Menelisik Situs Megalitik Tutari

10.57

Batu di Situs Tutari yang bermotif gambar ikan. Beto menghiasi dengan senyumnya.

Kukuruyuuuk… Suara kokok ayam bersahut-sahutan memeriahkan pagi. Saya terjaga lalu membangunkan rekan saya. Begitu riangnya hati saya saat membuka jendela. Aha! Langit cerah, udara pagi segar, dan Danau Sentani sudah berhias cantik menggoda. Selamat Pagi Sentani! Tiada sabar lekas memulai petualangan hari ini.

Pak Essak Marweri dan Bang Jean Klief sudah duduk di beranda rumah Pak Silas. Keduanya akan menemani saya di situs Megalitikum Tutari. Pak Essak adalah pegawai penjaga situs Tutari dan Bang Jean ialah putra angkat Pak Silas, lulusan Fakultas Hukum UNIYAP  yang kini menjadi Ketua Gemasaba Provinsi Papua, sayap pemuda PKB. Saat itu Pak Silas sedang sibuk mengeluarkan ternak babi dari kandangnya. 

Tak begitu lama kemudian, Mama menyuguhi kami segelas teh pengantar pagi dan lemet sagu, sebuah olahan sagu berasa manis dan beraroma pisang yang dibungkus dengan daun sagu. Mama tahu betul bahwa makanan ini sangat diperlukan sebagai energi untuk mendaki bukit Tutari. Terima kasih Mama! Beto baru saja bangun tidur dan dia langsung minta ikut kami ke Bukit Tutari. Akhirnya saya, dua kawan saya – Mega dan Martha, Pak Essak, Bang Jean serta Beto berangkat ke Tutari.  

Hari Minggu sebenarnya Situs Tutari tutup. Hari buka adalah Senin s.d Sabtu. Situs yang dikelola Dinas Pariwisata Kab. Jayapura ini memberi kesempatan pegawainya yang merupakan warga Doyo Lama untuk beribadah di Gereja. Tapi karena kebaikan Pak Silas, saya diizinkan untuk berkunjung dan ditemani Pak Essak dan Bang Jean. Situs Tutari hanya berjarak 100 meter dari rumah Pak Silas, di seberang jalan pemisah Kampung Doyo Lama.

Lemet sagu, sarapan untuk menjelajahi Situs Tutari. Manis aroma pisang. Terima kasih Mama!
Batu gelang. Corak rangkaian gelang yang tergambar ribuan tahun. Tahan panas, hujan. Kini dilindungi bangunan beratap

Kami mulai memasuki Situs Tutari. Pak Essak membuka gembok pintu karena kawasan Tutari telah  ditetapkan sebagai Cagar Budaya yang dilindungi. Selain itu, suku-suku di sekeliling Sentani menganggap Kompleks Tutari sebagai tanah sakral mereka. Tutari merupakan jejak dari nenek moyang orang Sentani. Setapak menanjak merayapi bukit mengantarkan kami pada sebuah batu besar yang berlukiskan ornamen ikan dan kura-kura.

“Setiap suku memiliki itu cerita sendiri di tiap batuan di Tutari. Suku Marweri menganggap batuan ini adalah batu selamat datang. Suku lain bisa jadi punya makna lain.“ ungkap Pak Essak, yang ternyata beliau adalah kepala suku Marweri. Secara adat dia memiliki kedudukan yang tinggi.

Kami beranjak masuk lebih dalam di Situs Tutari. Sinar mentari yang hangat mengiringi langkah kami. Udara segar membersihkan paru-paru kami. Perjalanan mendaki pun terasa ringan nan menyenangkan.

Pak Essak kemudian membawa saya pada kompleks batuan besar yang bertumpukan. Semak tinggi yang merapati batuan pun diterjang. Dia ingin menunjukkan bebatuan yang menjadi kompleks pertahanan dari sukunya. Dulu setiap suku di sekitar Sentani sering berperang. Alasannya untuk perebutan wilayah, peneguhan jati diri dan sebagainya. Tapi, saat ini kedamaian telah tercipta antar suku. Suku-suku di sekeliling Danau Sentani pun menjalin hidup harmonis.

Batuan-batuan di Situs Tutari memiliki aneka macam lukisan yang bercorak putih. Ajaibnya, lukisan ini meskipun sudah beratus-ratus tahun sejak para nenek moyang membuatnya, tidak hilang diterpa hujan, panas, angin, dan sebagainya. Konon, pembentukan goresan itu dilakukan dengan mantra-mantra sakti agar bisa abadi tak terkalahkan zaman. Gambar-gambar di batu ini menggambarkan benda-benda yang tersedia di Danau Sentani dan sekitarnya sejak ribuan tahun silam, seperti hewan, harta kekayaan dan lain-lain.

Kini kami menyaksikan batu besar seukuran orang dewasa yang berlukiskan rangkaian gelang memanjang dari atas ke bawah. Gelang bagi masyarakat Sentani merupakan harta yang bisa dipakai sebagai mas kawin. Jika seseorang punya masalah juga bisa memakai gelang untuk membayar denda penyelesaian masalah.

Batu Ondoafi yang memiliki makna penting bagi leluhur orang Doyo Lama.
Sejenak istirahat sambil berfoto di sudut savana di Situs Tutari. Kampung Doyo Lama terlihat membelakangi.

Hei, kemana Beto? Ah bocah manis nan lucu kelas 1 SD ini kok tiba-tiba menghilang. Dia memang paling semangat menjelajahi situs Tutari. Ternyata dia sudah berada di batuan para Leluhur yang tak jauh dari Batu Gelang. Saya menjumpai dia sedang duduk di atas salah satu batuan yang berbentuk seperti memiliki kepala, leher dan badan. Batuan ini disebut sebagai Batuan Ondoafi yang berjumlah empat untuk mewakili empat suku tua di Doyo Lama, yakni suku Ebe, Pangkatana, Wali, dan Yapo.

“Dulu sebelum masuk Kristen ke Doyo Lama, batuan Ondoafi ini menjadi tempat orang meminta berkah. Sekarang memang masih ada, tapi sudah sangat sedikit yang memercayai batu”  ungkap Bang Jean.

Lelah dari tadi berjalan berburu batuan tua perlulah kami beristirahat. Sebuah padang  rumput yang landai di Bukit Tutari menjadi tempat kami bersandar dari lelah. Di sini, saya bisa melihat Danau Sentani sepuas-puasnya. Padanan sempurna dari bebukitan yang berhamparkan kuning savana dengan danau syahdu membiru. Langit biru memayungi makin menggembirakan suasana.

Kampung Doyo Lama terlihat di tepi dekat dengan tengara gereja yang paling mencolok di antara rumah-rumah penduduk. Di sela rehat, Pak Essak menunjuk keempat lokasi terdahulu dari Kampung Doyo Lama di tepian Sentani. Saya begitu mensyukuri panorama ‘sepenggal surga’ ini selama setengah jam. Sambil memeluk akrab Beto, tiada hentinya saya memuji cantik Sentani.

Perjalanan dilanjutkan untuk menemui batu dootomo dan mietomo.  Dootomo merupakan komplek batuan laki-laki. Para leluhur menganggapnya sebagai simbol pekuburan. Letak Dootomo di atas puncak Bukit Tutari. Sekilas wujud batuan di Dootomo seperti menhir yang tegak menyembul dari tanah tetapi hanya berukuran setinggi lutut orang dewasa. Jumlahnya  mencapai puluhan batuan yang dikelilingi dengan rumputan liar yang konon katanya tingginya sama dari zaman ke zaman dan tidak mempan terbakar. Batuan Dootomo  ini menghadap  ke Danau Sentani.

“Ada orang Jerman membawa salah satu batu Dootomo ke negerinya.  Tetapi sampai di Jerman, batu itu hilang. Ternyata batu itu balik lagi ke posisi semula di Tutari.” ungkap Pak Essak sembari menunjuk batuan yang ‘sakti’ itu. Batuan-batuan ini adalah milik leluhur sehingga tidak diperkenankan untuk mengusiknya.

Kami lalu turun ke kompleks Mietomo yang berada di bawah Dootomo. Mietomo merupakan kompleks batuan perempuan. Berbeda wujudnya dengan Dootomo, batuan-batuan bulat disusun memanjang segaris lurus. Jika ditarik lurus maka akan menghadap pula ke arah Danau Sentani. 

Kompleks batu Dootomo. Seperti menhir yang tegak menyembul dari tanah. Simbol batu laki-laki
Kompleks Batu Mietomo. Batuan untuk simbol perempuan
 
Saya bisa memahami Situs Megalitikum Tutari adalah jendela sejarah untuk mengetahui kebudayaan orang Papua di masa lampau, berabad-abad silam. Begitu penting untuk menjadi tengara keluhuran peradaban orang Papua.  Kompleks megalitik Tutari memiliki aneka kisah suci atau mitologi yang berhubungan dengan kisah supernatural dan asal usul terjadinya manusia Papua.

“Tapi. Perhatian pemerintah sangat kurang. Lihat rumput-rumput tumbuh tinggi. Luas tempatnya tapi sedikit yang bersih-bersih.” ungkap prihatin Pak Essak yang tetap rutin merawat Tutari meski di tengah keterbatasan  sumber daya. Sudah 10 tahun dia mengabdi menjadi  penjaga Situs Tutari.


***

Bang Jean mengajak saya mengeliling sebagian Sentani dengan mobil tuanya. Kali ini diajak juga Ambo, adik kandung Bang Jean yang duduk di kelas 5 SD. Perjalanan memesrai tepian Sentani  ini menuju ke Sosiri. Dari Doyo Lama ke Sosiri berjarak sekitar 5 km. Di Sosiri terdapat sebuah salib yang tertancap di daratan yang menjorok ke dalam danau, semacam tanjung. Meski panorama tak beda jauh dari Doyo Lama, tetapi melihat Sentani dari Sosiri tetap saja saya takjub melihat kemurahan Tuhan yang luar biasa untuk bumi Papua. Sentani selama ribuan tahun menjadi  sumber kehidupan dan keindahan orang Papua.

Danau Sentani memiliki luas sekitar 9.630 ha. Panjangnya 24 km dan lebarnya hingga 12 km, berkedalaman sampai 175 m. Dari Sosiri, saya melihat beberapa daratan menyembul tapi dikepung oleh air Sentani. Itulah pulau-pulau kecil yang ‘terpercik’ di tengah Danau Sentani.  Jumlahnya total mencapai 21 pulau di seluruh Danau Sentani. Beberapa diantaranya sejak lama dihuni masyarakat dan dibentuk kampung, seperti Pulau Asei di Sentani Tengah yang terkenal dengan ukiran kayunya.

“Heram Ndane“ begitu kata orang Sentani tentang danau yang luas ini. Berarti di atas tempat ini kami tinggal”. Tapi entah kenapa GL Bink, seorang pendeta misionaris Protestan asal Belanda di Papua, menuliskannya menjadi Sentani dalam laporannya Drie Maanden aan de Humboldt Baai tahun 1896.


Salib Sosiri. Salah satu tempat terbaik untuk memandang Danau Sentani.
Pulau Asei di tengah Danau Sentani. Saya belum beruntung bisa berkunjung ke sana menyelami budayanya.

Perjalanan pulang dari Sosiri sejenak kami singgah di Pongkonoare yang menjadi lokasi kampung terakhir orang Doyo sebelum menetap di bawah Bukit Tutari. Ini menjadi sebuah napak  tilas. Meski sudah puluhan tahun berlalu, tiang-tiang kayu bekas rumah masih terlihat membekas di perairan. Beto dan Ambo asyik mandi, saya hanya pandangi kejauhan bebukitan savana Sentani. Tidak lama kami di Pongkonoare. Matahari kian menuju puncaknya yang artinya kami mesti lekas pulang ke Doyo Lama lalu berpamitan ke Bandara untuk pulang ke Yogya.

“Sayang sebentar main ke Doyo Lama. Kalau ke Papua lagi, mesti sempat mampir ke Doyo Lama. Ini sudah jadi rumah kalian. Nanti Bapak ajak keliling danau pakai perahu. Kita lihat itu semua kampung-kampung. Butuh waktu sehari penuh “ pinta Pak Silas saat kami berpamitan meninggalkan Doyo Lama. Saya menyambut tawarannya dengan rasa terima kasih terdalam dan mewujud pada hati riang.  

Momen ini pun menjadi semacam pembuatan ikatan janji. Benar katanya. Sentani tiada cukup hanya diselami keindahannya hanya setengah hari. Saya pun giat menabung harapan bisa kembali suatu saat nanti untuk memuji cantik Sentani. Tentunya dengan waktu yang lebih lama.      

Memandang luas daratan di sekitar Danau Sentani. Hijau dan membiru.
Satu batuan Dootomo yang 'kembali' lagi setelah dibawa seorang peneliti ke Jerman. Percaya tidak itu terserah anda.  :)
Batuan yang digunakan oleh orang Doyo Lama untuk memantau musuh saat dulu masih sering terjadi perang antarsuku
"Danau Bukan Tempat Sampah". Pesan di bukit dekat kampung Doyo Lama. Menjaga kebersihan Sentani.
Bersama Mega dan Martha, rekan dari Jogja yang menemani perjalanan ke Situs Tutari. Berfoto di gerbang situs dgn Beto.
Keluarga Bang Jean yang ramah dan murah hati memberi minum, melepas dahaga setelah lelah mengeliling Tutari
Rindu dengan keluarga Pak Silas Pangkatana yang sangat baik hati. Semoga saya bisa ke Doyo Lama lagi merealisasi janji.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Papua itu jauh sekali, padahal masih di negeri sendiri. Jauh karena butuh biaya yang sangat besar utk sampai di sana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Bocah Petualang, Papua menjadi salah satu impian para pejalan di Jawa untuk bisa mendatanginya. Banyak destinasi2 yg eksotis..
      Ayoo kak, mari kita galakkan berkunjung ke Papua..
      #nabungbanyak..

      Hapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe