Wisdom in Uma Lengge

08.25


 
Ibu Yanti dengan cekatan menggerus bulir-bulir gabah untuk dimasukkan ke dalam karung. Cuaca mendung membuat hari ini dia lebih cepat mengemasi gabah yang dia gelar. Matahari malu-malu siang itu. Karung-karung gabah ini kemudian akan dia masukkan di Uma’ Lengge. Disimpannya sembari berharap matahari terik esok hari. Uma’ Lengge menjadi lumbung padi yang mentradisi dari suku Mbojo, masyarakat asli Bima, Nusa Tenggara Barat.

Sudah tidak banyak lagi bisa ditemukan masyarakat yang mempertahankan eksistensi Uma’ Lengge. Di daerah Bima, tinggal hanya tiga daerah yang tetap menjaga tradisi Uma’ Lengge. Yakni di Wawo, Sambori serta Donggi. Sebagian besar masyarakat Bima telah beralih kepada rumah ‘generik’, yang berbentuk persegi, beratap genteng. Maraknya pembangunan telah mencerabut khasanah tradisi Uma Lengge yang telah ada sejak enam abad silam. 

Bersama sahabat baru asli Bima: Dian Pratiwi, saya, @linggabinangkit dan @megahan25 bertakzim ke Uma Lengge di Desa Maria, Wawo, Kab. Bima. Mencoba mengenal kearifan Uma Lengge yang tetap bertahan tak lekang oleh zaman.


Konstruksi Sarat Fungsi

Secara umum, Uma Lengge berwujud sebagai rumah panggung. Konstruksinya menggunakan bahan kayu dengan atap dari ilalang yang menutupi tiga perempat bagian rumah. Arsitekturnya berbentuk limas dengan ditopang empat kaki kayu utama. Ukuran Uma Lengge sekitar 4 x 4 meter, dengan tinggi hingga puncaknya mencapai 7 meter. 

Susunan ruang dalam Uma Lengge terdiri dari empat tingkat. Lantai dasar atau kolong berfungsi sebagai tempat menyimpan ternak. Lantai pertama digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara adat. Lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur. Sementara itu, lantai ketiga atau atap digunakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti padi. 

Menurut ahli antropolog dari Barat, Albert dalam kunjungannya di Bima pada tahun 1909 menamakan Uma Lengge dengan “A Frame” karena wujudnya menyerupai huruf A. Rumah seperti ini berfungsi sebagai penyimpan panas yang baik. Hal ini cocok pada daerah pegunungan yang berhawa dingin seperti daerah Wawo ini. Konstruksi “A Frame” juga sangat tahan terhadap terjangan angin dan badai. Selain itu, struktur seperti ini membuat tikus tidak bisa masuk ke Uma Lengge.

Deretan Uma Jompa di Wawo, Bima. Uma Jompa adalah Uma Lengge yang sudah dimodifikasi. @iqbal_kautsar
Ibu Yanti sedang mengemasi gabahnya. Untuk kemudian dimasukkan dalam Uma Lengge. @iqbal_kautsar

“Sebenarnya Uma Lengge itu adalah rumah tinggal sekaligus lumbung padi. Tapi, suatu ketika ada musibah kebakaran. Seluruhnya terbakar. Barang-barang rumah tangga dan simpanan pangan ludes.” ungkap Ibu Fatma sembari beristirahat di bale-bale Uma Lengge’ setelah membantu mengemasi gabah Ibu Yanti.

Kejadian tersebut membuat masyarakat Desa Wawo memutuskan membuat pemukiman yang terpisah dari kompleks lumbung pangan. Harapannya, jika terjadi musibah, masih ada yang bisa diselamatkan. Papan atau pangan. Uma Lengge di Wawo pun hanya dipergunakan sebagai tempat penyimpanan pangan. Kejadian buruk masa lalu bisa menjadi pelajaran berharga untuk membuat keputusan yang baik untuk masa depan.

Saya mengamati wujud Uma Lengge di Wawo telah mengalami penyederhanaan. Karena fungsinya sekedar lumbung, susunan ruang pun dimodifikasi. Hanya ada atap sebagai tempat penyimpanan persediaan pangan, di bawahnya ruangan tanpa dinding semacam bale-bale dan kolong. Bale-bale ini berfungsi sebagai tempat istirahat dan pelaksanaan upacara adat. Ukuran Uma Lengge pun lebih kecil, sekitar 2 x 2 meter dengan tinggi 4-5 meter.

Tak hanya itu, atas nama kepraktisan, Uma Lengge Wawo juga  mengalami pergeseran wujud. Akan dijumpai juga Uma Lengge yang berbentuk persegi selayak rumah dengan beratapkan genteng atau seng. Meskipun, masih sama dibuat dengan konstruksi panggung. Bangunan lumbung ini disebut Uma Jompa. Masyarakat lebih mudah membuat Uma Jompa dibanding Uma Lengge.

Oleh karena itu, dari 96 buah Uma Lengge yang ada di kompleks Wawo, hanya tinggal 12 unit bangunan di yang benar-benar layak disebut Uma Lengge. Sementara 84 bangunan lainnya sudah bergeser menjadi Uma Jompa.


Falsafah Gotong Royong

Wujud Uma Lengge bisa saja berubah, tapi nilai yang terkandung pada tradisi Uma’ Lengge tetap lestari terjaga. Keberadaan Uma Lengge sangat berkaitan dengan kearifan tradisi gotong royong pada masyarakat Wawo. Terlebih saat musim panen padi tiba.

“Musim panen di Wawo dilakukan oleh warga secara bergotong royong. Dari memanen padi, menyimpan hasil panen hingga menjemur padi akan dilakukan bersama-sama.” ungkap Bu Yanti.

Di Wawo, padi akan dipanen dengan cara tradisional, dipotong menggunakan ani-ani. Padi sengaja tidak dirontok menggunakan mesin agar sisa tangkainya bisa diikat untuk digantungkan saat disimpan di dalam Lengge. Sejumlah wanita lalu membawa ikatan-ikatan padi dan menaikkannya di Uma Lengge.

Penjaga Uma Lengge yang menerima kemudian menyusun ikatan padi itu di ruang atas Lengge. Ditata dengan rapi. Jika hasil panen berlebihan dan ikatan padi tidak tertampung di Lengge, para wanita akan langsung menumbuknya menggunakan alu dan bambu. Bulir beras yang sudah ditampih dan dibersihkan, kemudian dibawa pulang sesuai pembagiannya.

Persawahan di daerah Wawo, Bima dengan Uma Lengge nya. @iqbal_kautsar
Bahan pangan dimasukkan di Uma Lengge lewat pintu berjerami ini. @iqbal_kautsar

Tak semua warga punya Uma Lengge karena kepemilikan Uma Lengge diperoleh secara turun temurun dari leluhur keluarga masing-masing. Pemilik rumah akan memberi kepercayaan kepada dua orang untuk menjaga dan mengelola sumberdaya pangan di Uma Lengge. Sang pemilik rumah hanya boleh mengambil bahan pangan sekali seminggu.

Saat panen, prosesi penyimpanan padi di Uma Lengge dimulai dengan Ampa Fare. Upacara ini merupakan tradisi masyarakat Wawo ketika menyimpan padi ke lumbung pertama kali pasca panen. Pada upacara ini, akan dilakukan tarian tradisional yang diiringi oleh bebunyian musik dari tumbukan alu dari para wanita setempat.  Suasana akan sangat ramai dengan kehadiran seluruh masyarakat Wawo yang berpartisipasi.

Uniknya, saat Ampa Fare ini, para wanita Desa Wawo akan berbusana Rimpu. Rimpu ini semacam jilbab atau kerudung, tetapi bahannya dari sarung. Menurut warga setempat, rimpu bisa menandai status perkawinan para wanita. Yang sudah menikah atau punya tunangan, menggunakan rimpu yang hanya menutupi rambut dan wajahnya tetap terlihat utuh. Sementara gadis yang belum punya tunangan menggunakan rimpu hingga menutupi wajah, hanya menyisakan mata yang terlihat.

“Ketika padi di Uma Lengge digunakan pemiliknya untuk acara hajatan, para tetangga juga akan membantu. Si pemilik akan menurunkan beberapa ikat padi dari Lengge, sedangkan tetangga  akan membantu proses menumbuk padi hingga proses penumbukan menjadi beras. “ tutur Bu Yanti.

Jika ada hajatan besar seperti syukuran khitanan atau perkawinan, prosesi menurunkan padi dari Lengge akan sangat ramai. Para wanita yang bergotong royong di kompleks Uma Lengge akan menarikan tarian tradisional dengan iringan musik dari bunyi-bunyian penumbuk alu untuk menambah semangat bekerja.


***

Siang telah mulai meluntur dan mendung tetap awet menggelayut. Pada sore yang kian menjelang, kami pun meninggalkan Kompleks Uma Lengge Wawo yang sejak 1993 ditetapkan Pemerintah Kab. Bima sebagai cagar budaya. Ada pelajaran berharga, bahwa di tengah modernisasi yang gencar melunturkan tradisi, sepenggal harapan pada konstruksi arif Uma Lengge tetap bertahan di Wawo. Meski pada kenyataannya, sudah mengalami pergeseran yang kentara. 

Sejatinya, lumbung pangan seperti Uma Lengge di Bima adalah simbol dari masyarakat Nusantara yang berbudaya agraris. Para nenek moyang mengajarkan betapa tingginya penghormatan manusia pada pangan. Segala pangan yang merupakan sumber kehidupan harus bisa dikelola dengan baik. Uma Lengge akan menghindarkan masyarakat dari kekurangan makanan sekaligus mencegah pemborosan pangan.

Kompleks Uma Lengge Wawo. Sepi saat saya datang. @iqbal_kautsar

Suasana Desa Maria, Wawo. Karena adanya musibah, rumah dipisah dengan lumbung pangan. @iqbal_kautsar


Menggerus bulir-bulir untuk dimasukkan di Uma Lengge. @iqbal_kautsar

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe