Paras Dini Jalan Jalur Lintas Selatan Kebumen

September 11, 2018


Akselerasi adalah tema Jalan jalur Lintas Selatan (JJLS) Pulau Jawa diwujudkan menghampari pesisir daksina Jawa. Selama ini, pembangunan Jawa terasa terlalu berat sebelah di sisi utara. Daerah pesisir selatan lebih dikenal wilayah lapang nan jarang, yang ditumbuhi lahan pertanian, yang diisi juga calon pekerja untuk kota-kota besar di pesisir utara Jawa. Kehadiran JJLS dimaksudkan untuk mencipta pusat pertumbuhan baru, lebih menyeimbangkan Jawa, walau rasanya tak mungkin jua bisa menyamai wilayah pantai utara Jawa yang telah melaju gempita.

Pembangunan jalan selalu menimbulkan konsekuensi. Kehadiran jalan selalu diikuti oleh menjamurnya pemukiman dan juga industri. Lahan pertanian sudah pasti tergusur. Di Indonesia, jalan lebih dikenal sebagai pembuka pemukiman yang sporadis, bukan penghubung wilayah pangkal pertumbuhan. Aneka bangunan begitu mudah didirikan tak usahlah melihat tata ruang wilayah. Mari buktikan saja 5 tahun ke depan, bagaimana paras sekeliling Jalur Jalan Lintas Selatan.

Saya berasal dari Kebumen. Rumah asal saya berjarak sekitar 9 km lurus digaris dari JJLS. Kehadiran JJLS jelas sangat membantu bagi saya. Kini, kalau berkendara dari Jogja untuk pulang ke Kebumen, saya selalu melintas JJLS via Congot – Ketawang – Mirit – Ambal lalu ke utara menuju Kutowinangun. Waktu tempuh terpangkas begitu sangkil. Yang paling penting, saya berkendara lebih rileks, tidak ‘spaneng’ dan sumpek menghadapi truk, bis, dan aneka kendaraan lain.

Di Kebumen, JJLS itu membuka lahan baru, tak seperti di wilayah Purworejo yang melebarkan Jalan Daendels (FYI: Daendels ini bukan nama sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang membuat Jalan Raya Pos di Pesisir Utara Jawa, melainkan A.W. Daendels yang hanya menjadi Asisten Residen Bagelen di Ambal). JJLS melajur sebagai jalan di kawasan Urut Sewu, kawasan sepuh yang dulunya jadi jalan upeti era Majapahit dan di era kini dikenal sebagai area konflik lahan antara militer dan sipil. Saya senang melintas JJLS di Kebumen sambil menyaksikan geliat masyarakat mulai menyambut kehadirannya dengan antusias.

JJLS pantas dimaknai positif bagi Kebumen. JJLS seolah mendekatkan daya tarik wisata Kebumen untuk diakses oleh para wisatawan. Lebih dekat untuk menikmati Sate Ambal, Soto Petanahan, Pacuan Kuda Ambal, Kampung Jawa Kebumen dan beragam pantai di sepanjang pesisir Kabupaten Kebumen. JJLS membuat Kebumen berpotensi diakses dari Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) hanya 1 jam. Jalur lurus, halus dan mulus adalah penghubung idaman yang harus ditangkap peluang oleh warga lokal. Kelak, waktu tempuh dari bandara baru ke kawasan wisata Kota Yogyakarta hampir sama dengan menuju kawasan wisata di Kebumen.

Namun, patut jadi refleksi bagi warga Kebumen. Alangkah bagusnya masyarakat Kebumen memantaskan diri dulu untuk menyambut pengunjung dengan perilaku yang lebih ramah wisata. Perasaan gumunan terhadap pendatang luar kota yang menganggap mereka punya banyak uang perlu disingkirkan jauh-jauh. Biasanya rasa inferior seperti ini berdampak pada laku ‘aji mumpung’ yang membuat harga pelayanan lebih mahal. Sikap merasa ‘akamsi’ alias anak kampung sini yang dianut mulai dari anak kecil hingga orang tua juga patut dibuang.

Bersiaplah Kebumen. Jangan sampai JJLS hanya sebagai jalan penghisap kekayaan daerah, tetapi harus dinisbatkan sebagai jalan penyedot manfaat ekonomi global untuk masyarakat lokal. Mari berbenah!



Pilih kanan atau kiri? Kiri adalah JJLS. Kanan adalah Jalan Daendels di wilayah Kabupaten Kebumen.

Jembatan Lukulo di JJLS. Inilah sungai terbesar di Kabupaten Kebumen, dilintasi JJLS dekat dengan muaranya.

Masyarakat lokal kurang menganggap keamanan di JJLS. Seenaknya menyebrang masih sering dijumpai.

Mercusuar Tanggul Angin di muara Sungai Lukulo. Pesona Kebumen di sekitar JJLS.
Lurus hingga batas cakrawala. Seperti menampilkan panorama countryside Jawa. 
Mengarit. Panorama ini biasa dijumpa di sepanjang JJLS, di antara ladang jagung.
Gamel alias tukang perawat kuda di Ambal. Ambal menjadi tempat bergengsi untuk lomba pacuan kuda di Jawa.
Kebahagiaan masa kecil dengan menaiki sepeda dengan stang terbalik. 
Perahu-perahu penggali pasir harus ditertibkan agar tak mengancam kelangsungan jembatan.
Suasana Jembatan Lukulo di kala sunset. Menjadi ruang hiburan warga lokal.
Swafoto dulu di JLSS. Harus pastikan kendaraan tak ada yang lewat, walaupun sepi.

You Might Also Like

3 komentar

  1. ahh bener banget. kalau di jalan utama harus ketemu truk, bis, sebentar-sebentar harus berhenti di lampu merah. lewat JJLS tentu lebih ringkas.
    dan yang perlu diperhatikan lagi, kesiapan mental untuk menghadapi kota yang semakin ramai, ekonomi meningkat, jumlah penduduk semakin banyak, pembangunan gedung, hotel, dan tentu saja jalanan yang macet nantinya.

    BalasHapus
  2. JJLS sekarang banyak yang harus dilengkapi, seperti SPBU dan rest area mungkin. Semoga jalan ini dapat berfungsi memecah kendaraan.

    Mas, itu mercusuarnya kok rasanya pengen dikunjungi ya

    BalasHapus
  3. Patut diapresiasi, sekaligus perlu diimbangi perhatian lebih pada masyarakat yang dilintasi JJLS. Faktor keamanan, ekonomi, sosial, pariwisata, harus jadi perhatian bersama pula. Seperti layaknya di daerah lain, semoga memberikan manfaat yang seimbang.

    BalasHapus

Twitter @iqbal_kautsar

Komentar Pembaca

BACA LEBIH BANYAK

Subscribe