Sejarah Bangsa di Kota Tua Timah Muntok

12.58

Wisma Ranggam di Muntok. Tempat diskusi strategi untuk melawan Agresi Belanda II.

Sebuah mobil Ford Deluxe 8 warna hitam membangkitkan nostalgia sejarah. Proklamator RI Soekarno – Hatta dan para tokoh bangsa menggunakan mobil ini selama diasingkan di Pulau Bangka. Mobil bernomor pelat BN 10 adalah saksi bisu perjuangan pemimpin bangsa menyusun strategi melawan Agresi Militer II Belanda. Sekarang, ia teronggok tinggal body tanpa mesin di Wisma Menumbing, Muntok, Bangka Barat. Sebagai tengara kenangan sejarah.

Narasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia menyediakan satu bab penting bagi Pulau Bangka. Di pulau yang terkenal hasil timah inilah para pemimpin bangsa diasingkan setelah ibukota RI saat itu, Yogyakarta, direbut dan diduduki Belanda. Tepatnya di kota Muntok, mereka menjalani pengasingan pada tahun 1948 – 1949, saat Agresi Militer II Belanda.

Para tokoh datang dalam tiga gelombang. Rombongan pertama, Mohammad Hatta, Mr A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat dan Komodor Udara S Suryadarma diasingkan tanggal 22 Desember 1948 dari Yogyakarta. Kemudian rombongan kedua, Mr. Moh Roem dan Mr. Ali Sastroamidjojo diasingkan dari Yogyakarta ke Bangka pada 31 Desember 1948. Rombongan ketiga, Bung Karno dan Agus Salim dipindahkan ke Bangka 6 Februari 1949 dari tempat pengasingannya semula di Prapat, Sumatera Utara. 

Sutejo – penjaga Wisma Menumbing – membuka pintu sebuah ruang bernomor 101 di belakang mobil. “Silakan masuk, ini ruangan Bung Karno biasa menulis dan membaca.” Sebuah meja dan tiga buah kursi yang dikelilingi dinding penuh foto-foto para tokoh saat pengasingan. Foto Soekarno terlihat paling besar, terpajang pada dinding atas kursi.

Di ruangan 101, terdapat plakat bersejarah dari Bung Hatta. Plakat ini pindahan dari Tugu di Wisma Ranggam. Tokoh Proklamator RI menunjukkan rasa terima kasih kepada masyarakat Bangka yang terus menunjukkan dukungan kepada pemimpin bangsa selama pengasingan.

Di bawah sinar gemerlap terang cuaca
Kenang-kenang membawa kemenangan
Bangka, Djokjakarta, Djakarta
Hidup Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika.

Sutejo membuka ruangan satu lagi. Kali ini dia memperlihatkan kamar tidur Bung Karno. Dua tempat tidur serba putih lengkap dengan bantal dan gulingnya. Di sinilah, Bung Karno beristirahat selama pengasingan. Namun, Sutejo buru-buru menutup pintu kamar. Ruangan memang harus ketat dijaga agar tempat bersejarah ini tetap lestari. Pengunjung tidak diperbolehkan masuk, apalagi naik di atas tempat tidur. Pengunjung pun hanya bisa melongok sebentar tempat tidur Bung Karno.

Saya berlanjut menaiki atap Wisma Menumbing. Ruangan terbuka bertingkat-tingkat yang dibatasi pagar batu setengah badan menjadi tempat berpijak. Dari sini, bisa disaksikan panorama Kota Muntok, Selat Bangka, Pulau Sumatera dan kubangan-kubangan bekas tambang timah. 

Imajinasi saya mengembara, di sini Bung Karno dan tokoh-tokoh bangsa sejenak menyegarkan pikiran. Sekaligus menangkap ironi, bumi Bangka dikeruk timahnya oleh perusahaan tambang Belanda saat itu. Inilah yang barangkali menjadi inspirasi mengapa Bung Karno dan tokoh bangsa sangat membenci penjajahan yang mencengkeram Indonesia.

Mobil yang digunakan Soekarno dan tokoh bangsa lainnya selama pembuangan di Bangka.
Ruangan baca Soekarno di Wisma Menumbing.
Atap Wisma Menumbing. Dari sini bisa terlihat panorama luas daerah Muntok.

Hari beranjak ke tengah siang. Terik kian menyengat. Saya perlu pindah ke Wisma Ranggam. 10 km turun dari Wisma Menumbing, di Kota Muntok. Saya harus menuruni bukit berketinggian 450 m dari permukaan laut. Sama seperti saat naik. Jalan berkelak-kelok menembus hutan di Gunung Menumbing. Di tengah jalan, saya berpapasan dengan anak-anak pramuka yang sedang hiking ke Wisma Menumbing.

Tibalah di Wisma Ranggam. Sebuah tugu bersisi empat yang tegak makin meruncing ke atas menyambut pengunjung yang datang. Hari itu wisma begitu sepi. Pintu rumah ditutup. “Pengelola rumah, Pak Edi Rasidi, sedang pergi” kata penjual makanan di depan wisma. Saya pun duduk mengaso di beranda sembari melihat-lihat foto dan nama pemimpin bangsa yang terpajang di atas pintu-pintu kamar.

Rumah berasitektur kolonial yang didirikan tahun 1827 sebagai peristirahatan Bangka Tin Winning – perusahaan timah Belanda yang dinasionalisasi menjadi PT Penambangan Timah Bangka –  ini juga menjadi rumah pengasingan. Kamar Moh Roem dan Ali Sastroamidjojo menempati ruangan sayap depan. Kamar Agus Salim berada di dalam ruangan utama. Di sini juga, kamar Bung Karno yang bersebelahan dengan kamar Agus Salim. Sayangnya, saya hanya bisa mengintip-intip apa gerangan di dalam Wisma Ranggam.

Namun, saya merasa akrab dengan nuansa di bangunan ini. Seperti terlempar pada suasana diskusi panjang perumusan strategi perjuangan. Pikiran saya melayang pada bagaimana Bung Karno memimpin diskusi, kemudian bertukar pemikiran dengan Bung Hatta, Agus Salim, Ali Sastroamijoyo, Moh. Roem dan tokoh lainnya. Terjadi debat seru tapi tetap mengedepankan perjuangan untuk membebaskan Indonesia dari cengkeraman agresor Belanda. Tiba-tiba kelana pikiran saya disadarkan kumandang adzan dhuhur.

Saya beranjak pergi menunaikan ibadah ke Masjid Jami’ Muntok di pusat kota, di Kampung Tanjung. Masjid bercat putih bersih ini berdiri tahun 1879 dan merupakan masjid tertua di Pulau Bangka. Bangunan ini memiliki atap hijau dua tingkat yang menyerupai atap tumpang seperti lazimnya masjid-masjid kuno di Jawa. Arsitekturnya unik bergaya kolonial. Di dalam masjid, ada tangga kayu untuk menuju lantai dua yang seperti loteng. Tapi, paling menarik adalah letak masjid Jami’ persis di samping Kelenteng Kung Fuk Min.

Masjid Jami' Muntok. Masjid tertua di Pulau Bangka. Simbol toleransi antar suku dan umat beragama.
Klenteng Kung Fuk Min yang berusia ratusan tahun. 
Masjid Jami' Muntok dilihat dari pintu pagar Klenteng Kung Fuk Min. Toleransi bukan basa-basi.

Masjid Jami’ Muntok terlihat jelas saat saya memasuki halaman kelenteng yang berdiri sejak tahun 1820. Masjid menyembul di atas pagar kuning merah. Suasana kelenteng sepi tiada aktivitas. Namun, pikiran saya penuh warna-warni ketika tahu bahwa Masjid Jami’ Muntok dibangun di atas pondasi kerja sama masyarakat Melayu dan Tionghoa, masyarakat Islam dan Konghucu. Muntok menjadi potret dimana toleransi bukan lagi basa-basi. Namun, sudah kongkrit sejak berabad-abad silam. Toleransi inilah yang mengukuhkan Muntok sebagai Bumi Sejiran Setason.

Petualangan di Muntok berlanjut dengan berkeliling kota. Melihat sudut-sudut kota Muntok berarti membuka lembar sejarah kota tua yang tumbuh karena penambangan timah. Ya, Muntok sejak abad 17 telah menggeliat. Sejak Kesultanan Palembang mengirim pekerja-pekerja untuk menambang timah. Muntok makin masyhur saat Belanda mengambilalih pertambangan timah. Dibukalah tambang-tambang timah besar dan didatangkanlah kuli-kuli dari China. Mulai dihisaplah kekayaan bumi Bangka untuk dikirim ke Eropa.

Jejak sejarah timah di Bangka kini bisa dijumpai pada rumah-rumah tua berarsitektur Eropa yang berderet di bagian Klaster Eropa. Di sana terdapat gedung eks-Kawilasi Timah yang dulu merupakan markas besar perusahaan tambang timah Belanda. Selain itu, terdapat Rumah Mayor di Jl RE Martadinata. Bangunan ini merupakan kediaman Mayor Chung A Tiam yang diangkat Pemerintah Belanda sebagai kepala masyarakat China. Ada juga Klaster China, tempat dulu buruh-buruh timah dari Tionghoa menetap di Muntok hingga beranak pinak sampai sekarang.

Penjelajahan saya di Muntok lalu berlanjut ke ujung aspal di Tanjung Kalian. Sebuah pelabuhan sekaligus tempat mercusuar tua Belanda yang berdiri sejak tahun 1862. Saya naik ke puncak mercusuar setinggi 65 meter. Di atas sini, saya menerawang luas lautan yang berbatas cakrawala. Di laut dekat tepian, terlihat kapal karam bekas pertempuran Jepang – Belanda saat PD II. Melihat daratan, berarti melihat hamparan kering yang berlubang-lubang bekas tambang. Miris memang. Tapi semilir angin lautan hadir menghempas lara itu.

Tuuuut. Tuuut. Kapal penyeberangan Muntok - Palembang lepas dari dermaga Tanjung Kalian. Ah, sebuah romantisme sejarah tiba-tiba menerpa hadir. Seperti kapal pengangkut timah berangkat mengarungi samudera untuk mengirim biji timah ke daratan Eropa. Mengangkut hasil pengisapan sumber daya alam Bangka. Namun, bisa jadi seperti kapal pembawa pulang Bung Karno dan tokoh lainnya kembali dari pengasingan. Kembali ke Tanah Jawa membahas harapan kemerdekaan Indonesia seutuhnya.

Samar-samar cakrawala menelan kapal penumpang itu. Pandangan saya terlontar kembali ke daratan. Saya turun dan mengamati sebuah monumen peringatan Perang Dunia II. Tertulis nama-nama penumpang kapal yang menjadi korban. Sedihnya, kapal karam itu ternyata bukan lah kapal perang, tetapi kapal perawat Angkatan Darat Australia yang ditenggelamkan pesawat Jepang. Jejak suram kekejian sebuah perang ini pun menjadi prasasti bahwa perang hanya meninggalkan luka. Meninggalkan kehancuran.  

Pantai Tanjung Kelian dan kapal karam bekas Perang Dunia II.
Pantai Asmara, Muntok Bangka. Tenang dan mendamaikan.
Pantai Tanjung Ular dengan bebatuan granit hitam kemerahan.
Saya tak mau larut dalam nuansa perang. Saya ingin mengungkap cinta di Pantai Asmara, sebelah barat Tanjung Kalian. Ya, cinta kepada semesta Bangka. Hamparan pasir putihnya memanjang dan bersih. Mercusuar Tanjung Kalian masih tampak tapi sayup-sayup malu. Pantai ini sepi dan alami. Segaaaar. Kaki saya mencumbu dinginnya air laut Selat Bangka. Wajah pun saya basuhkan untuk menghalau panas surya. Tampak dua anak kecil berkejar-kejaran dengan diawasi kedua orang tuanya. Sebuah keluarga yang penuh aura cinta dalam kehidupannya. Harmonis.

Sore mulai mencengkeram. Masih ada satu tempat yang didambakan. Pantai Tanjung Ular. Inilah pantai yang cukup jauh dari Muntok. Butuh sejam untuk tiba di pantai yang terletak di sisi utara Bangka. Ah, meski namanya ular tidak berarti di pantai ini banyak ular. Tepian pantainya yang berkelok-kelok menjadikan pantai ini dinamakan Tanjung Ular. Lagi-lagi pantai ini sepi. Maklum letaknya terpencil membuat orang berpikir dua kali untuk hadir. Untung saja ada sebuah mercusuar yang meramaikan Pantai Tanjung Ular.

Tak ada batuan granit besar hitam putih yang khas Bangka. Tapi di sini banyak berserak bebatuan granit merah yang berongga-rongga. Menawan. Kehadirannya memeriahkan perairan tenang yang tak berombak. Hanya sesekali ada perahu nelayan melintas membawa tangkapan. Bagi yang ingin menenangkan pikiran, Pantai Tanjung Ular layak masuk daftar. Ketika saya beranjak pulang, seorang pemancing hadir. Dia akan memancing di antara rongga-rongga karang yang katanya banyak ikan.

Muntok sebagai kota tua tambang tak bisa dipisahkan dengan romantisme warung kopi. Sejak silam, para pekerja biasa melepaskan lelah dan penat dengan bertukar kata dan rasa sambil menyeruput kopi di warung kopi. Sebelum lepas dari Muntok, saya sempatkan minum kopi di depan Masjid Jami’. Tapi, romantisme khas kota tambang tampaknya sudah memudar. Warung-warung kopi sepi. Suara geliat kota tambang Muntok memang makin lirih semenjak PT Timah memindahkan kantor pusatnya ke Pangkalpinang.

Senja benar-benar telah gelap ketika saya meninggalkan Muntok. Pulang menuju ke Pangkalpinang. Suasana kota sudah begitu lengang dan remang. Toko-toko telah menutup lembaran rutinitasnya. Manusia-manusia telah kembali ke rumah peraduannya. Jelas, ini kontras dengan kemeriahan sejarah yang berserakan di kota Muntok. Sebuah kota tua yang sarat dengan tengara tambang timah. Sebuah kota yang penuh dengan nuansa sejarah Indonesia. Ya, Muntok pun kini tertelan malam dengan kenangan bisu masa silamnya... 

Suasana Kota Muntok yang lengang. Kota tua timah yang tinggal menyisakan banyak kenangan.
Seorang ibu mengaduk kopi di warung depan Masjid Jami'. Kemeriahan warung kopi yang perlahan sepi.
Suasana yang sejuk di dalam Masjid Jami'. Kaya arsitektur yang unik..
Plakat persembahan teruma kasih Moh Hatta kepada rakyat Bangka atas dukungan kepada pemerintahan RI.
Mercusuar  tua Tanjung Kalian. Saksi pengisapan kekayaan timah Pulau Bangka.

You Might Also Like

5 komentar

  1. Aaahhh aku pengin ke Muntok. Waktu di Bangka nggak kesampean. Btw bal, bisa sering jalan2 karena sambil bertugas kah? Hehe.. *penasaran*

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu Mbak Icha KKN nya kan di bangka yaah? di daerah mana mbak?? aku pas ke Bangka keliling dari Muntok sampe Toboali.. hehe..

      Jalan2 gini kadang proyekan, kadang jalan2 sendiri dan mandiri mbak.. hehe.. Mbak Icha lebih hebat lagi untuk kayak ginian.. Cerita2 indahnya di Eropa ditunggu mbak. :)


      makasih mbak udah berkunjung n komen.. :)

      Hapus
  2. Lagi risetan buat bahan liputan, eh taunya kembali menemukan coretannya Mas Iqbal... :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak Linda.. makasih udah mampir ke blog saya lagi.. yeaaay.. ayok mbak liput Kebumen.. hehe.. :D
      Semoga bermanfaat..

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe