Sebelumnya maafkan
saya pembaca yang budiman. Tulisan ini betul berjudul “Seribu Cerita” dan
sungguh di Candi Sewu saya menggaet seribu cerita dalam bingkai tamasya ceria.
Hanya saja, di sini saya tak akan bercerita semuanya. Saya hanya menceritakan 3
intisari saja tentang momen yang paling berkesan bagi
saya, Thole dan ibunya Thole. Pertama, kami bahagia pada sore itu. Kedua, Thole
puas berlari dan berdebu di antara candi-candi dan taman sekelilingnya. Ketiga,
Candi Sewu ternyata tak berjumlah seribu.
| Monumen Christina Martha Tiahahu, salah satu lokasi terbaik menikmati kota Ambon dari ketinggian. |
Syukurlah kami tiba di kota
Ambon masih sisa setengah jam. Kami pun manfaatkan
untuk bertakzim ke Patung Christina Martha Tiahahu di daerah Karang Panjang,
Ambon. Lokasinya yang berada di atas
bukit, tepat di area Gedung DPRD Provinsi Maluku, membuat kendaraan harus
ekstra hati-hati. Patung pahlawan perempuan asal Maluku ini begitu manis
berdiri menghadap ke Kota Ambon seperti mengawasi hiruk pikuk kota yang sedang berkembang
pesat. Semestinya momen sunset sangat indah dinikmati dari tengara terkenal kota Ambon ini. Pas sekali menghadap ke ufuk barat.
Bang Ijen telah menanti, kami serah terima motor dan langsung meninggalkan hotel.
Awalnya kami masih ingin berburu oleh-oleh di daerah Petak 10 yang terkenal dengan
pusat oleh-oleh khas Ambon. Namun,
ketiadaan kawan lokal yang menemani, membuat kami tidak yakin untuk
mengunjunginya dengan angkutan umum. Kami putuskan langsung ke Bandara, kami menuju lagi ke Terminal Mardika. Untuk jurusan ke
Bandara Internasional Pattimura, Ambon, kami harus mencari angkutan umum jurusan Laha.
Masjid Wapauwe di Ambon yang perlu diziarahi Muslim Nusantara.
|
Bertetanggaan dengan Negeri Hila, kami berkunjung ke Negeri Kaitetu dimana terdapat salah satu masjid tertua di Nusantara. Adalah Masjid Wapauwe yang berdiri tahun 1414 M. Sekitar tujuh abad sesudahnya kami bertakzim ke masjid tua ini dan dijamu oleh Rahman Hatuwe, seorang takmir masjid. Darinya mengalir cerita panjang tentang Masjid Wapauwe yang mana akal rasional bisa menganggapnya aneh tapi karena kekuasaan Ilahi, hal demikian bisa betul terjadi.
Masjid Wapauwe hari ini
bukanlah yang dibangun asli di tempat ini. Konon, dulunya masjid tua ini
didirikan di Wawane. Kemudian, karena kedatangan Belanda yang mengganggu
masyarakat, masyarakat Wawane lalu berpindah ke daerah Tehala bersama dengan gotong royong
memindahkan masjidnya. Di Tehala, masjid
didirikan di bawah pohon mangga berabu yang dalam bahasa setempat disebut
Wapauwe. Sejak itulah dikenal dengan nama Masjid Wapauwe.
| Benteng Amsterdam di Hila menjadi tengara kolonialisme paling kentara dan tua di Ambon. |
Andai punya waktu banyak di
Ambon, saya akan berkeliling ke setiap sudut kotanya yang cantik dihampari dengan nuansa kolonial. Maklum, dulunya Ambon
adalah ibukota dari pemerintahan VOC di Nusantara Timur. Ada Gereja Maranatha, Kawasan
Kota Lama Ambon, Museum Siwa Lama dan masih banyak lainnya. Saya juga akan
menikmati lanskap alamnya yang memesona, semisal Pantai Pintu Kota, Pantai Arumbai, Pantai
Liang, dll. Namun, dengan waktu terbatas sehari saja, saya pun memilih
prioritas untuk menyambangi kawasan tua
di Hila.
Ada yang tidak diantisipasi saya saat di Ambon.
Ternyata untuk mendapatkan sewa motor di Ambon itu sangatlah susah. Tadinya saat
malam hari ada yang berniat meminjamkan tapi mendadak dibatalkan pada pagi harinya.
Kami yang berdua saja, tentu lebih nyaman menikmati Ambon dengan motor,
alih-alih sewa mobil yang menurut kami terlalu mahal. Untungnya bang Ijen,
salah seorang pegawai hotel, berniat baik meminjamkan motornya. Namun, kami dibatasi
hanya sampai pukul 14.00 WIT sesuai jadwalnya
selesai shift untuk pulang ke rumah.
![]() |
| Candi Sewu pada sebuah pagi. |
Saya tak berniat menyerap saripati mentari tatkala pagi ini mengantarkan mas @zakikoto, kawan saya, ke Bandara Adi Sucipto untuk pulang ke Padang, kampung halamannya. Saya tak berniat menghadiri suguhan artefak peradaban di kawasan Prambanan karena sudah terlampau sering saya bertakzim ke sana. Tapi, pagi ini baskara membulat cerah dengan kabut tipisnya sehingga berhasil menggiring saya tak kuasa untuk memuji momen indah di Candi Sewu, meski hanya selintas pagi.
Hanya dari luar pagar saja, saya sudah cukup bergembira menyaksikan surya
murah meriah memberi sinarnya kepada
Candi Sewu yang masih sunyi diselimut hawa sejuk. Karena seperti
itulah, Candi Sewu yang paling bisa dinikmati disaat candi-candi lain yang
dikerubung pagar kawasan Taman Candi Prambanan masih membatu sendu. Belum dihidupkan
gairah kehidupan dari geliat wisatawan.
![]() |
| Masjid Sultan Amay, tertua di Gorontalo |
Di masjid ini, saya merasakan
romansa cinta yang abadi. Saya temukan sewujud jejak dari kisah kasih seorang
raja yang mencintai seorang putri dari kerajaan seberang. Masjid ini berdiri sebagai
mahar dari pernikahan suci sang raja kepada istri idamannya. Sekaligus, masjid
ini juga menjadi prasasti yang menandai mula kepemelukan Islam secara luas di Gorontalo.
Masjid Hunto Sultan Amay membuka narasi perkembangan Islam di Gorontalo.
Pukul 09.00 WITA di Gorontalo
berarti saya sudah merasakan mentari yang menerik. Maklum, Gorontalo terletak
dekat dengan garis khatulistiwa, di tengah ‘kepala’ Pulau Sulawesi. Tiba di
Masjid Sultan Amay membuat saya merasakan sebuah kesejukan. Saya semacam
menemukan oase sejarah tentang Islam di Gorontalo.
![]() |
| Soekarno yang duduk, merenung, menikmati Ende. Sumber inspirasinya untuk Pancasila |
Orang akan mengindentikkan Soekarno
sebagai sosok yang selalu bersemangat, berapi-api, penuh dengan gelora
perjuangan. Soekarno adalah tokoh revolusioner Indonesia, sehingga
patung-patung yang mengabadikannya biasanya berbentuk Soekarno yang sedang
berdiri, berpidato, bahkan mengacungkan tangan. Tapi di Ende, Soekarno tak
hadir dalam sosok yang demikian. Patung Bung Karno mewujud pada tokoh yang
tenang dan reflektif.
“Ende, sebuah kampung nelayan
telah dipilih sebagai penjara terbuka untukku. Keadaannya masih terbelakang.
Aku mendekat kepada rakyat jelata karena aku melihat diriku sendiri dalam
orang-orang yang melarat ini. Di Ende
yang terpencil dan membosankan itu, banyak waktuku terluang untuk berpikir.”
Kenang Sukarno yang dituliskan oleh Cindy Adams dalam biografinya “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.”
![]() |
| Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende. Sepi. |
Sebuah rumah berada di sisi selatan Jalan Perwira, Ende. Bersih dengan bercat putih, pintu dan jendela kayu berwarna kuning gading serta jendela berpayung warna putih bergaris hijau. Atap berupa seng berwarna putih berkilau pantulan sinar mentari terik siang itu, 15/03/2014. Jalan setapak beralas kayu membelah pekarangan rumput hijau yang terawat rapi, menghubungkan pintu pagar dengan pintu rumah. Sebuah pohon besar terletak di samping yang tampak rimbun memayungi rumah.
Tak disangka, rumah mungil yang damai ini bukanlah rumah biasa. Narasi sejarah bangsa Indonesia menempatkan rumah ini sebagai tempat penting bagi perjalanan hidup Ir. Soekarno, proklamator RI. Selama empat tahun, 1934-1938 Soekarno diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Ende, Flores. Rumah ini menjadi saksi sejarah sebagai kediaman Soekarno beserta istrinya, Inggit Garnarsih dan mertuanya, Ibu Amsih, selama diasingkan di Ende.
![]() |
| Batu di Situs Tutari yang bermotif gambar ikan. Beto menghiasi dengan senyumnya. |
Kukuruyuuuk… Suara kokok ayam
bersahut-sahutan memeriahkan pagi. Saya terjaga lalu membangunkan rekan saya. Begitu
riangnya hati saya saat membuka jendela. Aha! Langit cerah, udara pagi segar,
dan Danau Sentani sudah berhias cantik menggoda. Selamat Pagi Sentani! Tiada
sabar lekas memulai petualangan hari ini.
Pak Essak Marweri dan Bang Jean Klief sudah duduk di beranda rumah Pak
Silas. Keduanya akan menemani saya di situs Megalitikum Tutari. Pak Essak
adalah pegawai penjaga situs Tutari dan Bang Jean ialah putra angkat Pak Silas, lulusan Fakultas Hukum UNIYAP yang kini menjadi Ketua Gemasaba Provinsi
Papua, sayap pemuda PKB. Saat itu Pak Silas sedang sibuk mengeluarkan ternak
babi dari kandangnya.
![]() |
| Renta tapi tetap cekatan. Mbah Sukemi, penjaga tradisi yang perlu regenerasi |
Dalam usianya yang senja, Mbah Sukemi tetap bersemangat
menjalankan laku hidupnya sehari-hari sebagai pembatik. Sudah lebih dari 40
tahun, warga asli Lasem ini penuh totalitas menggoreskan motif dengan canthing
tradisionalnya di atas kain putih. Tangan-tangannya sudah renta, tapi begitu
cermat melukis indah.
Dari Mbah Sukemi dan perempuan uzur inilah bermula kain Batik Lasem yang terkenal dengan corak harmoni Jawa dan Tionghoa-nya. Batik Lasem adalah salah satu khasanah batik Nusantara yang sudah berumur ratusan tahun. Pada abad 15, batik Lasem diperkenalkan oleh anak buah Cheng Ho yang melakukan muhibah legendarisnya di Tanah Jawa.
Dari Mbah Sukemi dan perempuan uzur inilah bermula kain Batik Lasem yang terkenal dengan corak harmoni Jawa dan Tionghoa-nya. Batik Lasem adalah salah satu khasanah batik Nusantara yang sudah berumur ratusan tahun. Pada abad 15, batik Lasem diperkenalkan oleh anak buah Cheng Ho yang melakukan muhibah legendarisnya di Tanah Jawa.
Kini dia melintas
dari generasi ke generasi, mencoba bertahan dalam arus zaman. Para pembatik
Lasem pun mulai termakan usia, merindukan regenerasi. Jika tak diselamatkan,
batik dari kota kecil di jalur Pantura Kabupaten Rembang ini akan hilang
termakan zaman. Sungguh kekayaan tradisi yang sayang untuk dilupakan.
Namun, beruntunglah. Kepedulian atas batik di masyarakat Indonesia semakin hari semakin meriah. Seperti identitas yang selalu melekat. UNESCO telah menetapkan menjadi batik sebagai warisan pusaka dunia, 2 Oktober 2009 silam. Maka, hari ini. Bangsa Indonesia ramai-ramai merayakan batik menjadi kebanggaan Indonesia untuk dunia. Semoga Batik Lasem juga punya harapan untuk bisa bangkit, agar menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Namun, beruntunglah. Kepedulian atas batik di masyarakat Indonesia semakin hari semakin meriah. Seperti identitas yang selalu melekat. UNESCO telah menetapkan menjadi batik sebagai warisan pusaka dunia, 2 Oktober 2009 silam. Maka, hari ini. Bangsa Indonesia ramai-ramai merayakan batik menjadi kebanggaan Indonesia untuk dunia. Semoga Batik Lasem juga punya harapan untuk bisa bangkit, agar menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Selamat Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2013. Jayalah
Batik Indonesia!
![]() |
| Benteng pengintaian dan tangkisan di Kalimaro |
Pada sebuah siang yang terik, pada akhir tahun 1942, di
ujung selatan Pegunungan Menoreh, tentara Jepang mengumpulkan Kepala Desa dari tiga
desa di wilayah Bagelen. Di bawah ‘todongan’ pucuk senjata, para Kepala Desa,
yang dikenal sebutan Kucho, Desa Somorejo, Bapangsari dan Dadirejo dipaksa
Jepang menyediakan tanah seluas 500 hektar. Seratus tiga puluh lima hektar
tanah di Tlogokotes (dulu bagian Desa Somorejo), 197 hektar tanah di Desa
Bapangsari dan 174 hektar tanah di Desa Dadirejo.
Untuk apa gerangan tanah tersebut bagi Jepang? Sejatinya tanah
di kawasan berbukit-bukit yang sekarang masuk wilayah Kab. Purworejo ini terjal nan tandus. Kering. Kawasan ini
juga tidak dekat dan akrab dengan pusat peradaban di Pulau Jawa. Namun, Jepang
punya kehendak lain. Lokasinya yang dekat menghadap Samudera Hindia, menjadikan
ia menjadi salah satu titik terbaik untuk pertahanan Jepang di daerah selatan
Jawa. Pada tanah itulah, Jepang membangun Benteng Kalimaro. Benteng pertahanan yang
terpendam di dalam tanah.
Saat itu, Jepang baru saja sukses merebut kekuasaan dari
Belanda di Pulau Jawa, termasuk menusuk hingga daerah Purworejo. Sebagai
strategi perang, keberhasilan ini harus diimbangi dengan penciptaan sistem
pertahanan yang kuat untuk menghadapi serangan balasan Belanda bersama Sekutu. Jepang
dan Sekutu sedang terlibat sengit dalam Perang Asia Timur Raya. Benteng
Kalimaro menjadi salah sekian dari banyak benteng Jepang untuk menghadapi
Sekutu.
Bukan penjajah kalau tak sekalian memeras tanah jajahannya. Jepang
meminta lebih banyak dari warga tiga desa ini. Tak cukup merampas tanah warga,Jepang
juga memaksa untuk disediakan 200 orang pekerja lengkap beserta peralatannya. Untunglah
sepakat, pekerja lokal dibayar 25 sen untuk kuli, 50 sen untuk tukang, 75 sen
untuk mandor dan 1 rupiah untuk kepala mandor.
![]() |
| Wisma Ranggam di Muntok. Tempat diskusi strategi untuk melawan Agresi Belanda II. |
Sebuah mobil Ford Deluxe 8 warna hitam membangkitkan nostalgia sejarah. Proklamator RI Soekarno – Hatta dan para tokoh bangsa menggunakan mobil ini selama diasingkan di Pulau Bangka. Mobil bernomor pelat BN 10 adalah saksi bisu perjuangan pemimpin bangsa menyusun strategi melawan Agresi Militer II Belanda. Sekarang, ia teronggok tinggal body tanpa mesin di Wisma Menumbing, Muntok, Bangka Barat. Sebagai tengara kenangan sejarah.
Narasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia menyediakan satu bab
penting bagi Pulau Bangka. Di pulau yang terkenal hasil timah inilah para
pemimpin bangsa diasingkan setelah ibukota RI saat itu, Yogyakarta, direbut dan
diduduki Belanda. Tepatnya di kota Muntok, mereka menjalani pengasingan pada
tahun 1948 – 1949, saat Agresi Militer II Belanda.









