Pantai Petanahan, Menelisik Cemara Udang Penghadang Tsunami

15.18

Cemara udang Pantai Petanahan
Cemara udang Pantai Petanahan.
Dengarlah kawan, suara gesekan ribuan pohon cemara udang yang membentang saling berapatan. Dengarlah juga angin mendesis yang menampar lekuk-lekuk hamparan pasir. Mereka semua berbisik padaku, tentang kisah lenyapnya pantai pasir yang gersang, panas dan kerontang. Kini kisah itu tergantikan menjadi hutan rindang nan teduh di Pantai Petanahan Kebumen.Menjadi benteng alami penghadang tsunami Laut Selatan.

Siang itu, matahari memancar kuat. Langit cerah tanpa penghalang awan. Seharusnya saya tidak akan betah berlama-lama di pantai ini jika hadir 10 tahun lalu. Panas yang kuat hanya akan menggosongkan kulit, membuat badan dehidrasi, cepat lelah, dan akhirnya memaksa saya lekas enyah. Tapi sekarang, di balik rerimbunan pohon cemara udang, saya awet berdiam dan bertahan. Terpaku diri pada keriuhan laut selatan Jawa yang mendamaikan.

Saya tak bosan memandang ombak yang bergulung-gulung, seperti mereka sedang girang berkejar-kejaran. Setiap kali deburannya memeluk daratan, tepian hitam tersiram menghapus pasir panas kerontang.

Ah, sepasang anak muda seusia SMA melintas. Mereka tampak mesra berjalan, berkejaran lalu berpelukan. Perangainya seolah menganggap Pantai Petanahan hanya milik mereka berdua. Sesekali, perahu nelayan melintas di lautan biru. Menggaris cakrawala Samudera Hindia. Pemandangan ini sungguh khas Pantai Petanahan yang sepi. Saya selaksa mengais kenangan silam tapi dalam bentuk jauh berbeda.
 
Ya, karena Pantai Petanahan telah jauh berubah. Pantai favorit di Kebumen, kampung halaman saya, telah jauh lebih baik.
 
Semua berubah sejak Hutan Wanagama III hadir di Pantai Petanahan. Sebuah hutan penelitian dan wisata alam yang dikonservasi oleh Fakultas Kehutanan UGM. Dulunya Pantai Petanahan ibarat penggorengan di kala tengah siang. Terik surya bisa memanaskan pasir hingga 70 derajat C. Angin samudera biasa menerbangkan pasir panas yang mengganggu saluran pernafasan dan tak ramah bagi kulit. Tapi sejak ditanamnya ribuan Casuarina equiisetifolia (nama Latin Cemara Udang), keteduhan dan kesegaran setia memayungi Pantai Petanahan.
 
Saat ini pohon-pohon Cemara Udang telah tumbuh tinggi. Ranting-ranting dan daun-daunnya telah merentang dan merapat. Saya mencoba masuk menelusuri rerimbunan hutan Cemara Udang. Rasanya sudah seperti di tengah belantara hutan berusia puluhan tahun. Padahal Hutan Wanagama ini baru berusia 7 tahun.
 
Semakin masuk ke tengah, saya mendengar kicauan burung-burung derkuku. Mereka bernyanyi bersahutan memecah suasana sepi. Lebatnya vegetasi cemara udang telah menarik burung-burung untuk membuat habitat di Wanagama III. Pasir yang menjadi lahan cemara udang tumbuh pun telah memadat. Tak lagi rapuh jikalau diterpa angin kencang dari samudera. Wanagama III telah menjadikan ekologi Pantai Petanahan sebagai pesisir yang sejuk dan ramah.

Infrastruktur peneduh Wanagama III.
Para pencari kayu bakar di Wanagama III. @iqbal_kautsar
Para pencari kayu bakar di Wanagama III.
Setapak di Wanagama III, Pantai Petanahan. @iqbal_kautsar
Setapak di Wanagama III, Pantai Petanahan.

Saya terkaget tatkala menjumpai sesosok manusia di tengah hutan. Sambil membawa sabit. Pikir saya, dia akan mencelakakan saya. Ah, ternyata dia adalah Pak Yadiman, lelaki separuh baya yang merupakan warga sekitar Pantai Petanahan.

“Sedang apa Pak di tengah hutan ini?” tanya saya sambil mendekat, menyapa.
 
“Sedang mencari ranting-ranting yang jatuh untuk kayu bakar di rumah. Sekalian nanti mau cari rumput di pinggir hutan, untuk pakan sapi” jawabnya sembari memungut ranting yang berserakan.
 
Masyarakat sekitar Wanagama III telah merasakan manfaat langsung keberadaan hutan, yakni sebagai lahan mencari kayu. Dulu sebelum ada hutan, kawasan ini hanyalah gundukan-gundukan pasir yang gersang. Tumbuhan tak bisa tumbuh sehingga masyarakat tidak mungkin mencari kayu bakar di sini. Masyarakat mesti masuk ke kampung-kampung yang menjorok jauh ke daratan agar mendapatkan kayu bakar.
 
“Selain kayu, apa manfaat hutan cemara udang bagi masyarakat?”
 
“Kata pemerintah, untuk mencegah tsunami sampai ke perkampungan.” ungkap Yadiman.


Cemara Udang dan Tsunami
 
Adalah Tsunami Pangandaran tahun 2006 yang membuat resah Rustriningsih, Bupati Kebumen saat itu. Betapa tidak, tsunami yang lokasinya jauh di Pangandaran Jawa Barat, nyatanya juga menghantam pesisir selatan Kebumen.
 
Dari Laporan BMG tentang Survey Tsunami Pantai Selatan Jawa Agustus 2006, beberapa pantai di Kebumen terkena air tsunami sampai sejauh 200 meter. Di pantai-pantai seperti Suwuk dan Ayah, terjadi kerusakan infrastruktur dan memakan korban jiwa.
 
Bupati wanita pertama di Indonesia ini pun gelisah. Pesisir Kebumen tidak memiliki benteng alami penghadang tsunami. Sepanjang 57,5 km pesisir pantai Kebumen berkontur dataran rendah yang cukup padat didiami oleh penduduk. Terlebih pantai-pantai Kebumen telah mengalami kerusakan ekologis akibat maraknya penambangan pasir laut. Rustriningsih mencari seribu akal untuk ‘mengamankan’ daerahnya dari ancaman tsunami sekaligus merehabilitasi pantai yang rusak.
 
Gayung pun bersambut. Darori Wonodipuro, Dirjen RLPS Kementerian Kehutanan RI yang juga putra asli Kebumen, memiliki visi sama dengan Rustriningsih. Lembaga yang dipimpinnya bertanggung jawab terhadap kewajiban merehabilitasi kawasan hutan rusak dan lahan kritis. Digagaslah kerjasama rehabilitasi pesisir selatan Kebumen dengan menggandeng Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta, almamater Darori. Upaya ini dimulai di Pantai Petanahan, Kebumen.
 
Penghijauan Pantai Petanahan Kebumen melibatkan Kementerian Kehutanan RI, Pemda Kebumen dan Fakultas Kehutanan UGM. Program ini termasuk dalam Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) yang menggunakan dana Rp2,7 miliar dari APBN 2007. Ada upaya sinergis antara kalangan akademik, masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk menyukseskan rehabilitasi Pantai Petanahan. Lahirlah Wanagama III seluas 360 hektar di Pantai Petanahan yang kini diperuntukkan sebagai hutan pendidikan, penelitian dan wisata.

Rerimbunan cemara udang. Penghadang Tsunami. @iqbal_kautsar
Rerimbunan cemara udang. Penghadang Tsunami.
Zona cincin api Indonesia. Melintas di laut Selatan Jawa. www.travel.kompas.com
Zona cincin api Indonesia. Melintas di laut Selatan Jawa. www.travel.kompas.com
Pantai Selatan Jawa termasuk Kebumen berada di zona tinggi rawan gempa. http://geospasial.bnpb.go.id
Pantai Selatan Jawa termasuk Kebumen berada di zona tinggi rawan gempa. http://geospasial.bnpb.go.id
Peta Evakuasi Tsunami Kab. Kebumen. Adanya cemara udang bisa menjadi penghadang tsunami masuk lebih dalam ke daratan. http://www.gitews.org
Peta Evakuasi Tsunami Kab. Kebumen. Adanya cemara udang bisa menjadi penghadang tsunami masuk lebih dalam ke daratan. http://www.gitews.org
Tumbuhan cemara udang dipilih sebagai vegetasi utama di Wanagama III. Hal ini didasarkan dari penelitian Prof. Dr. Suhardi, MSC, guru besar Fakultas Kehutanan UGM. Pembuatan lapisan cemara udang di sepanjang pantai berfungsi sebagai benteng pelindung dari tsunami. Hutan cemara udang juga menjadi tempat berkembangnya satwa yang sangat peka dengan tanda-tanda terjadinya tsunami, sehingga dapat memberi isyarat kepada masyarakat akan datangnya tsunami.
 
Cemara udang akan mampu menahan tiupan angin kencang, hempasan gelombang laut, dan terpaan pasir yang bergulung di sepanjang pantai selatan. Oleh karena itu, cemara udang sangat baik digunakan sebagai windbarrier di kawasan pantai yang rentan terhadap bahaya angin kencang dan tsunami.
 
Dari katalog gempa yang disusun Newcomb dan McCann (1987), sejarah mencatat bahwa pesisir selatan Jawa, sekitar Jawa Tengah dan Jogja, rentan terjadi gempa dan tsunami. Kebumen menjadi salah satu daerah yang rawan terkena bencana ini. Pada tahun 1840 telah terjadi gempa besar dengan skala lebih dari 8 MMI. Tsunami menyertai gempa yang diduga memiliki magnitud 7 ini, yang menerjang pesisir Kebumen, Purworejo hingga Gunungkidul.
 
Pada tahun 1867, terjadi gempa dengan magnitude 8 di pesisir selatan Jawa. Daratan antara Kebumen hingga Madiun terguncang keras dengan skala getaran melebihi 8 MMI. Menyusul gempa tahun 1875, yang kemungkinan adalah gempa cukup dalam (gempa intralempeng) dengan estimasi magnitude 7, menggetarkan pesisir dari Pelabuhan Ratu hingga Gunungkidul pada skala 5-7 MMI. Pada 24 Juli 1943 terjadi lagi gempa dengan magnitude 8,1 yang berepisentrum di 9,5 LS 110 BT dengan kedalaman sumber 90 km. Gempa ini membuat Kebumen porak-poranda.
 
Data BMG (2006), pada Gempa Tasikmalaya 6,8 SR, 17 Juli 2006 yang berakibat tsunami Pangandaran, kawasan Pantai Kebumen dihantam tsunami yang menyebabkan rusaknya infrastruktur wisata pantai dan pelabuhan serta jatuhnya korban jiwa. Di Pantai Petanahan, tinggi tsunami mencapai 4,5 meter dengan tingkat genangan daratan sejauh 100 meter. Paling baru, terjadi gempa 5,1 SR di lepas pantai Kebumen pada 14 Juli 2012, yang getarannya dirasa cukup kuat oleh masyarakat Kebumen.
 
Kawasan Pantai Selatan Jawa memang rentan terhadap bahaya gempa dan tsunami. Di laut selatan Pulau Jawa, terdapat pertemuan antara jalur lempeng Oseanik Indo-Australia dan lempeng benua Eurasia. Sewaktu-waktu, bisa terjadi gempa akibat terjadinya tumbukan pada dua jalur lempeng besar ini.
Bahayanya, gempa di laut selatan Pulau Jawa merupakan tipe Sesar Naik (Thrusting Fault). Tipe gempa sesar naik pada umumnya akan menyebabkan terjadi deformasi dasar laut yang signifikan, sehingga dapat menimbulkan terjadinya gelombang tsunami.

Sejuk di dalam hutan Cemara Udang. @iqbal_kautsar
Sejuk di dalam hutan Cemara Udang.
Siap menghadang tsunami Laut Selatan Jawa. @iqbal_kautsar
Siap menghadang tsunami Laut Selatan Jawa.

Mengantisipasi kondisi demikian, upaya mitigasi tsunami dengan penanaman hutan cemara udang pun gencar dilakukan di kawasan pantai Selatan Jawa. Di daerah pesisir D.I. Yogyakarta telah ditanami cemara udang yang membentang dari Pantai Samas hingga Pantai Pandansimo. Kab. Purworejo tak ketinggalan. Di pesisirnya mulai ditanami tumbuhan cemara udang untuk menghadang tsunami.
 
Kabupaten Kebumen menanami pohon Cemara Udang di Pantai Ambal, Mirit, Petanahan, Puring hingga Suwuk. Daerah lain seperti Tulungagung, Jawa Timur juga telah menanami pesisir pantainya dengan cemara udang. Sepertinya semua daerah sedang berlomba-lomba untuk menghiasi pesisir selatannya dengan hutan cemara udang. Ini tentu sebuah berita bagus dalam upaya mitigasi tsunami di Indonesia.


Mengubah Lahan Gersang
 
Siapapun pasti penasaran, di kawasan pantai yang panas dan gersang kok bisa ditanami oleh tetumbuhan cemara udang. Bagaimana lahan pasir yang panasnya hingga 70 derajat bisa ditanami tumbuhan? Terlebih ketika disiram, tidak kah air pasti akan lekas meresap? Lebih penasaran lagi adalah yang ditanam adalah cemara. Padahal, cemara identik dengan tanaman di dataran tinggi. Bagaimana bisa tumbuh subur Hutan Wanagama ini?
 
Beruntunglah, Fakultas Kehutanan UGM melakukan penelitian ilmiah tentang cara mengatasi problematika menanam di lahan pasir yang gersang dan tandus. Penanaman cemara udang di Wanagama III dan daerah lainnya bisa sukses lantaran tim Fakultas Kehutanan UGM mengembangkan teknologi block press. Metode penanaman ini memasukkan bibit cemara udang ke dalam tanah liat yang sudah dicampur dengan pupuk organik kemudian dipres dalam polybag. Setelah itu baru ditanam di tanah berpasir.
 
Upaya ini sesungguhnya berasal dari penelitian terus menerus akademisi UGM. Jelas lahan pasir akan sangat sulit ditanami apapun karena kadar garam yang tinggi dari udara yang tertiup kencang. Pada awalnya, dilakukanlah usaha penanaman vegetasi seperti cemara (bukan cemara udang), nyamplung, dan ketapang di Pantai Samas, Bantul. Namun, selalu berakhir dengan kematian tumbuhan. Lahan pertanian terus terdesak jauh ke belakang dan menjauh dari pantai.
 
Hingga kemudian dicobalah cemara udang yang berasal dari Sumenep Madura. Ternyata cemara udang ini cocok ditanam di lahan berpasir yang gersang. Teknologi ini lalu dikembangkan lebih lanjut dan disebarkan secara luas di pantai-pantai Laut Selatan Jawa, di pesisir Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, yang notabene berpasir, panas dan gersang.


Wanagama III. Hutan penelitian Fakultas Kehutanan UGM di Pantai Petanahan. @iqbal_kautsar
Wanagama III. Hutan penelitian Fakultas Kehutanan UGM di Pantai Petanahan.
Daun-daun Cemara Udang yang bisa menciptakan kesuburan untuk tanah. @iqbal_kautsar
Daun-daun Cemara Udang yang bisa menciptakan kesuburan untuk tanah.
Tetumbuhan cemara udang sangat bagus untuk membuat lahan pasir jadi lahan subur produktif di pesisir. @iqbal_kautsar
Tetumbuhan cemara udang sangat bagus untuk membuat lahan pasir jadi lahan subur produktif di pesisir.

Selain sebagai mitigasi tsunami, hutan cemara udang sangat baik untuk membuat lahan sekitar pantai menjadi produktif. Saat ini, masyarakat pesisir sudah bisa menanami berbagai macam tanaman seperti cabai, pepaya, terong, bawang merah, semangka, ketela rambat, singkong bahkan sayuran seperti kacang panjang di pesisir pantai. Kawasan di sekitar hutan cemara udang pun bisa dijadikan sebagai tambak udang dan peternakan karena kemampuan pohon ini mengikat nitrogen (biasanya disebut pupuk urea alami).

Rapatnya daun cemara udang bisa mencegah meluasnya wilayah bergaram di sekitar pantai. Pohon cemara udang mampu menetralkan angin dari lautan yang mengandung salinitas. Selain itu udara panas yang berada di daerah pesisir dapat didinginkan dengan kesejukan dari oksigen yang dihasilkan pepohonan cemara udang.

Terpaan badai yang membawa pasir berat juga bisa dihalangi oleh dahan-dahan pohon cemara udang sehingga tidak merusak tanaman. Dan, tentunya membuat kawasan pantai selatan Jawa menjadi rindang dan sejuk. Wisatawan yang berkunjung ke pantai-pantai selatan bisa berteduh sembari melihat penorama Samudera Hindia.

Roda ekonomi pesisir selatan lebih berputar semenjak adanya hutan pantai cemara udang. Tatkala saya tadi memasuki Pantai Petanahan, di kanan kiri jalan tumbuh pepohonan Pepaya California. Dulunya lahan ini kering, idle. Masih ingat sewaktu kecil tamasya ke Pantai Petanahan, saya mesti melewati kawasan yang luas dan panas, tiada tetumbuhan selain rumput liar.

Sejak Pantai Petanahan ditumbuhi cemara udang, lahan-lahan pertanian warga pun berkembang dengan pesat. Menggantikan lahan tandus. Kawasan ekologi Pantai Petanahan dan sekitarnya telah berubah. Dari lahan gersang kini menjadi lahan produktif yang bisa dipanen ekonomis.


***

Sebuah prasasti peresmian Wanagama III menjadi tengara mencolok di gerbang kawasan Cemara Udang Wanagama III Pantai Petanahan. Tertanggal 18 Desember 2010. Wanagama III diresmikan langsung oleh Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan, SE, MM. 
 
“Kalau dilakukan dengan serius, daerah pantai yang panas, tandus, dan gersang ternyata bisa dihijaukan dengan baik” kata Zulkifli Hasan saat peresmian yang dikutip dari laman www.antara.com. Penghijauan Pantai Petanahan menjadi contoh program Penghijauan Tanaman Hutan Pantai secara nasional.
 
Menarik dicermati bahwa sesungguhnya penghijauan pesisir pantai masih membutuhkan upaya besar. Masih banyak pantai-pantai berpasir, di pesisir selatan Jawa pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya, yang gundul. Belum memiliki vegetasi penghadang tsunami. Masih tandus, kerontang dan gersang. Begitu rentan dan rawan.

Padahal Indonesia berada di Ring of Fire dimana bencana gempa dan tsunami sudah seperti kawan akrab sehari-hari. Kita laksana hidup mati di atas tanah bencana. Semestinya upaya menyelamatkan pesisir dari potensi tsunami harus menjadi tanggung jawab bersama. Tak semata sebagai tanggung jawab pemerintah. Harus ada upaya bersama dari pihak swasta, akademisi, pemerintah dan masyarakat. 
 
Bukan kah indah kalau semua bergerak menghijaukan pesisir, menghadang tsunami? Ya, tak ada salahnya bertindak seperti pesan Iwan Fals dalam lirik lagu “Pohon untuk Kehidupan”

Satukan hati / Tanam tak henti / Pohon untuk kehidupan
Dihatiku ada pohon / Dihatimu ada pohon / Pohon untuk kehidupan
 
Yadiman dan warga pesisir lainnya di Indonesia pasti akan senang, andaikan semua pihak membantu. Mereka pun tak akan terlalu resah terhadap ancaman datangnya tsunami yang menjangkau kampungnya. Setidaknya mereka bisa tenang karena ada hutan cemara udang yang menjadi penghadang.
 
“Kami bersyukur. Adanya Wanagama ini, semoga bisa menyelamatkan kampung kami.” harap Yadiman dengan adanya hutan cemara udang di Pantai Petanahan.
 
Jika pun tak ada tsunami (semoga ini yang terbaik), mereka juga pasti girang karena hutan cemara udang menyulap lahan berpasir menjadi ladang pertanian yang menyejahterakan.
Prasasti peresmian Wanagama III oleh Menteri Kehutanan RI. @iqbal_kautsar
Prasasti peresmian Wanagama III oleh Menteri Kehutanan RI. @iqbal_kautsar
@iqbal_kautsar

Batang cemara udang. @iqbal_kautsar
Batang cemara udang. @iqbal_kautsar
Rerimbunan cemara udang. Tumbuh di atas pasir panas. @iqbal_kautsar
Rerimbunan cemara udang. Tumbuh di atas pasir panas. @iqbal_kautsar
Kisah remaja yang memadu cinta di tepian Pantai Petanahan. @iqbal_kautsar
Kisah remaja yang memadu cinta di tepian Pantai Petanahan. @iqbal_kautsar
Gerbang Pantai Petanahan Kebumen. @iqbal_kautsar
Gerbang Pantai Petanahan Kebumen.
Tempat parkir Pantai Petanahan. Saat itu tengah siang begitu sepi. @iqbal_kautsar
Tempat parkir Pantai Petanahan. Saat itu tengah siang begitu sepi.

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe