Menjadi Anak Wae Rebo

08.56

Wae Rebo di Manggarai, Flores yang terselinap sunyi.

Terselinap di antara lebat hutan, jauh masuk ke pedalaman pegunungan, kampung Wae Rebo mendunia dulu baru dikenal orang Indonesia. Pada Agustus 2012, kampung super mini ini mendapat penghargaan tertinggi dalam upaya konservasi warisan budaya dari UNESCO. Wae Rebo bertahan dari gempuran zaman lebih dari 1000 tahun,kukuh menjaga tradisi asli Manggarai.

Meski mendunia, sampai kini Wae Rebo seakan tetap tinggal di masa lampau. Hanya sebuah ‘lorong waktu’ sepanjang sembilan kilometer yang hanya bisa ditempuh jalan kaki penuh pendakian, yang bisa melemparkan kita pada suasana kehidupan bersahaja Wae Rebo. Beruntung, saya bisa hadir bertakzim di sana, diangkat menjadi Anak Wae Rebo!

Siang di tanah Flores, NTT jarang sekali bisa ramah. Sungguh membakar kulit. Matahari memancar terik. Adalah sebuah anugerah Tuhan, saya bisa tiba di rumah Vitalis Haman. Rumah di Kampung Kombo ini ibarat oase di tengah panasnya perjalanan. Kampung Kombo dikenal sebagai ‘kembaran’ dari Wae Rebo. Seluruh penduduk Kombo adalah penduduk dari Wae Rebo.

Sampai di Kombo, perjalanan dari Ruteng, ibukota Manggarai, ‘hanya’ memakan 3 jam. Harus diakui ini adalah perjalanan yang sungguh berat. Jalanan sempit. Berkelak-kelok naik turun pegunungan serta menyisir tepi pantai. Bergantian aspal dan tanah yang bergelombang. Terlebih kami berangkat tanpa pemandu. Berkali-kali tersasar. Dan, sempat ban motor kami bocor. Untung orang Manggarai baik hati untuk berbagi arah dan informasi.

Tapi, tak banyak yang tahu dimana letak Wae Rebo.

Saya selalu menggunakan patokan. “Ke mana arah ke Dintor?” Dintor adalah desa pantai yang menjadi pertigaan untuk masuk menuju Kombo dan Wae Rebo. Dintor juga menjadi tempat penyeberangan ke Pulau Mules, pulau jelita di selatan Manggarai. Dari Dintor menuju ke Kombo, saya awet memandang Pulau Mules dengan tepian pasir putihnya yang begitu memesona.

Suasana pagi Ruteng. Di kaki G. Ranaka. Kota awal pemberangkatan menuju Wae Rebo.
Pulau Mules sayup-sayup terlihat. Perjalanan menuju Wae Rebo.
Anak-anak di daerah Iteng. Berjumpa dengan wajah polosnya. Menunjukkan arah ke Dintor.

Telah menunggu di depan rumah, Vitalis dengan ramah menyambut kehadiran saya, Lingga dan Mega. Kami bertiga langsung dipersilakan masuk ke rumahnya yang sederhana tapi berdinding tembok. Kedatangan kami memantik kemeriahan. Sekeluarga dan para tetangga langsung datang, menyalami dan berkenalan. Betapa hangatnya sebuah perjumpaan awal. Di antara kami langsung terjalin erat tali persaudaraan.

Istri Vitalis memberi suguhan kopi untuk kami. “Ini kopi asli dari kebun kami di Wae Rebo. Silakan dinikmati.” tuturnya. Keluarga Vitalis memiliki sekitar 100 pohon kopi. Tetapi kebanyakan sudah berusia uzur, warisan dari orang tuanya. Dia ingat pohon kopinya ditanam pada tahun 1970-an, saat kopi mulai ditanam di Wae Rebo.

Tidak berlama-lama, segelas kopi hitam habis dalam beberapa tegukan. Saya tahu kopi itu masih panas, tapi haus yang melanda mengharuskan kopi itu sekejap tandas. Minuman hitam pekat ini seperti memberi energi baru. Mata lebih melek. Dan, yang pasti badan terasa segar kembali. Entah zat apa yang ada di kopi itu sehingga bisa menjadikan saya langsung bugar. Sepertinya kopi asli Wae Rebo melancarkan siapa saja yang berniat untuk berkunjung ke Wae Rebo.

Keluarga Vitalis tampaknya juga sudah maklum kalau tamu mereka dari Jogja ini kelaparan. Istri Vitalis lalu menghidangkan makan siang kepada kami. Ah, sebuah kebaikan yang tak ternilai harganya. Tak ketinggalan, segelas air putih yang bercampur kayu sumong menjadi minuman spesial teman makan siang. 

“Perjalanan ke Wae Rebo jalan kaki biasanya perlu 4 jam. Butuh banyak tenaga. Jadi harus makan banyak ya.” pesan Vitalis. Tapi, Vitalis tetaplah makan yang paling banyak. Orang Manggarai pantas disebut sebagai orang yang makannya banyak.


***

Jam sudah menunjuk pukul 13.15. Saatnya lekas berangkat agar bisa tiba di Wae Rebo sebelum gelap.

Terlebih dulu kami singgah di Kampung Denge. Rumah Blasius Monta menjadi tempat penitipan motor kami. Blasius Monta adalah seorang guru SD Denge yang lokasi sekolahnya tepat di samping rumahnya. Dia salah satu orang Wae Rebo yang berjasa membuat kampung halamannya dikenal seluruh dunia. Rumahnya pun disulap sebagai penginapan bagi para wisatawan.

Keluarga Vitalis Hanan. Menyambut saya dengan ramah. Langsung akrab menjadi saudara.
Pulau Mules terlihat dari Dintor. Dintor menjadi pertigaan menuju Wae Rebo.
Rumah Blasius Monta adalah titik awal perjalanan kaki. Ini rumah terakhir sebelum menembus hutan. Di beranda rumahnya, Blasius dan istrinya melambaikan tangan dan mendoakan semoga perjalanan kami lancar dan selamat. Kami lalu memintas SD Denge, sebuah SD tua yang telah berusia seabad. Perjalanan dilanjutkan melalui jalanan lebar yang merupakan jalan baru rintisan, sebuah proyek dari pemerintah.

“Dulunya tidak lewat sini. Tetapi di sekitar jalan air. Pemerintah rencananya akan mengaspal jalan dari SD Denge hingga ke Pos I di Wae Lumba. Tapi, sampai sekarang masih jalan tanah seperti ini.” terang Vitalis.

Adanya akses jalan sebenarnya sudah dinantikan sejak lama oleh masyarakat Wae Rebo. Namun, akses jalan tidak diharapkan sampai tepat di depan Wae Rebo. Kalau seperti itu, jelas akan mematikan eksklusivitas wisata Wae Rebo, yang selama ini mulai menghidupi masyarakat.

Warga Wae Rebo menginginkan adanya jalan yang bisa mengurangi jarak tempuh jalan kaki mereka. Bukankah sungguh berat harus berjalan kaki dari Denge ke Wae Rebo sejauh 9 km, naik turun gunung? Terlebih apabila membawa barang-barang? Sampai sekarang, bahan logistik pokok di Wae Rebo sebagian bergantung dari daerah luar Wae Rebo.

Pada akhir 2012, akhirnya Pemerintah Manggarai menjawab penantian warga Wae Rebo. Dibuatlah rintisan jalan tanah sepanjang 3 km sampai Wae Lomba. Tahun 2013 telah dianggarkan akan dibuatkan jalan aspal. Tapi, ketika saya menyusuri jalan rintisan ini, pada beberapa titik banyak ditemui jalan yang longsor. Padatan tanah juga terkesan dibuat asal-asalan sehingga rawan longsor saat hujan lebat.

Tidak terasa, satu jam telah dilalui untuk sampai ke Pos I, Wae Lomba. Pos ini sesungguhnya adalah tepi sungai yang berserakan batu-batu besar. Air segar mengalir masih murni asli pegunungan. Saya sejenak beristirahat. Mendinginkan ‘mesin’. Tak segan saya juga menenggak air sungai. Kesegaran dan kemurniannya menghapus dahaga yang dari tadi mendera.

Vitalis malah asyik bermain dengan capung. Capung-capung yang hinggap di air coba dia tangkap dengan mulutnya. Dia pun berhasil. Rahasianya, “Bilang ke capung. Capung kamu tenang ya, jangan pergi. Akan kutangkap.” Saya tertarik mencoba. Berkali-kali usaha tetapi terus gagal. Saya pun menduga, orang Wae Rebo sepertinya punya mantra khusus untuk menaklukkan capung. Ah, saya hanya mengada-ada. Barangkali saya terlalu kotor hati.

Perjalanan dilanjutkan. Dari Pos I ke Pos II akan menjadi perjalanan terberat. Jalanan naik terus. Hanya sedikit jeda untuk sekedar jalan mendatar apalagi turun. Etape ini juga butuh kewaspadaan ekstra. Jalanan berubah menjadi tanah liat yang licin. Selain itu, jalanan juga sempit. Hanya cukup satu orang melewati. Pada beberapa bagian, jalanan ini terletak di tepian tebing. Bisa dibayangkan, saya pun harus berjalan sambil berpegangan pada batang-batang tumbuhan.  

Memasuki jalan ke Pos II juga berarti memasuki kawasan Hutan Lindung Todo Repok. Hutan ini luasnya sekitar 10.500 Ha yang menghampar di bumi Manggarai. Wae Rebo berada di dalam kawasan hutan ini. Vegetasinya masih lebat. Banyak pohon liar yang tinggi menjulang. Suara-suara burung pun bercicit bersahut-sahutan. Mereka meramaikan sunyinya hutan saat itu. Kami pun seperti memiliki kawan penyemangat untuk terus melangkah sampai ke Wae Rebo.

“Kayu-kayu untuk membangun rumah di Wae Rebo berasal dari hutan ini. Kami harus izin ke pemerintah karena statusnya hutan lindung. Meski butuh waktu lama, untung pemerintah mengerti bahwa upaya kami membangun Mbaru Niang adalah untuk kelestarian tradisi leluhur.” ungkap Vitalis yang tak tampak lelah sedikitpun meski usianya sudah menginjak kepala empat.

Pos Poco Roko, Pos II. Menjadi tempat untuk mencari sinyal bagi masyarakat Wae Rebo.
Panorama dari Pos Poco Roko.

Pos II Poco Roko yang terletak di tepi tebing sudah terlihat, seakan melambai-lambai memanggil kami. Semangat melangkah pun kian tinggi. Ah, tapi namanya jalan melingkari bukit tentu tak semudah mata memandang. Baru setengah jam kemudian kami bisa sampai di Poco Roko. Benar, etape Pos I ke Pos II adalah yang terberat dan terlama. Total 1 jam 15 menit kami butuhkan. Berkali-kali tadi di tengah perjalanan kami mengaso. Menata nafas yang tersengal-sengal.

Pagar semen menjadi tengara di pos Poco Roko ini. Pagar ini berfungsi untuk menjaga keselamatan para pejalan. Maklum, letaknya di atas ketinggian, di tepi tebing, dengan panorama menakjubkan ke arah Selat Sumba, bisa membuat lengah wisatawan. Saat itu, kami beristirahat cukup lama untuk mengisi kembali tenaga sembari menikmati pemandangan indah. Vitalis sibuk mengangkat-angkat HP. Tampaknya dia sedang berburu sinyal.

“Ini tempat untuk mendapatkan sinyal bagi masyarakat Wae Rebo. Tapi semenjak ada angin besar Februari kemarin, jadi susah sinyal masuk di sini.” ungkapnya

“Ah susah sekali sinyalnya.” Saya juga tak mendapatkan sinyal sekalipun.

Setengah jam cukup untuk beristirahat. Ransel sudah saya angkat lagi. Siap melanjutkan perjalanan. Belum jauh beranjak, kami berpapasan dengan beberapa masyarakat Wae Rebo yang akan turun gunung. Langsung kami bersalaman dan berkenalan. “Selamat siang!” Setiap warga Wae Rebo telah biasa berjumpa dengan para tamu. Mereka pasti akan menunjukkan sikap ramah. Sebuah sifat yang hangat dari warga Wae Rebo.

Hanya 200 meter saja selepas Pos II yang medan jalannya naik. Setelah itu, jalan mendatar yang diselingi dengan turunan. Ini cukup mengasyikkan karena tak perlu bersusah payah mengatur nafas. Kami pun bergegas menambah kecepatan. Pada sebuah titik menjelang Pos III, terdapat bekas longsoran besar. Sampai kami berjalan hati-hati di atas titian balok kayu.

Tak sampai sekitar 45 menit, kami sudah sampai di Pos III, Pos Nampe Bakok. Di sinilah sebuah keajaiban datang! Jajaran Mbaru Niang Wae Rebo sayup-sayup terpandang. Awan putih menggantung di atasnya. Misty Wae Rebo dari kejauhan. Bukan kah ini seperti kabar yang didambakan? Segaris optimisme menjelang ujung perjalanan. Apa yang dicitakan untuk dapat hadir di Wae Rebo tinggal sedikit lagi.

Di Pos III kami tak perlu beristirahat. Tak sabar rasanya ingin lekas sampai di Wae Rebo. Dari pos III ke Wae Rebo, jalanan tinggal menurun. Kami pun setengah berlari demi menjemput impian di Wae Rebo. Selain itu, kami mesti berlomba cepat sebelum tertelan gelap di jalanan. Tepat sekali, kami tiba di Wae Rebo selamat dari hadangan malam.


***

“Siapa saja tamu Wae Rebo, para leluhur harus tahu” tutur Aleksander Dei memulai Wae Lu’u.
Aleks Dei menjadi pendamping kami dalam upacara Wae Lu’u. Agar diizinkan tinggal di Wae Rebo, kami akan melaksanakan Wae Lu’u terlebih dulu. Setiap tamu yang datang ke Wae Rebo harus diterima secara adat. Tidak bisa seorang tamu melakukan aktivitas di kampung Wae Rebo – misal memotret sekalipun – sebelum menjalani Wae Lu’u. Para leluhur harus tahu dan mengizinkan tamu.

Bukan saja orang dari luar daerah seperti kami, orang Manggarai yang masuk ke Wae Rebo harus melalui Wae Lu’u. Bahkan, orang Wae Rebo yang lama merantau ketika kembali ke Wae Rebo pun melaksanakan Wae Lu’u. Upacara Wae Lu’u menjadi penahbisan orang dari luar Wae Rebo untuk menjadi bagian dari keluarga besar Wae Rebo.

Wae Lu’u akan mengangkat Anda semuanya sebagai anak Wae Rebo.” ungkap Vitalis.

Dalam remang menjelang malam, dua orang tetua adat telah duduk bersila di tengah ruang Mbaru Tembong, rumah utama Wae Rebo. Rofinus Nompor dan Biyaktus Baku dari generasi ke-17 Wae Rebo. Para tetua ini akan memimpin Wae Lu’u atas kehadiran kami di Wae Rebo.

Tetua adat Wae Rebo, Rofinus dan Biyaktus. Menyambut kami dan memimpin Wae Lu'u.
Suguhan kopi Wae Rebo. Mencairkan pembicaraan saat perjumpaan awal dengan masyarakat Wae Rebo.

Kami bertiga duduk berjejer di hadapan mereka, di atas tikar pandan yang berisikan kapuk. Duduk bersama kami juga, Vitalis Hanan, pemandu kami ke Wae Rebo. Aleks Dei duduk memojok. Dingin petang yang berbalut deras hujan makin menciptakan aura mistis yang pekat dalam sebuah upacara adat. Saat kami tiba di Mbaru Tembong tadi, hujan langsung mengguyur bumi Wae Rebo.

Dalam bahasa Manggarai, Aleks Dei lantas memperkenalkan kami. Disebutlah siapa kami, maksud kedatangan kami, dan harapan agar kami dilindungi selama di Wae Rebo. Mega, satu-satunya perempuan dalam rombongan, menjadi perwakilan. Dia maju menemui tetua sembari memberi uang adat sebagai tanda permisi ke Wae Rebo.

Pemberian uang adat harus dilandasi rasa sukarela dan ikhlas. Rofinus menerima dan menganggukkan kepala. Itu tanda persetujuan dan terima kasih darinya mewakili leluhur Wae Rebo. Mega lalu mundur kembali. Setelah Aleks mengantarkan, Rofinus langsung berseru-seru dalam bahasa lokal. Dia merapal keras doa-doa Wae Lu’u.

Wae Lu’u diawali dengan lantunan duka cita dan doa kepada para leluhur yang telah berjasa. Selanjutnya, permohonan perizinan dan perlindungan atas kedatangan tamu kepada leluhur. Beberapa kali nama kami disebut. Asal kami Yogya juga diseru-serukan. Saya merinding mendengar seruan Rofinus. Bergetarlah hati saya. Terlemparlah pada sakralitas upacara Wae Lu’u.

“Sekarang Anda telah menjadi anak kandung Wae Rebo. Bukan lagi tamu dari Jogja. Leluhur sudah kenal ” ungkap Rofinus sesudah melantunkan doa-doanya.

Tepat Rofinus selesai memimpin Wae Lu’u, lampu-lampu Mbaru Tembong menyala. Serasa semacam dramatisasi yang kebetulan. Nyala lampu menghangatkan suasana. Suasana kini menjadi cair. Berubah dari yang tadinya sakral dan khusyuk. Listrik ini berasal dari generator kampung yang dihidupkan dari petang hingga tengah malam.

Terang menjadikan saya bisa melihat Mbaru Tembong seisinya. Di tengah Mbaru Tembong, terdapat dapur yang terus mengepulkan asap. Para mama tampak memasak bersama, melingkari tungku. Anak-anak kadang mendekati mamanya, seperti ingin tak jauh-jauh, padahal para mama sedang sibuk menyiapkan makan malam keluarga di Mbaru Tembong. Peralatan musik adat Wae Rebo, semacam kendang dan gong, tergantung di salah satu tiang. Saya pun antusias mengamati apa saja seisi Mbaru Tembong. Unik dan menarik.

Lalu, seorang Mama datang membawa suguhan kopi asli Wae Rebo. Pas sekali. Hawa dingin Wae Rebo harus diusir dengan hangatnya segelas kopi hitam. Kecanggungan komunikasi harus dihalau dengan minuman nikmat ini. Kopi lantas menjadi lem perekat keakraban.

Ketika semua orang sudah menyeruput rasa kopi, percakapan langsung mengalir deras. Kami lancar saling bertukar kata dan rasa tentang berbagai hal. Hidup, budaya, perjalanan, pengalaman, sekolah. Apapun tentang kehidupan. Pembicaraan kami sudah seperti pembicaran antara kakak dan adik. Antara sesama anak Wae Rebo. Padahal, baru beberapa menit lalu kami diangkat menjadi anak Wae Rebo. Ah, suasana yang begitu hangat pada perjumpaan awal di Wae Rebo.

Aleks Dei tak lupa mengajukan pertanyaan mendasar kepada kami. Sebagaimana ia selalu tanyakan kepada setiap pengunjung Wae Rebo.

“Kenapa bisa tahu Wae Rebo?”


SELANJUTNYA....
|| Cerita selanjutnya saya tahu Wae Rebo dan bagaimana pengalaman  di sana, silakan baca di -> Wae Rebo, Mendunia lalu Menusantara


Petani yang sedang membajak sawah di Iteng. Dalam perjalanan ke Wae Rebo.
Pulau Mules dari Pantai Pasir Putih di sebelah barat Dintor
Saat menuju ke Dintor, melewati jalanan yang menyisir pantai.
Informasi Wae Rebo di penginapan milik Blasius Monta di Denge.

You Might Also Like

10 komentar

  1. Pertanyaan mendasar dari pembaca: "jadi apa tujuan kalian bertiga ke Wae Rebo"?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak Lala.. makasih udah berkunjung main ke sini..

      Tujuan kami ke Wae Rebo adalah memnuhi panggilan jiwa.. :P. Ingin bersilaturahmi dgn saudara seIndonesia yg ada di Wae Rebo..

      Hapus
  2. Denger2 info kalo mau masuk Wae Rebo harus bayar sekitaran 250rb ya?? Bener kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benaaar kakak Velysia. 250 ribu utk uang administrasi bagi yang menginap. 125 ribu bagi yg dateng tanpa menginap. Uang 250 rb sudah termasuk makan, minum maksimal selama 3 hari. Kalo lebih dari 3 hari akan ada pembicaraan adat utk menentukan brapa biayanya.. :)

      salam kenaaal.. makasih sudah berkunjung,..

      Hapus
  3. waah..., kak iqbal sudah sampai wae rebo...
    istimewah sekali.... :)

    saya tahu wae rebo sudah hampir setahun yang lalu, dari kuliah umum di kampus saya. dan, kemarin wae rebo disebut-sebut lagi...
    jadi makin penasaran, semoga saya sempat ke sana... hahahaha... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Maria.. iyaaaa, bulan april kemarin saya main ke Wae Rebo pas skalian jelajah flores, hehehe.. benerrr istimewa kampung dan alamnya..

      Kak maria mesti ke sana deeeh.. DIjamin akan menemukan sesuatu yg lain dari yang lain.. Kehangatan masyarakatnya, kopinya, dan budayanya.. mantaaap..
      Saya juga ingin kembali lagi ke sana.. semogaaa.. :)

      Hapus
  4. kangen sama pak blasius dan keluarganya. Anaknya yg cewek, cantik lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaaah. sayaaang banget aku pas ke Wae Rebo gak ketemu si putrinya.. haha

      Hapus
  5. kira2 masnya habis mahar berapa ke wae rebo?
    uda punya tabungan tp takut gk cukup utk biaya kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling gak masuk kita bayar 250-300 ribu untuk bisa menginap. Ini juga unntuk bayar makan kita selama di sana.. :D

      terus kamu harus siapkan uang buat bayar porter sekitar 100-200 ribu.. :D

      Mahal sih mahal tapi sangat berharga kalo ke Wae Rebo..

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe