Mencandai Orang Mabuk di Jayapura

21.58

Mob. Menanggap orang mabuk di Jayapura

Benarkah dia alumni MEP UGM? atau kalau tidak, dia pernah kuliah S2 MEP UGM?

Saya berjumpa dengan bapak ini di Pantai Dok Dua, Kota Jayapura di sebuah malam tahun lalu. Tepatnya di depan Kantor Gubernur Papua. Dia sedang mabuk berat lalu marah-marah pada seorang penjual Bakso Malang yang berjualan di seberang pintu Kantor Gubernur. Saya cukup kaget, saat itu sedang duduk bersantai dengan kawan saya tak jauh dari lokasi dia marah.

Kasar katanya, saya tak perlu ungkapkan bagaimana dia marah. Bawa-bawa suku juga.

Kemudian selesai mengusir si penjual, dia mendatangi kami. Sambil teriak keras dan menyalahkan kami kenapa tidak bilang minta si penjual itu untuk pergi. Ah, kawan saya paham bahwa orang mabuk harus diajak bercanda. Kan, orang Papua suka bermain "mob", lebih-lebih jika mabuk berat makin jago mereka. Terus dia bertanya kepada saya bahwa dari mana asal saya.

"Saya dari Jogja, dari UGM"

Sangat tak disangka. Dia merangkul saya, lalu menjadi 'akrab' dengan saya.

"Ini orang pinter dari UGM, sama seperti sa. Sa dulu kuliah juga di UGM tahun 2005 sampai 2007."

Tadinya saya tak percaya. "Mosok wong koyo ngene kuliah neng UGM". Tapi saya mulai percaya saat dia sebutkan nama-nama dosen UGM seperti Pak Boediono, Pak Bagus, Pak Jamli. Selain itu, dia hafal daerah-daerah di Jogja dan khususnya di sekitar UGM. Katanya, dia tinggal dulu di Kentungan.

Saya tetap skeptis bahwa orang ini adalah alumni MEP UGM. Tapi kemudian saya teringat pada tetangga kontrakan yang berasal dari Papua yang dulu suka berpesta mabuk. Dia saat itu sedang sekolah Pascasarjana UGM dan lulus. Saya pun berpikir, bisa jadi dia alumni MEP UGM.

Mabuk memang sudah mengakar kuat bagi orang Papua di Jayapura dan Papua. Kadang di jalanan berkeliaran dan seringkali berujung keributan. Juga tak mengenal strata pendidikan. Orang tak berpendidikan sampai lulusan S3 bisa jadi tak bisa lepas dari aktivitas mabuk seperti ini, seperti di jalanan ini. 


Budaya mabuk ini konon dibawa oleh kolonial Belanda saat menguasai Bumi Papua. Tujuannya adalah membuat masyarakat Papua malas sehingga mudah dikendalikan untuk kepentingan Belanda. Terlebih bahan baku untuk membuat miras sederhana bisa mudah ditemukan di Papua. Miris, sekarang masyarakat Papua lantas menganggap mabuk ini sudah menjadi budayanya. Selain mabuk kadang membuat keonaran, juga ada sisi sebaliknya. Orang mabuk bisa dicandai lalu dia akan melakukan 'mob', pertunjukan humor khas Papua.  

Suasana malam Pantai Dok Dua di depan Kantor Gubernur Papua
"Mari senyum dulu Pak!" Kita mulai mob nya ya.

Bapak ini sedang memperagakan saat asyik sekali melakukan mob.


Bersama kawan-kawan UNIYAP. Mereka pandai mengatasi orang mabuk supaya melakukan mob.



You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe