik yang memberikan aura kesejukan dengan keberlimpahan airnya tiada henti. Kelestarian hutan Wonosadi telah membawa pada kelestarian sumber air. Kelestarian air berarti juga menciptakan kelestarian hidup masyarakat Desa Beji.
![]() |
| Lembah Ngenuman. Pusat dari Hutan Adat Wonosadi. Ditandai empat pohon asam munggur yang besar. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Tanaman sulir seperti ini sering di Hutan Wonosadi. Kadang menutup jalan. @iqbal_kautsar |
![]() | |
| Perbatasan antara Hutan inti dengan Hutan Penyangga. Di hutan penyangga, masyarakat bisa menebang pohon |
![]() |
| Buah Birit. Salah satu flora khas Hutan Wonosadi. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Lanskap daerah Gunungkidul yang kerontang kering. Dilihat dari Hutan Wonosadi. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Ladang-ladang Desa Beji menghijau di musim kemarau. Berkat air dari Hutan Wonosadi. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Sekretariat BALADEWI. Pengelola Desa Wisata Beji dan Hutan Adat Wonosadi. @iqbal_kautsar |
![]() |
| Muhammad Kasno atau akrab disapa Mbah Kasno. Sesepuh adat Hutan Wonosadi sekaligus pengelola BALADEWI @iqbal_kautsar |
![]() |
| Pesan Ki Onggoloco: Hutan Wonosadi adalah titipan anak cucu kita. Warga Desa Beji teguh melaksanakan pesan leluhurnya. Hutan Wonosadi pun lestari. @iqbal_kautsar |
















































