'Island Hopping' Seru dan Bermakna di Kepulauan Seribu

23.56

Senja di sekitar Pulau Putri Kep. Seribu

Jakarta...! Lupakanlah sejenak kisah macetnya yang membuat penat. Tinggalkanlah sebentar cerita sibuknya yang melelahkan. Marilah menyeberang ke Kepulauan Seribu. Sebuah wilayah Jakarta yang sunyi tapi gemerlap dengan eksotika alam bahari. Semacam ‘surga’ tropis yang bertaburan menawan di utara ibukota Indonesia. Bisa hadir di Kepulauan Seribu, seperti terlempar pada dunia yang dilingkupi beribu keindahan, kesegaran dan kenikmatan yang sanggup meluruhkan segala gundah sekaligus menyibak makna kehidupan.

Merunut namanya, seharusnya ada seribu pulau yang bertaburan di kawasan Kepulauan Seribu. Tapi nyatanya hanya ada sekitar 110 pulau. Sebanyak 11 di antaranya berpenghuni. Secara administrasi, Kepulauan Seribu merupakan kabupaten administratif DKI Jakarta yang mayoritas wilayahnya perairan. Wilayahnya dibagi menjadi 2 kecamatan: Kecamatan Kep Seribu Utara dan Kecamatan Kep. Seribu Selatan, serta terdiri dari 6 kelurahan.

Pada sebuah pagi yang cerah, saya terduduk penuh harap di dermaga Pelabuhan Marina Ancol. Menunggu speedboat Bidadari Express beranjak ke Kep. Seribu. Saya beruntung diberi kesempatan untuk mencumbui suasana Kep. Seribu bersama program unik Jelajah Gizi dari Sari Husada, sebuah perusahaan nutrisi terkenal di Indonesia. Selama tiga hari, saya akan melakukan island hopping di Kepulauan Seribu. Loncat dari pulau ke pulau lain untuk mengeksplorasi alam, manusia serta sumber pangan Kep. Seribu.

Dari seratusan pulau di Kepulauan Seribu, hanya enam pulau yang akan ditakzimi kali ini. Saya berburu cerita ke P. Pari, P. Lancang, P. Harapan, P. Pramuka, P. Putri dan P. Nusa Karamba. Setiap pulau tentu memiliki keunikan masing-masing. Ada karakteristik yang membuat setiap pulau memiliki kisah berbeda, yang bagi siapa mengunjunginya pasti akan mendapat sajian warna-warni Kep. Seribu.  

Suasana Pelabuhan Marina, Ancol. Menjelang keberangkatan Island Hopping ke Kep. Seribu. I'm coming!
Akhirnya, speedboat lepas dari Pelabuhan Marina. Perlahan gegap gempita Jakarta terlihat samar. Melirih seiring makin menjauhnya kapal. Meski termasuk wilayah DKI jakarta, Kep. Seribu adalah sebuah kontras dibandingkan Jakarta daratan. Menyeberang ke Kepulauan Seribu berarti menyeberang ke realitas lain Jakarta. Menyeberang menuju dunia sunyi lautan dari sebuah daratan megapolitan dimana jutaan orang berdesak-desak di dalamnya.

Dan, dari situlah perburuan pesona dimulai. Selamat datang di Kepulauan Seribu!


Belajar Rumput Laut di Pulau Pari

Kriing.. Kriiing.. Kriiing.. Suara bel sepeda  memecah sunyi di Pulau Pari. Begitu mendarat di Pulau Pari, kami langsung menyewa sepeda yang tersedia di dermaga. Dengan bersepeda, saya bersama rombongan membelah jejalanan kampung yang asri di Pulau Pari. Adalah sebuah kedamaian tatkala bersepeda sembari menikmati perkampungan P. Pari dengan romantika masyarakatnya yang ramah.

Dengan bersepeda, asyik berkeliling P. Pari. Saat melewati tempat pengeringan rumput laut.


Pertama, kami menuju Pusat Penelitian Oseanografi Pulau Pari milik LIPI, tempat budidaya rumput laut hijau. Pulau Pari dikenal sebagai pulau rumput laut. Kami akan berwisata sembari belajar budidaya rumput laut di P. Pari.

Adalah Nurhayat (40) yang menjadi ‘guru’ budidaya rumput laut. Ketua RW Pulau Pari ini mengajarkan dari persiapan menanam hingga mengeringkan rumput laut. Kami diajak memotongi ujung tunas rumput laut. Jari jemarinya lincah memasang dan membimbing kami mengikat satu per satu pucuk rumput laut muda jenis Eucheuma Cotonii pada tambang sepanjang 7 - 12 meter dengan jarak antar ikatan 20-25 cm.

Beberapa tali tambang rumput laut ini kemudian ditanam di sebuah lagoon tak jauh dari pesisir P. Pari. Rumput laut paling baik hidup di tempat yang airnya tenang, tetapi tetap memiliki sirkulasi air laut. Semakin baik sirkulasi airnya, semakin cepat dan besar rumput laut itu bisa tumbuh. 

“Rumput laut akan dipanen setelah 45 hari. 100 gram rumput laut yang ditanam bisa menghasilkan 2 kg rumput laut basah.” ungkap Nurhayat.

Tak sekedar menanam rumput laut, kami juga belajar tentang pengolahan rumput laut. Itu artinya, kami mesti berpindah ke lokasi lain di Pulau Pari. Pak Ubaidilah (55) telah menanti di tempat pengeringan rumput laut. Dia akan menjelaskan proses pengeringan rumput laut.

Sebelum dijemur, rumput laut terlebih dulu dibekukan pada mesin pendingin untuk menjadikannya berwarna putih. Warna putih ini berasal dari rendaman air garam yang berfungsi  juga untuk mengawetkan secara alami. Proses ini memakan waktu semalam. Setelah itu, rumput laut dijemur sampai kering sekitar 1-2 hari. Sepuluh kg rumput laut basah akan menghasilkan 1 kg rumput laut kering.

Masyarakat Pulau Pari biasanya menjual rumput laut basah kepada pembeli dari Jakarta dijadikan bahan baku kosmetik. Untuk rumput laut kering, ibu-ibu mengolahnya menjadi dodol dan manisan. Kalau tidak, rumput laut bisa sekedar dijadikan campuran minuman,seperti es buah dan sirup serta masakan, seperti sup. Olahan rumput laut ini bisa menjadi oleh-oleh khas dari Pulau Pari. Saya sempatkan mencoba manisan rumput laut. Lezat dan segar.

Pulau Pari tak hanya tentang rumput laut. Pulau Pari juga memiliki spot andalan bagi pecinta alam yang bernuansa tropis. Salah satunya adalah Pantai Pasir Perawan yang bisa memuaskan hasrat tentang pasir putih, lautan tenang, pepohonan sejuk, dan alam bawah laut warna-warni. Pada penghujung petualangan di Pulau Pari, kami bersepeda menuju Pantai Pasir Perawan yang lokasinya di sisi pulau sebelah utara.

Siang yang terik membuat saya sekedar duduk di bangku Pantai Pasir Perawan. Cukup menyenangkan meski hanya menyesap suasana. Hamparan mangrove di lautan tenang pantai berbalut pasir putih juga bisa menghibur, melepaskan lelah. Dan, angin sepoi-sepoi cukup melenakan, sembari saya mendengar mitos muasal pantai ini dinamakan Pasir Perawan.

Alkisah, ada seorang anak kecil perempuan yang diculik dari Pulau Pari. Bertahun-tahun kemudian, anak tersebut ditemukan di sebuah pantai Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Anak yang sudah menjadi seorang gadis perawan tersebut muncul kembali bukan sebagai gadis sebenarnya. Hanya sekelebat bayangan gadis perawan yang kerap muncul di pinggir pantai.

Mungkin kisah itu cukup ‘horor’. Namun, dijamin tak ada nuansa ketakutan sekalipun di pantai ini. Pasir Perawan jelas hanya menyajikan keindahan. Jikalau ingin berenang, tak masalah sampai 600 meter dari bibir pantai karena ada gosong yang melindungi. Jikalau ingin snorkeling ada beberapa spot yang tak jauh dari pantai. Jikalau ingin bermanja di daratan, hamparan memutih sepanjang  300 meter berhias pepohonan rimbun dan pondok bambu bisa menjadi cerita menggembirakan.

Tapi, bisa menikmati es rumput laut yang segar dan sajian salad rumput laut yang lezat di Pantai Pasir Perawan, bagi saya adalah ruang kepuasan yang tak tergantikan.

Berwisata sambil belajar tentang budidaya rumput laut di Pulau Pari. Menambah pengetahuan.
Keindahan yang memikat di Pantai Pasir Perawan. Pasir putih, lautan tenang adalah sebuah kedamaian yang didamba.


Mengakrabi Teri dan Rajungan di Pulau Lancang

Sebuah kapal nelayan baru saja mendarat di dermaga Pulau Lancang. Memboyong berkilo-kilo ikan teri dalam beberapa keranjang yang baru saja dijaring dari laut. Ikan teri ini buru-buru langsung dibawa ke tempat pengolahan. Tak dinyana, kedatangan kami di Pulau Lancang ‘disambut’ bersamaan dengan kepulangan nelayan ikan teri.

Pulau Lancang dikenal sebagai pulau penghasil teri. Di pulau yang satu kelurahan dengan Pulau Pari, kami belajar sambil berwisata tentang pengolahan ikan teri. Ikan teri dari Pulau Lancang telah terkenal bagi masyarakat ibukota. Popularitasnya menyaingi ikan teri medan yang terkenal lebih dulu, tapi dari segi bentuk tidaklah berbeda dengan teri Lancang. Dengan jarak yang lebih dekat, teri lancang malah lebih ‘fresh from the sea’.

Ikan teri adalah komoditas pangan laut yang terkenal dari P. Lancang. Rasanya nikmat dan bergizi.

Andi Bado’ tidak terlihat lelah sedikitpun meski berulang kali mengaduk-aduk air di tempat perebusan. Dia sedang merebus ikan teri untuk membuat ikan teri menjadi ‘kering’, membuang basah lautnya. Mula-mula air perlu dipanaskan dulu setidaknya 2 jam. Setelah itu diberikan berkilo-kilo garam dan biarkan hingga air menjadi asin merata.

Ikan teri kemudian dituangkan pada bak yang sudah bergaram itu. Proses ini selain mengeringkan ikan teri, juga untuk mengawetkan. Garam adalah pengawet alami untuk jangka waktu lama. Setelah direbus setidaknya 15 menit, ikan teri diangkat untuk dijemur di tepi pantai. Kalau matahari sedang terik, dalam sehari ikan teri sudah jadi kering.

“Setiap merebus ikan teri, paling tidak ada 50 kg ikan teri basah agar kami tidak rugi. Dari jumlah segitu dihasilkan 15-20 kg ikan teri kering.” ungkap Andi Bado’ yang bersuku Bugis ini

Ada dua jenis ikan teri yang dihasilkan di Pulau Lancang, yakni teri nasi dan teri belah. Teri nasi bentuknya kecil-kecil seperti nasi. Teri ini dikenal sebagai teri Lancang. Adapun teri belah bentuknya lebih besar dan kasar. Dari segi rasa, tidaklah berbeda jauh.

Jika ikan teri sudah kering, proses selanjutnya adalah penyortiran. Ibu-ibu dan anak-anak lah yang melakukan pekerjaan ini. Ikan teri dipisahkan berdasarkan jenisnya. Mana yang teri nasi, mana yang belah. Selain itu, dipisahkan juga teri yang berkualitas baik dan jelek. Penyortiran seperti ini akan membawa dampak pada harga jual. Sekilogram teri harganya sekitar Rp 50 ribu. Kalau tidak musim, bisa mencapai Rp 75 ribu per kilogram

Pulau Lancang juga memiliki satu lagi hasil laut yang tak kalah terkenalnya, yakni rajungan. Sejak di sinilah, saya bisa tahu bahwa rajungan dengan kepiting adalah dua hewan yang berbeda. Rajungan adalah hewan mirip kepiting tapi hanya bisa hidup di air saja, tidak seperti kepiting yang hidup di dua alam (air dan daratan). Selain itu, bentuk kaki rajungan yang paling belakang berbentuk pipih, adapun kaki kepiting berbentuk runcing.

Kami berkunjung ke tempat pengolahan rajungan milik Ibu Ika Atika (40). Bersama suaminya, dia merintis usaha pengolahan sejak tahun 2002. Saat ini dia mempekerjakan pegawai 10 orang dan menerima pasokan rajungan dari puluhan nelayan Pulau Lancang. Dari usaha pengolahan rajungan ini, dia pun bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan tiga putranya.

Proses pengolahan rajungan tidaklah susah. Pertama kali rajungan yang ditangkap dari laut langsung direbus pada sebuah wadah. Kemudian didinginkan dengan es. Setelah itu baru dipetikan agar awet terjaga. Sehari dia bisa mengumpulkan rajungan sebanyak satu kuintal. Dia sudah memiliki penjual tetap yang datang dari Tangerang. Per kilogram rajungan yang diolah, ia hargai Rp 50 ribu.

Sore kian menjelang. Perlahan tapi pasti, mentari merendah ke ufuk barat. Sebuah sore di Pulau Lancang disempurnakan dengan pesta makan ikan teri dan rajungan. Kami menyantap masakan berbahan sumber pangan laut dari Pulau Lancang. Ikan teri dimasak dengan bumbu kacang. Rajungan dimasak menggunakan bumbu saos padang. Emmmmm.. Bersamaan lapar yang melanda, saya makan pun dengan kalap... Nyam.. Nyam..

Suasana di dermaga P. Lancang dengan perahu-perahu tradisional yang merapat.
Inilah kapal pencari rajungan. Sedang bersandar di dermaga P. Lancang.


Memburu Sunset Pulau Putri

Menuju senja berarti menuju Pulau Putri. Loncat-loncat pulau selama tiga hari di Kepulauan Seribu mengantarkan kami untuk dua malam menginap di Pulau Putri. Ibaratnya, Pulau Putri menjadi pulau peristirahatan sesudah sesiangharian totalitas ber-island hopping di Kepulauan Seribu.

Kami tertinggal sunset cruise saat tiba hari pertama di Pulau Putri. Terlalu sore. Sunset cruise adalah salah satu fasilitas andalan Pulau Putri yang dikenal sebagai salah satu pulau resort terbaik di Kep. Seribu. Sunset cruise mengajak pengunjung berkeliling pulau-pulau di sekitar P. Putri untuk menyesap nuansa sunset. Baiklah, menyongsong malam pertama di Pulau Putri pun dinikmati dengan bersiap merayakan sunyi khas pulau kecil.

Bukan harga yang murah untuk bisa menginap di Pulau Putri. Saya beruntung bisa menginap dibayari Jelajah Gizi di pulau resor ini. Setidaknya per malamnya perlu menyediakan biaya 1,5 – 2 juta per orang. Makanya, Pulau Putri pun memanjakan wisatawan dengan kenyamanan hunian terbaik. Selain itu, Pulau Putri menyuguhkan berbagai fasilitas yang berkualitas yahud. Ada kolam renang, lapangan tenis, ruang pertemuan, dan restaurant yang berkelas.

Seorang wisatawan sedang bernorkeling di dermaga P. Putri. Warna-warni terumbu karang dan ikan pada perairan tenang
Luar biasanya, hanya di Pulau Putri terdapat Undersea Aquarium dan Glass Bottom Boat dimana pengunjung bisa melihat cantiknya alam bawah laut dari tempat seperti layaknya di aquarium. Selain itu ada sunset cruise yang akan mengantar berkeliling menikmati sunset di perairan sekitar P. Putri.

Alam Pulau Putri juga begitu cantik menawan. Perairan tenang dan terumbu karang yang masih terjaga bisa menjadi hiburan. Cocok untuk snorkeling ria. Tatkala pagi menyambut, saya sempatkan untuk berkeliling pulau sembari melihat jernihnya perairan. Ikan-ikan seperti riang menyambut hari dengan menari di antara terumbu karang warna-warni. Padahal saya hanya menatapnya dari atas dermaga.

Pulau seluas 8,29 Ha juga memiliki daratan yang masih dipenuhi pohon-pohon yang tinggi.  Ada nuansa kesejukan ketika bisa menyusuri jalan tanah yang melingkari pulau. Bahkan, hewan liar seperti biawak masih dijumpai. Jika malam menjelang, suasana pulau begitu sepi. Hiruk pikuk hanyalah suara-suara kami yang sengaja gaduh memecah kesendirian. Ada kedamaian di Pulau Putri, baik pagi maupun malam yang cocok untuk membuang kegamangan.

Akhirnya, di ujung hari kedua, impian mengejar sunset dengan sunset cruise terealisasi. Sebuah sore yang cukup cerah menyediakan ruang riang bagi kami untuk melintasi pulau-pulau di sekitar perairan P. Putri. Dengan beratapkan langit menjingga, kami terduduk di atas kapal sembari menanti pergantian siang dan malam yang cantik di horison barat. Sayangnya, kami sekedar menjumpai romansa mega karena ufuk barat terhijab mendung. Tapi, bagi saya. Sore itu adalah luar biasa. Menjadi petualang antarpulau sambil menatap senja adalah pengalaman tak terlupakan.

Namun, ada sayang seribu sayang di P. Putri. Saya tak sempat menjajal panorama bawah air P. Putri. Cuaca mendung pagi hari ketiga yang dilanjutkan guyuran hujan deras, membuat kami harus merelakan impian snorkeling ria. Serasa menikmati masakan mahal tapi rasanya hambar. Resor terbaik dengan alam P. Putri yang begitu cantik, tapi terlalu sayang untuk dilewatkan.

Di atas Sunset Cruise P. Putri. Menyesap sore di perairan sekitar P. Putri. Melintasi banyak pulau.
Dermaga P. Putri. Dengan lautan yang jernih. Merangsang untuk bersnorkeling. Tapi belum kesampaian.


Harapan Mangrove Pulau Harapan

Cuaca mendung  menggelayut sedari pagi tak menyurutkan semangat untuk mengeksplorasi sudut –sudut lain Kepulauan Seribu. Hari kedua dibuka dengan perjalanan ke Pulau Harapan. Hamparan laut dangkal dengan terumbu karang serta pulau-pulau kecil menghijau di sekitarnya, adalah pemandangan pertama yang saya lihat ketika speedboat mulai merapat di tepian dermaga Pulau Harapan.

Selamat datang di Pulau Harapan!

Sebuah harapan tentang sebentuk pulau kecil yang jauh dari nuansa kekumuhan menyambut kami sewaktu berjalan di dermaga P. Harapan. Terdapat Taman Terpadu Pulau Harapan di dermaga. Taman ini menjadi monumen prestasi kebersihan, kesehatan dan kerapian masyarakat Pulau Harapan. Pulau seluas 6,7 Hektar ini telah ditetapkan sebagai pulau terbersih dan terapi di Kepulauan Seribu.

“Dulu, pulau Harapan dikenal sangat kumuh, tetapi saat ini masyarakat sangat sadar betapa pentingnya kebersihan agar bisa hidup nyaman di pulau kecil. “ ungkap M. Ali, lurah Pulau Harapan yang sangat terbuka menyambut kunjungan kami.

Bersih dan rapinya daratan dan pantai P. Harapan. Inspirasi kepedulian lingkungan di pulau-pulau kecil.

Tatkala menyusuri perkampungan Pulau Harapan, kami ditunjukkan lingkungan yang benar-benar bersih dan rapi. Dengan becak yang disewa untuk wisata, saya menikmati jalanan kampung ber-paving block tertata rapi dengan pagar-pagarnya. Rumah-rumah penduduk harmonis berimpitan dengan tanaman di halamannya yang teduh. Telah banyak juga rumah warga yang disulap menjadi homestay untuk kepentingan wisata. Masjid, sekolah, puskesmas, dan kantor lurah menjadi landmark publik yang terjaga kebersihannya.

Di pantainya, kondisi lingkungan begitu bersih dari taburan sampah yang merapat ke daratan. Tak ada lagi masyarakat yang buang sampah di laut. Tentang manusianya yang terdiri dari berbagai suku: Bugis; Betawi; Madura; Jawa - setiap kali berjumpa, senyum dengan mudah merekah dari wajah-wajah ceria mereka. Dan anak-anak kecil, selalu saja keluguannya mengusik saya untuk menggoda mereka.

Saat menyusuri pesisir P. Harapan, saya menyaksikan hamparan pohon mangrove muda melingkari P. Harapan. Memang, Pulau Harapan dikenal sebagai pulau pembudidaya mangrove. Hampir setiap kampung punya tempat budidaya mangrove. Mangrove dikembangkan sebagai salah satu atraksi untuk wisata edukasi di Pulau Harapan. Tapi yang terpenting, mangrove ditanam untuk melindungi daratan Pulau Harapan dari abrasi perairan Kep. Seribu yang kian hari kian parah.

Keberadaan hutan mangrove bermanfaat pula untuk melindungi dari terjangan badai atau angin kencang di lautan. Hutan mangrove juga bisa menciptakan ekosistem tempat berkembangnya biota laut dan burung-burung. Jelas hutan mangrove akan membuat P. Harapan menjadi kawasan pulau yang sejuk, aman dan nyaman. Sebuah harapan untuk menjaga eksistensi pulau kecil yang dilingkupi lautan luas.

Kami berkesempatan turut menanam pohon mangrove di salah satu pesisir P. Harapan. Berkubang pada tanah berlumpur sambil memasukkan bibit mangrove adalah sebuah pengalaman berharga untuk turut berpartisipasi menyelamatkan lingkungan Kep. Seribu. Pulau Harapan merupakan salah satu wilayah konservasi mangrove dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu.

Di sekitar P. Harapan, terdapat pulau-pulau kecil, selain indah untuk snorkeling dan diving, juga bagus untuk memberikan pelajaran akan kelestarian lingkungan. Sebut saja P. Kotok dan P. Kelapa Dua. P. Kotok menjadi pulau  tempat penyelamatan burung elang bondol.  P. Kelapa Dua atau yang juga dikenal P. Harapan Dua menjadi tempat penyelamatan penyu dan pembibitan mangrove yang di kelola Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu

Paling tidak butuh untuk hari untuk bisa puas mengeksplorasi alam P. Harapan dan sekitarnya. Sayangnya kunjungan saya di pulau ini begitu singkat. Padahal ada pulau lain seperti P. Macan, P. Tongkeng, P. Bulat dan P. Opak Besar yang menawarkan eksotika alam bawah laut yang indah. Tatkala speedboat meninggalkan dermaga P. Harapan, saya menabung harapan untuk kembali suatu saat nanti.

Menanam mangrove. Turut membantu melindungi P. Harapan dari terjangan abrasi dan angin kencang.
Berkeliling menikmati perkampungan P. Harapan yang rapi dan asri dengan becak. Photo: @andyputera


Berkreasi dengan Sate Gepuk di Pulau Pramuka

Orang akan lebih mengenal Pulau Pramuka sebagai pulau ibukota Kabupaten Kepulauan Seribu. Pulau seluas 9 hektare ini memiliki bermacam fasilitas publik paling lengkap di Kep. Seribu. Saat mendekat ke dermaga, bangunan bertingkat rumah sakit, kantor pemerintahan, masjid dan sekolah menjadi tengara paling mencolok dari Pulau Pramuka.

Orang juga akan lebih mengetahui Pulau Pramuka sebagai lokasi penangkaran penyu sisik. Di sini penyu sisik dikembangbiakkan dan dirawat. Setelah cukup umur baru penyu-penyu ini dilepas di laut. Di dermaga P. Pramuka juga terdapat kolam penangkaran hiu dan ikan-ikan laut lainnya yang gampang diterawang dari atas dermaga. Perairan sekitar P. Pramuka dikenal sangat jernih dan indah yang mantap untuk snorkeling bahkan diving. Di dermaga, saat itu sedang ada pelatihan diving yang biasa dilakukan di P. Pramuka.

Sebuah kapal ojek sedang tertambat di dermaga P. Pramuka. Pulau ini adalah ibukota Kabupaten Kep. Seribu.

Tapi, kami datang ke Pulau Pramuka untuk melakukan nutrition hunt. Sebuah cara lain menikmati P. Pramuka yang juga dikenal punya kuliner spesial, yakni Sate Gepuk. Meskipun aslinya berasal dari Pulau Panggang – tetangga Pulau Pramuka, masyarakat Pulau Pramuka telah mahir membuat Sate Gepuk. Sate Gepuk sudah menjadi identitas kuliner masyarakat Kep. Seribu pada umumnya.

Nutrition hunt artinya kami akan mandiri memasak Sate Gepuk lalu mencicipinya. Kami pun harus berburu bahan-bahan pembuatan Sate Gepuk ke pelosok-pelosok Pulau Pramuka. Kami juga berburu alat yang diperlukan untuk memasak Sate Gepuk kepada masyarakat setempat. Sebelum bergerak, peserta Nutrition Hunt dibekali dulu informasi bahan dan tentunya uang belanja.

Seorang ibu PKK Pulau Pramuka dengan semangat menjelaskan bahan-bahan Sate Gepuk. Cara memasaknya juga diajarkan. Sate Gepuk bisa menggunakan ikan laut apa saja. Paling baik adalah ikan tongkol yang memiliki tekstur daging yang halus dan padat.

Bumbu-bumbu sate Gepuk antara lain adalah cabe merah, cabe rawit, bawang putih, ketumbar, lada, pala, jahe, kayu manis, daun talak dan gula merah. Tidak lupa juga, sediakan parutan kelapa dan daun pisang untuk membungkus Sate Gepuk.

Petualangan Nutrition Hunt dimulai. Tak susah menemukan bahan-bahan tersebut di Pulau Pramuka, kecuali satu hal: bumbu pala. Padahal rasa pala adalah yang membuat Sate Gepuk memiliki rasa menyengat paling merangsang lezat. Meski begitu, dengan bumbu yang ada, kelezatan Sate Gepuk dijamin telah membuat lidah bergoyang riang.

Setelah berhasil meracik bumbu, proses selanjutnya adalah membuat adonan sate. Adonan dibuat dengan mencampurkan bumbu dengan fillet ikan yang sudah dipisahkan dari tulangnya. Pencampuran dilakukan dengan menggepuk-gepuk.  Menumbuk-numbu antara ikan dengan bumbu. Inilah yang kemudian menjadi muasal nama sate ini disebut sate gepuk. Kemudian, adonan ini dibungkus pada daun pisang. Lalu, pangganglah hingga matang paling tidak 10 menit.

Nutrition Hunt di Pulau Pramuka memberi kami banyak pelajaran penting. Kami bisa merajut persahabatan dan soliditas di antara kami untuk mewujudkan ‘misi’ Sate Gepuk. Kami bisa bersentuhan langsung dengan realitas masyarakat P. Pramuka dengan ‘blusukan’ mendekat dan menyapa mereka. Kami juga bisa mendapat pengetahuan baru yang sangat bermakna tentang kekayaan dan keunikan sumber pangan dari masyarakat P. Pramuka.

Dan, kami punya cerita lezatnya kuliner Sate Gepuk yang kami kreasikan sendiri.

Sibuk meracik bumbu Sate Gepuk. Sate Gepuk adalah kuliner khas di Kep. Seribu yang banyak dijumpai di P. Pramuka
Salah satu jalan perkampungan di P. Pramuka. Tempat kami berburu bahan dan alat Sate Gepuk.


Menyapa Bandeng Nusa Karamba

Pagi hari ketiga di Kep. Seribu dibuka dengan mendung yang muram. Hari terakhir island hopping di Kep. Seribu seperti sebuah kegalauan untuk meninggalkan kawasan butiran-butiran pulau di Teluk Jakarta ini. Dalam cuaca yang bergantian hujan, mendung dan cerah, kami menuju Pulau Nusa Karamba, pulau terakhir island hopping Jelajah Gizi.

Pulau Nusa Karamba sebenarnya bukanlah pulau, melainkan sebuah gosong. Terletak di antara Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya. Nusa Karamba memiliki pengelolaan Aquaculture oleh PT Nuansa Ayu Karamba. Pulau ini menjadi tempat budidaya berbagai ikan, seperti bandeng, kerapu, bawal bintang, kerapu macan dan kakap putih. Di pulau ini juga terdapat Nusa Resto, rumah makan terapung untuk menikmati sajian hidangan laut langsung dari tempat asalnya.

Keunikan lain di Nusa Karamba adalah adanya kolam aneka ikan laut dan ikan laut hias. Sebuah pemandangan yang cukup menghibur untuk bisa melihat kejar-kejaran ikan tanpa perlu basah-basahan berenang di air.

Kolam ikan di Nusa Karamba. Ada hiu yang kadang usil mengejar-ngejar ikan lain.
Makin menariknya, di salah satu kolam ada hiu. Dia tampaknya suka ‘mengganggu’ ikan lain, tapi tetap baik hati, jauh dari kesan dia sebagai sang predator. Hiu bisa hidup harmonis bersama ikan lain. Nusa Karamba juga cocok bagi orang yang suka memancing karena ada kolam khusus pemancingan. Biasanya, pengunjung senang memancing Ikan baronang dan bandeng.

Kami melakukan santap siang di Nusa Resto, Pulau Nusa Karamba. Aneka masakan laut dihidangkan. Namun, paling spesial adalah sajian ikan bandeng. Bandeng adalah komoditas paling khas di Nusa Karamba. Saya antusias mencoba bandeng. Tentu jauh lebih terasa segar rasa ikan, jika menikmati ikan bandeng di tempat budidayanya.

Emmmm., Masakan bandeng walaupun hanya digoreng kering asin saja, tetapi rasanya sangat membekas di lidah. Bandeng memang menjadi salah satu ikan favorit banyak orang. Rasa bandeng terkenal begitu gurih, tapi rasa daging netral (tidak asin seperti ikan laut). Selain itu, bandeng mudah diolah menjadi masakan, dari yang sederhana sampai yang rumit berbanyak bumbu.

Ikan bandeng Nusa Karamba telah banyak dijual di toko dan supermarket Jakarta, yakni dengan label Farm & Hatchery. Ikan bandeng ini dikenal sebagai bandeng cabut duri karena telah dipresto untuk menghilangkan durinya. Satu keunggulan Bandeng Nusa Karamba adalah tidak memiliki bau lumpur yang biasanya terjadi pada bandeng yang dibudidayakan di daerah selain dari lingkungan air laut. Bandeng di Nusa Karamba dibudidayakan menggunakan air laut di karambanya.

Rasanya tak lengkap kalau ke Nusa Karamba tidak membungkus pulang bandeng khasnya. Per kilogram ikan bandeng cabut duri dihargai Rp 50.000. Bandeng Nusa Karamba pantas menjadi oleh-oleh petualangan Kep. Seribu.

Dermaga Nusa Karamba. Saatnya menuju Nusa Resto untuk pesta makan bandeng khas Nusa Karamba.



***

Kami lepas dari Nusa Karamba kembali ke daratan ibukota teriring bersama cuaca cerah ceria. Kedamaian kompleks Pulau Pramuka, Nusa Karamba, Pulau Karya, Pulau Panggang dan Kep. Seribu seluruhnya pun perlahan melirih, selanjutnya membisu. Tergantikan dengan sayup pandang gedung-gedung tinggi Jakarta yang kian mendekat.  Kami pun pulang menyeberang lagi kepada gegap gempita Jakarta.

Tiga hari island hopping di Kep. Seribu tak sekedar mencipta sebuah penjelajahan yang seru. Tapi juga membingkai makna bagi diri sendiri dari cerita hidup masyarakat Kep. Seribu. Jujur, bagi saya Kepulauan Seribu bisa menyediakan ruang riang yang tak perlu jauh-jauh escape dari Jakarta.  Kepulauan Seribu sudah bisa menawarkan panorama alam, kekayaan bahari, ragam manusia dan budayanya yang inspiratif dan mendamaikan.  

Saya di antara bibit mangrove P. Harapan. Bisa hadir di Kep Seribu selain seru juga memberi makna. Photo: @andyputera

Semoga bisa kembali lagi ke Kep. Seribu. Menyempurnakannya dengan mencumbui alam bawah lautnya yang jelita.

Namun. Tiga hari itu tidaklah sempurna. Masih menyisakan sebuah penasaran besar pada Kep. Seribu tatkala saya belum berhasil menyelami alam bawah lautnya yang indah. Saya hanya bisa menatap penuh asa berbalut iri dari atas dermaga atau speedboat tentang hamparan terumbu karang yang berwarna beserta aneka macam ikan hias yang menari di sela-selanya. Mereka seakan memanggil-manggil saya tapi sang waktu belum jua mengizinkan. 

Andaikan ada kesempatan lagi ke Kep. Seribu, kali itu rasanya saya ingin sepuasnya mencumbui kemolekan lekuk-lekuk alam bawah lautnya. Agar cerita petualangan saya ke Kep. Seribu pun bisa sempurna. Semoga...! 


 

You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe