Menengok Masjid Kesultanan Bima

10.28

Masjid Kesultanan Bima, pusat syiar Islam di Bima

Hampir tiga abad Masjid Kesultanan Bima berdiri melintas zaman. Tetap teguh menjadi pusat syiar agama Islam meski saat ini kesultanan tengah terbenam. Ya, seperti itulah ciri khas sebuah jejak peradaban dari kesultanan Nusantara di masa kini. Tengara ibadah tetap bertahan, tapi hanya tersisa sedikit kuasa kesultanan yang bertahan. Seperti di Bima ini, kota di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Kumandang adzan Sholat Jumat membahana di seluruh penjuru kota. Bagi saya dan kawan saya, Lingga, suara nyaring itu berarti panggilan untuk datang ke masjid yang terletak di sebelah selatan Lapangan Sera Suba, alun-alun Kota Bima. Bersama dengan ratusan masyarakat daerah yang dikenal juga sebagai Dou Labo Dana Mbojo, kami menunaikan ibadah Sholat Jumat di Masjid Kesultanan Bima.  

Ada ruang memori yang akrab di sini. Sudah pasti kemeriahan ibadah Jumat yang  menjadi kewajiban kaum laki-laki baligh di daerah yang terkenal dengan nilai-nilai agama Islam. Hamka, ulama legendaris Indonesia, pernah menyatakan Bima sebagai salah satu pusat syiar Islam di Indonesia.

Tapi, ada satu hal lagi yang lebih akrab di memori saya. Arsitektur Masjid Kesultanan Bima sangat mirip dengan masjid-masjid yang ada di Jawa. Apalagi kalau atapnya berupa atap tumpang. Ada juga menara yang berada di sisi kanan dan kiri teras masjid.  

“Menurut Tome Pires yang berkunjung ke Bima pada tahun 1513 Masehi, pada masa itu pelabuhan Bima ramai dikunjungi pedagang Nusantara. Pedagang Bima pun sudah berlayar menjual barang dagangannya ke Ternate, Banda, dan Malaka, serta singgah di setiap pelabuhan di Nusantara. Pada saat inilah, kemungkinan para pedagang Demak datang ke Bima, selain berdagang juga untuk menyiarkan agama Islam,” kata sejarawan dan Indonesianis Prancis Henry Chambert-Loir dalam bukunya, Bima dalam Sastra dan Sejarah.

Persinggungan Bima dengan Jawa terjadi karena Bima berada di jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Dari situ, pedagang dan mubaligh dari Jawa datang ke Bima menyebarkan Islam. Atau juga, bisa jadi orang-orang Bima pergi berdagang ke Jawa lalu pulang dengan membawa ajaran Islam.

Kondisi dalam masjid. Menyejukkan di tengah kota Bima yang terkenal panas.
Melihat Kota Bima dari Bukit Dana Taraha. Terpandang keramaian kota di ujung timur Sumbawa.

Masjid Kesultanan Bima dibangun oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, sultan ke-VIII pada tahun 1770 M. Pembangunan disempurnakan oleh putranya, Sultan Abdul Hamid, yang mengubah bentuk atap rumah ibadah itu menjadi atap bersusun tiga, mirip atap Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah. Namun, Masjid Kesultanan hancur dibom oleh pasukan Sekutu pada tahun 1943 M, saat Bima diduduki Jepang. Hanya tersisa mimbar masjid yang selamat dari kehancuran itu.

Sultan Bima ke-XV, Sultan Muhammad Sallahuddin (1915-1951) membangun kembali masjid yang merupakan satu kesatuan erat dengan Kesultanan Bima. Pada tahun 1990 M, Hj. Siti Maryam, putri Sultan Sallahuddin memugar Masjid Kesultanan Bima serupa kembali dengan wujud aslinya dahulu sebelum hancur. Sekarang, masjid yang berwarna dominan putih ini memiliki nama Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.    

Sepertinya, penyematan nama masjid ini bisa jadi adalah ungkapan rindu masyarakat Bima teruntuk keberadaan lagi Kesultanan Bima. Adanya sebuah kesultanan sekiranya bisa mengembalikan kejayaan Bima sebagai pusat dakwah Islam yang dirasa kini mulai memudar. Sejarah menyatakan Kesultanan Bima yang memeluk Islam telah berdiri sejak abad 17. Sebelumnya, telah berdiri juga Kerajaan Bima yang konon berkaitan dengan sejarah Majapahit.

Seperti tertulis dalam salah satu bo atau kitab catatan kerajaan, pada tahun 1640 Ruma Ta Ma Bata Wadu, Raja Bima ke-27, menikah dengan perempuan bernama Daeng Sikontu, adik istri Sultan Makassar Alauddin yang Islam. Karena perkawinan itu, Sang Raja memeluk agama Islam. Ia pun mengganti gelar dan nama menjadi Sultan Abdul Kahir. Ialah sultan Bima pertama yang beragama Islam.

Selesai sholat, saya mengulik beberapa titik yang ada di masjid ini. Seperti biasanya masjid kesultanan, ada juga makam-makam dari raja dan keluarga kesultanan. Salah satunya, makam dari Sultan Abdul Kadim yang membangun masjid ini. Saya lihat, beberapa warga setelah Sholat Jumat mengunjungi makam, berziarah. Pemandangan ini seperti khas yang ada di kawasan Pantura Jawa.   

Beberapa bulan kemudian, tanggal 4 Juli 2013, saya dengar ada penobatan Sultan baru Bima. Bertahtalah Sultan Bima ke 16, Jena Teke H. Ferry Zulkarnain. Tapi, harus diakui bahwa legitimasi kesultanan atau kerajaan sejak berdirinya Republik Indonesia tiadalah kuat. Hanya pengayom adat dan agama. Seperti itulah mungkin yang juga dialami Kesultanan Bima saat ini.


Catatan:     

Perjalanan saya ke Bima dilakukan pada 4-6 April 2013 dalam satu rangkaian Kembara Nusa Tenggara (bisa dibaca di sini prolog kisahnya). Bima menjadi salah satu kota yang kami singgahi.  Terima kasih kepada Dian Pratiwi sekeluarga yang sudah banyak membantu kami saat di Bima.



Di Masjid Kesultanan Bima, juga terdapat makam-makam Sultan Bima dan keluarganya.

Tengara sejarah di Masjid Kesultanan Bima. Pernah dibom oleh Sekutu pada PD II.
Atap tumpang dan menara. Bangunan beraksitektur seperti di masjid-masjid Jawa.
Suasana Kota Bima. Panas menyengat dan tidak terlalu ramai.
Kota kedua terbesar di Nusa Tenggara Barat.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Saya pernah juga jum'atan disini. Yg menarik mimbar buat khatib, ada tombaknya kalo gak salah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seingetku sih ada juga.. waktu itu lupa gak motret, krena khusyuk menyimak khatib.. #eh..

      Hapus
  2. wah...sipp daerah asalku..

    BalasHapus
  3. siiip bang m13r.. senang bisa turut menceritakan ttg Masjid kebanggaan masyarakat Bima.. salam kenal..

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe