Monumen Cinta Masjid Tua Sultan Amay

16.23

Masjid Sultan Amay, tertua di Gorontalo

Di masjid ini, saya merasakan romansa cinta yang abadi. Saya temukan sewujud jejak dari kisah kasih seorang raja yang mencintai seorang putri dari kerajaan seberang. Masjid ini berdiri sebagai mahar dari pernikahan suci sang raja kepada istri idamannya. Sekaligus, masjid ini juga menjadi prasasti yang menandai mula kepemelukan Islam secara luas di Gorontalo. Masjid Hunto Sultan Amay membuka narasi perkembangan Islam di Gorontalo.  

Pukul 09.00 WITA di Gorontalo berarti saya sudah merasakan mentari yang menerik. Maklum, Gorontalo terletak dekat dengan garis khatulistiwa, di tengah ‘kepala’ Pulau Sulawesi. Tiba di Masjid Sultan Amay membuat saya merasakan sebuah kesejukan. Saya semacam menemukan oase sejarah tentang Islam di Gorontalo.

Tertulis di gapura masjid. “Hunto Sultan Amay” 899 H – 1495 M. Hunto berasal dari Ilohuntungo atau Hohuntonga yang berarti pusat perkumpulan agama Islam. Dari angka tahun 1495 M, menegaskan jika Masjid Sultan Amay adalah masjid tertua di Gorontalo.

Lebih dari lima abad berdiri sudah pasti masjid ini mengalami renovasi berkali-kali. Saya melihat rupa bangunan yang bercat putih berpadu hijau ini telah terpoles dengan sentuhan arsitektur lebih modern. Ada kubah masjid, ada menara, ada lantai dua dan yang pasti semua bangunan sudah bertembok. Namun, saya tetap saja tertarik untuk menengok sejarah sekaligus menyempatkan untuk sholat Dhuha di masjid Sultan Amay.

Nuansa tua dari masjid ini sangat terasa tatkala berjumpa dengan sebuah sumur ketika saya berwudhu. Sumur ini berusia sama dengan usia masjid. Seperti khas pendirian sebuah masjid, dimana dibuat juga sumur sebagai sumber air untuk bersuci. Konon, pembuatan sumur ini menggunakan telur burung maleo sebagai campuran kapur untuk melekatkan batu-batu. Saya coba menimba air, ternyata air sangat jernih, tidak berbau dan tentunya menyejukkan.

Memasuki ruang utama masjid, saya terkesima dengan interior ruangan. Begitu indah. Begitu romantis. Hiasan kaligrafi bertebaran di mana-mana. Ruangan asli masjid yang berukuran 12 x 12 meter ini juga dipenuhi dengan sentuhan cat emas di berbagai ornamennya. Ada yang unik dari keenam pintu masjid di sisi kanan kiri. Rupa pintu ini klasik seperti berbau pintu model Tionghoa. Saat itu masjid sangat sepi. Selain saya, hanya ada seorang yang sedang khusyuk sholat dan membaca Al Quran.

Sumur Masjid Sultan Amay. Umurnya sama dengan masjid. Airnya jernih dan tak pernah kering.
Ruangan utama Masjid yang masih asli. Penuh dengan kaligrafi dan hiasan. Cantik.
Tulisan kaligrafi yang ada di langit-langit masjid. Penuh ukiran.

Setelah sholat, tetiba saya didatangi oleh dua orang ibu. Satunya memperkenalkan diri dengan nama Ibu Nur Mahmudah dan satunya saya lupa, keduanya merupakan warga sekitar masjid. Aha.. Sepertinya mereka paham kalau  saya adalah orang ‘asing’ sehingga mereka aktif menawarkan bantuan. Saya pun diajak berkeliling sekaligus diceritakan sejarah tentang masjid Sultan Amay.

“Dimanakah makam Sultan Amay?” tanya saya paling tertarik dengan makam sosok Raja di Gorontalo yang pertama kali beragama Islam.

Rupanya makam Sultan Amay berada tepat di mihrab berbatasan dengan tempat posisi Imam berdiri. Untungnya sudah dikondisikan dengan adanya batas antara kuburan Sultan Amay dan tempat posisi Imam berdiri. Mihrab putih yang berukiran cantik dengan hiasan cat emas ini rupanya juga berusia sama dengan usia Masjid yang telah lebih dari 5 abad. Ada satu lagi yang setua dengan masjid, yakni bedug dari kulit kambing yang terletak di sudut kanan depan di dalam ruangan masjid.

Sebuah kisah tentang berdirinya masjid selalu menarik bagi saya. Bu Mahmudah sukarela mengisahkan bagaimana masjid ini didirikan Sultan Amay sebagai bukti keislaman dia sekaligus sebagai mahar pernikahan kepada permaisuri. Masjid Sultan Amay menjadi monumen cinta yang berlimpah dengan dakwah Islam.

Alkisah Sang Raja Amay, penguasa Gorontalo yang tampan tapi masih lajang, jatuh cinta kepada putri Boki Antungo, putri Raja Palasay dari Moutong, Sulawesi Tengah. Tatkala ada pembicaraan pinangan, Raja Palasay yang telah taat memeluk Islam, mengajukan satu syarat. Raja Amay boleh menikahi putri asalkan Raja Amay memeluk Islam dengan bukti membangun sebuah masjid. Raja Amay menyepakati tawaran itu, lalu dibangunlah Hunto yang kini dikenal dengan Masjid Sultan Amay.

Pada saat jelang pernikahan, Raja Amay mengumpulkan rakyatnya sebagai upacara pendeklarasian diri memeluk Islam. Langkah memeluk Islam lantas diikuti oleh seluruh rakyatnya.

Uniknya, sebelum rakyat diminta memeluk Islam, Raja mengadakan pesta rakyat besar-besaran dengan hidangan daging babi. Dalam pesta ini, disertai pengucapan sumpah adat  yang menyatakan rakyat terakhir memakan daging babi. Baru setelah itu, Raja Amay meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat.

Tak cukup hanya mengajak rakyatnya  berislam, Sultan Amay lalu mendatangkan ulama  dari tanah Arab, yakni Syekh Syarif Abdul Aziz untuk memperkuat ajaran Islam. Masjid Sultan Amay pun menjadi pusat penyebaran Islam di Gorontalo. Ulama-ulama dari Nusantara juga didatangkan untuk berdakwah. Saat ini, di belakang masjid, terdapat beberapa makam ulama yang dulu menyebarluaskan Islam di Gorontalo.

Pintu masjid di samping. Unik. Mirip bergaya Tionghoa.
Mimbar masjid. Setua dengan masjid. Masih asli.
Pintu depan masjid. 

Bagi saya, Masjid Sultan Amay telah membuka cakrawala tentang sejarah panjang Islam di Gorontalo. Bersama Ternate, Bone dan Makassar, Gorontalo menjadi pusat dakwah Islam di kawasan Indonesia Timur. Gorontalo punya sebutan sebagai Kota Serambi Madinah. Islam juga masuk dalam filosofi budaya masyarakat Gorontalo, yakni "Adat bersendikan syarak; dan syarak bersendikan Kitabullah (Al-Quran)”

Saya jujur terkesan dengan keberislaman masyarakat Gorontalo yang kuat. Nuansa keislaman di penjuru kota begitu kentara. Setidaknya, di permukaan, bisa dilihat hampir semua perempuan  yang saya temui di ruang publik mengenakan jilbab. Atau, agak mendalam, saat waktu sholat tiba, masjid cukup ramai untuk berjamaah. Semoga memang sesungguhnya demikian, tak sekedar seperti apa yang saya lihat.

Sejam cukuplah untuk menyigi khasanah Masjid Sultan Amay. Di ujung kunjungan di Masjid Sultan Amay, saya  cukup kaget dengan pertanyaan  Bu Mahmudah.

“Sudah menikah mas?” tanyanya semangat. Dia sepertinya tak sekedar bertanya karena  dia meneruskan bahwa dia punya anak perempuan sedang kuliah semester akhir di sebuah perguruan tinggi di Gorontalo. Saya kira ini bercanda.

Haduuuh, Bu. Saya maksud pertanyaan ini. Saya harus jujur namun perlu berdiplomasi agar tidak menyinggung beliau. Saya jawab saja. “Belum Bu, tapi sudah ada yang menunggu di Jawa.”

Aha, romansa cinta di Masjid Sultan Amay itu benar ada. Saya pun merasakannya langsung. Untunglah, saya tak mengabadikannya. Cukuplah saya bertakzim saja di Masjid Sultan Amay untuk beribadah dan mengenang sejarah.     

Tampak depan Masjid Sultan Amay yang menjadi monumen cinta abadi Sultan Amay dan permaisurinya
Bentuk pintu. Gaya klasik.


You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe