Napak Tilas di Hila | TELUSUR MALUKU #6

09.24

Benteng Amsterdam di Hila menjadi tengara kolonialisme paling kentara dan tua di Ambon.
Andai punya waktu banyak di Ambon, saya akan berkeliling ke setiap sudut kotanya yang cantik dihampari  dengan nuansa kolonial. Maklum, dulunya Ambon adalah ibukota dari pemerintahan VOC di Nusantara Timur. Ada Gereja Maranatha, Kawasan Kota Lama Ambon, Museum Siwa Lama dan masih banyak lainnya. Saya juga akan menikmati lanskap alamnya yang memesona, semisal Pantai Pintu Kota, Pantai Arumbai, Pantai Liang, dll. Namun, dengan waktu terbatas sehari saja, saya pun memilih prioritas untuk menyambangi  kawasan tua di Hila.

Ada  yang tidak diantisipasi saya saat di Ambon. Ternyata untuk mendapatkan sewa motor di Ambon itu sangatlah susah. Tadinya saat malam hari ada yang berniat meminjamkan tapi mendadak dibatalkan pada pagi harinya. Kami yang berdua saja, tentu lebih nyaman menikmati Ambon dengan motor, alih-alih sewa mobil yang menurut kami terlalu mahal. Untungnya bang Ijen, salah seorang pegawai hotel, berniat baik meminjamkan motornya. Namun, kami dibatasi hanya sampai pukul 14.00 WIT sesuai jadwalnya selesai shift untuk pulang ke rumah.

“Iya mas, di Ambon jarang ada sewa motor karena sering ada kasus motornya dibawa kabur. Dulu ada usaha sewa motor tapi udah tutup” ungkapnya.  Salut untuk bang Ijen yang percaya terhadap kami. Saya rasa konflik berkepanjangan  masih menyisakan sifat mudah curiga pada masyarakat.

Kawasan Hila berjarak cukup jauh dari  kota Ambon, sekitar 34 km yang kami tempuh 1,5 jam. Meski berada di Pulau Ambon, secara administratif masuk pada wilayah Kabupaten Maluku Tengah. Kami harus berpindah jazirah Leihitu . Kota Ambon berada pada jazirah Ambon. Dan satunya adalah jazirah Salahutu, dimana terdapat Negeri Tulehu yang kemarin kami sudah menyambanginya.

Memasuki Negeri Hila, saya seperti memasuki sebuah perkampungan yang kental dengan nuansa zaman lampau. Tampak rumah-rumah berarsitektur khas Maluku berpadu nuansa kolonial berdiri di sepanjang jalan. Kendara saya berjalan pelan sambil terkesima melintas perkampungan di Negeri Hila, hingga berakhir pada Benteng Amsterdam, di ujung Negeri Hila. Benteng yang menjadi saksi awal kolonialisme Portugis dan Belanda saat itu tampak sepi jauh dari hingar bingar sejarah yang terkandung di dalamnya.

Benteng Amsterdam menyisakan narasi panjang tentang kolonialisme bangsa Eropa di Maluku. Mulanya bangunan yang bertengger di tepi pantai menghadap Pulau Seram ini adalah loji penyimpanan rempah-rempah milik Portugis yang didirikan pada tahun 1512. Sikap kesewenang-wenangan Portugis dalam berdagang rempah berujung diusirnya Portugis oleh masyarakat setempat. VOC Belanda memanfaatkan pertempuran dengan membantu penduduk Maluku yang lalu menguasai loji ini.

VOC Belanda lantas mengubah loji menjadi benteng pertahanan pada tahun 1637. Sejak saat itu, Benteng Amsterdam dijadikan sebagai markas VOC Belanda untuk menguasai perdagangan rempah di Maluku. Benteng ini jadi saksi bisu penindasan rakyat Maluku oleh kolonialisme Belanda. Benteng yang berwujud seperti rumah arsitektur Eropa – disebut Blok Huis, terdiri dari tiga lantai dan menara pengintai di atapnya serta dikelilingi pagar benteng berbentuk persegi.

Adalah Georg Everhard Rumphius yang turut menjadikan benteng ini sangat dikenal dalam sejarah. Dia adalah seorang naturalis tersohor dunia asal Jerman yang tinggal pada tahun 1627-1702. Dia meneliti flora dan fauna di Pulau Ambon dan Maluku. Kami mengenang pula  di Benteng Amsterdam tentang kisahnya  melukiskan peristiwa gempa dan tsunami yang melanda Pulau Ambon dan sekitarnya tahun 1674.

Kami melanjutkan kunjungan ke Gereja Tua Immanuel Hila. Gereja yang merupakan gereja pertama di Maluku ini sudah tidak tampak lagi nuansa tuanya. Maklum konflik Maluku silam membuat gereja yang berdiri tahun 1659 terbakar habis dan dibangun lagi hanya sebagai simbol saja. Kini Gereja Tua  ini tinggal sebagai bangunan sederhana yang berdinding kayu bercat putih dengan atap rumbia dan sebuah tiang lonceng menghiasi halamannya.

Saya coba masuk ke dalam Gereja. Desain dalam gedungnya pun sederhana dengan sebuah mimbar menghadap dua barisan bangku-bangku yang berbaris ke belakang dan sebuah ruang kecil bagi pendeta. Gereja ini sudah tak digunakan lagi sejak masyarakat Nasrani di sana memilih pindah ke Saparua akibat konflik. Saya perhatikan, yang kini bergeliat di sana adalah sekotak sumbangan untuk perawatan bangunan seadanya.


|| Baca kisah perjalanan saya di Maluku selanjutnya, TELUSUR MALUKU bagian 7 : Hikayat Masjid Tertua Nusantara

Salah satu rumah berarsitektur Maluku di Hila. Tampak sekali nuansa tuanya khas kolonialisme.
Menerawang masa silam di lantai kedua Benteng Amsterdam. 
Sangat strategis terletak di tepian laut langsung berhadapan dengan Pulau Seram.
Konstruksi benteng yang dibangun dari batuan karang dan kapur.
Dari jendela lantai dua Benteng Amsterdam.
Bocah di Benteng Amstedam yang tak gampang untuk difoto.
Lovefie dulu di Benteng Amsterdam. 
Gereja Immanuel Hila yang tinggal seadanya saja. Jejak sejarah yang terlupa.
Kondisi Gereja Immanuel Hila yang sederhana. Sudah tidak digunakan lagi selain sebagai tengara sejarah.
Sangat sepi dan sedih. 

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe