Kelestarian Hutan Wonosadi: Potret Ikram Manusia untuk Air dan Kehidupan

22.48

Pohon Asam Munggur terbesar yang ada di Hutan Adat Wonosadi.

Gemericik air mengalir riang di sela-sela bebatuan dan akar pepohonan. Sebuah sungai kecil jernih nan tenang muncul dari kerimbunan Hutan Wonosadi. Di sampingnya terpampang sebuah pipa besi. Pipa ini setia menemani sang sungai kecil. Keduanya sama-sama mengantar air dari mata air di dalam hutan. Saya ambil air lalu basuhkan ke muka sambil sesekali meminum. Ceeees... Benar-benar kesegaran sejati yang saya dapatkan. Kesegaran yang menghalau panas akibat terik surya yang menyengat.

Saat itu adalah puncaknya musim kemarau. Bagi kawasan Gunungkidul, Yogyakarta, kemarau identik dengan kekeringan. Sebuah duka kehidupan. Namun, itu tidak berlaku bagi Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul. Ada Hutan Wonosadi yang terhampar hijau sepanjang tahun di Desa Beji. Di dalam Hutan Wonosadi ini, terdapat tiga mata air berdebit 18 liter per detik yang mengalirkan air sepanjang waktu.

Warga Desa Beji pun tak pernah khawatir dengan jaminan ketersedian air. Air dari Hutan Wonosadi senantiasa mengalir untuk keperluan sehari-hari bagi sekitar 200 KK Desa Beji. Untuk minum, memasak, mandi dan mencuci tidak pernah kesulitan air. Ladang yang ditumbuhi aneka tanaman pangan selalu rutin tersiram. Sawah seluas 50 hektar terjamin pasokan airnya sehingga bisa dipanen tiga kali setahun. Kolam-kolam berkembangnya ikan-ikan budidaya juga selalu tergenang air.

Apakah mereka peroleh semua itu dengan mudah? Jelas tidak. Semua kebahagiaan dan ketentraman hidup Desa Beji ini hanya bisa didapatkan karena mereka menyadari pentingnya air bagi kehidupan. Mereka sadar air bisa dengan mudah didapatkan hanya jika sumber air lestari. Sumber air itu akan lestari ketika ada hutan yang lestari.  Maka, masyarakat Desa Beji berjuang teguh melestarikan Hutan Wonosadi. Karena Hutan Wonosadi lah, Desa Beji memiliki keberlimpahan air di tengah kerontangnya alam Gunungkidul.

Lanskap Hutan Wonosadi yang lebat. Tempat sumber air yang lestari. @iqbal_kautsar
Daun dan dahan kering berguguran. Lebat menutupi tanah. Suksesi ekologi penyubur tanah. @iqbal_kautsar

Namun, sejenak kita mesti menengok ke belakang. Sebuah luka masa lalu pernah terjadi di Hutan Wonosadi. Ini penting diketahui agar kita tahu bahwa kelestarian Hutan Wonosadi berkaitan dengan sejarah masa lalunya. Ada banyak pelajaran  tentang jerih payah usaha masyarakat di masa lalu terkait kelestarian Hutan Wonosadi.

Pada tahun 1964-1965, para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) menebang hutan Wonosadi. 99 persen kawasan hutan rusak parah. Hanya tersisa 5 pohon asam jawa di tengah hutan.`Hutan yang rusak menyebabkan sumber mata air mati. Selain itu, saat musim hujan daerah sekitar Wonosadi terkena banjir kerikil dan erosi. Ketika musim kemarau, masyarakat kekurangan air. Ketika penghujan, masyarakat dilanda kebanjiran.

Kehidupan masyarakat sekitar Hutan Wonosadi sungguh menderita pada masa itu. “Orang PKI merusak hutan Wonosadi agar masyarakat bodoh dan sengsara. Kalau menderita, masyarakat akan lebih mudah dipengaruhi oleh PKI. Kayak gitu strategi PKI untuk meraih pendukung di Desa Beji.” tutur Muhammad Kasno, sesepuh Hutan Adat Wonosadi.

Perubahan besar terjadi di Indonesia. PKI dilarang dan ditumpas. Sejalan itu, timbul kesadaran dan motivasi masyarakat Desa Beji untuk bangkit menyelamatkan hutan kesayangannya. Masyarakat ingin hutan Wonosadi yang sebelumnya menghidupi mereka bisa lestari lagi. Sebelum adanya perusakan hutan, desa Beji dan desa sekitar Wonosadi subur loh jinawi. Para warganya hidup sejahtera.

Terlebih di Desa Beji muncul mitos, orang-orang PKI ditumpas karena melanggar wasiat Ki Onggoloco, nenek moyang Hutan Wonosadi. Hutan Wonosadi dipercaya merupakan peninggalan Ki Onggoloco. Ki Onggoloco nama aslinya adalah Raden Ronggo, seorang senapati Majapahit yang melarikan diri dan bersembunyi bersama rombongannya di hutan Ngawen. Saat itu Kerajaan Majapahit kalah berperang dengan Kerajaan Demak.

Butuh 4 orang untuk melingkari pohon ini
dengan tangannya. @iqbal_kautsar

Ki Onggoloco dan rombongan membuka hutan di daerah Ngawen untuk menetap dan membuka padepokan. Tetapi Ki Onggoloco tidak membuka semua hutan. Ia menyisakan hutan Wonosadi karena ada mata air. “Ki Onggoloco minta hutan ini harus disisakan supaya mata airnya tetap lestari agar bisa menghidupi ” ujar Mbah Kasno, panggilan akrab Muhammad Kasno (72). Berangkat dari kepercayaan ini, masyarakat Wonosadi mengembalikan hutan mereka menjadi Hutan Wonosadi yang lebat dan indah.

Saat ini, Hutan Wonosadi begitu rimbun terhampar seluas 25 Ha dengan dikelilingi oleh hutan penyangga seluas 25 Ha. Ada aturan bahwa Hutan Wonosadi tidak boleh ditebang. Dibiarkan tumbuh alami. Bahkan kalau ada pohon mati di hutan inti, masyarakat tidak dibolehkan mengambilnya. Masyarakat hanya boleh mengambil kayu di hutan penyangga. Akan tetapi, ada konsekuensi untuk menanami kembali tanaman yang sudah ditebang.

Masyarakat Desa Beji begitu peduli dengan eksistensi Hutan Wonosadi. Ibarat sang anak yang tulus merawat ibu pertiwinya. “Pesan Ki Onggoloco benar-benar terpatri pada masyarakat Beji. Bahwa, hutan Wonosadi adalah titipan untuk anak cucu kita.” ungkap Mbah Kasno. “Warga di sini menjaga sepenuh hati kelestarian Hutan Wonosadi”. Kepedulian masyarakat Desa Beji terhadap Hutan Wonosadi pun mendapat prestasi tertinggi lingkungan hidup. Pada tahun 2009 masyarakat Desa Beji mendapat Kehati Award tingkat Nasional. Selain itu, masih banyak penghargaan lainnya untuk warga Desa Beji.  

Dalam menjaga hutan Wonosadi, masyarakat Desa Beji juga secara khusus membentuk jagawana Ngudi Lestari. Jaga wana ini bertugas menjaga hutan dari gangguan langsung perusakan hutan. Selain itu, dibentuk pula kelompok tani Sumber Rejeki. Tugas kelompok tani adalah wadah penyaluran aspirasi dan media pembelajaran bersama dalam pengelolaan hutan Wonosadi.

Dalam perjalanannya, Hutan Wonosadi dan Desa Beji bertransformasi menjadi tujuan wisata lingkungan hidup yang dikelola mandiri dan secara adat oleh masyarakat setempat. Masyarakat Desa Beji membentuk Baladewi, Badan Pengelola Desa Wisata. Sebuah lembaga yang berfungsi sebagai sarana komunikasi publik Desa Beji dalam pengembangan wisata dan lingkungan hidup Hutan Wonosadi. Pada bulan Juli, di Hutan Wonosadi rutin dilakukan acara budaya Sadranan memohon kepada Allah SWT agar Hutan Wonosadi tetap lestari dan tetap menghidupi Warga Beji. Sadranan ini menarik ribuan wisatawan dari lokal, nasional bahkan mancanegara.

***

 

Menembus lebatnya Hutan Wonosadi. @iqbal_kautsar

Saya menapak masuk, menembus hutan Wonosadi. Pendakian ringan menerobos jalanan hutan. Terik matahari tak berhasil menembus rimbunnya dedaunan di hutan Wonosadi. Hanya teriakan monyet ekor panjang, cicit merdu aneka burung, dan kelepak sayap ayam hutan yang sanggup memecah kesunyian. Di tepian jalanan, saya berjumpa dengan aneka tumbuhan unik dan langka seperti cendana, birit, anggrek hutan dan lain-lain.

Sesekali, saya harus merunduk lantaran jalanan “dijahit” oleh sulur-sulur tumbuhan perdu yang menjalar ke berbagai arah. Tibalah saya di “Jantung” Hutan Wonosadi. Yakni, sebuah dataran seluas 800 meter persegi yang bernama Ngenuman. Ada empat pohon asem jawa raksasa yang lingkar batang pokoknya mencapai 4 hingga 8 meter. Konon pohon ini berumur 500 tahun. Di sinilah, Ki Onggoloco dipercaya pernah membangun padepokannya.

Meski berada pada dataran kering, Hutan Wonosadi sudah layak disejajarkan dengan hutan hujan tropis yang perawan di Pulau Sumatera. Perjalanan menembus belantara Hutan Wonosadi begitu teduh. Mengetahui sampai ke jantung Wonosari, menjadikan saya tahu bahwa karena beginilah, Hutan Wonosadi bisa menghidupi masyarakat Desa Beji. Pantaslah, belantara rimba Wonosadi mampu menghadirkan sumber air bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya.

Hijaunya Hutan Wonosadi di tengah hamparan kering kawasan Gunungkidul menjadikannya laksana zamrud. Ya, zamrud cantik yang memberikan aura kesejukan dengan keberlimpahan airnya tiada henti. Kelestarian hutan Wonosadi telah membawa pada kelestarian sumber air. Kelestarian air berarti juga menciptakan kelestarian hidup masyarakat Desa Beji.

Lembah Ngenuman. Pusat dari Hutan Adat Wonosadi. Ditandai empat pohon asam munggur yang besar. @iqbal_kautsar
Tanaman sulir seperti ini sering di Hutan Wonosadi. Kadang menutup jalan. @iqbal_kautsar
Perbatasan antara Hutan inti dengan Hutan Penyangga. Di hutan penyangga, masyarakat bisa menebang pohon

Buah Birit. Salah satu flora khas Hutan Wonosadi. @iqbal_kautsar
Lanskap daerah Gunungkidul yang kerontang kering. Dilihat dari Hutan Wonosadi. @iqbal_kautsar
Ladang-ladang Desa Beji menghijau di musim kemarau. Berkat air dari Hutan Wonosadi. @iqbal_kautsar
Sekretariat BALADEWI. Pengelola Desa Wisata Beji dan Hutan Adat Wonosadi. @iqbal_kautsar
Muhammad Kasno atau akrab disapa Mbah Kasno. Sesepuh adat Hutan Wonosadi sekaligus pengelola BALADEWI
@iqbal_kautsar
Pesan Ki Onggoloco: Hutan Wonosadi adalah titipan anak cucu kita. Warga Desa Beji teguh melaksanakan pesan
leluhurnya. Hutan Wonosadi pun lestari. @iqbal_kautsar

You Might Also Like

5 komentar

  1. Seperti biasa..tulisan Iqbal selalu bisa 'bercerita' :)
    Dan kali ini cerita ttg hutan adat Wonosadi memberikan sebuah pesan tersendiri bahwa air sangat digantungkan oleh manusia sebagai sumber kehidupan.
    Dari pengalaman pribadi sudah terbukti ketika suatu ketika saya mengunjungi gunung kidul dan mencari air untuk wudhu saja terasa seperti mencari oase di tengah gurun pasir..
    Dan hal yang sangat mengejutkan ternyata di sana ada sebuah oase yang sesungguhnya, sebuah hutan dengan mata air mengalir!!
    Sebuah daerah yang kita anggap hopeless (agak sadis sih..hahaha..) akan ketersediaan air bisa melestarikan sebuah sumber kehidupan.
    Seharusnya ini menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain.
    Good job boy! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Meha komen dan kunjungannya..:)

      Tulisan wonosadi ini memang berdasarkan jalan2 saya pas waktu ke hutan wonosadi.. Dikasih tau teman yang dulu KKN di sana, katanya bagus untuk wisata lingkungan hidup.. Ternyata memang di sana skaligus mendapatkan inspirasi-inspirasi tentang kelestarian hutan dan sumber mata air.. Masyarakatnya begitu peduli terhadap Hutan adat wonosadi.. Di sana air mengalir konsisten tidak mengenal musim.. sumber airnya bagus.. beda dengan sebagian daerah gunungkidul lain.. :)

      Salam..

      Hapus
    2. Jadi pengen ke sana :D

      Hapus
  2. Apik Bal. Nang kono terjadi masalah penebangan liar utowo semacem e ora? Semacam permasalahan rebutan lahan lah, sing dilakukan sendiri karo wong2 lokal. Menurutku nek ono organisasi ne (Baladewi), berarti kan ono masalah sedurunge

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun kang Dibyo wes dolan neng blog ku.. prtanyaan mnarik..

      Kalo di hutan wonosadinya, itu kan hutan adatnya yg hutan inti.. itu kepemilikannya adat milik desa.. jadi gak ditebang. Dan dikeramatkan.. Dulu ada pnebangan pas huru hara PKI.. Kata masyarakat setempat, para penebang kualat. Bahkan ada bngunan skolah dn rumah yg pake kayu hutan adat trus ambruk..

      Di tepi hutan adat (hutan inti), ada hutan penyangga.. aku belum wawancara ke arah situ mngenai pmbagian lahannya. trmsuk konfliknya.. Setauku di penyangga itu, masyarakat bisa menebang dgn konsekuensi menanam lagi..

      Kalo organisasinya itu stidaknya ada 3.. yg pertama dulu itu jagawana, smacam pngawas lestarinya hutan.. trus klompok tani Sumber Rejeki bt pmnfaatan hutan dan pengelolaan tanah di skitar hutan.. baru baladewi, stelah hutan adat ramai jadi wisata edukasi alam..

      Jajal mas Dibyo, tanya sama mas Pras.. Dya dulu KKN di daerah Hutan Adat Wonosadi.. Barangkali cerita konflik lahan bisa didapatkan.. :)

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe