Kali Kuning Park, Rekreasi Berdetak Konservasi di Tubuh Merapi

09.24



Sepasang Perling Kecil asyik bercengkerama di sebatang pohon pinus mati yang menjulang. Sesekali mereka saling menempelkan paruhnya bagai berciuman mesra. Perhatian saya pada tingkah si hitam bermata merah ini dari tadi hampir tak terjeda, mengawasi setiap gerak gerik mereka dari jendela bidik kamera. Rahmadiyono lalu menawarkan saya teropong monokuler agar perangai kukila bisa diamati lebih gamblang. Penggiat Paguyuban Pengamat Burung Jogja ini sekalian berkisah sekilas tentang kehidupan manuk di sekitar Kali Kuning.

Saya coba mengais memori lama tentang Kali Kuning. Awal tahun 2008, saya trekking ringan di seputaran Kali Kuning mengikuti suatu kegiatan organisasi kampus. Sependek ingatan saya, kawasan lembah Kali Kuning di Plunyon ini begitu rimbun dengan hamparan hutan pinus yang rapat. Ada jembatan Plunyon yang ikonik membelah Kali Kuning dan menyisir sisinya di sebelah timur.

Satu dasawarsa kemudian, Kali Kuning banyak berubah. Meski tampak hijau, tapi tegakan hutan pinus sedikit yang masih tersisa. Jembatan Plunyon memang masih bertahan tapi sudah rentan dilapuk usia dan rapuh diterjang erupsi. Di bawahnya, Dam Sabo bertingkat-tingkat coba sekuat tenaga menahan material pasir, kerikil dan batu hasil letusan Merapi yang menyusur Kali Kuning.

Pinus-pinus yang mati ini adalah saksi betapa dahsyatnya erupsi Merapi pada tahun 2010. Gulungan mengerikan awan panas meluluhlantakkan badan Merapi di bagian barat dan selatan. Kali Kuning adalah salah satu aliran kesayangan si Wedhus Gembel – sebutan lokal awan panas Merapi. Segala rumah, bangunan, vegetasi dan apapun di pinggir Kali Kuning disapu habis oleh Wedhus Gembel. Rumah Mbah Maridjan tercatat sebagai salah satu yang berdiam di sekitar aliran Kali Kuning yang disilaturahmi oleh Wedhus Gembel.


Sepasang Perling Kecil mengisi denyut kehidupan di Plunyon, Kali Kuning
Rahmadiyono dari Paguyuban Pengamat Burung Jogja mengamati perilaku burung dengan teropong monokulernya.
Aktivitas outbond wisatawan di Kali Kuning.
Peserta trekking Launching Camping Family melintasi jembatan Plunyon. Jembatan ini menjadi saksi kedahsyatan erupsi Merapi 2010.

Merapi pun ditinggalkan. Kali Kuning dibiarkan hening untuk melakukan suksesi sesuai kehendak semesta lestari. Namun, masa-masa sunyi itu tak berlangsung lama. Merapi selalu punya cara yang istimewa untuk memikat siapapun pulang. Pada mulanya tanaman tumbuh tanpa campur tangan, burung dan satwa lainnya mulai datang hingga manusia sekitar kembali berkegiatan. Geliat wisata selanjutnya berkembang sembari roda kehidupan pertanian, peternakan dan aneka aktivitas masyarakat pulih kembali berputar.

Pagi itu 7/1/2018, Plunyon Kali Kuning ditingkahi sejuk dan basah sisa hujan tadi malam. Di beberapa sudutnya, tampak berkelompok wisatawan sedang giat melangsungkan outbound. Ada juga yang sekadar mengakrabi suasana segar di lereng Merapi dengan duduk santai dan berswafoto gembira. Akhir pekan membuat Plunyon genap berdenyut dengan aktivitas para wisatawan.

Di Plunyon ini, saya rehat sejenak untuk menjeda perjalanan trekking dalam rangkaian launching Camping Family Kali Kuning Park. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mengajak saya untuk menyusuri beranda Taman Nasional Gunung Merapi di sekitaran Kali Kuning. Saya bersama rekan-rekan narablog, penggiat media sosial, organisasi pecinta alam, pengamat burung dan pengelola wisata lereng Merapi selama dua hari mengalami langsung geliat hidup lestari Merapi yang dibalut untuk rekreasi ceria segala kalangan. Melalui Kali Kuning Park, tampaknya ada yang Merapi ingin sabdakan tentang kisah konservasi yang dikemas dengan wisata mengasyikkan.


Merapah Sepetak Taman Nasional Gunung Merapi

Selama berabad-abad, Gunung Merapi ditabalkan sebagai wilayah sakral di bumi Mataram. Merapi menjadi kesatuan yang hakiki dalam peradaban Jawa dan segala aparatusnya. Bagi saya pribadi yang berdiam di kota Jogja, setiap memandang Merapi di cakrawala utara timbul perasaan ayem tentram diayomi. Namun demikian, Merapi harus selalu diingat sebagai salah satu arga paling aktif di dunia yang erupsinya secara berkala ‘membersihkan’ semesta Jawa.

Van Bemellen (1942) dalam bukunya ‘The Geology of Indonesia’ mencatat tahun 1006 diduga pernah terjadi erupsi akbar Merapi sehingga mengubur candi Borobudur dan Prambanan yang menghancurkan kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah (lalu dipindahkan ke Jawa Timur). Merapi juga secara rutin memroduksi erupsi-erupsi lebih kecil yang menyisakan cerita kerusakan lebih alit. Erupsi tahun 2010 terekam sebagai bagian dari narasi Merapi yang letusannya cukup destruktif pada sepanjang hayatnya.

Lanskap Merapi yang digurat Kali Kuning, salah satu jalur Wedhus Gembel Merapi.
Kali Kuning  bersuksesi, tumbuh menghijau kembali.
Para goweser biasa memfavoritkan Kali Kuning sebagai destinasi kayuhan.
Kawasan Kali Kuning Park yang sudah tampak dirapati tanaman dan rerumputan.

Sesungguhnya, Merapi tak bisa hanya dipandang sebagai gunung berapi yang aktif menakutkan. Merapi menyediakan jagat menakjubkan yang lestari di jantung Jawa, pulau berpenduduk terbesar di muka Bumi. Itulah kenapa badan inti Merapi seluas 6.607 Ha sangat berharga untuk dikonservasi - dikukuhkan sebagai Taman Nasional sejak tahun 2004. Di antara lima puluh empat taman nasional di Indonesia, Taman Nasional Gunung Merapi adalah salah satu yang luasnya paling kecil. Bandingkan dengan Taman Nasional Lorentz di Papua yang luasnya 2,5 juta Ha.

Dalam UU Nomor 5 Tahun 1990, Taman Nasional memungkinkan suatu kawasan konservasi yang dicirikan dengan adanya ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Kehadiran Taman Nasional Gunung Merapi ini pun menjaga lestarinya alam Merapi yang melintasi dua provinsi – DI. Yogyakarta dan Jawa Tengah, memporsi wilayah empat kabupaten – Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang.

Meski memiliki luas yang kecil, Taman Nasional Gunung Merapi punya karakteristik konservasi yang sangat unik. Taman Nasional Gunung Merapi menopang giri vulkanik teraktif di dunia yang di dalamnya terhampar hutan yang menjadi tandon tangkapan air, habitat flora dan fauna dilindungi, kantong berbagai plasma nutfah, serta peran sentral sosial dan religius masyarakat Jawa. Di balik kekayaannya, Taman Nasional Gunung Merapi mengandung ekosistem yang tingkat kerapuhannya begitu tinggi – tergantung dengan seberapa besar ‘budi baik’ Merapi dalam memuntahkan isi perutnya.

“Taman Nasional Gunung Merapi juga berdekatan sekali dengan area pemukiman,  menjadikannya taman nasional yang paling mudah untuk dijangkau.” ungkap Titin Septiana, penggiat wisata Balai Taman Nasional Gunung Merapi.

Bagi khalayak awam, menikmati Taman Nasional sering terbayangkan sebagai sebuah petualangan yang berat. Saya pikir stigma ini perlu diuji dengan menjajal wahana rekreasi Kali Kuning Park di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi  Dikelola dengan semangat konservasi dan pemberdayaan masyarakat, Balai Taman Nasional Gunung Merapi menyuguhkan Kali Kuning Park untuk bisa dinikmati semua kalangan. Kali Kuning Park berada di teras selatan Taman Nasional Gunung Merapi.  Ia bersandingan akrab dengan jalan aspal yang melintas Dusun Ngrangkah, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Area Kali Kuning Park dulunya bertetangga langsung dengan pemukiman masyarakat yang kini sudah direlokasi ke tempat lebih aman.

Gerbang Kali Kuning Park area utara yang bisa menjadi lokasi camping umum.
Salah satu panggung swafoto di area camping Kali Kuning Park.
Berkemah dengan diayomi Merapi dari dekat akan memberikan pengalaman berharga tentang hidup harmoni.
Sedikit tantangan untuk peserta mini trekking: melintasi pipa air Kali Kuning.
Mari mencermati, geliat wisata di lereng Merapi tumbuh dengan mengagumkan di atas kisah erupsi Merapi, melengkapi wisata yang sudah mapan. Tadinya, wisata Merapi kondang dengan wisata Kaliurang. Namun, masyarakat kaki Merapi sungguh kreatif untuk mendayagunakan potensi ajaib Merapi. Hadirlah jeep wisata menyusuri kaki-kaki Merapi. Berkembanglah desa-desa wisata di Cangkringan, Pakem, Turi dan Kemalang. Belum lagi bertebaran spot-spot foto di empat kabupaten yang mengelilingi Merapi. Kehadiran Kali Kuning Park pun bisa menegaskan detak konservasi yang semestinya turut menderap wisata Gunung Merapi.

Bagusnya, Kali Kuning Park tidaklah bergerak dalam ikhtiar eksklusivitas Balai Taman Nasional Gunung Merapi.  Masyarakat sekitar, di Umbulharjo, dirangkul karib dengan upaya pemberdayaan yang berkeadilan dan menyejahterakan. Mereka dilibatkan untuk bersinergi mengelola dan menyuplai kebutuhan wisata Kali Kuning Park. Taman Nasional memang semestinya hadir bersahabat untuk memberi kemaslahatan alih-alih mudharat kepada jirannya. Tentu akan lebih elok nan bijaksana, Kali Kuning Park juga dimiliki sepenuh hati oleh masyarakat penyangga Taman Nasional Gunung Merapi.


Piknik Edukatif Kali Kuning Park

Lima buah rumah kayu berbentuk segitiga saling berhadapan yang dijeda jalan setapak. Sepintas, rumah kayu ini mengingatkan saya dengan wujud mini rumah etnik nan ikonik di desa pusaka Shirakawa-Go, Jepang. Atau bisa jadi, wujud segitiga ini merupakan titisan atas harmoni magis dengan sang Merapi. Rumah kayu ini dinamai Camping Family Kali Kuning Park yang dimaksudkan sebagai kemah inap rekreasi keluarga. Keunikan bentuk Camping Family ini secara naluri bisa mengundang para wisatawan untuk berfoto ceria.

Saya berjalan menyusuri jalur setapak Kali Kuning Park. Tiga ratus meter ke utara dengan sedikit menanjak, terdapat area terbuka luas yang bergandengan dengan jurang Kali Kuning di tepiannya. Di sinilah para peserta Camping Family mendirikan tenda. Sensasi menginap dengan pengawasan langsung Merapi yang gagah adalah suatu pengalaman yang mengesankan. Sayangnya, cuaca mendung pagi itu membuat pucuk Merapi lebih sering terhijab walau beberapa saat memunculkan rupa khas ‘kroak’nya sisa erupsi dahsyat.


Inilah rumah kayu untuk camping family di Kali Kuning Park. 
Interior camping family yang dilengkapi dengan tempat menaruh barang di bagian atas. Kita tidur bisa dengan matras atau kasur busa. 
Area Camping Ground dilengkapi dengan spot swafoto yang beragam.
Joglo ini bisa dimanfaatkan untuk tempat pertemuan yang nyaman. Melengkapi fasilitas Kali Kuning Park.
Kali Kuning Park tak luput pula mengakomodasi kebutuhan kekinian para generasi milenial dan sesudahnya. Tersebarlah instalasi swafoto di sudut-sudut Kali Kuning Park. Ada yang merupa kupu-kupu, wujud ‘love’, bunga-bungaan, rumah Hobbit, ayunan biasa dan kepompong, hingga panggung kayu yang ‘fotoable’. Arena khusus foto memang kini menjadi tren yang menjamur di berbagai destinasi wisata. Saya urun saran, Kali Kuning Park lebih bagus lagi jika diciptakan beragam spot unik yang lebih menyatu dengan kawasan konservasi. Saya jumpai seperti tempat perapian dan playground kayu sudah apik untuk obyek berfoto yang desainnya bersekutu dengan suasana sekitar.

Ada yang melegakan dari Kali Kuning Park, yakni punya toilet yang bersih dan senantiasa tersedia airnya. Barangkali ini sepele, tapi toilet adalah kunci untuk memberi kenyamanan secara ‘kaffah’ atas kebutuhan berwisata. Biasanya, saya sebagai wisatawan akan memberi kesan bagus pada destinasi apabila toiletnya bersih. Kali Kuning Park juga dilengkapi dengan balai joglo yang memungkinkan para wisatawan bisa mengadakan pertemuan dengan nyaman.

Angin berhembus ‘semribit’ betah menimpa sepagian saya di Kali Kuning Park. Di angkasa, mendung menggelayut bersama kabut dari tadi memberi kekhawatiran akan datangnya hujan. Namun begitu, mentari tak menyerah untuk bersikukuh memendarkan sinarnya. Kami berharap cuaca bersahabat pada Minggu pagi ini agar nyaman menjajal rute trekking yang disuguhkan Kali Kuning Park. Aktivitas trekking adalah kuasa serius Kali Kuning Park menghidangkan peran edukasi tentang jagat konservasi Taman Nasional Gunung Merapi.


Panggung utama untuk eksis di hadapan Merapi - jikalau cuaca cerah.
Ada juga rumah Hobbit. Ternyata Hobbit juga bisa dijumpai di sekitar Merapi. 
Tempat perapian. Saya suka desainnya yang benar terasa menyatu dengan alam. Cukup menawan sebagai lokasi foto.
Kali Kuning Park juga punya ayunan untuk menggembirakan jiwa. 
Empat kelompok dibentuk dari sekitar 50 peserta dan saya bergabung dalam kelompok 3. Kami dipandu oleh Arif Sulfiantono dan Titin Septiana, pegawai Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Trekking ini didesain mengambil rute pendek yang ramah dilintasi untuk rekreasi keluarga. Rute minitrekking ini memulai start di area Camping Family Kali Kuning Park, menuruni tebing bersetapak ke Plunyon, menyusuri dasar Kali Kuning hingga menapak rehat di Umbul Wadon dan Lanang, lalu mendaki setapak tanah berbatu yang cukup curam untuk finish di area camping Kali Kuning Park. Dalam setengah hari perjalanan, cukuplah ini untuk mengakrabi alam Merapi bersama keseruan yang menyertai.

Saya bersua dengan dampak kehancuran erupsi yang membekas pada puing-puing bangunan di kawasan Kali Kuning Park. Namun, teruntuk vegetasi, suksesi sudah menampakkan hasilnya dengan mengagumkan. Suksesi ini ditengarai dengan ketinggian pohon-pohon yang mulai mengayomi rerumputan sekitar. Suksesi Merapi ini ada yang berlangsung secara alami, ada juga berupa penanaman sengaja oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

“Awalnya penanaman tak terkendali di Taman Nasional Gunung Merapi pasca erupsi yang tidak memerhatikan tumbuhan endemik Merapi. Apa saja ditanam. Mosok kelapa juga ikut ditanam di Taman Nasional” terang Arif sambil memegang pohon Soga yang mulai menjulang.

Pohon Soga memiliki tempat yang berkesan di hati Merapi. Walau bukan tanaman asli Merapi, pohon Soga bisa tumbuh pada kondisi tanah yang masih panas dan keras. Pasca erupsi Merapi, Soga menjadi salah satu tanaman pertama yang tumbuh secara alami dan sifatnya invasif mudah menyebar. Pohon Soga itu kini menetap bersama tumbuhan asli Merapi seperti Rasamala, Puspa, Dadap, Kemenyan, Sarangan, dan Jamuju. Suksesi vegetasi Merapi lantas mulai memikat para fauna untuk betah tinggal dalam pelukan Merapi yang menghidupi.

Pemandu kami, mas Arif sedang menjelaskan tentang suksesi dan konservasi Merapi. Pohon Soga yang dipegangnya ialah salah satu tanaman yang hadir paling awal saat proses suksesi.
Jalur trekking menuruni ke dasar Kali Kuning yang sudah dibikin setapak. Cukup memudahkan. 
Menyusuri dasar Kali Kuning. Sensasi yang dinanti pada wisata Kali Kuning Park. 
Jalur trekking didesain berdampingan dengan jalur pipa air Kali Kuning. 
Kali Kuning Park memang harus dinikmati dengan cerita-cerita konservasi yang mengiringi perjalanan hidup Merapi. Sepanjang berjalan yang dikawani panorama menawan, edukasi tentang konservasi lebih mudah dipahami dan menemukan relevansinya. Memahami Merapi dan kelestariannya pun bisa senafas dengan pesona keindahannya dan juga aura kedahsyatan letusannya.


Sepasang Mata Air untuk Jogja

Jujur, perjalanan trekking ini tak boleh diremehkan walau menempuh jalur pendek. Badan saya yang belum fit seratus persen pasca sakit, membuat nafas gampang tersengal. Saya iri dengan masyarakat setempat yang begitu tangguhnya membawa beban rumput puluhan kilogram untuk pakan sapinya. Saya berjumpa dengan beberapa bapak dan ibu yang merumput di sekitaran area Kali Kuning. Saya juga menyaksikan ‘keberanian’ seorang warga mengambil rumput di tebing yang sangat curam.

“Kami memberi pengertian kepada warga pencari rumput agar jaga keselamatan dan jangan sampai merusak bibit-bibit tanaman di Taman Nasional Gunung Merapi ” ujar Arif yang membidangi bagian Pengendali Ekosistem Hutan di Balai Taman Nasional Gunung Merapi.

Keikutsertaan Bre, putra kesayangan blogger mbak Elisabeth Murni www.ranselhitam.com dan mas Chandra untunglah memberi pemantik semangat saya agar terus melangkah. Saya amati bocah berusia hampir 3 tahun ini inginnya terus mandiri berjalan, tak mau digendong oleh orang tuanya. Padahal medan trekking ini bukanlah permukaan yang rata. Bocah petualang ini memang terbiasa aktif dan antusias mengintimkan dirinya kepada sang alam. Kehadiran Bre pun meracik fun trekking ini lebih terasa aromanya sebagai hidangan rekreasi ramah keluarga.

Perempuan perkasa di lereng Merapi. Rumput ini untuk pakan ternak sapinya,
Keberanian atau kenekatan? Tebing curam pun tetap ditebas rumputnya.
Rawan longsor di tepian Kali Kuning Park. Untung sudah diberi tanda peringatan.
Inilah Bre. Bocah petualang menyusuri trek Kali Kuning dengan mandiri.
Mentari mulai memenggal hari di tengah siang dengan cuaca yang mulai gerah. Di kedalaman dasar Kali Kuning, kami sejenak menjalani istirahat di area Umbul Wadon dan Umbul Lanang. Sepasang Umbul ini telah dikenal secara legendaris sebagai Umbul Temanten. Umbul Wadon menghanyut tenang dalam genangan yang menjadi rumah nyaman dari beragam ikan. Umbul Lanang bergemurujug keras langsung menyembur dari dalam perut vulkanik Merapi. Sungguh sebuah kepribadian yang berbeda dari dua umbul yang menjadi salah satu mata air bagi Kali Kuning.

Letusan tahun 2010 sempat memberi kekhawatiran akan keberlangsungan dua umbul ini. Namun, karena takdirnya sebagai sumber air Merapi yang abadi, kedua umbul ini selamat dari sapuan erupsi. Dua umbul ini dimanfaatkan tak hanya oleh masyarakat di Kecamatan Cangkringan dan Pakem yang ada di kaki Merapi, tapi juga oleh sebagian lain masyarakat di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Terpasang instalasi perusahaan air minum di Umbul Wadon yang lalu disalurkan melalui pipa di sisi Kali Kuning. Di balik faedah dan mitos yang melingkupi, ada juga sisi komersial yang ditakar dengan balutan pendapatan untuk daerah.

Saya basuhkan muka dengan air yang mengalir dari Umbul Lanang. Anyes. Saya sempatkan pula untuk meminumnya. Segar. Dahaga pun terlepas dari kerongkongan saya. Tahukah kalian? Ada mitos yang menyenangkan dari Umbul Lanang ini: “Barangsiapa yang mandi di Umbul Lanang maka akan digampangkan jodohnya – bagi yang belum menikah!” Soal percaya atau tidak, itu urusan kepercayaan tiap pribadi orang. Yang saya percayai dari mitos mata air ini adalah bagian dari proses melestari sumber air hayati untuk ribuan orang di kaki Merapi. Bukankah mata air harus dilindungi sedemikian rupa agar kehidupan terus berjalan.


Umbul Wadon ditinggali oleh beragam ikan. Tanda kualitas air terjaga.
Umbul Lanang berasal langsung dari perut bumi Merapi. Ia enggerujug segar untuk sumber kehidupan.
Untuk menjaga sumber mata air untuk ribuan orang, Umbul Wadon dibangun instalasi pelindung. 
Menanam Kemenyan di area Umbul Temanten. Prasasti kecil hayati untuk keberlangsungan ekosistem Merapi.
Beberapa batang bibit pohon Kemenyan ditanam di sekitar area Umbul Temanten. Prosesi ini layak sebagai prasasti hayati atas partisipasi kami dalam upaya merawat kelestarian Umbul Temanten dan keberlangsungan alam Merapi. Saya harus ingat betul di mana lokasi menanam tersebut. Suatu saat, inilah yang akan bercerita di masa depan bahwa pohon Kemenyan bisa jadi saksi atas kontribusi kami untuk Merapi yang hijau.

Seyogyanya senantiasa camkan dengan baik-baik, Merapi sudah memberi kebaikan yang sedemikian besar. Kita tentu perlu menyuguh sumbangsih kepada Merapi. Tak perlu menunggu untuk bisa berkontribusi besar, tapi bisa memulainya dengan menanam bibit kecil kehidupan di tubuhnya yang gagah perkasa.


***

Serombongan Cucak Kutilang terbang melintasi keintiman saya mengamati Perling Kecil. Cucak Kutilang ini lantas hinggap pada seranting rimbun pinus yang selamat dari terjangan awan panas. Saya amati cukup beragam paksi yang memeriahkan jagat kecil Kali Kuning ini. Mereka membersamai perjalanan bird watching menyusuri Kali Kuning dengan kicauan dan perangainya. Dalam perjalanan ini, terhitung saya berjumpa pula dengan Kepodang Kuning, Jalak, Betet dan aneka burung lainnya.

“Lihat mas, itu Elang Ular Bido di pucuk pohon sana.” ungkap Rahmadiyono sambil menunjuk kejauhan.

Saya masih mencoba mencari-carinya di pucuk pohon sebelah mana. Sebagai pengamat burung yang berpengalaman, Rahmadiyono sungguh jeli menjumpai burung meski lokasinya jauh dan tersembunyi di antara batang dan dedaunan. Setelah berkali-kali dipandu, akhirnya saya baru bisa melihat jelas dengan bantuan bidikan kamera berlensa jauh. Jujur, inilah pengalaman saya pertama kali menyaksikan langsung Elang di habitat liarnya.

Elang Ular Bido tampak di kejauhan. Kukila yang mau hidup bersama Merapi.
Cucak Kutilang hinggap di pohon Pinus yang selamat dari terjangan erupsi.

Anggrek Spathoglottis. Hutan Merapi juga menyediakan rumah untuk berbagai jenis anggrek.
Para peserta trekking Launching Camping Family Kali Kuning Park berfoto bersama di area Umbul Temanten.

Elang Ular Bido dan para fauna penghuni asli Merapi lainnya kini sudah betah menetap lagi. Merekalah contoh makhluk yang selalu bersetia dengan Merapi. Rupanya, semenghancurkan apapun Merapi, pasti rasa ingin pulang dan tinggal mengalahkan memori kerusakan yang tertancap. Di buana sejati Merapi, pasti selalu ada yang memilih hidup bersamanya, abadi. Kita, manusia mengemban tanggung jawab melestari dengan penuh harmoni.



___________________________________________________




Panduan Menikmati Kali Kuning Park

Kali Kuning Park berlokasi di Dusun Ngrangkah, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, D.I. Yogyakarta. Meski berada di Taman Nasional Gunung Merapi, kita bisa menjangkaunya dengan mudah. Dari Kota Yogyakarta, tujulah Jalan Kaliurang hingga sampai Pakem, lalu beloklah ke kanan, ikutilah jalan arah Prambanan hingga bertemu pertigaan Jalan Bebeng menuju Kinahrejo. Lintasilah jalan Bebeng ini sekitar 4 km hingga berjumpa dengan Kali Kuning Park di sebelah kiri jalan. Lebih praktisnya, bagi pengguna gawai silakan gunakan Google Maps dan ketikkan Kali Kuning Park atau Kali Kuning Adventure Park. Tujulah: https://goo.gl/maps/n7uRyVyhYXL2

Di Kali Kuning Park, ada pilihan untuk merasakan denyut kehidupan Merapi dengan menginap atau sekedar berkunjung berwisata. Saya sarankan untuk menginap di rumah kayu ikonik Camping Family atau mendirikan tenda di area camping umum. Untuk menginap di Camping Familiy tersedia beberapa paket mulai dari Rp 600.000 untuk 4 orang sudah termasuk fasilitas makan hingga yang paket premium termasuk pemandu minitrekking, alat birdwatching dan jeep wisata Merapi. Untuk camping biasa, per orang ditarifi Rp 20.000 yang juga disediakan sewa tenda, matras dan sleeping bag atau bisa membawa tenda dan alat camping sendiri.

Informasi selengkapnya tentang Kali Kuning Park bisa menghubungi Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Kali Kuning Park, Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan pada nomor 0852 2736 6130 / 0856 4356 8967.


Salam Lestari Merapi!


Berkemah di Kali Kuning Park dilengkapi fasilitas wisata yang nyaman.
Tenda memberi kehangatan dari sapuan angin sejuk Merapi.

Pintu 'Love' memberi variasi untuk menikmati Kali Kuning Park.
Mari mengintip perilaku burung. Birdwatching menjadi salah satu aktivitas yang menyenangkan di Kali Kuning.
Jalur tanjakan curam di penghujung perjalanan memberi kesan mendalam trekking Kali Kuning Park.
Seorang Simbah penduduk kaki Merapi istirahat sejenak dalam memanggul rumput seberat 30 kg. Contoh perjuangan hebat warga Merapi.

You Might Also Like

10 komentar

  1. Waktu SD diajari, tanah yang subur itu yang dekat dengan gunung berapi. Meskipun gunung berapi berbahaya, tapi ia juga mampu memberikan manfaat yang tidak sedikit bagi masyarakat sekitarnya.

    Aku belum pernah kalo ke Kali Kuning. Dulu cuma ikutan reboisasi tahun 2011 lewat kaliurang. Trekking gitu juga. Jadi pengen nih trekking adem adem di gunung. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beruntung Indonesia punya gunung berapi yang menghasilkan tanah yang subur untuk kehidupan gemah ripah loh jinawi. Patut kita syukuri...

      Ayok dolan Kali Kuning, mriksani manuk-manuk penghuni Merapi...

      Hapus
  2. Aku pernah sepedaan ke sana hahahahha. Kalau musim ujan gini enakan sepedaan ke Plunyon, bisa renang :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah itu cita-citaku nyepeda sampe Plunyon. Trus diangkat bisa sampai ke Kali Kuning Park. Aku baru tahu ternyata kawasan Plunyon ini sudah masuk di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi mas.. :D

      Nek slibonan pas iku mas. terus lanjut ngopi. :D

      Hapus
  3. Sempet rencana mau nyobain 1-2 malam di kali kuning adventure park, soalnya cottage kayunya lucu banget. Tapi belum terlaksana sampai sekarang hahaha :D

    Itu cottage kayu isinya kosongan atau ada beberapa perabot mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nunggu musim hujannya berkurang mbak. Biar bisa lihat cerah Merapi di pagi hari.

      Kalau tidak digunakan kosongan itu mbak. Tapi klo ada tamu, nanti disediakan kasur, bantal, dan perabot lainnya.. :D

      Hapus
  4. Wah aku belum pernah ke kali kuning merapi.. Ya ampun, padahal viewnya keren banget ya.. Kekayaan alam yanh patut di banggakan.. Btw, keindahan merapi memang tak pernah ingkar janji.. Hhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merapi selalu daya pikatnya, mau dinikmati dari penjuru manapun.. ehehe..

      kalau berkesempatan ke Merapi berikutnya, mampir ya mbak ke Kalikuning Park.. :D

      Hapus
  5. keren yaaa

    mampir ke website kami ya www.aladincash.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah mampir ke blog saya. syukurlah jika keren.. :D

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe