Sepetak Senja Sangihe

17.02

Senja Sangihe, Senja beranda negeri.

Tahukah kau? Kenapa senja itu begitu indah? Pada senja ada pergulatan antara gelap dengan terang. Pada senja pula ada pertautan antara siang dengan malam. Dengan mega merona sebagai mahar yang menggempitakan angkasa. Dan selalu saja saya memuja, menyebutkan nama, pada senja ada kamu. Pada senja ada kita.

Hanya sekedar di tepian jalan, di tikungan, di tepian hari. Sepetak senja bisa dinikmati dengan penuh kontempelasi hati. Tapi. Tidak kah ini hanya tempat seadanya? Bukankah merayakan senja perlu di puncak gunung, di tepi pantai, di tempat-tempat spesial yang disengajakan untuk menyongsong terbenam baskara? 

Tidak. Bukan! Senja ini apa adanya. Mungkin hanya di tepian negeri, di utara Indonesia, yang membuat senja ini terasa istimewa. Senja di beranda negeri.

Namun, ini juga bukan sebuah kesengajaan tatkala menanggap sebuah pementasan senja di Sangihe. Pasti, hari itu, Tuhan bermurah hati menempatkan kita di sini, hanya untuk menikmati senja yang merona. Pasti Tuhan punya rencana. Pulau kecil di Sulawesi Utara ini rela menjadikan daratan dan lautannnya sebagai panggung terbuka untuk senja kita.

Pasti kita diberi ruang untuk bisa melampiaskan ketakjuban pada momen surya tenggelam di cakrawala lautan Sulawesi, di ufuk barat sana. Pasti kita dikasih ruang untuk bisa merenungkan perjuangan hidup saat perahu-perahu nelayan lalu lalang di perairan perbatasan. Pasti kita disediakan ruang untuk mendengar celotehan riang bocah dan pemuda Sangihe yang berkali-kali berceburan ke perairan tenang.

Tahukah kau? Kenapa senja kita begitu indah? Pada senja, bukan sekedar lanskap semesta yang kita rayakan bersuka ria. Tapi, potret hidup manusia menyongsong senja juga kita gubah sebagai nyanyian yang menebar asa. Pada senja, sepetak makna penciptaan Ilahi tersaji bertumpah ruah. Pada senja, sampai-sampai juga kita maknai senja seperti mememaknainya sebagai ibadah.

Di Sangihe, sore itu, kita khusyuk beribadah senja, bukan?


Catatan:

- Saya melakukan perjalanan ke Sangihe, Sulawesi Utara pada bulan November 2013 lalu. Saya temui senja ini di tepi jalan antara Tamako dan Manganitu. Keduanya adalah kota kecamatan di Pulau Sangihe, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Senja ini mudah ditemui karena jalan yang mengelilingi Pulau Sangihe ini berada di pinggir pantai. 


Gunung Karangetang di Pulau Siau terlihat dari Pulau Sangihe. Menjulang gagah. Gunung ini aktif.
Nelayan kecil selaksa menuju mentari. Menuju pengharapan.
Di Sangihe, pohon kelapa tinggi-tinggi. Memeriahkan senja.

You Might Also Like

7 komentar

  1. Mantap foto2 senjanya bal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bang Toliq.. aku motret momen senja yg pas bagus bang.. :D Dan beruntung bisa motret gini karena batre kamera setelah ini langsung habis.. huahaha..

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Keren banget itu fotonya yang matahari mau ngilang diatas laut.
    tapi tatkaka itu artinya apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas Aris.. :D tatkala maksudnya.. sudah saya koreksi kok, kurang teliti nih saya.. :D

      saya juga sangat takjub saat bisa lihat matahari sampai ngilang cliing tertelan laut.. hehe

      Hapus
    2. Eh tak kira itu ada bahasa kaya gitu beneran.

      Hapus
    3. hehehe.. eh ya mas Aris, makasih udah kasih tahu ada salah kata di tulisanku.. :D

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe