Puncak Telomoyo, Menggenggam Surya Tanpa Payah

23.49

puncak telomoyo
Sunrise Telomoyo

Apa yang anda bayangkan ketika mendaki gunung? Terlebih sampai ke puncak? Mendaki gunung pasti bukan perkara yang gampang. Anda harus membawa ransel, carrier dan perlengkapan-perlengkapan berat lainnya.  Apalagi, kalau mendaki gunung untuk mengejar sunrise. Medan gelap harus dilalui berjalan kaki, menembus semak-semak, menghalau rasa dingin dan berjuang menahan rasa kantuk. Berjuta kewaspadaan dan ketekunan mesti disiapkan untuk memantapkan hasrat sampai ke puncak.

Tapi, itu tak berlaku di Gunung Telomoyo. Hal demikian hanyalah mitos…

Mengapa?

Gunung ini spesial. G. Telomoyo yang berada di perbatasan Kab. Magelang dan Kab. Semarang ini bisa dicapai ke puncak tanpa harus didaki berjalan kaki. Anda bisa berada di puncaknya yang berketinggian 1.894 mdpl dengan berkendaraan, entah motor, sepeda bahkan mobil sekalipun. Jadi, anda tidak perlu susah-susah berjalan kaki, pegal-pegal untuk sampai ke puncak. Kecuali, anda memang sengaja untuk ‘menyiksa diri’ Anda sendiri. :P

Yang tambah spesial, di puncak Telomoyo, anda mendapatkan hiasan-hiasan tower-tower pemancar. Ada puluhan pemancar yang tertanam kuat menancap bumi di puncak Telomoyo. Keberadaannya ini untuk menguatkan sinyal radio dan televisi di wilayah Jawa Tengah bagian utara. Dan, Telomoyo pun identik dengan Gunung Pemancar.


Tower Pemancar di Puncak
Tower Pemancar di Puncak

Datang ke Puncak Telomoyo, paling afdhal adalah saat mengejar sunrise. Kami,Community of Lampah-lampah Rajelas (CLR) membuktikannya. Menempuh perjalanan 2.5 jam dari Jogja pada dini hari yang cerah ditemani rembulan terang, kami akhirnya tiba di pintu gerbang jalan menuju Puncak Telomoyo. Pukul 03.45 WIB saat itu. Kami pun menunggu subuh sekaligus sholat subuh di sebuah masjid tepat sebelum pintu gerbang itu. Dingin menusuk tapi masih toleran dengan sekedar berbekal jaket, slayer dan kaos tangan.

Selekas sholat Subuh yang memberi bekal rohani menatap pagi, kami langsung bergegas berpacu dengan waktu. Dari GPS, hanya tercantum 6 km dengan waktu yang ditempuh 15 menit dari pintu gerbang. Tapi, itu bohong besar. Jangan percaya GPS dengan waktu yang harus ditempuh menuju puncak. Nyatanya, kami hampir sejam menggapai puncak Telomoyo. Itu pun dengan tergesa-gesa demi menjerat sunrise Telomoyo.

Eits, tidak terlalu mudah menuju ke puncak. Jalan aspal yang tak mulus harus kami lalui di tengah cahaya fajar yang sayup. Berkelok-kelok puluhan mengitari pinggang gunung. Sesekali jejalanan aspal mengelupas parah hingga yang tersisa batu-batu kerikil semata. Jalan tertutup tanah liat, becek, juga ditemukan di beberapa titik. Bagi pemula, sangat tidak disarankan untuk menjajalnya. Licin dan absurd. Mari berdoa dan menuntut, semoga pemerintah lekas membenahi jalanan Telomoyo ini. :)

Kami sampai di puncak langsung mencari titik tertinggi. Tapi jangan harap itu yang terbaik. Titik terakhir jalan memang ada di puncak. Tetapi anda langsung dihadang pintu gerbang kawasan tower. Anda boleh kecewa. Anda lebih baik turun sedikit 50 meter. Kami rasa spot itu sudah cukup untuk menggenggam sunrise.


Sunrise Telomoyo
Sunrise Telomoyo

Sungguh sayang sangat disayang. Kami di puncak, sedikit telat, gagal menyapa sang surya kala ia menyembul dari cakrawala. Sang surya sudah lepas dan ia telah ceria memancarkan sinar ke penjuru dunia. Tapi itu tak masalah. Kami masih bisa menikmati cahaya keemasan surya yang berpadu dengan kabut tipis di kaki-kaki bukit nan hijau yang di bawahnya. Di sisi selatan, Merbabu pun tampak anggun menyongsong pagi dengan balutan kabut di sekeliling puncaknya (3.145 mdpl). Ia menjadi daya tarik tersendiri sehingga kamera pun tak bisa abai untuk mengabadikannya.


Kabut menghiasi Merbabu
Kabut menghiasi Merbabu


Tak hanya mata yang boleh dimanjakan pemandangan indah, hidung pun harus ikut dibuai menikmati kesegaran dan kebersihan udara pagi Telomoyo. Hirup panjang dan lepaskanlah perlahan. Segar. Paru-paru pun terasa bersih kembali. Tidak lah berasa udara makin tipis meski Telomoyo tingginya hampir 2 km di atas permukaan laut.

Puas berada di sekitar puncak, saatnya turun. Saat itu, kabut mulai naik menyerbu puncak. Sebaliknya, kami pun turun. Menuruni gunung, berarti kami berada di sisi lainnya dari puncaknya. Selagi kabut perlahan menghilang, kami bisa samar-samar melihat Rawa Pening di sisi utaranya. Gunung Ungaran (2.050 mdpl) berada di seberangnya. Tak jelas memang, tetapi pemandangan di sekitarnya sangat bagus dengan harmoni hutan hijau dan perkampungan penduduk di punggung-punggung bukit yang mengitarinya. Suatu pemandangan yang khas.

Sumbing dan Sindoro "Si Kembar"
Sumbing dan Sindoro "Si Kembar"

Berpindah ke sisi barat, Gunung Sumbing (3.371 mdpl) dan Gunung Sindoro (3.150 mdpl) menyembul dari balik kabut. Indah nan menawan. Gunung “kembar” ini cukup memikat meski ia malu-malu terlihat. Paduan kabut putih di kaki-kakinya membawa mereka berdua menjelma seakan seonggok batu besar segitiga yang melayang di angkasa.

Pemandangan yang paling menarik mata adalah melihat Gunung Andong (1.463 mdpl). Ia paling besar terlihat karena ia yang paling dekat. Gunung Andong letaknya hanya sepelemparan batu dari Telomoyo. Sepertinya, ia hanya dipisahkan oleh beberapa desa dikelilingi sawah-sawah nan hijau di sekitarnya yang seakan menopang kaki-kaki Gunung Andong. Bentuknya strato kerucut, seperti gunung berapi, tetapi ia tidak aktif dan hanyalah sebuah gunung kerdil, bahkan terkerdil di antara Merbabu, Telomoyo, Ungaran, Sumbing dan Sindoro.

Gunung Andong
Gunung Andong


Merbabu dan Andong, bagai ibu-anak
Merbabu dan Andong, bagai ibu-anak


Tidak lah boleh terlewat juga. Mampir sejenak di sebuah curug kecil. Ada curug kecil di pinggir jalan yang airnya secara bagus jatuh bertingkat-tingkat melompati bebatuan. Di sini, Anda harus merasakan langsung kesegaran airnya yang alami langsung dari dekat mata airnya. Saya pun tak menyia-nyiakannya untuk membasuh kaki, tangan, muka sekaligus melepaskan pacet di kaki, yang didapat di tengah perjalanan. Hiiiii……

Semakin turun, semakin mendekat ke pemukiman desa. Berarti Anda banyak bersua dengan masyarakat di sana. Mereka sudah giat bertebaran di kebun-kebun ataupun sawah-sawah mereka sedari pagi. Ada juga yang sedang berangkat menuju hutan Telomoyo untuk mengambil getah karet, mengambil kayu bakar atau berladang jagung. Jangan lupa untuk menyapa mereka! Mereka pasti akan ikhlas membalasnya dengan ramah dan murah senyum. Kehidupan lereng Telomoyo bergeliat dengan keoptimisan mengisi ruang hati, yang bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk menatap hari.

Bagi kami, menggenggam pagi di Puncak Telomoyo memberi pengalaman khas tersendiri. Spesialitasnya yang terjangkau motor sampai puncak, menciptakan khasanah unik bahwa Telomoyo adalah tentang bermesraan dengan sang Pencipta di sebuah puncak tinggi tanpa harus berlelah-lelahan menggapainya. Kami bisa menikmati pergantian malam kepada siang dengan langsung bersentuhan tanpa bersusah payah. Sebuah anugerah yang tiada tara juga tatkala kami bisa menyaksikan kuasa-Nya berupa pemandangan luas lepas berhias gunung-gunung di Jawa Tengah: Sumbing, Sindoro, Ungaran, Telomoyo, Andong, dan Merbabu. Ditambah dengan nikmat udara segar, membersihkan toksin-toksin di tubuh lara. Dengan membawa bonus jua, geliat warga sekitar yang ramah dan pemurah.

Untuk biaya, perjalanan ke Puncak Telomoyo hemat meriah. Tak ada retribusi masuk. Hanya perlu menyiapkan modal bensin penuh dan motor yang prima untuk menaklukkan tanjakan dan turunan yang menantang. Kalau berkehendak makan atau minum di puncak, anda harus membawa bekal, terlebih di pagi hari. Tak ada penjual makanan dan minuman di sana.

Anda bisa mencapai Puncak Telomoyo dari Salatiga ataupun dari Magelang. Kami lewat Magelang. Dari Magelang menuju ke arah Ngablak sekitar 26 km. Lalu, lurus dari Pasar Ngablak arah ke Kopeng sekitar 2 km sampai ada pertigaan, belok kiri ikuti ke arah Dalangan. Sekitar 3 km ada pertigaan, ambil ke kiri. Lurus sekitar 1.5 km sampai menemukan ada jalan kecil di sebelah kanan jalan. Ada papan informasi ke arah Stasiun Pemancar. Itulah jalan tunggal menuju Puncak Telomoyo. Selamat menggenggam pagi di Telomoyo.

CLR'ers Penggenggam Pagi Telomoyo
CLR'ers Penggenggam Pagi Telomoyo

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe