Dendang Harmoni Labuhan Merapi

18.28



Pagi (9/5), lereng selatan Merapi masih semerbak basah sisa hujan deras semalaman. Di mantan kediaman Almarhum Mbah Maridjan, Kinahrejo, puluhan abdi dalem Kraton Yogyakarta telah berhimpun bersama ratusan masyarakat yang antusias. Sinar emas mentari yang baru saja lolos dari celah bukit dan pepohonan mengiringi prosesi doa upacara keberangkatan Labuhan Merapi. Juru kunci Merapi, Mas Kliwon Suraksohargo yang akrab disapa Mas Asih, akan mengimami prosesi Labuhan Merapi ini.

Sungguh pada kesempatan ritual Labuhan Merapi kali ini, saya tak mau melewatkan lagi. Sudah lama saya memendam hasrat untuk turut dalam prosesi agung Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, semenjak saya tinggal 8 tahun di Yogyakarta. Untunglah travel blogger legendaris Jogja, mas Anno Soekarno www.teamtouring.net, menyanggupi ajakan saya untuk berangkat sebelum bahana adzan shubuh. Meski dikhawatirkan hujan di kota Jogja, kendara kami pun melaju penuh gairah menembus jalanan sepi yang sempat jua berkabut hebat.

Tepat pukul 06.30 WIB – meski telat setengah jam, arak-arakan Labuhan Merapi berangkat penuh khidmat dan semangat. Dengan langkah yang semarak, abdi dalem dan masyarakat secara beriringan mengarak ubo rampe dan sesaji sejauh 2 km ke Pos Srimanganti di lereng atas Merapi.

Jalanan yang terus menanjak tak jadi soal bagi beberapa hadirin yang sudah sepuh. Saya pun tak mau kalah, tetap bertekad kuat melangkah demi langkah. Begitu masuk kawasan Taman Nasional Merapi, jalanan kian menyempit dan rimbun pepohonan makin mengayomi. Suara nafas tersengal mulai terdengar dari hidung saya dan beberapa rombongan.  Ya, saya pun harus kuat bertahan.




Bagi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Labuhan Merapi adalah tradisi tahunan yang sakral dan bagian dari Labuhan Alit. Prosesi ini menjadi wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia keselamatan kepada Sultan Hamengkubuwono X dan masyarakat Yogyakarta. Dilakukan setiap akhir bulan Rajab, tradisi Labuan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga dihelat di Pantai Parangkusumo dan Gunung Lawu. Untuk Merapi, selepas didoakan di Keraton, ubo rampe diinapkan semalam dulu di bekas kediaman Mbah Maridjan sebelum dilabuh.


***

Satu setengah jam menembus hutan Taman Nasional Gunung Merapi, tibalah rombongan arak-arakan di Srimanganti. Sepuluh menit sebelumnya, saya sudah menjejak lokasi labuhan mendahului arak-arakan. Saya harus persiapkan sudut terbaik untuk mengabadikan prosesi yang sangat sedap dipotret. Tampak ratusan warga sudah memadati lokasi untuk ‘ngalap berkah’ atau sekedar meramaikan.

Di Srimanganti, tempat yang asri dikerubungi rimbun pepohonan, Labuan Merapi diselenggarakan selama ratusan tahun melintas generasi sejak berdirinya Kesultanan Mataram Islam. Di  sinilah, Panembahan Senopati mengadakan perjanjian dengan Kyai Sapu Jagad, penunggu Gunung Merapi sebelum mendirikan kesultanan. Labuhan Merapi pun menjadi napak tilas untuk merawat hubungan Keraton Ngayogyakarto, pewaris Mataram dengan Gunung Merapi. Sumbu imajiner Yogyakarta yang menghubungkan Laut Selatan, Parangkusumo, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Pal Putih, dan Gunung Merapi pun tetap terjaga.




Sekarang, aneka ubo rampe sesaji telah diletakkan pada pelataran di antara bebatuan Srimanganti. Puluhan abdi dalem duduk bersila, berkumpul menghadap ke sang Merapi. Hadirin masyarakat lalu mengikuti dengan mengelilinginya. Khidmat upacara Labuhan Merapi pun dimulai. Beruntung saya berada di deretan depan sehingga bisa menyimak sebegitu dekat.

Ubo Rampe Labuhan Merapi satu per satu dilabuh. Abdi dalem menunjukan semekan gadhung melati, sinjang limar, semekan gadhung melati, sinjang cangkring serta paningset udaraga, masing-masing satu lembar. Turut juga dilabuh seloratus lisah konyoh [minyak], kelapa satu buah, uang dalam dua amplop, selembar destar doromuluk dan 10 biji seswangen. Labuhan Merapi juga dilengkapi beberapa makanan sesaji seperti nasi tumpeng, srundeng dan lauk ingkung ayam yang diberikan kembang setaman.

Kemenyan dibakar. Lantunan doa-doa lantas dirapal oleh abdi dalem penuh khusyuk pada setiap prosesi labuhan ubo rampe. Wasiat Sultan Hamengkubuwono X dibacakan oleh Mas Asih sebagai bagian penting prosesi. Doa pun kembali didengungkan sebagai penyempurna berkat labuhan. Selepas doa, para abdi dalem baik pria dan wanita, menyiapkan berkat yang akan dibagikan. Berkat ini berisikan nasi, serundeng dan suwiran ayam yang dikemas dalam plastik kecil yang bening.

Penghujung Labuhan Merapi adalah momen yang dinanti para pemirsa setelah satu jam prosesi. Pembagian nasi berkat adalah harapan bagi pengalap berkah. Juga, dambaan bagi pengunjung biasa yang lapar setelah menunggu sedari sehabis shubuh. Saya pun mendapatkan sebungkus berkat dan langsung menyantapnya lahap – maklum saya lapar. Tak ada keriuhan yang berlebihan karena semua hadirin sangat menghormati jalan sakral prosesi. Masing-masing pun mendapatkan nasi berkat Labuhan Merapi, tak terkecuali.




Rasanya semua bahagia di Labuhan Merapi! Saya sendiri baru kali ini menyaksikan tradisi yang disertai pembagian berkat bisa berlangsung dengan tertib.


***

Bagi masyarakat pinggang Merapi, Labuhan Merapi adalah wujud berharmoni dan bersyukur atas lingkungan yang memberi kehidupan walaupun penuh risiko. Hidup menjadi bagian salah satu gunung paling aktif di dunia, bencana mungkin akan ada di depan mata. Tapi anugerah kesuburan luar biasa, pasir melimpah dan lanskap wisata yang memesona, lebih dimaknai positif dan didayagunakan warga Merapi untuk melanjutkan makmur kehidupan.

“Ya karena saya lahir di Merapi, berdamai dan bersahabat dengan Merapi sudah jadi semestinya. Labuhan ini jadi satu wujudnya.” ungkap Sismadi, abdi dalem  asal pinggang Merapi yang sudah 20 tahun membantu Labuhan Merapi.

Hidup selalu terus berjalan di Merapi! Rupa kesedihan sama sekali tak nampak pada warga Merapi meski hampir 6 tahun dihantam letusan hebat Merapi. Menghancurkan hunian, ladang, dan kerabat, bukan berarti meninggalkan Merapi. Mereka tetap mencintai Merapi, tetap merayakan kehidupan bersama Merapi sampai mati.



Catatan

Tulisan ini sebagian bahannya berasal dari tulisan saya di laman National Geographic Indonesia, yakni Senandung Harmoni Labuhan Merapi -> http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/senandung-harmoni-labuhan-merapi  Tulisan blog ini telah diperluas oleh penulis. 











You Might Also Like

9 komentar

  1. capek sih..tapi ya puas..
    moga tahun depan bisa ikut lagi acara ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah mas Anno taun depan dateng lagi ya.. nah tuh sama mas Sitam..
      Terima kasih kemarin udah ngancani.. :D

      Sayangnya tahun depan aku yg g bisa e mas..

      Hapus
  2. Wah duet ini ceritanya ehhehehehe, semoga tahun depa aku bias mengikuti acara ini :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas Sitam.. tuh Mas Anno taun depan nonton lagi. Syukur udah mulai dari yg keraton, lalu parangtritis lalu yg labuhan merapi..

      Hapus
  3. Wah aku pengen banget nih ikut acara seperti ini soalnya seru banget rasanya kalau bisa ikut acara ini sampai selesai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo mbak Sri rawuh tahun depan..
      Mulai dari awalnya juga pas di Kraton.. :D

      Hapus
  4. Balasan
    1. taun depan bisa dong.. ayook setiap akhr bulan Rajab kudu datenng di Labuhan Merapi..

      Hapus
  5. ramai sekali ya yang ikut acaranya, tradisi" yang ada di berbagai tempat memang selalu dilakukan, dan acaranya menarik untuk dikunjungi..

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe