Jamu Konservasi Meru Betiri

Juli 05, 2019


Hidup berdampingan memerlukan saling memahami. Taman Nasional Meru Betiri dan desa penyangganya, Andongrejo Jember selalu belajar untuk berkolaborasi. Alam harus dikonservasi, masyarakat wajib disejahterakan. Seminggu lalu, saya berkesempatan melihat dari dekat semangat keberdayaan masyarakat di desa-desa penyangga TN Meru Betiri di Jember selatan.

Sulasmi paham betul bahwa desanya punya jejak hitam soal penggundulan hutan di TN Meru Betiri. Ia mengajak 25 warga Andongrejo untuk berusaha dalam pengolahan jamu berbasis sumber lokal. TN Meru Betiri dikenal memiliki keanekaragaman tanaman obat yang berlimpah. Ada potensi ekonomi untuk memanfaatkan kekayaan obat sebagai sumber pendapatan. Usaha Sulasmi ini dinamai King Betiri, kepanjangannya adalah Saking Betiri.

Bahan baku King Betiri seperti jahe, kunir, temu lawak, lidah buaya, kencur dan tanaman obat lainnya diperoleh langsung dari kebun sendiri dan Taman Nasional. Lahan bekas penggundulan hutan sebagian ditanami tanaman obat oleh masyarakat Andongrejo. Setidaknya ada 15.000 bibit yang ditanam dan dikelola masyarakat untuk merehabilitasi lahan kritis TN Meru Betiri




King Betiri mulai dipasarkan ke berbagai daerah seperti Jember, Banyuwangi dan daerah lainnya. Tersedia juga di Transmart lokal. King Betiri juga diperkenalkan sebagai oleh-oleh khas Jember. Namun, King Betiri tak bisa berpuas diri. Sulasmi ingin King Betiri menjangkau pasar yang lebih luas agar ajeg bisa menjadi tumpuan hidup masyarakat Andongrejo. TN Meru Betiri membantu dalam pengembangan produk, termasuk sertifikasi, packaging, dan saluran pemasaran.

Sulasmi punya harapan produk King Betiri bisa diterima sebagai bagian gaya hidup sehat masyarakat kekinian. King Betiri ingin lepas dari bayang-bayang jamu sebagai produk kolot dan kuno.

Jika ingin ke Pantai Bandealit, di dalam TN Meru Betiri, kita akan lewat depan rumah Bu Sulasmi. Desa Andongrejo merupakan gerbang TN. Jangan kaget, hutan di daerah sana ‘terkelupas’ tak seperti khas Taman Nasional. Itu jejak silam. Kini masyarakat Andongrejo berbenah dengan mengangkat jamu untuk medium pemberdayaan mandiri. Salut!










You Might Also Like

2 komentar

  1. Kalau di Jogja, kemasan-kemasan seperti ini mendapat perhatian dari Dinas Koperasi. Ada semacam pameran untuk mereka pajang segala hasil desa dan yang lainnya. Semoga saja di daerah sana, dinas terkait pun melakukan hal yang sama. Sehingga para warga yang mempunyai usaha kecil bisa terangkat dalam promosi

    BalasHapus
    Balasan
    1. DI Jogja kesadaran packaging bagus sudah ditangkap sama masyarakat desa dan pemda. Kalo di jember lagi mulai mas. Padahal produk mereka punya potensi besar diterima di kalangan luas..

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK