Ruang Imajinasi Curug Grenjengan Kembar

16.07

Curug Grenjengan Kembar Magelang

Hutan pinus lereng Merbabu tahu betul menyembunyikan sebuah permata. Tegakan rapatnya merawat keasrian Curug Grenjengan Kembar yang jatuh semampai dalam aliran anak Sungai Cebong, sebuah sungai yang berhulu di Merbabu. Sebagai permata, dua air terjun ini menjadi ruang imajinasi yang bisa menghibur diri. Keindahan dan kesejukannya pantas dipuja untuk meramaikan hati yang sunyi.

Seperti yang diyakini oleh sepasang sahabat yang duduk pada bangku kayu di depan air terjun kedua. Mereka membiarkan dirinya diciprati guyuran anggun air yang jatuh konsisten pada bebatuan. Dua insan mudi ini sembari memandang romantisme air terjun dengan suaranya yang selalu memecah sunyi. Sembari menyesap suasana yang senantiasa berhiaskan dua air terjun,bebatuan, hutan pinus, dan kadang bunga-bunga berwarna-warni.

Saya rasa keduanya sungguh terhibur. Mereka menikmatinya dengan seyakin hati. Permata itu memberi daya pesona bagi pengunjung yang bertakzim untuknya. Satu air terjun yang bertingkat dua dengan ketinggian 15 meter, serta satu air terjun lebih lirih yang berketinggian 20 meter itu cukup menyedot atensi penghiburan. Semacam altar refleksi untuk pemujaan membuang gamang.

Begitu juga dengan saya. Di atas bebatuan kokoh yang tak tergerus aliran Sungai Cebong, saya terduduk penuh kekaguman. Mata saya berkeliling pada ruang cekungan yang diapit dua bukit curam yang menghijau. Ada kesadaran untuk memaknai bahwa suasana seperti ini cocok bagi saya yang mendamba kedamaian di tengah haribaan alam. Seperti merealisasikan harapan yang sangat sederhana. Puas mencumbui mesra sang alam untuk mendapatkan damai di jiwa.

Saya beranjak melangkah ke kolam di ujung pertemuan tempat curug pertama jatuh. Meningkahi bebatuan. Berloncat-loncat dalam spekulasi mana batuan yang licin dan mana yang sangat licin. Sesekali mencemplungkan kaki pada gerusan air yang dingin. Air alami pegunungan memang sangat terasa dinginnya membasuh kaki, saya pun merasa menggigil. Brrrrr. Hawa pegunungan turut juga menceburkan saya pada relung kebisuan.   


Dua air terjun yang bersebelahan. Kembar. Di lereng Gunung Merbabu.

Sepasang sahabat yang menyesap suasana.
Ketika sudah berhasil melarutkan pada suasana alam Curug Grenjengan, ketika sudah merasakan sunyi sarat refleksi, saya paham. Perjalanan ke Curug Grenjengan Kembar barangkali bukan diperuntukkan bagi yang terbiasa dengan hingar bingar kehidupan. Karena menujunya adalah sebuah kisah perburuan dalam kesunyian. Tapi, dengan begitulah, juntrung keindahannya timbul.

Dalam siang yang muram, motor saya mesti melewati jalan bebatuan di antara ladang cabai dan kubis yang bisu di Desa Muneng Warangan, Kec. Pakis, Magelang, sebuah desa yang masuk terpelosok dari Jalan Magelang-Salatiga via Kopeng. Kemudian, setapak tanah mengantarkan jalan kaki saya menusuk sebuah lorong di antara dua dinding tanah. Dinding itu jualah juga sebagai mula perjalanan menembus hutan bambu yang lembab dan basah.

Sebuah jembatan bambu untungnya hadir mengisi kekosongan di jalanan hutan bambu. Pantas dia menjadi tengara yang bisa mengusir kemonotonan. Selanjutnya, mulailah saya melewati hutan pinus yang bertegakkan saling merapat. Memayungi yang tak membiarkan cahaya menerangi.

Orang pasti akan senang tatkala melintas di antara hutan pinus yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Wilayah II Krogowanan, Taman Nasional Gunung Merbabu. Katanya seperti dalam film The Twilight, serasa bermesraan dengan para drakula. Ciiih... Klise! Makanya, saya lebih senang bergegas karena di sinilah suara gemericik air terjun permata itu mulai terdengar. Hingga akhirnya sayup-sayup pandang Curug Grenjengan itu mulai tampak.  

“Curug Grenjengan mulai dibuka masyarakat untuk wisata sejak 2009. Sebagai aset wisata desa dengan minta izin pada taman nasional.” tutur Budi, pemuda kampung yang siang itu menjadi tukang parkir sekaligus penyambut pengunjung yang datang.

Tak ada tiket masuk. Sekedar biaya parkir Rp 2000,00. Dalam hati saya beretorika, kenapa tempat seindah ini, masih jauh dari nuansa materialistik kawasan wisata? Apakah ini sebuah penghargaan bagi pemburu kesunyian? Maka lantas tak pantas untuk menarik biaya dari orang-orang yang rela berkorban untuk pergi dari keramaian ke tempat sepi, terpelosok, yang mungkin bagi orang Magelang sekalipun juga masih asing ini

Tapi, permata tak akan pernah dibiarkan gratis. Barangkali, suatu saat nanti tempat ini diambil alih pemerintah daerah sebagai lokasi pemasukan Pendapatan Asli Daerah.  Seperti kata pepatah klasik Rusia: menggaruk di tempat yang gatal. Suatu saat nanti akan ada yang menarik pemasukan di destinasi yang mulai ramai dikenal dan dikunjungi ini.


Suasana Desa Muneng Warangan, Pakis, Magelang
Lorong yang berdindingkan tanah. Menuju ke Curug Grenjengan Kembar
Jembatan bambu di antara lebatnya hutan bambu.
Hutan pinus di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Tempat Curug Grenjengan dilingkupi



You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe