Obsesi Luweng Sampang

Februari 13, 2015

Luweng Sampang Gunungkidul.

Yang membuat suatu tempat akan menarik dikunjungi, salah satunya jikalau tempat itu memiliki kemiripan dibanding tempat di luar negeri  yang sebelunya telah masyhur. Bahkan, jikalau tempat itu hanya versi mininya, hanya sepetak dibandingkan versi asalnya di mancanegeri yang begitu luas nan besar.  Ya, ibaratnya memiripkan tempat semacam Luweng Sampang adalah sebuah obsesi terhadap versi besar dan indahnya dari Antelope Canyon di Arizona, USA

Jelas Mbah Legiman (85) tak tahu kalau Luweng Sampang di kampungya, yakni di Desa Sampang, Kec. Gedangsari, Kab. Gunungkidul, DI Yogyakarta itu mirip dengan Antelope Canyon. Pria berputra enam ini hanya tahu lokasi batuan bergurat-gurat manis yang ditimpa air mengucur tak lebih dari lima meter ini begitu menarik.

Dia pun berinisiatif dengan uangnya sendiri membangun tangga untuk turun ke tingkatan bawah di dasar sungai. Lantas dia mencoba mengelolanya secara mandiri. Siang yang mendung di bulan Februari 2015, saya pun berjumpa dengannya yang sedang duduk sambil menjaga tempat wisata yang saat itu tampak sepi.

“Jika Sabtu Minggu banyak yang datang mas. Kadang ‘londo-londo’ juga datang dan foto-foto.” Ungkap Legiman yang meski uzur tapi suaranya masih jelas.

Luweng Sampang bisa dikenal luas berkat jasa para pengunjung lokal yang datang lalu memotret keunikannya, lantas para blogger blusukan menuliskan dan menyertai gambar eloknya, dan para fotografer landscape mengabadikannya secara menakjubkan. Jadinya Luweng Sampang menjadi destinasi wisata alternatif yang layak dikunjungi para pencari keindahan di sekitar Yogyakarta dan Klaten. Dengan keunikannya bak panorama di luar negeri, seketika yang melihat Luweng Sampang pasti tertarik untuk menyambanginya.

Guratan-guratannya seperti Antelope Canyon
Mbah Legiman. Penjaga di Luweng Sampang. 
Manis jika air jernih.

Saya datang saat musim hujan. Tampak air begitu keruh mengaliri sungai di Luweng Sampang. Jelas warna coklat sungai kurang serasi dengan guratan-guratan batuan Luweng Sampang yang berwarna coklat kemerahan. Langit sepanjang  siang begitu kelabu yang menambah redup suasana. Paling bagus berkunjung memang saat debit air sungai tak terlalu banyak dan tenang sehingga bisa memunculkan hijau toska pada kubangan-kubangan Luweng Sampang. Ya, itu adalah musim dimana hujan tak turun begitu lebat dan langit begitu cerah untuk makin mengontraskan lanskap.

Jujur, saya ke Luweng Sampang hanya untuk melampiaskan penasaran saja setelah berbulan-bulan mendamba. Saya tak berharap banyak untuk bisa mengabadikan secara memuaskan. Akan tetapi, untuk sekedar merilis bosan, Luweng Sampang cukup memenuhi kebutuhan. Terduduk pada batuan sembari menikmati tenangnya daerah di tepian Pegunungan Sewu, Gunungkidul adalah sebuah kesenangan tersendiri. Saya tak peduli dengan air kecoklat-coklatan. Saya juga tak peduli juga dengan sepasang remaja yang asyik bernarsis ria.

Namun, gerimis membuyarkan romantika obsesif Luweng Sampang. Sempritan peluit Legiman berkumandang tanda pengunjung diminta untuk naik dari dasar Luweng Sampang. Itu tanda peringatan. Hujan makin deras. Air berubah menjadi makin coklat bercampur lumpur pekat. Luweng Sampang pun digerujug oleh derasnya air yang mengandung bahaya. Setahu saya Antelope Canyon di Arizona tak akan didera oleh grujugan air yang bak air bah semacam ini.

Ya, jelas beda. Ini kan sekedar obsesi sahaja. 


Catatan:

- Bagi yang ingin ke Luweng Sampang, inilah titik koordinat GPS:  -7.809841, 110.572227. Silakan salin lalu tempel di google maps atau di GPS.
- Paling mudah lewat Gantiwarno, Kab. Klaten menuju ke arah Desa Sampang, Kec. Gedangsari, Gunungkidul 

Air kecoklatan cukup mengurangi pesonanya.
Air mengalir menuju Luweng Sampang.
Cukup unik. 
Sepasang pengunjung di Luweng Sampang. Menjadi tempat menarik pemburu ruang selfie.
Derasnya air yang cukup membahayakan. Membawa lumpur.


You Might Also Like

2 komentar

  1. Apa betul Mas klo motret di sana sekarang dikenai tarif? (berdasarkan laporan medio Februari 2015)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kehormatan ni dikunjungi n dikomen mas Wijna.. :D
      Saya datang Februari kesana cuma bayar biaya parkir saja mas.. Ya itu ke pak Legiman itu..
      Tapi saya datangnya bukan di hari sabtu minggu. :D
      Haduuh kok motret aja disuruh mbayar,, kebangetan klo itu mnurutku..

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK