Mohammad Hanif Wicaksono: Penjaga Harta Pusaka Buah Endemik Kalimantan

Desember 31, 2019




Renjananya melestari buah endemik nan langka telah melampaui pekerjaan dan gelar akademik. Andai dulu menyerah pada minimnya dukungan, tak akan pernah ada baginya raihan penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup: Kalpataru.  
Namun, itu belum cukup. Perjuangan meyakinkan lebih banyak masyarakat untuk giat melestarikan buah lokal khas Kalimantan itu masih terus berlanjut.

Pohon-pohon itu jangkung menjulang lebih dari 20 meter. Jika Hanif tidak menjelaskan, saya tak akan paham bahwa pepohonan tersebut adalah pusaka tak ternilai Pulau Kalimantan. Bukan sekadar tanaman hutan tropis, pepohonan ini menghasilkan buah-buah endemik Kalimantan yang kini keberadaannya makin langka. Sepetak tanah yang tak begitu luas di punggung Pegunungan Meratus ini menjadi etalase alami keanekaragaman hayati Bumi Borneo. Sekaligus, contoh upaya untuk mengiktikadkan masyarakat lokal melindungi sumber daya hutannya.

“Pak Hanif memberitahu masyarakat kami kalau di Marajai ini begitu banyak buah-buah lokal.” ungkap Adi Setiawan, Kepala Desa Marajai. “Walaupun buah asli Kalimantan, katanya di wilayah lain buah-buah tersebut sudah sangat langka.”

Jika mengacu pada hubungan birokrasi semata, Hanif dan Adi seharusnya hanya bekerja sama dalam urusan Keluarga Berencana dan kesehatan masyarakat. Hanif adalah penyuluh aktif Keluarga Berencana yang bertugas di wilayah Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. Adi merupakan Kepala Desa Marajai, desa di Kecamatan Halong. Namun, keduanya melampaui atribut dan tugas formal itu semua. Mereka punya ikhtiar agung mewujudkan Marajai sebagai Desa Plasma Nutfah Nusantara.

Marajai dihuni oleh mayoritas masyarakat Dayak Meratus. Ada sekitar 197 KK dengan jumlah penduduk 578 jiwa. Lokasi Marajai berada di tepian barat Pegunungan Meratus yang menjadi jantung Kalimantan Selatan. Dari kota Paringin – ibukota Kabupaten Balangan, Marajai dapat ditempuh dengan berkendara selama 2 jam dengan kondisi jalan makin mendekati Marajai makin rusak. Ketika saya berada di sana, sinyal telekomunikasi ‘blank’. Namun, di balik segala keterbatasan itu, Marajai menyimpan pusaka biodiversitas yang dijaga oleh kearifan masyarakat Dayak Meratus.

Buah silulung menunggu matang.
Mohammad Hanif Wicaksono bersama Adi Setiawan. Penggerak Marajai.
Hanif Wicaksono menerangkan kepada masyarakat Marajai tentang konservasi buah endemik.

Di hutan Marajai itu, Hanif menunjukkan saya buah silulung (Baccaurea angulata) langsung dari pohonnya. Bagi saya, inilah perjumpaan pertama kali yang mengagumkan. Bagi Hanif, silulung di Marajai memberi kenangan istimewa.

Alkisah, selama mengeksplorasi buah-buah endemik di hutan Kalimantan Selatan, Hanif begitu mendamba bisa menemukan silulung, baik buah maupun pohonnya. Puluhan kali masuk-keluar hutan, hasilnya nihil. Ternyata, di Marajai ia bisa menjumpai begitu banyak pohon silulung. Tampak, gerombolan buah dengan warnanya ungu gelap menempel pada batang pohon.

“Jika sudah matang, warnanya berubah jadi merah darah yang bersinar. Daging buahnya putih bening dan rasanya asam manis. Sungguh, buah yang cantik.” jelas Hanif memuji silulung.

Kami menelusur hutan lebih lanjut. Tak perlu begitu dalam sesungguhnya, karena keanekaragaman pohon buah langka itu memadat berkelompok di petak lahan seluas sekitar 1 ha. Dengan antusias, Hanif menunjukkan berbagai buah yang menggantung di pohon. Saya harus jitu mengikuti arahan Hanif karena sebagian buah berada pada batang dan ranting yang tinggi. Dari semua tanaman buah itu, saya hanya familiar pada durian dan manggis.

“Di sini kita bisa menemui beberapa spesies durian. Yang durian terkenal seperti Monthong, Musang King, dan Petruk itu hanya termasuk jenis varietas durian Durio zibethenus saja” jelas Hanif. “Kita lebih kaya ragam duriannya.”

Seperti praktik di lapangan, Hanif menyebutkan spesies durian kekayaan Marajai seperti lahung – durian kulit merah (Durio dulcis), mahrawin - durian berduri panjang (Durio oxleyanus), mantaula atau lai – durian daging kuning (Durio kutejensis), trako – durian daging merah tua paling langka di Kalsel (Durio graveolens), dan masih banyak jenis durian lainnya (misal: varietas durian kalih – silangan alami D. dulcis & D. kutejensis). Selama ini sebenarnya Marajai sudah dikenal sebagai sentra durian terbesar di Kabupaten Balangan, yakni jenis durian umum (Durio zibethenus). Menyimak penjelasan Hanif, saya sebagai penggandrung durian sungguh tercerahkan dan senang sekali.

Lahung bisa ditemukan di Marajai.
Bunga dari lahung.
Maritam, sejenis rambutan.
Buah endemik yang bernama manja
Tak hanya si eksotis durian dan keluarganya, kekayaan Marajai juga tersusun dari buah-buah lainnya yang endemik. Dari jenis tarap-tarapan (sejenis nangka), ada buah wiyang (Artocarpus tamaran), kulidang (Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus), karusung (Artocarpis sp.), dan lain-lain.

Buah-buah lokal dan langka asal Kalimantan lain yang bisa diidentifikasi di Marajai, di antaranya: manja (Xanthophyllum amoenum), kuranji (Dialium indum l.), pelajau (Pentaspadon motleyi), kapul (Baccaurea macrocarpa), kalangkala (Litsea garciae), gitaan/tampirik (Willughbeia angustifolia), kumbayau (Dacroydes rostrata), maritam (Nephelium ramboutan-ake), bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku (Dimocarpus longan subspecies malesianus), luing (Scutinanthe brunnea). Jujur, nama-nama buah tersebut sungguh asing bagi saya. Selama tinggal di Jawa saja, saya mengetahui buah kepel, sawo jawa, kawis, menteng, gowok dan buah endemik Jawa lainnya, tetapi sangat jarang menjumpai buah-buahan itu. 

“Kita bersyukur, Desa Marajai tidak dibuat sebagai kebun karet, kebun sawit atau tambang batu bara. Begitu tahu betapa kayanya Marajai, untungnya masyarakat desa sadar melakukan pelestarian dan mulai mengembangkan buah endemik.” terang Hanif.


Bermula dari Hijrah

Pada suatu pagi di tahun 2011, Hanif berkunjung ke pasar di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, tak jauh dari rumahnya. Di pasar itu, ia menjumpai buah-buah unik yang tak pernah ditemuinya di Jawa. Dia merasa asing dengan buah-buah itu. Dia bertanya kepada pedagangnya perihal lokasi asal pohon buah-buahan ini dan bentuk tanamannya. Tak ada yang bisa menjawab dengan memuaskan. Warga lokal sekitar rumahnya juga pun jarang ada yang paham.

Saat itu, Hanif adalah orang baru di Kalimantan. Dia belum lama pindah ke Kandangan, kampung halaman istrinya, Dewi Ratna Hasanah. Dia hijrah dari Blitar, Jawa Timur selepas ayah mertuanya wafat. Sebelumnya ia adalah seorang guru SMP di Batu, Jawa Timur. Perantauan dirinya adalah perjuangan tak gampang karena ia harus meninggalkan pekerjaannya. Sementara itu, di Kandangan dia belum mendapatkan pekerjaan tetap.

“Rasa buah-buah lokal Kalimantan itu enak dan segar, tapi kok mayoritas tak banyak yang tahu bentuk pohonnya. Kesannya buah-buah lokal seperti diabaikan.” cerita Hanif mengungkapkan kegelisahan.

Rasa penasaran yang besar menggerakkan dia untuk aktif mencari tahu keberadaan buah-buah unik nan endemik yang baru ditemuinya di Kalimantan. Sejak kecil, dia memang memiliki hobi dan minat di bidang pertanian. Kehidupan masa kecilnya akrab dengan dunia agraris. Dengan ketersediaan waktu yang cukup luang, dia mulai menjelajah ke daerah-daerah sekitar Kandangan untuk menemukan pohon buah-buahan lokal Kalimantan.

Menyandang gelar sarjana komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Malang, tak membuat Hanif canggung untuk mengakrabi urusan tanaman dan buah-buahan. Pria kelahiran Blitar, 18 Agustus 1983 malah memanfaatkan kompetensi akademiknya untuk memudahkan berkomunikasi dengan warga lokal. Dia pun sering masuk ke hutan dengan dikawani masyarakat lokal yang sukarela membantu. Namun, tak jarang dia menjelajah hutan sendirian.

Menelusur hutan Marajai yang menjadi bagian Pegunungan Meratus.
Kondisi hutan di Marajai

Ketika menemukan buah langka, Hanif akan mengobservasi.
Hanif menunjukkan jenis pohon.

Tak terasa saking asyiknya mengulik buah endemik Kalimantan, penjelajahan Hanif semakin jauh menjangkau seantero Kalimantan Selatan. Tercatat 6 kabupaten di Kalimantan Selatan sudah ia jelajahi. Hanif juga semakin intensif masuk hingga ke dalam hutan-hutan primer tanah Borneo. Perjumpaan dengan buah-buah endemik pun makin variatif.

Dalam penjelajahan tersebut, Hanif tak sembarangan asal keluyuran masuk keluar hutan. Walaupun bukan berlatar peneliti buah, dia menerapkan kaidah penelitian. Begitu menemukan buah yang menurutnya asing dan unik, dia langsung melakukan observasi sederhana. Dia harus merekam buah, batang, daun, pohon secara utuh, hingga bunganya. Lokasi pohon itu pun tak ketinggalan harus ditandai. Selagi memungkinkan, ia akan membawa pulang bagian-bagian tanaman itu untuk kepentingan budidaya.

“Saya sudah biasa memanjat pohon setinggi 25 meter. Sebisa mungkin saya harus ambil buah itu agar bisa dicicip dan didokumentasi dari dekat.” ungkap Hanif. “Waktu itu, kamera saya kan cuma kamera HP saja.”

Hanif mengenang sepulang dari penjelajahannya di hutan itu sering ditanyakan istri. Pulang bukannya membawa oleh-oleh, tetapi malah tanaman atau buah-buahan. Awalnya sang istri juga keberatan karena hobi Hanif sungguh menyerap uang yang mengganggu keuangan keluarga. Apalagi, saat itu keluarga kecil tersebut sudah memiliki buah hati. Namun, seiring berjalannya waktu, sang istri mendukung dan melipatgandakan semangat Hanif untuk lebih serius menekuni renjana atau passion pengumpulan buah endemik Kalimantan. 


Berproses dengan Tunas Meratus

Proses identifikasi nama dan kelompok buah-buahan menjadi tantangan selanjutnya bagi Hanif. Jika mengandalkan nama-nama yang didapatkan dari masyarakat kampung, belum tentu namanya akan sama antara kampung satu dengan lainnya. Dia pun belajar otodidak dengan memanfaatkan majalah pertanian, literatur ilmiah, sumber internet dan forum herbarium online internasional. Hanif juga banyak bertanya kepada pakar biologi, ahli taksonomi atau rekan seperjalanan dalam penelusuran di hutan.

Hanif juga menjalin hubungan intensif dengan Kebun Buah Mekarsari dengan mentor Mochammad Reza Tirtawinata, pakar buah tropis. Hasilnya, proses penggalangan buah-buahan endemik Kalimantan sejak tahun 2012 itu menghasilkan buku ‘Potret Buah Nusantara Masa Kini’ (ISBN: 978-979-002). Tercatat sudah lebih dari 170 buah langka berhasil ia dokumentasikan. Saat ini, Hanif juga sedang menyusun seri buku “Buah Hutan Kalimantan Selatan seri 1-6 (sebuah dokumentasi dari konservasí)” yang mengangkat lebih detail dan spesifik buah-buahan yang ia temui di Kalimantan Selatan.

“Melalui buku, saya ingin menjangkau lebih luas masyarakat agar tahu betapa kayanya buah-buahan lokal di Kalimantan. Bahkan, harapannya anak SD pun tertarik karena banyak gambarnya.” ungkap Hanif

Kondisi kebun pembibitan di depan rumahnya di Kandangan. Dok: Hanif


Walaupun tak luas, tetapi lengkap dengan tanaman endemik Kalimantan. Dok: Hanif
Kebun bibit di Kandangan dijadikan pilot contoh Pranaraksa ASTRA Satu Indonesia. Dok: Hanif
Tunas Meratus diakui prestasinya. Dok: Hanif

Hanif tak sekadar mendokumentasikan buah-buahan langka. Ia terlibat lebih konkrit dan terstruktur dalam pelestarian buah endemik Kalimantan melalui Tunas Meratus yang dibentuk pada tahun 2012. Kegiatan Tunas Meratus adalah mengumpulkan, mendokumentasikan, memperkenalkan, membibitkan dan membudidayakan tanaman buah endemik Kalimantan. Ia menyulap halaman rumahnya di Kandangan sebagai kebun budidaya buah-buah endemik.

Walau menggunakan lahan yang tak begitu luas, budidaya tanaman buah endemik saat ini sudah mencapai 160 jenis spesies tanaman. Tercatat setidaknya ada 9 spesies jenis durian endemik, 20 spesies jenis mangga,  17 spesies jenis tarap (nangka) dan masih banyak lagi seperti jenis-jenis spesies seperti duku, dan rambutan.

Tanaman hasil budidaya ini tak berdiam terus menerus di tempat pembibitan (nursery) Tunas Meratus. Hanif berusaha menyosialisasikan kepada masyarakat agar ditanam secara luas. Masyarakat pun bisa secara cuma-cuma mendapatkan bibit tanaman buah-buahan dari Tunas Meratus. Bibit yang dibudidayakan Hanif juga sudah disebarkan ke sejumlah kebun raya agar bisa tetap dilestarikan. Tak ada niatan baginya untuk mengomersialkan bibit-bibit tanaman, walaupun upaya mendapatkan keanekaragaman plasma nutfah itu tak gratis.

“Peluang untuk komersialisasi bibit-bibit tanaman itu sebenarnya sangat besar” ungkap Hanif

Malah, permintaan dari mancanegara kerap datang untuk mendapatkan bibit tanaman buah khas Kalimantan. Mereka tertarik mengembangkan tanaman buah hasil budidaya Hanif. Namun, Hanif menolak menjual bibit buah khas Kalimantan itu ke pihak luar. Ia berharap pemerintah dan masyarakat setempat lah yang memanfaatkan sepenuhnya nilai manfaat buah endemik Kalimantan.

“Selain untuk pelestarian, buah-buahan endemik Kalimantan ini memiliki potensi ekonomi jika dibudidayakan dan dikembangkan secara luas. Masyarakat bisa memperoleh sumber pendapatan dari buah-buah lokal” harap Hanif atas ikhtiarnya.

“Masalahnya bagi masyarakat di sini, lha gratis saja tak banyak yang tertarik untuk membudidayakan.” tambah Hanif mengingatkan saya bahwa proses pelestarian dan budidaya buah langka tak semudah yang dibayangkan.


Tlaten Berimbas Panen Penghargaan

Pada tahun 2014 Hanif diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Penyuluh Keluarga Berencana di BKKBN Kabupaten Balangan. Dia mendapatkan amanah untuk penempatan di Kecamatan Halong. Menjadi abdi negara yang punya tupoksi urusan keluarga dan kesehatan masyarakat, tak bisa meredakan passion Hanif untuk mengurusi buah-buah endemik Kalimantan. Menjadi seorang penyuluh malah membuat dia punya kedekatan lebih dengan masyarakat untuk mengeksplorasi hutan-hutan di Kabupaten Balangan. Biasanya setelah penyuluhan selesai, dia langsung masuk ke hutan mencari ragam buah khas yang langka.

Marajai adalah salah satu desa cakupannya. Perjumpaan dengan Marajai seperti takdir yang digariskan antara kedua insan yang saling jatuh cinta dan memilih hidup bersama. Pengetahuan dan semangat yang dimiliki Hanif bertemu dengan keanekaragaman hayati Marajai yang terjaga dengan nilai-nilai Dayak Meratus yang bijaksana. Beruntung juga, Marajai dipimpin oleh Adi Setiawan, sosok kepala desa muda berwawasan luas yang memiliki gagasan sejalan dengan Hanif.


Inilah aktivitas sesuai tupoksi Hanif sebagai PNS Penyuluh KB di Desa Marajai.
Marajai selain dikembangkan Hanif sebagai Desa Plasma Nutfah, juga dibimbing sebagai Kampung KB.
Hanif sedang meninjau rintisan nursery Desa Marajai. Ia mengembangkan Tunas Marajai.

Intensitas dan skala ikhtiar pelestarian Hanif kian membesar. Tak lagi terbatas pada nursery di rumahnya, dia menginisiasi Desa Marajai sebagai desa plasma untuk pembudidayaan tanaman buah khas Kalimantan. Tercakup pada wilayah yang lebih luas dengan dukungan masyarakat lokal, Marajai mewujud sebagai laboratorium alam untuk pelestarian dan pembudidayaan buah endemik Kalimantan. Dia lantas menggagas terbentuknya Tunas Marajai sebagai upaya sistematis pelestarian dan budidaya. Dia menaruh harapan pada Marajai sebagai sebuah upaya budidaya buah endemik dalam skala lebih luas dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Ikhtiar memang tak pernah mengkhianati hasil. Pengabdian tulus Hanif terhadap pelestarian dan budidaya tanaman khas Kalimantan mendapatkan apresiasi tingkat nasional. Pada tanggal 27 Oktober 2018, Mohammad Hanif Wicaksono memperoleh penghargaan Semangat Astra Terpadu (SATU) Indonesia Awards 2018 di bidang lingkungan. Untuk bisa meraih prestasi dari salah satu penghargaan prestisius di Indonesia, Hanif diusulkan oleh Kantor Biro ANTARA Kalimantan Selatan yang menyaring sosok-sosok inspiratif di daerah.  

Capaian prestasi Hanif dalam SATU Indonesia Awards 2018 membukakan mata bagi pemerintah dan masyarakat di Kalimantan Selatan. Dalam upayanya yang senyap,  Hanif bisa membuktikan bahwa ia bisa berkontribusi besar kepada masyarakat sekaligus meraih prestasi yang membanggakan Kalimantan Selatan. Dia mengingat kalau sebagian besar dana konservasi dan budidaya itu dikeluarkan dari kantong pribadinya.

“Selama 5 tahun awal menjalankan program, saya hanya pernah mendapat bantuan sekali dari pemerintah untuk membuat sebuah nursery dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Selatan.” terang Hanif apa adanya.

Kesuksesan Mohammad Hanif Wicaksono meraih apresiasi SATU Indonesia Awards Tahun 2018. 
Mohammad Hanif W. saat penyerahan anuherah SATU Indonesia Awards 2018 (4 dari kiri) - Foto: liputan6.com
Hanif mendapatkan penghargaan tertinggi lingkungan hidup Kalpataru 2019 di bidang Pengabdi Lingkungan.

Menjadi sosok berprestasi di Kalimantan Selatan tak membuat Hanif jumawa. Hanif tetap bersikap sederhana dan tekun menjalankan program pelestarian dan budidayanya. Hanya saja, semenjak raihan prestasi SATU Indonesia itu, dukungan pemerintah mulai mengalir deras. Suara Hanif untuk pelestarian buah endemik di Kalimantan Selatan mulai didengarkan. Upaya budidaya Hanif yang mendorong pengembangan buah lokal khas Kalimantan mulai dipertimbangkan. Tentu, ini adalah kebahagiaan bagi Hanif karena ikhtiarnya untuk kebaikan masyarakat dapat diperhatikan pihak berwenang.

Geliat Hanif yang berprestasi ini lantas mendapat sorotan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Balangan. DLH Kabupaten Balangan mengusulkan Hanif di ajang penilaian Kalpataru 2019. Hanif diusulkan dalam kategori Pengabdi Lingkungan, karena ia telah melampaui tugas pokok fungsinya sebagai PNS Penyuluh KB. Dia satu-satunya yang mewakili Provinsi Kalimantan Selatan dan bersaing dengan 150 calon penerima dari provinsi lain di Indonesia.

Tanggal 11 Juli 2019 menjadi hari yang tak bisa terlupakan bagi Hanif. Dia secara membanggakan meraih penghargaan anugerah lingkungan hidup tertinggi di Indonesia, Kalpataru 2019 Bidang Pengabdi Lingkungan. Dedikasinya terhadap pelestarian dan pembudidayaan buah endemik nan langka di Kalimantan menjadi poin plus dia meraih Kalpataru.

“Saya berharapnya Kalpataru ini tak cuma jadi pelecut semangat saya untuk makin gigih berjuang melestarikan buah langka Kalimantan. Namun, bisa mendorong kepedulian bagi masyarakat dan pemerintah Kalimantan Selatan untuk mengembangkan budidaya buah endemik sehingga keberadaannya tetap lestari dan menjadi tuan rumah di tanah sendiri. Jangan kalah dengan buah impor”. begitulah harapan sederhana Hanif.


***

Alasan Hanif memilih buah sebagai sarana konservasi sebetulnya sangat simpel tapi sarat kebijaksanaan. Ketika menanam dan merawat pohon yang menghasilkan buah, masyarakat akan memanen manfaat dari tanaman itu dengan cara diambil buahnya. Masyarakat tak perlu menebang pohon untuk mendapatkan manfaat.

“Jadinya, masyarakat akan mempertahankan pohon itu selama mungkin. Sembari memanen buah-buahan, pohon yang tadinya satu itu bisa menghasilkan pohon-pohon yang lebih banyak lagi melalui budidaya tanaman.” ungkap Hanif. “Kekayaan hutan kan tetap terjaga lestari

Desa Marajai punya kekayaan buah-buah endemiknya yang luar biasa. Marajai diperkenalkan sebagai Desa Plasma Nutfah Nusantara. Saat ini, Marajai sedang mempersiapkan diri sebagai desa wisata yang berfokus pada keanekaragaman buah-buahan. Mungkin varian desa wisata semacam ini adalah satu-satunya di Indonesia. Marajai bisa memberi warna berbeda bagi pariwisata Indonesia dengan berbasis masyarakat yang mengedepankan buah-buah endemik khas Kalimantan. Akan ada biotour untuk melihat lebih dekat pohon buah dan merasakan buah endemik dengan kombinasi tur aktivitas di desa.
Jembatan gantung ikon Marajai yang kaya potensi wisata.

Ecoprint menjadi produk yang dikenalkan Hanif untuk diversifikasi potensi hayati Marajai.
Suasana Desa Marajai yang Hening.

Hanif selaku pembimbing Marajai juga memperkenalkan potensi lain Marajai yang berbasis kekayaan hayati. Hanif menunjukkan saya kain ecoprint hasil bikinan warga Marajai. Ecoprint memanfaatkan potensi tanaman seperti jelawe, tunjung dan secang yang dapat menghasilkan berbagai motif dan warna. Walau masih tahap awal pengenalan, kain ecoprint sudah menggambarkan motif, kerapian dan detail yang lumayan bagus.

Saya diberitahu Hanif bahwa bulan Februari mendatang (tahun 2020) akan diselenggarakan Festival Buah Khas Kalimantan Selatan di Marajai. Masa itu bertepatan dengan puncak panen sebagian besar buah-buah endemik khas Kalimantan, terutama spesies dan jenis durian yang eksotis. Ini adalah perhelatan yang kedua. Perhelatan pertama sukses membuat masyarakat Kalimantan Selatan dan turis asal China dan Jepang hadir ke Marajai. Hanif yakin perhelatan kedua akan jauh lebih meriah karena ekspose Marajai sebagai ikon buah lokal Kalimantan Selatan sudah jauh lebih luas.

Hanif ingin menunjukkan bahwa ikhtiar pelestarian buah-buah endemik Kalimantan bisa berkontribusi positif kepada masyarakat. Berbicara tentang konservasi buah endemik bukan berarti mengabaikan pendayagunaan nilai ekonomi. Malahan, buah lokal Kalimantan punya potensi besar untuk menjadi sumber pendapatan masyarakat yang berkelanjutan, alih-alih menggantungkan dari sawit atau tambang.

"Buah endemik ini harta karunnya Kalimantan. Mari utamakan peduli dulu pada pelestarian, ekonomi akan beriringan. Anugerah alam jangan sampai dikorbankan." pungkas Hanif tegas.

#IndonesiaBicaraBaik #KitaSATUIndonesia

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Anugerah Pewarta Astra Tahun 2019 - Kategori Umum

Saya berada di Marajai untuk berjumpa dengan Hanif Wicaksono sang inspirator.

You Might Also Like

3 komentar

  1. Ngeri-ngeri sedap tulisannya hehehehhe. Pantes pas lagi ngumpul di bunderan UGM bilang mau dolan ke Kalimantan.
    Rasanya Lahung sama durian yang biasa di Jawa ada perbedaan yang menonjol nggak, mas? hehehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas Sitam.. Kalau ada yg diwawancarai jadinya bisa dpet izin sama Thole utk kabur sejenak.. hahaha.. Sekalian nengok kakaknya mega di Kalimantan.

      Kemarin belum ada yg mateng mas, baru bulan februari mateng. Katanya rasanya lebih kayak telon. hahah. tapi jadi penasaran. Pingin main ke sana lagi. Paling bagus bulan februari-maret..

      Hapus
  2. The biodiversity in these parts impresses every visitor. Preserving a heritage of this magnitude was not an easy task, requiring the special returns

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK