Seribu Cerita Sore Candi Sewu

Juli 12, 2018


Sebelumnya maafkan saya pembaca yang budiman. Tulisan ini betul berjudul “Seribu Cerita” dan sungguh di Candi Sewu saya menggaet seribu cerita dalam bingkai tamasya ceria. Hanya saja, di sini saya tak akan bercerita semuanya. Saya hanya menceritakan 3 intisari saja tentang momen yang paling berkesan bagi saya, Thole dan ibunya Thole. Pertama, kami bahagia pada sore itu. Kedua, Thole puas berlari dan berdebu di antara candi-candi dan taman sekelilingnya. Ketiga, Candi Sewu ternyata tak berjumlah seribu.

Rasanya sudah lama sekali, ada momen manis di mana kami bebas bergembira pada taman yang luas. Akhir pekan yang cerah, keluarga kecil saya piknik di Taman Wisata Candi Prambanan. Saya memanfaatkan diskon 50% tiket masuk yang dihelat Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam Indonesia di Lapangan Siwa Candi Prambanan. Kehadiran kami di Taman Wisata Candi Prambanan pun mendapat manfaat ‘combo’! Saya bisa mengenalkan Thole tentang cagar sejarah dan budaya terkemuka bangsa, sekalian mendapatkan pengetahuan wisata konservasi di Indonesia.

Mentari yang bermurah riang dengan sinarnya mampu menelisik masuk di antara rimbunan pepohonan. Kawasan Candi Prambanan memiliki taman yang terhampar luas, tak sekedar susunan-susunan jutaan batu yang dibentuk menjadi ratusan candi dalam berbagai ukuran. Taman Wisata Candi Prambanan juga bukan saja tentang Candi Prambanan yang terkemuka di dunia itu, tapi ada juga Candi Sewu, Candi Bubrah dan Candi Lumbung. Harus diakui, masuk kawasan ini berbayar dan cukup mahal untuk sekedar menikmati suasana kesegaran taman.


Saya memilih untuk memprioritaskan Candi Sewu sebelum gelap menyelimut senja. Sejak direnovasi dan direkonstruksi, saya baru ke Candi Sewu lagi kali ini. Lokasinya cukup jauh dari atraksi utama Prambanan, sekitar 800 meter ke arah utara. Namun, inilah kenikmatan perjalanan yang dikehendaki sore itu. Dengan berjalan di antara taman terhamparkan rerumputan, tertanamkan rimbun pohon dan terjedakan setapak, taman ini jujur sanggup melemparkan pada kenangan setahunan silam. Itu saat momen kami bisa bebas bermain pada taman-taman di Canberra.

Thole bergembira pada sore yang cerah di Candi Bubrah.
Keceriaan di taman yang bebas.
Sore cerah untuk 'quality time' bersama keluarga.
Saya bebaskan Thole berlarian, bebas tertawa, bebas ‘pethakilan’, bebas tertawa, dan bebas teriak. Saya lihat dari ekspresinya seperti ia terpanggil lagi untuk diumbar di taman publik Canberra. Sambil menikmati seksama kalasore, kami jalan santai melintasi Candi Lumbung yang sepi, lalu melalui Candi Bubrah yang sudah tak lagi ‘bubrah’ berserakan tapi sudah diwujud menjadi candi tunggal.

Di sepanjang jalan kaki, kami berpapasan dengan beberapa wisatawan manca yang tak luput pula disapa  Thole. Sementara itu, wisatawan nusantara tampak lebih senang untuk naik shuttle keliling candi. Saking kerapnya berjumpa bule di sini, rasa-rasanya, kami semacam sedang pelesir ke luar negeri tapi dalam konteks tengara Indonesia. Saya pun jadi berasumsi kalau wisatawan dalam negeri itu belum seantusias berjalan kaki dalam menikmati sekujur pesona daripada wisatawan manca. Padahal ini taman lho, di mana kita sangat enak untuk berjalan kaki.


***

Kompleks Candi Sewu tidak lagi seberserakan dulu. Jejak gempa tahun 2006 yang meluluhlantakkan telah berangsur terbenahi. Sepasang arca Dwarapala menyambut saya di pintu kedatangan. Arca raksasa penjaga setinggi 2,3 meter ini membuat Thole sekilas terkesima dan latah menyapanya dengan ‘halo’. Beberapa fotografer juga tampak menjadi penjaga jalan masuk menuju candi. Sore ini memang sungguh berwarna. Para fotografer landscape jelas tak akan menyia-nyiakan momen senja di Candi Sewu agar bisa mencipta foto ‘epic’ nan apik.

Dari segi sejarah, Candi Sewu sangat kental dengan legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Candi Sewu adalah wujud tengara atas ikhtiar Bandung Bondowoso membangun seribu candi untuk gadis pujaannya: Roro Jonggrang. Namun, Roro tak pernah jatuh cinta pada Bandung. Roro Jonggrang pun memperdaya Bandung tatkala 999 candi purna dibangun. Bandung gagal dikala membangun candi yang keseribu lalu murka. Dikutuklah Roro Jonggrang untuk menggenapi 1000 candi. Namun, jangan sangka ada 999 candi di Candi Sewu. Nyatanya, hanya ada 249 candi yang berdiri. Tak ada juga arca Roro Jonggrang di Candi Sewu, malah adanya di Candi Prambanan merupa sebagai perwujudan arca Durga.

Thole berlari di depan Candi Sewu.
Istirahat dulu menikmati surya yang membulat.
Lanskap senja dengan berlatar depan Candi Sewu.
Pintu masuk candi, spot andalan para fotografer.
Di antara candi-candi pengapit yang sebagian besar masih jadi puing, kami menuju Candi Utama. Di sini, Thole menemukan arena bermain yang baginya adalah sesuatu yang baru. Musim kemarau membuat tanah berpasir gampang menguarkan debu dan Thole senang berlarian mencipta debu-debu beterbangan. Puing-puing candi ia manfaatkan sebagai medan petak umpet. Ia lantas mengajak saya agar membuatnya terkaget. Jelas, ia tertawa sambil beradegan terkejut untuk melakoni semacam drama khas kanak-kanak.  

Candi Utama lalu lekas dirambahnya dengan pendakian tangga mandiri. Gelap seisi candi membuatnya sedikit ragu setengah takut. Saya pun menggendongnya untuk masuk ke ruangan utama dan berkeliling di tepian candi. Di pojok belakang candi, kami lalu berhenti sejenak dan merehat menghela nafas. Terpandanglah di ufuk barat, surya membulat mulai bersiap untuk tenggelam. Mari diam sejenak, resapilah betapa syahdunya bisa membersamai momen ini bareng keluarga tercinta.

Tentang candi-candi di Prambanan, saya ingin meriwayatkan kisah kepada Thole bahwa inilah ruang keberagaman yang kental nuansa toleransi. Perhatikan saja, Candi Prambanan adalah Candi Hindu. Candi Sewu merupakan Candi Buddha, begitu juga Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Hikayat toleransi telah dijunjung agung sejak lampau. Zaman sekarang, hidup harmoni dengan peninggalan Hindu-Buddha terus dilestari oleh masyarakat sekeliling candi yang mayoritas Muslim. Akar kebhinekaan harus kita akui telah mengakar kuat dari dulu sampai sekarang, yang lestari melintas lebih dari seribuan tahun, yang membentang dari generasi ke generasi. Dengan hadir di candi-candi ini, semoga Thole bisa mafhum agar tak risih dengan semangat keberagaman Nusantara.


***

Malam telah menggelap, saya pun harus menggenapkan pada urusan acara si pembuat rabat kunjungan. Di saat para pengunjung Candi Prambanan pulang diusir petang, saya malah bersemangat untuk bertakzim ke Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam Indonesia. Momen Festival ini pun sekaligus jadi kesempatan kami agar bisa mengakses area Lapangan Siwa di kala malam gelap.

Festival tampak meriah. Namun, rasanya sayang kalau festival sebagus ini pengunjung yang hadir tidak optimal. Bukankah sangat bagus bahwa festival ini menjadi sarana untuk memperkenalkan dan mempromosikan wisata konservasi di Indonesia? Ya, barangkali promosi kurang menjangkau masyarakat lebih luas. Bayangkan, stan-stan dari sebagian besar Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan para penggiat konservasi dari seluruh Indonesia hadir memadat di Candi Prambanan. Mereka datang tak cuma berkisah tentang keunggulan area konservasi yang dicakupnya, tetapi juga tentang tradisi masyarakat yang berdiam di dalam maupun yang menjadi penyangganya





Hawa malam terasa sejuk ditingkahi semilir angin dari Merapi. Thole antusias berkeliling ke segala penjuru stan-stan festival. Stan Taman Nasional Nani Wartabone adalah favorit Thole. DI sinilah dia turut berjoget bersama maskot burung Maleo yang menjadi identitas Taman Nasional Nani Wartabone di Gorontalo dan Sulawesi Utara ini. Lantas, gempita panggung yang menampilkan aneka tarian dari masyarakat di Taman Nasional dan Taman Wisata Alam di Indonesia kini memikatnya untuk mendekat. Perangai lincah bocah-bocah Boyolali menarikan tari burung, membuat Thole tertarik turut menari di muka panggung dengan gayanya yang masih serampangan.

Tarian-tarian ini sejatinya adalah tentang rupa konservasi masyarakat pada kelestarian alam yang dituangkan dalam kreasi seni. Candi Prambanan bisa menjadi saksi tentang kolaborasi cagar sejarah hasil mahakarya manusia Nusantara dengan kehendak kepedulian menjaga semesta alam beserta segala penghuni dan penyangganya. Kami pun pulang puas dan bahagia dengan membungkus seribu cerita dan tentu lelah mendera.
 






You Might Also Like

4 komentar

  1. Aku sudah lama banget nggak masuk kawasan Candi Prambanan. Ini event pekan kemarin ya mas? Kok yo pas aku ada acara di Magelang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas pumpung diskon 50% dan bisa mengakses malam, sayang kalo disia-siakan apalagi Thole seneng banget.. hehe..

      Acara di Magelang juga keren mas. Pas lagi banyak agenda emang nih. Jadi kudu tlaten milih-milih.. :D

      Hapus
  2. jadi niat awalnya tu saya pengen datang sorean supaya bisa muter sampai candi sewu juga. ternyata bre tidur sampe sore. udah gitu di jalan kebanan jadi harus ganti ban hiks. makanya cuma di prambanan aja, ngepasi pas sunset. rodo gelo juga, mumpung tiket murah tapi nggak puas muter2. itu aslinya bre masih pengen lari-lari. betewe saya kok malah curhat ahahaha. pankapan boleh dong mas daffa playdate sama renjana.

    BalasHapus
  3. Aku juga ada cerita nih di siniii. Tapi belum ku tulis aja. Hahaha.
    Kalo dateng ke Prambanan pasti siang, belom pernah yang sore sore gitu sih.

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe