Jelajah Pacitan (Part I): Pantai Klayar

08.31


"Monumen Alam Klayar!"
Pacitan dikenal sebagai kota yang memiliki potensi pariwisata luar biasa. Sampai-sampai kabupaten yang berada di pojok barat-selatan Jawa Timur ini disebut sebagai kota 1001 Goa. Entah dusta atau tidaknya sebutan itu-tak ada data statistik daerah yang menjelaskan demikian, pastinya kabupaten ini memiliki banyak goa (goa beneran, bukan goa yang lain). Mungkin saja, sebutan itu hanya sebagai strategi marketing pemerintah daerah, agar Pacitan lebih antusias dikunjungi para pelancong wisata.

Selain terkenal dengan goanya, anda juga akan mengetahui bahwa pantai-pantai di Pacitan begitu indah. Sebagian besar pantai adalah berhamparan pasir putih. Di Pacitan pula, juga terdapat  wisata prasejarah yang sudah dikenal dunia, Kali Bak Sooka (budaya Pacitanan). Sampai-sampai inilah.com menyebut Pacitan sebagai Ibukota Prasejarah Dunia-mungkin dilebih-lebihkan juga.

Saya pun bersama rekan, mas Pras, akhirnya kesampaian juga mengunjungi eksotisme Pacitan, setelah rencana itu batal berbulan-bulan lamanya. Kami pun berangkat dari Jogja pagi, 05092010, dengan menyusuri jejalanan Jogja-Wonosari-Pracimantoro-Pacitan. Kami pun mampir sebentar di gerbang Museum Karst Dunia di Desa Gebangharjo, Pracimantoro, Wonogiri.


Pengunungan Seribu Wonogiri.

gerbang Museum Karst Dunia Wonogiri

Juga, tak ketinggalan, ‘menikmati’ prosesi berbahaya: di suatu tanjakan menikung, kami berpapasan head to head dengan bus ****** tepat di moncongnya, meski Alhamdulillah dapat menghindar sesaat itu juga. Selamatlah kami!

Setelah menempuh 2 jam dan 140 km, kami sampailah di Kabupaten Pacitan. Gerbang perbatasan menyebutkan demikian. Tak jauh dari titik itu kami pun berbelok jalan menuju Pantai Klayar-ada papan yang mengarahkannya. Jalan pada mulanya aspal mulus, setelah seperempat jam menempuh, jalanan berubah menjadi aspal berkelupas. Sial.

Anda tahu apa yang kami lakukan selama menikmati jeleknya jalan? Kami mengumpat pemerintah daerah! Kami memilih jalan tersebut karena terdapat papan arah yang baru. Anggap kami, papan yang baru berarti jalan baru. Jalan itu adalah jalan masuk utama menuju obyek. Sayang, papan itu hanya pencitraan saja. Manis di luar bukan berarti manis di dalam. Kami pun teringat dan mengaitkannya dengan presiden kita yang gagah dengan mengandalkan pencitraan. Anda taulah sendiri! Jangan-jangan pemerintah daerahnya sudah ketularan dengan penguasa negeri ini yang berasal dari Pacitan juga? Wallahu alam.

Di tengah jeleknya jalan yang seolah tanpa akhir, kami pun menemukan suatu lubang yang menganga dalam di kiri jalan. Kalau orang Jawa menyebutnya sebagai Luweng. Kami pun berhenti sejenak melihat luweng itu sekalian istirahat. Luweng itu begitu dalam. Tiba-tiba, ada masyarakat setempat yang datang memperingatkan kami supaya hati-hati. “Kalau mau lihat, jangan berdiri dekat-dekat dengan lubangnya. Sambil merayap di tepinya. Luweng ini dalamnya 120 meter. Jadi, gravitasinya sangat kuat. Nanti, kalau berdiri bisa jatuh” peringatnya.

Luweng Ombo, Kalak sekitar 100 meter dalamnya

"jangan berdiri di tepi mulut luweng!"

Kami pun tertarik bertanya-tanya tentang luweng ini. Namanya Luweng Ombo. Alamatnya di Desa Kalak, Kecamatan Donorejo, Pacitan. Luweng ini digunakan sebagai tempat pengibaran Merah putih saat peringatan 17 Agustus 2010 lalu yang disiarkan tunda oleh Metro TV. Luweng ini sering dijajal oleh peminat caving dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri. Hebat juga Luweng ini, padahal tak ada papan yang menyebutkannya sebagai obyek wisata. Hanya ada pendopo kecil sebagai hiasan. Bagi Anda yang suka tantangan, tertarik mencoba?

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pantai Klayar. Sampai di Kalak, kami belok kanan, ada papan penunjuk arah pantai Klayak. Di Kalak, jalanan sudah mulus. Dari Kalak ke Klayar, jalanan aspal masih baru, bertaburi pasir-pasir kasar. Kami beranalisa, obyek-obyek wisata mendekati lebaran pasti akan dibenahi, termasuk jalan akses menuju ke sana. Ya, baguslah seperti itu daripada tidak sama sekali.

batu di tepi luweng Ombo..
Sampailah di Pantai Klayar. Pohon-pohon kelapa menyambut kami dengan kesejukannya. Suasana saat itu begitu sepi. Hanya ada kami, sepasang muda-mudi dan beberapa masyarakat setempat. Sepi malah menjadi kenikmatan tersendiri untuk menikmati indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa.

Di Pantai Klayar ini, anda akan menemukan keindahan pantai pasir yang sesungguhnya. Pasir putih yang halus, terhampar luas. Nyiur melambai-lambai di tepian. Sesekali ada batu-batu karang yang pipih menambah keindahan. Ombak pun begitu redup, ramah kepada orang yang menceburkan diri ke laut. Ikan kecil mungil pun berkejar-kejaran, seolah dunia mereka tak ada gangguan.

Hamparan pasir putih Pantai Klayar

"berhiaskan batuan pipih.

Pantai yg berombak kencang vs berombak tenang..

Namun, itu adalah sebagian dari pesona Pantai Klayar. Dan, itu cukup biasa selayak pantai-pantai pasir putih di mana saja. Jika berjalan ke arah timur, anda akan menemukan sesuatu yang beda. Ya, anda akan bertemu dengan ombak laut yang ganas tetapi tetap dengan pasir putih yang mempesona. Itu tak terlepas karena ceruk yang diapit oleh bukit kapur di dua sisinya. Sisi pantai kecil itu sungguh berbeda dengan sisi pantai yang lebih lapang.

Menariknya, di bukit kapur sebelah kiri, Anda kan menyaksikan patung alam yang menakjubkan. Alam dengan kemegahannya membentuk ‘patung-patung’ itu. Kami pun sepakat naik ke batuan karang berkapur itu untuk meyaksikan lebih dekat simbol alam ini. Di atas bukit kapur ini, anda akan menyaksikan pemandangan lebih luas. Di kejauhan sebelah barat (kanan), anda akan melihat ujung bukit yang menjorok ke laut. Luar biasanya, bukit itu adalah tebing tegak yang di bawahnya ‘bolong’. Orang yang melihat akan berasosiasi pada jembatan-jembatan Venesia.

"derasnya ombak Klayar..

karang terapit di antara pantai yang berbeda sifat..


seperti robot..

Tak perlu jauh-jauh memandang ke seberang, di dekat tempat berpijak, Anda juga akan melihat sensasi tersendiri, yaitu pancuran yang timbul di celah-celah karang karena hempasan ombak menabrak karang. Kejadian ini memang tak berfrekuensi tetap, tergantung besarnya ombak yang menghempas batuan karang. Namun, itulah keindahannya. Kami mendekat dan tak disangka-sangka air memancur mengagetkan kami.

Puas mengagumi panorama pantai Klayar, kami beranjak pergi melanjutkan ke pantai berikutnya, Pantai Watukarung. Lagi-lagi, kami terkamuflase jejalanannya. Tadinya bagus, lalu buruk rupa. Namun, kali ini kami lebih sabar, apalagi sedang menikmati keagungan puasa.

patung-patung Klayar..


Mas Pras berjalan di atas batuan karang Klayar..

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe