Ambon yang Ramah Menyambut | TELUSUR MALUKU #1

06.33

Bandara Pattimura Ambon yang manis di pagi hari. Pintu gerbang menjelajahi Maluku.

Perjalanan ke Maluku memberikan sebuah tantangan tentang sebuah stigma perjalanan. Dianggap sebagai destinasi yang dipenuhi momok ‘keras’, ‘bekas konflik’ ditambah ‘jauh’dan ‘mahal’, tak menyurutkan hasrat saya untuk menjelajahi Maluku. Saya percaya di balik stigma itu, kejutan-kejutan kontradiktif akan berkesan ditemukan. Dalam perjalanan empat hari di Maluku, saya bersama istri menjumpai banyak pengalaman yang memantapkan pandangan saya kalau Maluku itu sangat indah, damai, luar biasa dan berharga.

Saya menulis tentang perjalanan di Maluku, yakni di Ambon ibukota Maluku di Pulau Ambon, serta di Negeri Sawai dan Pantai Ora di Pulau Seram. Perjalanan di Maluku saya beri tajuk bernama TELUSUR MALUKU. Catatan perjalanan ini dibagi dalam sembilan tulisan. Tulisan 1 - 8 adalah cerita tentang perjalanan itu sendiri. Tulisan ke-9 adalah cerita tentang Muhammad Ali asal Sawai yang menurut saya sangat inspiratif untuk kisah manusia Indonesia dari tempat yang 'lain'. Perjalanan ini dilaksanakan bersama istri saya tercinta @megahanda. Kami berdua memang sangat suka beperjalanan untuk memetik beragam cerita dari Indonesia yang luas dan sangat penuh kejutan. 

***

Tiba di Pulau Ambon pada pagi hari adalah sebuah anugerah yang sangat disyukuri. Betapa tidak, pesawat tepat mendarat di Bandara Internasional Pattimura, Ambon saat semburat jingga mulai melukis angkasa. Begitu kaki memijak tanah, baskara yang bulat sempurna muncul dengan sangat indahnya dari balik pegunungan di Teluk Ambon. Dan pastinya, yang saya sukai dari langit Indonesia Timur adalah langit yang begitu bersih. Bintang-bintang tampak masih menyisakan cerianya yang dipanglimai oleh rembulan sabit meski pagi segera merekah.

“Selamat datang di Ambon Manise!” Saya dijemput oleh Pak Lukas Ferdinandus, warga asli Ambon yang sangat ramah. Hari ini agendanya adalah langsung menuju ke Negeri Sawai di Pulau Seram, tetangga Pulau Ambon. Kami pun menuju Pelabuhan Tulehu yang berjarak sekitar 36 km dari Bandara. Hari Minggu membuat jalanan kota Ambon sangat lengang. Sebagian masyarakat Ambon yang Nasrani mulai berdatangan ke gereja dengan jalan kaki. Sebagian lain yang Muslim menghormati dengan tidak beraktivitas sedari pagi.

Sebuah sambutan yang ramah dari Ambon yang selama ini dikenal akibat konflik SARA nya. Tak terlihat lagi puing-puing konflik satu setengah dasawarsa silam yang memporak-porandakan Ambon. Ambon telah berubah menjadi kota yang damai, penuh harmoni, penuh toleransi. Masyarakat Ambon sangat sadar bahwa kedamaian jauh lebih indah.

Seperti yang dikatakan Semuel Waileruny dalam bukunya “Membongkar Konspirasi Di Balik Konflik Maluku” (2011), konflik Maluku bukanlah diciptakan orang pribumi sendiri. Melainkan didesain sebagai konspirasi dari orang luar Ambon yang ingin menghancurkan Ambon. Orang Ambon yang jumlah populasi Muslim dan Nasrani-nya hampir seimbang, sejak ratusan tahun lamanya telah hidup secara berdampingan.

“Malah setelah konflik, sekarang ikatan pela gandpng makin tumbuh kuat.” ungkap Pak Lukas. Pela adalah sistem hubungan sosial dalam masyarakat Maluku, berupa perjanjian hubungan antara satu negeri (desa) dengan negeri lainnya, dan kadang juga menganut agama lain di Maluku   

Kami pun singgah menyesap pagi di tengara tulisan “Ambon, City of Music”. Ambon sedari dulu juga dikenal sebagai kota yang masyarakatnya gandrung menyanyi dan bermusik. Lagu-lagu merdu dari para penyanyi Ambon terkenal menguasai jagat musik Indonesia Timur. Banyak juga diantaranya yang muncul sebagai  penyanyi nasional, seperti Glenn Freddy, Melly Goeslaw, Andre Hehanusa dll. Lengkingan suara manis lagu-lagu Ambon di mobil Pak Lukas pun meramaikan sepanjang perjalanan di Pulau Ambon.

Hari yang masih pagi, kami lantas mampirdi pantai terkenal di Ambon, Pantai Natsepa. Semestinya saya ingin jajal juga Rujak Natsepa yang tersohor itu, tapi alangkah sedihnya belum ada warga yang berjualan. Hanya saja, kami sudah cukup terhibur dengan lanskap pasir putih Natsepa dengan dikawani nyiur-nyiur semampai. Sesekali sampan warga melintas di perairan Natsepa yang tenang dan burung beterbangan makin membuat pagi saya di Ambon sangat indah. 


|| Baca kisah selanjutnya dari Telusur Maluku bagian 2 : Membelah Pulau Seram

Sambutan sangat indah dari baskara sebelum mendarat di Ambon.
Tengara Ambon City Of Music. Singgah dulu sebelum menjelajahi Ambon.
Baskara yang merona khas Indonesia bagian Timur.
Jalanan yang lengang di hari Minggu. Umat Nasrani beribadah. Umat Muslim menghormati.
Wefie bersama Pak Lukas yang sangat ramah. 
Pantai Natsepa yang masih sepi di pagi hari. 
Sampan warga anggun melintas di pantai terkenal di Ambon
Suasana Pelabuhan Tulehu menjelang penyeberangan ke Pulau Seram

You Might Also Like

2 komentar

  1. saya suka paduan narasi dan dokumentasinya, dua-duanya keren :D tunggu saya, Ambon! *msh baca bagian 1, berarti kurang 8 lagi.wkwk* salam kenal, mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Freakpals.. siiip makasih sekali., memang saya biasanya suka nulis untuk menarasikan sebuah perjalanan dengan bahasa yang manis dan melengkapinya dengan foto terbaik.. selamat membaca bagian selanjutnya.. :D

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe